
“Kalau bukan pelakor, apa sebutan yang pantas untuk wanita perebut pasangan orang sepertimu? Mana mungkin aku memanggilmu copet, atau malah jambret, kan?”
Bab 44 : Wanita-Wanita Dalam Hidup Yuan
***
Rara meninggalkan Kimo dengan air mata yang terus berlinang. Sementara yang terjadi dengan Kimo, pria itu terdiam karena merasa sangat bersalah. Apalagi, ia sampai melihat Rara berlinang air mata bahkan sesenggukan. Bukankah ia begitu anti melihat wanita menangis? Namun, kenapa ia justru membuat Rara menangis?
Kimo merasa jengah, menertawakan, memaki dirinya sendiri.
Setelah sempat menggeragap, Kimo bergegas menyusul Rara. Ia melangkah tergesa bahkan sampai berlari demi mengejar Rara dan meminta maaf pada wanita itu. Namun sayang, Rara sudah bertemu Keinya di depan pintu ruang rawat Yuan.
“Kamu menangis?” tanya Keinya cemas.
Keinya yang sudah menggendong Pelangi berusaha memastikan penglihatannya. Tadi ia yakin kalau mata Rara sembam dan bahkan basah.
Mendapati pandangan itu, hati Kimo berdesir perih. Sungguh, perihal apa yang terjadi beberapa saat lalu, ia sama sekali tidak bermaksud melukai Rara.
Rara menggeleng sambil tersenyum. Ia menunduk dengan kedua tangan mengucek mata. “Enggak. Tadi aku enggak sengaja lihat bapak-bapak keluar dari UGD, tapi ... jadi ingat ayah.”
Rara harap, kebohongan yang untuk pertama kalinya ia katakan pada Keinya, cukup masuk akal menjadi alasan. Karena bila ia jujur, Keinya pasti akan sangat marah kepada Kimo.
Hati Keinya terenyuh. Ia mengulas senyum dengan mata yang tiba-tiba saja terasa panas. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Rara sambil berkata, “banyak-banyak kirim doa saja. Ayah sudah bahagia di Surga.”
Rara mengangguk. “Mm ... makasih, Kei.”
Senyum di wajah Keinya kian bertambah bersama rasa lega yang ia kantongi lantaran Rara menyetujui anggapannya. Bahkan meski itu tidak sepenuhnya bertanda baik. Tidak semua rasa apalagi luka akibat rindu yang terlalu lama ditahan, bisa terobati apalagi hanya dalam waktu singkat, kan?
“Oh, iya, Ra. Kamu mau mewakili perusahaan buat mengikuti pembuatan buku bacaan anak, enggak? Kalau enggak, nanti aku kasih ke yang lain? Tadinya kan aku mau berangkat, tapi karena keadaan Yuan enggak memungkinkan,”
“Enggak usah khawatir, Kei. Biar aku saja yang urus. Kamu fokus ke Pelangi sama Yuan saja,” sergah Rara yang langsung membuat Keinya tersenyum lega. Selain itu, Keinya juga sampai menghela napas dalam.
“Oh, iya. Yuan sudah siuman.” Keinya sengaja memberikan kabar baik mengenai perkembangan Yuan.
“Lah, hubungannya sama aku apa? Yuan kan cuma butuh kamu?” Rara menatap Keinya heran sambil mengerucutkan bibir.
Keinya merasa geli dengan balasan Rara yang sampai membuatnya tertawa. “Katanya kalian kakak-adik?”
“Itu sih cuma modusnya Yuan biar bisa deketin kamu!” cibir Rara yang sukses membuat Keinya terpingkal-pingkal.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan melihat kakakku,” ujar Rara sengaja melucu.
Keinya yang masih harus mengendalikan tawa, berangsur mengikuti Rara.
“Oh iya, omong-omong, seharian ini si Ryunana sibuk menghubungiku. Ngedrop-ngedrop baterai ponselku!” keluh Rara kemudian.
Belum lama cerita, ponsel Rara sudah kembali berdering. Kenyataan itu pula yang membuat Keinya gemas dan langsung menjawab telepon tersebut sementara Rara memilih berlalu untuk menemui Yuan.
****
Melihat Rara, Yuan yang masih terbaring lemah, langsung sibuk tersenyum. Senyum geli sekaligus gemas.
“Halo, Yu? Bagaimana rasanya menginap di hotel vip? Pengusaha penginapan malah menginap di tempat lain. Rumah sakit lagi.” Rara memperhatikan penampilan Yuan yang kontras dari biasanya. Benar-benar jauh dari kata gagah meski wajah tampannya masih terlihat sangat semringah. Tak ada raut sakit sedikit pun walau lukanya terbilang parah.
“Tadi ada yang bilang aku modus, ya? Kamu mau dicoret dari daftar ahli waris?” ancam Yuan sambil tersenyum geli.
Rara tergelak kemudian menepuk kuat tangan Yuan yang diperban. Membuat Yuan mengerang menahan sakit atas ulah Rara yang jelas sengaja meledeknya.
“Kamu pikir aku sakitnya bercanda, apa, Ra? Ini beneran sakit!” keluh Yuan.
Rara yang masih tertawa berusaha mengakhirinya dengan mengatur napas. “Kalau kamu enggak kayak gini, Keinya pasti sudah pergi!” bisiknya.
“Pura-pura sakit terus saja, biar Keinya makin perhatian,” tambah Rara masih meledek.
Yuan menatap Rara dengan senyum jail. “Diam-diam kamu berbakat modus juga, ya?”
“Lha, kan aku penulis romance! Tentu saja hal receh semacam mencuri perhatian, buatku hal semacam itu urusan kecil!”
Ketika Yuan dan Rara sama-sama terkikik, di luar, Keinya justru sedang bersitegang dengan Ryunana melalui sambungan telepon di ponsel Rara.
