
“Maaf, aku bukan wanita baik hati yang rela berbagi cinta apalagi kalau harus berbagi suami!”
Bab 54 : (Bukan) Wanita Sempurna
Lelah dan pasrah Rara rasakan dalam waktu yang sama. Kedua rasa itu teramat menyiksa dan sampai membuatnya hilang arah.
Rasa lemas yang luar biasa membuat Rara memilih masuk ke kamar dan mengunci diri di sana. Dengan pandangan nanar, wanita itu mengamati suasana kamarnya. Ia masih berdiri membelakangi pintu kamar tanpa beranjak, merasakan sesak yang dengan lancangnya memenuhi dadanya.
Memang belum banyak hiasan atau pajangan walau sekadar foto. Namun, di sudut depan, di sebelah meja rias yang terbilang mewah, ada pigura besar berisi foto Rara dan Kimo, sesaat setelah mereka resmi menjadi suami istri. Keduanya mengenakan pakaian pernikahan, dengan Kimo yang mendekap mesra Rara, sedangkan kedua tangan Rara berpegangan pada dada suaminya itu. Keduanya bertatapan dalam di antara senyum hangat yang sarat cinta sekaligus kemesraan.
Apa yang terjadi kini, tanpa terkecuali pigura tersebut, membuat Rara menyelami masa lalu. Awal mulanya mengenal Kimo, bertepatan dengan rahasia bahkan kebusukan Gio yang akhirnya terbongkar. Bisa dibilang, hadirnya Kimo dalam hidup Rara ibarat kunci rahasia kehidupan Rara. Karena setelah Kimo hadir pula, rahasia terbesar hidup Rara terbongkar. Dari hubungan cinta Rara dengan Gio, juga mengenai Piera ibu Rara yang ternyata istri muda ayah Gio.
Rara mengingat semua kejadian itu. Awal mula bertemu Kimo, berikut kandasnya hubungan Rara dengan Gio yang disusul dengan sederet drama memilukan. Baik dari Gio, Piera, bahkan Kiara yang hingga sekarang masih menentang hubungan mereka.
“Aku sudah melangkah sejauh ini ...,” lirih Rara dengan suara sengau.
Rasa lelah yang menggerogoti Rara seolah tak mau meninggalkannya. Bahkan karenanya, Rara memilih untuk istirahat. Ia melangkah terseok-seok dan akhirnya berhasil duduk di ranjang mewahnya. Ia berangsur merebahkan tubuh di kasurnya yang empuk, meringkuk tanpa berselimut.
Dirasa Rara, dunianya mendadak berputar melambat. Meski meninggalkan Kimo sama saja memberi pria itu kesempatan menemui Steffy, tetapi demi Tuhan, Rara sudah kadung kecewa kepada pria itu. Ia benar-benar merindukan Kimo yang dulu. Kimo yang hanya menatapnya, memikirkannya, juga hanya peduli kepadanya tanpa orang lain. Bukan Kimo yang sekarang. Kimo yang berusaha adil. Berusaha menjadi mentari yang bisa memberikan kebahagiaan kepada semua orang.
Meski awalnya sudah terpejam, tiba-tiba saja Rara teringat ponselnya. Tadi, di nakas yang ia belakangi, di sana ponselnya berada. Dengan air mata yang tak hentinya berlinang, Rara balik badan, ia meraih ponselnya tanpa membuatnya bangun, lantaran tubuhnya sudah telanjur lemas tak bertenaga. Ia mengirim pesan kepada Kimo.
Suamiku : Sekalipun aku bukan manusia yang sempurna. Aku juga tidak bisa mencintaimu dengan sempurna. Namun aku selalu memberikan semua yang aku punya ... aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk hubungan kita apalagi untukmu. Semua yang berhubungan denganmu, bagiku selalu nomor satu.
Suamiku : Namun, jika kamu sampai pergi dan menemui Steffy, dengan kata lain kamu memilihnya. Jadi setelah ini, jangan pernah lagi ada dalam hidupku apalagi menemuiku! Maaf, aku bukan wanita baik hati yang rela berbagi cinta apalagi kalau harus berbagi suami!
Tangis Rara pecah seiring ponselnya yang jatuh kelantai. Tak lama kemudian, tubuhnya berangsur menekuk menyerupai udang rebus. Rara terisak-isak hingga wanita itu tertidur dengan sendirinya karena kehabisa tenaga.
***
Keinya tengah melangkah sambil memomong Pelangi menggunakan sepeda. Seperti rutinitas paginya, membawa Pelangi jalan-jalan keliling kompleks dikawal kedua ajudannya, kembali ia lakukan tak lama setelah kepergian Yuan.
