Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 70 : Wanita Paling Bahagia


__ADS_3

“Di dunia ini enggak ada yang benar-benar sama. Termasuk dalam kebahagiaan. Setiap orang memiliki tolak ukur kebahagiaan yang berbeda tanpa terkecuali kita.”


Bab 70 : Wanita Paling Bahagia


“Kimi!” ucap Gio sesaat menghela napas berat.


“Kamu kenapa?” balas Kimi terheran-heran.


Gio kehilangan kata-kata sekaligus ide untuk balas dan menghadapi Kimi. Bahkan, ia justru menjadi menggeragap.


“Aku tidak punya waktu. Aku harus kembali ke kantor,” ucap Kimi santai. Benar-benar menanggapi Gio dengan santai, meski rasa sebal masih turut menyertai.


Sambil menyeringai dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Gio berkata, “aku ingin minta maaf. Bagaimana kalau?”


Kimi mengangguk-angguk. “Ya ... aku sudah memaafkanmu. Tapi aku harus segera pergi. Sampai jumpa!” Kimi berjalan tergesa meninggalkan Gio tanpa menunggu balasan dari pria itu.


Gio menatap bingung kepergian Kimi. Terlihat Kimi yang sesekali memastikan arloji yang menghiasi tangan kiri wanita iti sebelum memasuki mobil. Kimi menyetir sendiri. Namun, sebelum wanita itu benar-benar menutup pintu, ia pun berseru, “nanti malam!”


Kimi yang baru akan menutup pintu menjadi mengernyit selain refleks terdiam untuk beberapa saat. “Si Gio tadi ngomong apa?” pikirnya. Namun karena buru-buru, ia pun mengangguk pada pria itu, sesaat sebelum menutup pintu dan bersiap mengemudi.


“Si Kimi baik bener, langsung maafin aku dan mau menerima ajakan menontonku?” pikir Gio yang kemudian memilih masuk ke restoran Keinya, setelah mobil Kimi meninggakan area parkir.


Gio yang awalnya baik-baik saja, menjadi terkesiap ketika mendapati Kiara satu meja dengan Rara. Namun, ia yang kadung disapa Rara, tak kuasa menghindar apalagi melarikan diri dari Kiara.


Tentu beralasan, kenapa Gio sangat menghindari bahkan takut kepada Kiara. Tak lain karena masalah di masa lalu mereka yang memang belum tuntas, karena Gio sendiri belum meminta maaf secara langsung. Baik kepada Kimi yang baru ia lakukan beberapa saat lalu, juga Kiara dan Franki selaku orang tua Kimi.


Ketika Gio melangkah ragu menghampiri kebersamaan, di mana Gio juga terlihat tidak punya nyali bahkan menatap Kiara saja seolah tidak berani, Kiara yang kesal atas kehadiran Gio pun menatap Rara. Mereka yang sama-sama menghadap ke arah kedatangan, menyaksikan betapa malu sekaligus menyesalnya seorang Gio hanya karena harus berhadapan dengan Kiara.


“Kamu janjian sama dia? Mama ogah ketemu dia!” keluh Kiara.


“T-tapi, Ma!” sergah Rara berusaha menahan, tetapi Kiara memutuskan pergi.


“Enggak. Males. Mama masih sakit hati. Mama ke toilet saja, ya? Kamu jangan lama-lama juga sama dia. Nanti Kimo cemburu!” pamit Kiara buru-buru. Kiara bahkan sampai berlari lantaran Gio sudah semakin dekat.


Mendapati kepergian Kiara yang buru-buru masuk ke arah toilet, Gio menjadi terheran-heran. “Mama mertuamu kenapa?” tanyanya setelah ada di hadapan Rara.


Rara yang mengalihkan tatapannya dari kepergian Kiara, menjadi menggeleng tak habis pikir sambil menatap Gio. “Kamu telat. Kimi sudah pergi!” omelnya.


Ketika pagi Kimi mengabari ingin bertemu, diam-diam Rara memang mengabari Gio. Rara meminta Gio memanfaatkan kesempatan itu untuk minta maaf. Baik kepada Kimi, maupun Kiara yang kini menjelma mejadi asisten pribadi Rara dan akan siap membantu semua yang Rara lakukan. Hanya saja, selain Kimi sudah pergi, lebih tepatnya harus buru-buru pergi karena ada urusan mendadak, Kiara juga tidak mau bertemu Gio. Dan selain terlihat sangat marah, Kiara yang jelas kecewa juga sudah tidak mau berurusan dengan Gio.


