Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 20 : Masalah Baru


__ADS_3

“Jangan karena aku sedang patah hati, lantas kamu berpikir aku bukan orang hebat!”


Bab 20 : Masalah Baru


****


Tiara keluar dari kamar dengan rambut yang masih terbungkus handuk. Ia memasuki dapur sambil senyum-senyum sedangkan langkahnya terarah menuju keberadaan kulkas.


“Mm ... mau makan apa, ya ...?” ujarnya sambil membuka pintu kulkas. Matanya yang berbinar mengamati isi kulkas dan kebetulan kosong, hanya menyisakan beberapa sisa buah di rak paling bawah.


“Lho, kok nggak ada makanan, sih? Si Mbak belum belanja, apa Athan belum kasih uang?” bibir Tiara mencebik seiring rasa kecewa dan kesal yang ia rasakan dalam waktu bersamaan.


“Than ... Than, kok enggak ada makanan, sih? Aku lapar, Than!” teriak Tiara sambil mempertimbangkan beberapa buah yang tersisa. Ada 3 apel, 4 pir, selain 5 buah jeruk dan itu jauh dari kata segar. Buah yang tersisa benar-benar kusut dan terlihat jelas sudah terlalu lama di sana.


Dikarenakan tetap tidak mendapat respons bahkan meski ia sudah menunggu lama, akhirnya Tiara terpaksa menutup pintu kulkas dengan perasaan yang semakin kesal. Kemudian ia membuka pintu sebelahnya dan merupakan bagian fleezer. “Kalau gitu makan es krim saja, deh!” ujarnya sesaat sebelum meraih satu kotak es krim rasa vanila. Masih ada dua kotak yang tersisa dan awalnya nyaris ia boyong semua.


“Heran, rumah kok kayak kuburan sepi banget. Si Athan juga pergi ke mana enggak bilang-bilang?” Tiara terus mencari-cari. Tak ada tanda-tanda kehidupan meski ia sudah keluar dari dapur menuju ruang keluarga. “Mbak ... Mbak ...?” serunya kemudian. Tetap tak ada tanda-tanda kehidupan lain selain dirinya.


Namun tiba-tiba Tiara ingat, jika ia telah melakukan hal yang menjadi salah satu alasan rumahnya sangat sepi. “Eh, kayaknya kemarin aku baru mecat si Mbaknya deh. Ah, tahu ah. Salah siapa enggak becus kerja!” gumamnya.


Tak lama berselang setelah merebahkan tubuh di sofa panjang sambil menonton televisi dan menikmati es krimnya, Tiara meraih ponsel yang ada di atas meja kaca panjang di hadapan sofa keberadaannya. Ia memang tengah bersantai di ruang keluarga dan sudah menjadi rutinitasnya semenjak tinggal di rumah Athan. Rumah yang beberapa hari lalu sempat diobrak-abrik Keinya lagi. Kendati demikian, hingga detik ini Tiara menampik keras jika wanita itu masih berhak atas rumah yang ia tempati dan baginya justru merupakan rumahnya karena itu rumah Athan. Tentu, semua milik Athan juga menjadi miliknya.


Boleh dibilang Tiara mengendalikan hidup Athan. Wanita itu juga memegang beberapa kartu kredit milik Athan. Termasuk semua aktivitas pria itu di ponsel. Tak semata akun sosial medianya, melainkan pesan dan teleponnya dikarenakan Tiara sengaja meminta Athan untuk menghubungkan semua data ponsel pria itu ke ponselnya. Alhasil, setiap komunikasi yang masuk ke ponsel suaminya juga otomatis masuk ponselnya.


“Coba apa kabar si Keinya. Jangan-jangan sudah ada kabar wanita membunuh bayinya sendiri atau malah penemuan jasad ibu muda yang mengakhiri hidupnya secara tragis?” Tiara terkikik sambil mulai menggeser-geserkan jemarinya di layar ponsel yang menyala. Namun tak lama setelah itu, raut serius menepikan kebahagiaannya. Suasana hati Tiara menjadi buruk di mana tak lama berselang, es krim di tangan kirinya juga terjatuh begitu saja dari tahanannya.