Rasa bahagia Keinya benar-benar tak tergoyahkan. Bahkan sekalipun ia melewati rumah Itzy dan wanita muda itu juga ada di depan gerbang. Itzy tampak pucat. Dan jika Keinya amati, Itzy juga masih mengenakan pakaian yang kemarin.
“Anak ini, baik-baik saja, kan?” batin Keinya yang berangsur mengulas senyum sebagai sapaan basa-basinya kepada Itzy.
Tiba-tiba saja, Itzy menjadi ceria seperti biasanya. “Kak Key, aku boleh ikut jalan-jalan?” pintanya.
Dan tiba-tiba saja, perasaan Keinya menjadi tidak enak. Namun, demi menyeimbangi Itzy yang sudah langsung berjalan di sebelahnya, Keinya terpaksa mengangguk.
“Tumben, belum berangkat kerja?” tanya Keinya, dan benar-benar hanya basa-basi. Demi Tuhan, Keinya tidak bisa bersikap baik-baik saja jika harus bersama wanita yang mencintai Yuan. Keinya bukan wanita baik hati yang rela berbagi suami.
__ADS_1
“Aku juga ingin sedikit bersantai,” balas Itzy masih ceria dan kerap menatap sekaligus mengumbar senyum kepada Keinya.
“Oh,” balas Keinya sambil mengangguk-angguk. Entahlah, Keinya menjadi tidak punya bahan obrolan dengan Itzy. Hingga yang ada, dirasanya suasana kebersamaan mereka menjadi canggung bahkan kaku.
Mereka masih berjalan, melangkah santai berhias alunan liriagu anak-anak dari kotak musik sepeda Pelangi.
“Kalau dilihat-lihat, hidup Kak Kei enak, ya? Punya suami penyayang yang punya segalanya. Kalian juga sudah punya anak cantik,” sambung Itzy sambil memanyunkan bibir.
Keinya mengulas senyum seramah mungkin. “Jangan pernah ingin jadi orang lain, karena kita enggak tahu, apa yang sebenarnya mereka rasakan.”
Itzy tertunduk lesu dan tak berkomentar.
“Jadi orang lain itu berat. Lebih berat dari meratapi betapa kejamnya nasib kita, saat kita sedang putus asa.” Keinya mengembuskan napas lega. Apa yang ia katakan barusan juga sudah sering ia rasakan. Kadang ia ingin memiliki kehidupan seperti orang lain, tetapi ia sendiri tidak siap menjadi orang itu, jika nyatanya kehidupan orang itu justru lebih berat dari kehidupan Keinya sendiri.
Meski Keinya sengaja menyindir Itzy, tetapi Itzy masih dengan kenyakinannya.
“Setidaknya, pasti di luar sana juga banyak yang ingin seperti Kak Kei!” balas Itzy penuh keyakinan, sesaat setelah sampai menghela napas. “Termasuk aku. Aku benar-benar iri. Kenapa bukan aku yang menjadi istri suamimu dan mendapatkan semua keberuntungan itu?” batinnya sambil diam-diam melirik sedih Keinya.
“Syukur kalau memang begitu kenyataannya. Berarti doaku dan suami dikabulkan Tuhan.” Keinya masih menanggapi dengan santai.
Keinya curiga, jika sebenarnya, Itzy memiliki maksud lain dalam kebersamaan sekarang.
“Kak, Kei ...?” panggil Itzy kemudian yang sepenuhnya menghadap Keinya sesat setelah sampai berhenti melangkah.
“Ada apa? Kenapa kamu setegang itu?” Keinya juga menghentikan langkah berikut menghadap pada Itzy. Sedangkan kedua pengawal yang menyertainya juga berjaga dengan jarak yang lebih dekat.
Itzy tak langsung menjawab atau pun melanjutkan obrolan yang awalnya ingin ia kendalikan. Ia tertunduk ragu, membuat Keinya semakin menunggu.
“Kak, Kei ... jika aku jujur, apakah Kak Kei akan marah?” Itzy menatap Keinya dengan memelas.
Keinya masih mempertahankan senyumnya. Ia menatap Itzy sarat ketulusan kemudian menggeleng pelan. “Meski tidak selamanya kejujuran akan membahagiakan, tetapi aku lebih suka kalau kamu juga jujur. Katakanlah.”
Itzy terdiam menatap kedua manik mata Keinya yang tak hentinya berbinar. “Jika aku jujur, bahwa selama ini yang kukira Daniel, justru suami Kakak, ... pria yang kucintai ternyata Kak Yuan, ... apakah, ... Kakak akan memberiku izin? Bisakah Kakak membiarkanku juga sebahagia Kakak dan menjadi istri Kak Yuan?” tanyanya hati-hati dengan segenap jiwa dan raganya yang seketika itu terasa memanas.