Gio menarik sebuah kursi dan menggunakannya untuk duduk. “Tadi aku bertemu sebentar di depan,” ucapnya sesaat setelah menghela napas dan sampai mendesah sambil memgepaskan punggungnya ke sandaran tempatnya duduk. “Eh, Kimi bilang, dia sudah maafin aku, lho!” lanjutnya sambil menatap tak percaya Rara.


Rara menghela napas kemudian menggeleng karena merasa tak habis pikir. “Semua orang baik ke kamu, Gi! Kamunya saja yang enggak pernah nyadar!” cibirnya. “Enggak sadar diri, maksudnya!” tambahnya sedikit mengumpat.


Gio mendengkus. “Kayaknya daripada kamu jadi temanku, kamu jauh lebih cocok jadi ibu tiriku deh, Ra. Marah-marah terus ....”


“Bagaimana aku enggak marah, kalau kelakuanmu saja begitu?!” omel Rara makin kesal lantaran Gio masih saja ngenyel.


Gio kembali menghela napas. “Omong-omong, Kainya beneran sama si Steven?”


Rara mengerutkan dahi dan tampak berpikir. Ia tak lantas menjawab lantaran yang ada, ia memakan salad buah yang sudah tersaji dilumuri bumbu, di hadapannya.


Gio menelan ludah, menatap Rara sambil menggeleng tak habis pikir. “Memangnya orang hamil harus makan terus, ya?”


“Memangnya kenapa? Kamu mau hamil juga, nanya-nanya begitu?” balas Rara enteng dengan mulut yang baru saja ia isi.


“Seriu, ... kamu jadi ngeselin kayak suamimu!” Gio tersenyum getir.

__ADS_1


Rara cuek, menikmati salad buah yang ia santap. “Ini sangat enak. Kamu mau?”


“Nanti aku beneran hamil, kalau ikut makan itu!” omel Gio dan sukses membuat Rara tertawa.


“Dibandingkan dengan pertemuan terakhir, hari ini, kamu terlihat sangat bahagia?” tanya Gio kemudian sambil menatap saksama perubahan Rara.


Wajah Rara yang berseri-seri, bahkan Rara pun sampai jadi rakus melahap cepat makanannya, membuat Gio yakin, Rara sedang sangat bahagia di atas kebahagiaan biasanya.


Rara tidak menjawab. Namun dari caranya yang menanggapi dengan senyum ceria yang lebih mirip tersipu, Rara memang tidak mengelak jika kali ini, Rara sedang sangat bahagia.


“Ra ... jawab pertanyaanku yang tadi. Mengenai Kainya sama Steven!” tagih Gio.


“Kamu tanya-tanya ke aku, kesannya aku ini biang keroknya gosip. Tanya langsung saja orangnya, daripada kamu salah info!” balas Rara yang lagi-lagi mengomel.


“Etdah ... sifat Kimo bener-bener nempel ke kamu,” keluh Gio menyerah. Ia tak mau bertanya pada Rara lagi, lantaran kalau tidak marah, Rara hanya akan melantur. Namun sungguh, ia sangat penasaran mengenai hubungan Kainya dan Steven. Benarkah keduanya sedang dekat bahkan pacaran? Buktinya, Steven sampai membuatkan bekal untuk Kainya, sedangkan Daniel yang selalu sewot pada setiap pria yang mendekati Kainya, sampai membawakan bekal pemberian Steven untuk Kainya!


Siang yang mendung tiba-tiba diguyur hujan. Meski Gio dan Rara sama-sama refleks mengamati, tetapi keduanya menatap dengah perasaan berikut hati yang berbeda. Gio dengan perasaan berikut hatinya yang begitu hampa, juga Rara yang melakukannya dengan perasaan berikut hati yang diliputi begitu banyak kebahagiaan.


Sambil terus mengamati situasi luar melalui dinding restoran yang terbuat dari kaca tebal di sebelahnya, Rara berujar, “jadi kangen Kimo.”


Gio yang mendengarnya refleks mengerutkan dahi kemudian menatap Rara. “Bucin!” cibirnya dengan ekspresi datar.


Rara yang refleks menatap Gio, menjadi mendengkus dan langsung menepis tatapan pria itu. Ia kembali sibuk memakan sisa salad buahnya di kotak berbahan beling, dan masih tersisa setengah.


