
“Mana mungkin aku mencintai wanita yang terlahir dari wanita murahan sepertimu!”
Bab 53 : Kepastian yang Tak Kunjung Rara Dapatkan
*****
Rara menghela napas dalam dan melepasnya dengan pelan melalui mulut. Ia mencoba menampung banyak keberanian sekaligus kekuatan. Jemarinya masih mencengkeram ponsel, sedangkan kedua matanya menatap serius layar ponselnya.
[Kita harus bertemu. Secepatnya. Aku ingin tahu alasanmu selingkuh dan bahkan menelantarkan persiapan pernikahan kita. Tenang saja, aku tidak memintamu kembali padaku. Aku hanya menginginkan penjelasanmu.]
[Kalau kamu tetap mengabaikanku, aku pastikan kamu akan sangat menyesal. Tidak hanya mengenai kebusukanmu yang akan aku sebar luaskan, karena aku juga akan melaporkanmu ke polisi!]
Rara masih terjaga menunggu balasan pesan yang ia kirimkan kepada Gio. Pesan yang ia harapkan menjadi pesan terakhirnya kepada pria jahat itu, karena setelah ini, Rara tidak mau apalagi sudi menjalin hubungan dengan pria itu meski sekadar kenal. Rara ingin menghapus Gio dari kehidupannya. Karena hanya dengan begitulah caranya mengurangi beban hidup. Karena mengurus urusan sendiri saja sudah sulit, apalagi kalau sampai dipersulit?
Jika Gio tetap menelantarkan persiapan pernikahan mereka walau Rara tidak meminta pria itu bertanggung jawab sekaligus mengurusnya, bagi Rara Gio benar-benar tak tahu malu bahkan pengecut.
Semenjak Rara memutuskan Gio, pria itu belum pernah menghubungi Rara. Pun meski Rara telah mengirimi Gio beberapa pesan, meminta bertemu untuk membahas persiapan pernikahan yang Gio telantarkan. Jadi, ketika pesan kali ini dibalas, Rara merasa beruntung. Akhirnya Gio mau memberinya kesempatan. Tak lagi membuatnya bak pemburu berita yang selalu banyak tanya. Apalagi biar bagaimanapun keadaan mereka, sebelumnya semuanya baik-baik saja. Gio selalu memperlakukannya dengan manis meski tidak semanis Yuan kepada Keinya.
Yang Rara permasalahkan, ia ingin tahu alasan Gio berselingkuh dan tak kunjung memutuskannya padahal mereka sedang mempersiapkan semua keperluan pernikahan. Di mana, Gio juga sudah sampai merampungkan semua persiapan pernikahan dengan calon istrinya yang sekarang. Pasti Gio memiliki alasan kuat, kenapa pria itu tiba-tiba berubah bahkan terkesan sengaja mempermainkan Rara. Dan yang membuat Rara semakin ingin tahu, kenapa juga Gio justru akan menikah dengan calon istri Kimo, setelah sebelumnya sempat menjalin hubungan dengan Kimi adik Kimo?
[Gio : Kamu di mana?]
Rara tak langsung membalas. Ia menghela napas dalam terlebih dahulu sebelum akhirnya membalas; [Aku di taman dekat indekosmu.]
[Gio : Baik. Setengah jam lagi aku sampai.]
Meski Gio langsung membalas, setelah setengah jam berlalu, pria itu tak kunjung datang. Barulah ketika satu jam berlalu, sebuah mobil menepi di seberang jalan keberadaan Rara. Pemandangan berbeda Rara dapati atas kedatangan Gio yang tak lagi mengenakan motor. Pria itu mengenakan sedan hitam yang tampak begitu mengkilap, menandakan mobil itu masih baru. Sedangkan untuk penampilan Gio, bukan lagi kaus dan celana jin yang membuat pria tinggi itu terlihat layaknya orang biasa dan bekerja serabutan seperti yang biasa Rara kenal, melainkan gaya kantoran meski tak sampai mengenakan dasi dan jas.