Pertanyaan Itzy benar-benar mendidihkan emosi Keinya yang seketika itu juga, langsung kehabisan kata-kata. Apakah Itzy sudah gila, tega-teganya meminta izin memiliki Yuan kepadanya?!
Tak ada angin apalagi hujan, tiba-tiba saja seolah banyak guntur yang sibuk menyambar di sekitar kepala Keinya. Apa yang Itzy lakukan ibarat badai terbesar dalam rumah tangganya.
Kedua ajudan Keinya, sampai mencemaskan Keinya yang detik itu juga menjadi mematung kehilangan ekspresi.
“Nyonya?” panggil salah satu dari mereka, sedangkan yang satunya lagi langsung mengambil alih sepeda berikut Pelangi yang awalnya sedang Keinya dorong.
__ADS_1
“Tolong, jaga sikap Anda, jika Anda tidak ingin berurusan dengan Tuan saya!” tegur si pria yang sempat menanyakan keadaan Keinya.
Keinya memang kebas. Bahkan saking tak berdayanya, ia jadi malas menghadapi Steffy. Ia menepis wanita muda itu dan memunggunginya.
“Tolong, antar saya pulang,” pinta Keinya yang tiba-tiba saja menjadi sangat pusing.
“Tolong, biarkan saya berurusan dengan tuan kalian!” pinta Itzy tiba-tiba ketika Keinya dan kedua ajudannya, nyaris berlalu.
Untuk beberapa saat, Keinya membatu. Ia benar-benar buntu dan tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Itzy yang begitu menginginkan Yuan.
Sesaat menghela napas dalam, Keinya berangsur menoleh dan membuatnya menatap Itzy. “Semoga, ... setelah nanti kamu menikah, tidak ada wanita lain yang meminta izin menjadi istri suamimu, karena itu sangat menyakitkan!” Keinya tak kuasa menahan air matanya agar tidak mengalir, membuatnya terlihat lemah bahkan menyedihkan hanya untuk mempertahankan suami yang sudah tentunya menjadi haknya. “Tolong, setelah ini, jangan pernah ada lagi dalam kehidupanku, juga keluargaku!” pintanya kemudian dengan perasaan yang telanjur hancur.
Itzy juga menitikkan air mata, tetapi Keinya tidak tahu, atas dasar apa wanita jahat itu juga menitikkan air mata. Sebab seperti apa yang baru saja ia tegaskan, Keinya benar-benar tidak mau mengenal Itzy lagi.
Bersama kedua ajudannya, Keinya memilih pulang. Dan saking lemasnya, Keinya sampai dibantu ajudannya dalam melangkah. Seorang ajudannya menahan lengannya kuat-kuat.
“Apakah aku salah? apakah aku sudah keterlaluan? Tapi, aku mencintai Kak Yuan ....” Itzy terdiam di pertigaan kompleks ia dan Keinya berbincang. Benar-benar tidak mengalami perubahan. Ia melepas kepergian Keinya dengan hati yang begitu gamang.
***
Keinya baru saja duduk di sofa keluarga, kemudian meminum segelas air putih yang disuguhkan oleh asisten rumahnya. Dan karena ia masih belum bisa melupakan permintaan Itzy, ia terpaksa menitipkan Pelangi pada pekerjanya. Di depan sana, masih dalam satu ruangan yang sama, Pelangi dan dua pekerja di rumahnya sedang berada dalam bak mandi bola. Keduanya berhasil membuat Pelangi asyik bermain bola. Melemparkannya pada ring yang ada di sudut bak penampung bola kecil warna-warni di sana.
Keinya kembali menghela napas pelan. Ia mengamati suasana rumahnya yang megah dan berkelas. Benar kata Itzy, ia memang beruntung, memiliki segalanya termasuk memiliki Yuan berikut Pelangi. Pun meski di balik keberuntungan yang ia miliki juga tak luput dari godaan sekaligus cobaan.
Ketika Keinya kembali merasa sesak luar biasa dan nyaris kembali larut dalam kesedihan yang dibuat Itzy, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Di meja yang ada di hadapannya, nama Rara menjadi pemanggil telepon masuk ponselnya. Sontak, Keinya langsung menjawab telepon dari sahabatnya itu, dan menyingkirkan jauh-jauh kesedihannya.
“Iya, Ra? Ada apa?”
“Kei! Aku pendarahan!” balas Rara dari seberang sambil terisak-isak.
Jantung Keinya seolak melesak. Keinya langsung limbung, dan nyaris pingsan, andai saja tangis Rara tidak terdengar semakin keras dari seberang.
“Kei, tolong! Ini bagaimana? Aku harus bagaimana?!”
Bersambung ....
Dududuh, Author bingung mau ngomong apa.
Ditunggu jejak kalian, ya!
Salam sayang,
__ADS_1
Rositi.