Kali ini Gio bersedekap sambil menatap serius Rara kendati wanita itu hanya sibuk makan tanpa peduli padanya. Bahkan, Rara terkesan tidak menganggapnya, telanjur asyik memakan salad buah di hadapannya. “Waktu kamu masih pacaran sama aku, pas hujan-hujan, kamu kangen juga?” tanyanya kemudian.


Tanpa menatap Gio, Rara langsung menggeleng. Benar-benar menggeleng enteng.


“Serius? Jangan bohong!” tuntut Gio yang yakin Rara hanya berbohong dengan balasannya. Ia yakin, Rara hanya malu untuk mengakuinya.


Merasa kecewa, Gio menatap datar sekaligus sebal Rara. “Kesannya, aku kok cacat banget, ya, di matamu?”


“Kalau kamu jadi aku, pasti kamu tahu betapa bahagianya dicintai dengan begitu tulus. Diperhatikan, dimanjakan ... hmmm, pokonya, ... dunia serasa milik berdua, dan yang lain cuma lewat!” balas Rara yang tak hanya merasa sangat bahagia, melainkan bangga lantaran baginya, tidak semua pria apalagi suami bisa seperti Kimo, selalu sigap sekaligus menjadi bapak rumah yang baik.


Tiba-tiba saja, hati Gio menjadi terbesit. Karena jauh di lubuk hatinya, ia juga ingin hidup bahagia layaknya apa yang diceritakan Rara. Terlebih semenjak mamanya meninggal, ia benar-benar tinggal sendiri. Sebatang kara. Sedangkan teman yang ia punya juga hanya Rara. Pun itu jika Rara ada waktu dan tentunya diizinkan Kimo.


***


Membayangkan akan mengandung, hamil anak Yuan, membuat Keinya merasa begitu bahagia. Harap-harap cemas tak ubahnya orang yang sedang jatuh cinta, membuatnya kerap senyum-senyum sindiri. Di sebelahnya, Yuan memangku Pelangi. Keduanya kompak tidur menikmati perjalanan menuju rumah sakit. Yuan sudah menghubungi dokter kandungan untuk agenda hari ini. Jadwal sudah ditentukan sesuai waktu yang Yuan punya. Hanya saja, Keinya jadi ragu, ... bagaimana jika ternyata ia belum hamil? Apakah menemui dokter kandungan sekarang, tidak terlalu buru-buru? Bukankah lebih baik ia melakukan tes melalui tes pack dulu? Yang ada, ia bisa malu bahkan kecewa, jika memang ia belum hamil. Pun dengan Yuan, ... tak menutup kemungkinan, Yuan juga akan kecewa. Belum lagi, Yuan sangat suka dengan anak kecil.


Meski ragu bahkan tak tega mengganggu tidur Yuan Keinya pun membangunkan suaminya itu. Ia meraih sebelah lengan Yuan, kemudian mengguncangnya pelan. “Yu ...?” panggilnya lirih.


Tak lama setelah itu, terdengar suara lemah erangan dati Yuan. Pria itu berangsur membuka mata kemudian menatap Keinya.


“Apa? Ada apa?” tanya Yuan.


“Apakah kita enggak terlalu buru-buru, langsung ke dokter kandungan? Bukankah lebih baik, tes pakai test pack dulu?” keluh Keinya menuangkan isi hatinya.


Akhir-akhir ini, Keinya memang menjadi gampang mengeluh, sama sekali tidak ada yang bisa Keinya tutupi. Jika Keinya merasa apa, wanita itu akan langsung mengatakannya.


“Memangnya kenapa? Bukankah ke dokter kandungan lebih akurat?” balas Yuan masih bingung.


Keinya menggeleng. “Takutnya ternyata aku belum hamil. Malu, nanti dikira terlalu ngebet punya anak,” balas Keinya yang sudah merasa kecewa sekaligus bersedih, meski baru membayangkan kemungkinan yang baru saja ia katakan.


Bukannya apa, Yuan justru nyaris mentertawakan istrinya. Ia sedikit mengulet, di mana sebelah tangannya berangsur mengelus punggung kepala Keinya.


“Enggak usah mikirin kata orang. Enggak punya anak sekarang, ya nanti. Masih ada waktu. Dan kalaupun memang enggak dikasih, kita sudah punya Pelangi,” ucap Yuan.

__ADS_1


“Seharusnya aku bahagia apa malah sedih, sih, Yuan malah ngomong kayak gitu?” bagin Keinya.