“Kok enggak ada sih? Kok bisa gini?” Kali ini Tiara benar-benar panik. Bahkan ia sampai bangun dari rebahannya.


“Semuanya …? Kenapa semuanya bermasalah?!” Matanya mendelik tak percaya, masih menatap layar ponselnya. Bahkan tak lama setelah itu, ia  justru berteriak. “Athan ...!”


***


Apa yang Yuan lakukan berhasil membuat Keinya menjadi gugup. Itu mengapa Keinya buru-buru menepis Yuan sambil berlalu dan berkata, “hangan menatapku seperti itu lagi.”

__ADS_1


Keinya memang masih trauma dengan hubungan termasuk perhatian pria terhadapnya. Terlepas dari itu, Keinya juga tidak mau memberikan harapan atau membuat pria lain berharap kepadanya terhadap sebuah hubungan. Pun terhadap dirinya. Keinya tak mau membuat dirinya berharap apalagi bergantung kepada orang lain terlebih kepada pria.


Yuan langsung balik badan mengikuti kepergian Keinya, tapi Keinya tiba-tiba berhenti melangkah.


“Satu lagi.”


Penegasan Keinya membuat Yuan refleks terdiam bahkan menghentikan langkah.


“Aku sudah menjadi orang hebat semenjak kamu belum ada dalam kehidupanku!” Keinya sengaja menegaskan suaranya untuk mengingatkan bahkan pamer pada Yuan. “Jangan karena aku sedang patah hati, lantas kamu berpikir aku bukan orang hebat!”


Yuan tersenyum geli meski nada suara Keinya dipenuhi peringatan bahkan pamer.


“Dan ....”


Lanjutan Keinya mengusik Yuan. Pria itu kembali memfokuskan tatapannya ke depan. Yuan siap menyimak dan berharap bisa melihat wajah terlebih kedua mata wanita itu. Benar saja, dadanya menjadi berdebar-debar, sebab Keinya juga berangsur balik badan untuk menatapnya.


Nyali Keinya tiba-tiba menciut. Apalagi jika ia harus menatap Yuan yang terlihat antusias menunggu lanjutan kata-katanya. Pria itu terlihat sangat berharap dan terkesan jelas masih menawarkan banyak cinta. “Aku sudah ke psikiater ...,” ucapnya sambil menunduk.


Tiba-tiba saja hati Yuan terasa perih, seperti ada yang dengan sengaja melukai di sana. Apalagi, Keinya terlihat sangat berat melanjutkan kata-katanya dan memang tidak bisa jika harus tetap bercerita.


“Kenapa begitu?” tanggap Yuan cepat dan masih menatap Keinya dengan mengernyit.


“Karena kamu bukan ayah apa lagi ibuku,” balas Keinya enteng.


Yuan mengerucutkan bibirnya. Sambil melangkah mendekati Keinya, ia berkata, “tapi aku bagian dari masa depanmu. Bahkan aku melihat masa depanku ada bersamamu.”


Keinya tersenyum sarkastis karena merasa geli mendengar balasan Yuan. “Seberapa penting masa depan itu, sampai-sampai, kamu begitu menginginkannya?” ucap Keinya kesal dan buru-buru pergi sambil berkata, “Selasa depan sidang perceraianku baru akan digelar. Jadi berhentilah dan jangan terus-menerus menggodaku!”


Yuan tersenyum lepas dan terlihat sangat bahagia. Ia bahkan sampai berlari mengejar Keinya yang hampir meraih kop pintu. Akan tapi, Keinya mendadak berhenti melangkah sebab seseorang membuka pintu kamar dari luar lebih dulu darinya.


Rara, wanita bertubuh berisi itu terlihat serba salah dan cenderung panik di balik pintu.


“Ada apa? Ada masalah?”