Gio menjelma menjadi pria kaya raya yang tampilannya saja sampai dijaga. Mungkin karena Gio akan menikah dengan anak tunggal dari salah satu konglomerat di kota mereka. Rara benar-benar tak menyangka dan masih tidak percaya pernah menjalin hubungan dekat dengan Gio selama lima tahun lebih, bahkan mereka sampai merencanakan menikah dan berakhir karena Gio telantarkan. Namun dengan keadaan yang seperti sekarang, Rara yang langsung beranjak dari duduknya justru merasa asing pada Gio.
“Apa lagi?” tanya Gio terdengar ketus.
Gio terlihat sangat tidak nyaman. Terus menepis tatapan Rara yang ada di hadapannya.
“Kamu butuh uang? Atau aku justru harus ganti rugi dua kali lipat?” todong Gio tak sabar.
Rara tersenyum sarkastis kemudian bersedekap. “Dua kali lipat? Setelah semua yang kamu dapatkan dari calon istri konglomeratmu, kamu hanya bisa memberiku dua kali lipat? Benar-benar sulit dipercaya. Aku bahkan bisa mendapatkan uang lebih banyak dalam waktu lebih singkat tanpa harus menjual harga diriku seperti yang kamu lakukan!”
Rahang Gio mengeras. Apa yang Rara katakan sungguh melukainya. Kemudian ia mengeluarkan selembar cek dari saku samping celananya dan melemparkannya ke wajah Rara. “Tulis, berapa harga dirimu. Setelah itu, datanglah kepadaku!” tegasnya sesaat sebelum berlalu.
Rara terdiam kesal dengan kedua mata yang masih terpejam. Keadaan refleks ketika Gio justru melempar wajahnya dengan selembar cek yang sudah bertanda tangan.
“Kamu pikir aku benar-benar menginginkan uangmu?!” teriak Rara meledak-ledak bahkan rmosional.
Gio yang nyaris menyeberangi jalan menuju mobilnya segera balik badan. Ia dapati Rara yang sudah menitikkan air mata dengan wajah yang menjadi merah padam. Ia tahu, wanita bertubuh mungil itu sedang sangat marah.
__ADS_1
“Aku ke sini hanya ingin tanggung jawabmu. Kenapa kamu melakukan semua ini kepadaku? Bila kamu memang tidak mencintaiku dan bahkan sudah mengencani banyak wanita, kenapa kamu juga tetap membiarkan persiapan pernikahan kita?!”
“Kenapa kamu tidak memutuskanku sebelum kamu mengencani wanita lain?!”
“Karena aku memang tidak pernah mencintaimu!”
Balasan Gio yang spontan begitu menyakiti Rara. Rara bahkan sampai lupa bernapas saking terkejutnya. Lima tahun bersama, Gio mengaku tidak pernah mencintainya?
“Dari awal aku hanya mencintai Keinya! Aku hanya memanfaatkanmu karena Keinya lebih memilih Athan!”
Lanjutan Gio membuat kedua tangan Rara mengepal. Tak mau menyia-nyiakan waktu, Rara berjalan cepat menghampiri pria jahat di hadapannya. Ia mengangkat kemudian menarik tangan kanannya dan siap menampar Gio, tapi pria itu menahannya, mencengkeram pergelangan tangan kanan Rara sangat kuat, sampai-sampai Rara menyeringai kesakitan.
“Mana mungkin aku mencintamu. Mana mungkin aku mencintai wanita yang terlahir dari wanita murahan sepertimu!” Gio menatap tajam Rara penuh kebencian sekaligus rasa sakit.
Emosi Rara telah melewati batas. Bahkan tubuhnya sampai gemetaran. Apa maksud Gio sampai mengatai ibunya murahan? Atas dasar apa? Kalau memang pria itu tidak mencintainya, sungguh tak pantas Gio sampai menjatuhkan harga diri ibu Rara yang sudah lama meninggal dunia.
“Jaga ucapanmu!” tegas Rara yang sangat ingin mencabik-cabik Gio detik itu juga. Rara ingin menghancurkan pria di hadapannya sampai tidak berupa, melebihi apa yang ingin ia lakukan kepada Athan.