“Di dunia ini enggak ada yang benar-benar sama. Termasuk dalam kebahagiaan. Setiap orang memiliki tolak ukur kebahagiaan yang berbeda tanpa terkecuali kita. Karena seperti ini, bersamamu dan Pelangi, kalian sehat dan aku juga masih dikasih kesempatan buat bahagiain kalian, ... bagiku, ... itu sudah lebih dari cukup.” Yuan menatap Keinya penuh keteduhan.


Balasan Yuan sukses membuat Keinya merasa menjadi manusia tidak tahu diri. Seharusnya ia bersyukur karena memiliki Yuan. Namun, kenapa semenjak menikah dengan Yuan dan begitu dimanjakan suaminya itu, ia justru menjadi orang yang tidak tahu diri bahkan lemah?


***


Menjadi wanita paling bahagia juga turut Kainya rasakan. Ketika Steven datang, menunggu di depan mobil yang terparkir di depan kantornya. Kainya tak kuasa menahan senyumnya. Kainya yang sempat memelankan langkah bahkan berhenti setelah mendapati keberadaan Steven, menatap tak percaya pria itu, berangsur melangkah cepat.


Hari ini Kainya mengenakan midi dress polos lengan pendek warna pink muda, dengan tali di pinggang yang membuat pinggang rampingnya terekapos. Sedangkan Steven, pria itu juga jadi mengenakan kemeja lengan panjang warna pink muda selaras dengan Kainya.


“Kok bisa sama?” tanya Kainya tak percaya di antara semuanya.


Steven hanya mengulas senyum sambil menggeleng menyambut kedatangan Kainya.


“Kan aku sudah bilang, enggak jadi pakai pink?” sambung Kainya yang sudah berdiri di hadapan Steven.


Sesuai rencana, mereka akan menonton bioskop. Di tengah suasana yang semakin gelap, Steven segera membukakan pintu sebelah kemudi untuk Kainya. Kainya yang mulai mau membuka hati untuknya meski terkadang, wanita itu juga akan kembali menjadi pribadi yang tertutup.


***


Sementara itu, di tempat perbeda, Itzy melangkah tak bersemangat sambil menatapi kedua tiket nonton di tangannya. Ia sudah ada di koridor keberadaan ruang kerja Ben. Ia sudah bersiap meninggalkan kantor dengan tas kerja yang menghiasi pundak.


Di tengah tatapannya yang terus tertuju pada Ben, Itzy berharap, melalui tiket menonton bioskop itu, ia bisa minta maaf. Ia ingin memulai hubungan dengan Ben. Sebab, Itzy juga ingin menjadi wanita bahagia yang dicintai pasangannya. Pun meski hingga detik ini, ia belum bisa mencintai Ben.


***


Sore menjelang malam, Kimi dikejutkan oleh Gio yang terjaga di tempat parkir. Pria itu berdiri di depan mobil dan terlihat menunggu sesuatu dan mungkin seseorang.


“Kamu lagi ngapain?” tanya Kimi sambil mengerling memastikan sekitar. Tidak ada orang lain selain mereka, sedangkan mobil Gio terparkir di sebelah mobil milik Kimi.


“Kita kan sudah janjian?” ujar Gio heran.


Dan Kimi juga menjadi jauh lebih heran. “Janjian apa?”


“M-menonton, ... bioskop. Permintaan maaf? Aku benar-benar minta maaf.”


“Memangnya harus menonton bioskop?” tanya Kimi makin bingung, tetapi masih menanggapi dengan santai. Sambil terus menatap Gio, ia membenarkan kaitan tas di pundaknya, yang sebenarnya baik-baik saja.


Gio yang sempat terdiam bingung pun mengangguk. Meski pertanyaan Kimi masuk akal, tetapi Gio juga tidak tahu, kenapa ia sampai sudah membeli tiket nonton sepulangnya dari menemui Rara siang tadi.


“Tapi aku sudah ada janji mau nginep di rumah Kak Rara,” ucap Kimi terdengar menyesal.


Tak mau kalah, Gio mengeluarkan kedua tiket menonton bioskopnya dari balik saku bagian dalam jasnya. “Aku sudah beli tiket,” sergahnya.


Kimi terdiam bingung. Menatap kedua tiket yang Gio sodorkan, berganti pada Gio sendiri yang langsung menyambutnya dengan senyum tulus. Senyum tulus yang masih dihiasi rasa canggung.


Bersambung ....


Yuk ramaikan dan jangan segan untuk berkomentar. Like dan vote dari kalian juga Author tunggu ^^


Maaf ya, kalau banyak typo. Ngantuk berat >,<


Salam Sayang,


Rositi.

__ADS_1


__ADS_2