__ADS_1


Pertanyaan yang nyaris selalu terucap dari bibir tipis berisi Keinya, membuat Yuan terjaga. Hidup Keinya memang sedang dikuasai banyak masalah. Namun jika masalah juga kembali hadir sementara masalah yang sudah ada saja belum sepenuhnya selesai, rasanya terlalu berat untuk Keinya. Belum lagi, Keinya tipikal yang selalu ingin mandiri tanpa mau menerima bantuan sedikit pun.


Rara yang mendapat pertanyaan tidak langsung menjawab. Rara terlihat kebingungan. Bahkan hingga Yuan sampai di sebelah Keinya, wanita ceria yang gampang panik itu masih kebingungan.


“Bicarakan di depan saja. Biar aku yang jaga Pelangi.” Yuan berpikir, bingungnya Rara karena Rara masih sangat sungkan kepadanya.


Rara segera mengangguk dan langsung menarik sebelah tangan Keinya untuk segera mengikutinya. Seolah-olah apa yang baru saja Yuan katakan merupakan jalan terbaik yang Rara inginkan.


Keinya menahan tuntunan Rara. Ia menatap Yuan dengan dahi berkerut. “Memangnya kamu enggak ada urusan lain? Nggak kerja?”


Yuan menanggapinya dengan santai sambil mengulas senyum dan menatap Keinya penuh cinta. “Aku masih tetap kerja meski aku hanya di rumah.”


“Bos mah gampang. Nggak ngantor pun uang tetap berdatangan,” gumam Rara. “Eh, eh ... ikat rambut Keinya ....” Rara terkikik lantaran menyadari ikat rambut yang menyimpul rambut Keinya tak lain dasi yang sempat melingkar di kerah kemeja putih Yuan, sedangkan pria itu tak lagi mengenakan dasi. Hanya jas hitam yang menyertai kemeja putih berikut setelan celana senada dengan jas.


Setelah terdiam dan merenung, Keinya mengangguk. “Baiklah. Aku rnggak minta apa lagi memaksamu, ya? Rara saksinya.” Setelah mengatakan itu, Keinya berlalu sambil meraih sebelah pergelangan tangan Rara kemudian menutup pintu kamar yang sempat Rara tahan.


“Kamu dan Yuan—?” bisik Rara yang terlihat serba salah. Memang ada masalah, tapi jika melihat kedekatan Keinya dan Yuan, ia jadi merasa gemas pada kedua sejoli itu.


“Jangan bahas hal lain kecuali masalah yang ingin kamu katakan.”


Tatapan penuh penekanan Keinya membuat Rara menjadi cukup gugup dikarenakan ia kembali teringat pokok masalah yang membuatnya mencari Keinya. “I-itu ....”


Keinya semakin penasaran dan menyimak baik-baik apa yang akan Rara katakan.


“Kei, akun Tiara Kim berikut karya-karyanya lenyap dari Mangatoon!”


Kendati Rara menjadi antusias, tapi hal tersebut tak menimpa Keinya yang menjadi bergeming. Jauh di lubuk hatinya, Keinya sangat menyayangkan hal tersebut yang terkesan sengaja menghilangkan jejak.


“Aku sudah berulang kali mengeceknya. Bahkan Ryunana jadi terlihat muak pada Tiara Kim yang tiba-tiba lenyap.”


“Kenapa kamu hanya diam? Apakah kamu sudah menduga ini sebelumnya?” Rara terheran-heran menatap Keinya.


“Jangan-jangan, akun Tiara Kim memang settingan-mu? Kamu sengaja melakukannya untuk meraup keuntungan?” umpat Ryunana dan langsung membuat suasana menjadi tidak nyaman.

__ADS_1


Rara menatap kedua wanita yang mengapitnya dengan bingung, meski perlahan, ia juga memikirkan maksud teguran Ryunana. Benarkah Keinya sengaja merekayasa keadaan demi kepentingan pribadi? Masalah sebelumnya saja belum selesai, kenapa harus muncul masalah baru yang justru menempatkan Keinya dalam posisi sulit?


***


__ADS_2