Rara mencoba mengakhiri cengkeraman tangan Gio sambil terus membalas tatapan penuh kebencian pria itu dengan tatapan serupa. Sialnya, Gio justru mendorong Rara penuh tenaga melalui cengkeramannya hingga tubuh wanita itu terduduk sesaat setelah terempas.
Rara mengerang kesakitan terlebih kedua lututnya juga sampai terasa sangat perih. Di mana ketika memastikannya, ternyata kedua lututnya sampai berdarah setelah sempat menghantam aspal berikut bebatuan kasar di tepi jalan.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada Gio? Kenapa dia sangat berubah dan bahkan kasar? Apa salahku? Karena aku hanya pelampiasan? Pelampiasan karena Keinya justru lebih memilih Athan? Seharusnya aku yang marah, kan?” batin Rara.
Rara terisak-isak tanpa sudi melepas kepergian Gio. “Stop, Ra! Jangan menangis! Air matamu terlalu berharga untuk manusia keji seperti dia!” batin Rara memberontak.
Apa yang Gio lakukan membuat Rara merasa sangat buruk. Gio tak hanya menginjak-injak harga dirinya, melainkan ibunya. Dan untuk ke sekian kalinya, Rara dicap wanita murahan tanpa alasan jelas, dari lawan jenisnya dan itu Gio—pria yang sempat mengencaninya dan itu atas dasar pelampiasan.
Selama ini, Rara selalu bersikap sewajarnya. Menjalin hubungan dengan Gio juga benar-benar sewajarnya. Mereka bahkan jarang menghabiskan waktu bersama. Paling sering ketika malam minggu, mereka akan menghabiskan waktu bersama untuk menonton di bioskop atau makan di luar yang ada kalanya akan bersama-sama Keinya dan Athan. Selebihnya, Rara lebih sering menghabiskan waktunya bersama Keinya untuk mengurus pekerjaan selain urusan kampus terlebih sebelum menikah, Keinya juga tinggal satu indekos dengan Rara.
Dengan keadaannya yang terluka seperti sekarang ini, Rara tidak berani pulang apalagi sampai bertemu Keinya. Masalahnya pasti akan panjang jika Keinya sampai tahu mengenai apa yang Gio lakukan. Namun jangankan untuk pulang, berdiri saja Rara tidak bisa dan justru kesakitan. Jadi, apa yang harus Rara lakukan?
Belum lama Rara kebingungan mengenai bagaimana caranya ia bergerak, ponselnya berdering dan itu telepon dari Kimo. Rara yang tidak punya pilihan lain memilih menjawab telepon dari pria menyebalkan itu yang sebenarnya juga sedang Rara hindari.
Setidaknya, melalui Kimo, Rara berharap bisa mendapatkan pertolongan, meski kemungkinan keadaan akan semakin buruk jika Kimo mengetahui penyebab Rara terluka adalah Gio, juga tidak terelakkan. Paling tidak itu lebih baik daripada Rara tetap terkapar di tepi jalan seperti sekarang.
“Kamu di mana? Ada waktu, kan? Ayo ganti ke panggilan video. Aku ingin melihat wajahmu.” Dari seberang, Kimo terdengar dalam keadaan suasana hati yang baik. Tenang, bahkan hangat penuh perhatian.
Rara tersedu-sedu.
“Kamu menangis?” sergah Kimo terdengar cemas sekaligus panik. “Katakan padaku, kenapa kamu menangis! Siapa yang membuatmu menangis!”
“Flora, kenapa kamu hanya diam!”
Rara terpejam pasrah dan kian tersedu-sedu. Lidahnya kelu, dan ia sama sekali belum bisa menjawab semua pertanyaan Kimo.
__ADS_1
“Flora, jangan membuatku gila! Katakan padaku kamu di mana, aku akan segera ke sana!”