“Ra, katakan padaku. Di mana Keinya? Dia sedang bersama Yuan, kan? Kamu ini kenapa, sih? Kenapa dari tadi enggak mau angkat atau balas chatingku?!"
“Apa maksudmu terus mengganggu hubunganku dengan Yuan? Apakah penegasan Yuan kemarin belum jelas?”
“Kei ... Kei-nya?” Dari seberang, Ryunana terdengar sangat terkejut. “Kenapa kamu yang menjawab ...?”
“Kenapa? Kamu melarangku menjawab telepon di ponsel Rara, sedangkan kamu sibuk mengganggu hubunganku dan Yuan?” Keinya mendengkus kesal. “Menjawab telepon di ponsel sahabat enggak salah apalagi dosa, Ryunana. Yang salah dan berdosa itu mengganggu apalagi merusak hubungan orang.”
Ryunana tak langsung menjawab. “T-tapi aku punya bukti kalau anakmu itu bukan anak Yuan! Aku juga baru tahu kalau ternyata istri Yuan itu Kainya kembaranmu, bukan kamu!”
__ADS_1
Tiba-tiba saja, hati Keinya terasa begitu sakit.
“Istri Yuan itu Kainya kembaranmu, bukan kamu!” Kata-kata tersebut terus berdengung dan memekakkan pendengaran Keinya. Sakit bahkan marah ia rasakan detik itu juga dan begitu menguras emosinya.
“Ayolah, Kei. Jangan jadi wanita cengeng! Ingat, Yuan sudah berjuang sejauh ini!” batin Keinya berusaha menyemangati dirinya sendiri.
“Kenapa? Malu, kan? Suami saudara kok diaku-aku!” cibir Ryunana.
“Kalau kamu enggak tahu masalahnya jangan asal menghakimi, Ryunana. Ayo kita bertemu. Kurang jelas apa lagi padahal Yuan sudah memintamu untuk tidak mengganggu kami? Mau jadi perusak hubungan bahkan pelakor, kamu?” tepis Keinya garam.
“Pe-pelakor? Sembarangan kamu kalau ngomong, ya, Kei!”
“Kalau bukan pelakor, apa sebutan yang pantas untuk wanita perebut pasangan orang sepertimu? Mana mungkin aku memanggilmu copet, atau malah jambret, kan?” Emosi Keinya sudah tidak bisa ditahan lagi.
“Dasar wanita ular! Katakan padaku kalian di mana? Kenapa kamu tidak mengizinkan Yuan menghadiri acara peresmian apartemen padahal di sini sudah ada keluarganya?”
Keinya tak lagi peduli pada kata-kata Ryunana yang baginya semakin tidak tahu diri, terlepas dari Ryunana yang Keinya yakini hanya ingin menghancurkan hubungan Keinya dan Yuan. “Ryunana, aku tegaskan lagi, sekali lagi kamu berani mengganggu hubunganku dan Yuan, atau orang-orang di sekitar kami, aku tak segan melaporkanmu ke polisi!” Keinya mengakhiri sambungan telepon mereka dengan emosi yang meledak-ledak.
Demi meredam emosinya, Keinya sengaja memejamkan matanya sambil mengatur napas pelan. Namun, tiga menit kemudian ketika Keinya membuka mata, kehadiran Kimo yang sudah ada di hadapannya dan memenuhi pandangannya sukses membuat terkejut.
“A-ada apa?” tanya Keinya sesaat sampai terlonjak. Wajah sekaligus ekspresi Kimo dipenuhi keseriusan sekaligus penyesalan.
“Tolong, bantu aku meminta maaf ke Rara!” balas Kimo.
“Hah ...?” Keinya menatap Kimo penuh tanya. Dengan adanya permintaan ini, Keinya jadi curiga, Kimo merupakan penyebab Rara menangis beberapa saat lalu.
***
Ketika Rara akan meninggalkan rumah sakit, tiba-tiba saja ia teringat Kainya. Ada rasa bersalah yang begitu besar ketika ia memikirkan wanita itu apalagi sekarang Kainya sedang terbaring tak berdaya. Jadi, meski Rara sudah melewati ruang rawat Kainya, Rara sengaja balik badan dan kembali. Ia berniat menjenguk Kainya. Setidaknya, ia harus menjembatani hubungan Kainya dan Keinya. Paling tidak itulah yang bisa ia lakukan sebagai sahabat Keinya.
Setelah meminta izin pada polisi yang berjaga, akhirnya Rara berhasil masuk. Di sana, wanita yang begitu mirip dengan Keinya dan sempat mengelabuhinya, masih terbaring tak berdaya. Kedua mata Kainya masih terpejam damai. “Jika Keinya mengetahuinya, Keinya pasti sangat bersedih dan tak menutup kemungkinan menyalahkan diri sendiri terhadal apa yang menimpa Kainya!” pikir Rara sembari menatap prihatin Kainya.
Jika Kainya begitu mencintai Yuan dan rela mengorbankan apa pun termasuk Keinya bahkan nyawa Kainya sendiri, Rara rasa, Kainya sudah tidak baik-baik saja bahkan jauh lebih gila dari Ryunana. Namun, kenapa wanita-wanita dalam hidup Yuan begitu gila?
“Keinya akan tetap aman, kan?” Rara menjadi ngeri jika memikirkannya. Belum lagi, jika sampai terbukti, Kainya juga bisa berurusan dengan hukum!
Rara harap, semuanya akan baik-baik saja tanpa ada hukum di antara mereka. Dan pastinya, Kainya mau menerima kenyataan. Kenyataan menyangkut kesalahan Kainya, juga Yuan yang hanya mencintai Keinya.
*****
__ADS_1