Dari seberang terdengar Kimo yang sepertinya bergegas. Derit kursi berikut langkah cepat pria itu. Rara memilih mengakhiri telepon tersebut dan menggantinya dengan mengirimkan pesan.
[Aku di taman dekat indekos Gio.]
Di kantornya, Kimo terus berlari bak kehilangan akal. Apalagi ketika sambungan teleponnya juga diakhiri oleh Rara yang diyakininya menangis. Untungnya tak lama setelah itu, Rara juga mengiriminya pesan.
Sapaan demi sapaan dari karyawan yang dilalui Kimo abaikan begitu saja. Pikiran Kimo terlampau fokus pada ponsel di tangan kanannya.
[Flora : Aku di taman dekat indekos Gio.]
Membaca itu, rahang Kimo mengeras. Kimo benar-benar marah apalagi bila kecurigaannya mengenai alasan Rara menangis memang karena Gio. Kimo akan memberi pelajaran berkali lipat pada pria itu bahkan bila perlu menyeretnya ke ranah hukum.
Kimo segera berlari menuju tempat parkir yang ada di depan kantornya. Tempat parkir yang dibuat khusus untuknya, selain kolega penting termasuk keluarga Kimo. Kimo segera menekan kunci mobil yang ia keluarkan dari balik jas hitam yang dikenakan dan mengarahkannya pada mobil sport berwarna merah di sana. Kimo mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan penuh meski sesekali, Kimo terjebak dalam kemacetan yang sudah menjadi warna jalanan di Ibukota.
***
“Karena aku memang tidak pernah mencintaimu!”
“Dari awal aku hanya mencintai Keinya! Aku hanya memanfaatkanmu karena Keinya lebih memilih Athan!”
“Mana mungkin aku mencintamu? Mana mungkin aku mencintai wanita yang terlahir dari wanita murahan sepertimu!”
Kata-kata tersebut terus terngiang memenuhi ingatan Rara. Kata-kata yang begitu melukai Rara dan perlahan mengikis kesadaran gadis periang itu.
“Ra? Apa yang kamu lakukan di situ?” sergah suara seorang pria yang begitu akrab di telinga Rara. Ketika Rara menoleh, pria itu langsung berseru. “Kamu kenapa?!”
Itu Athan. Dan Rara masih bisa mengenalinya meski pandangannya juga mulai buram seiring pening yang kian mengikis kesadarannya. Rara mendapati Athan turun dari mobil meninggalkan kemudi tepat di bekas Gio memarkir mobil. Athan terlihat sangat panik dan bergegas menghampiri Rara.
“Apa yang terjadi padamu? Kenapa bisa sampai begini?” Athan terus bertanya dan terdengar sangat mengkhawatirkan Rara.
Meski pandangan Rara semakin tidak jelas, Rara masih bisa mendengar dengan cukup baik.
Athan segera menuntun Rara untuk berdiri, tapi tubuh Rara justru kebas di mana kedua lutut Rara seolah menyatu dengan aspal tempatnya terduduk.
Tak lama setelah itu, entah atas dasar apa, tubuh Athan justru mental. Seperti ada seseorang yang sengaja melakukannya karena mentalnya tubuh Athan berikut Rara yang kembali terempas, juga disertai suara seruan menyerupai tonjokkan.
“Sekali lagi kamu berani menyentuhnya, kupastikan kamu akan menyesal!” tegas suara berat itu yang terdengar sangat marah. Suara yang Rara kenali sebagai suara Kimo. Di mana setelah itu, Rara benar-benar tidak mendengar apa pun.
Kimo tak mampu mengontrol emosinya. Ia sangat marah pada Athan yang lagi-lagi dekat dengan Rara. Dan ketika ia melihat Rara yang terluka bahkan sampai tak sadarkan diri di tepi jalan, hatinya benar-benar sakit. Kimo sampai lupa bernapas memandangi Rara yang kali ini mengenakan rok selutut, pingsan meringkuk dengan kedua lutut berdarah sedangkan mata Rara sembam dan basah.
Athan bangkit dengan rasa sakit yang menyita sudut bibir kanannya. Tak hanya kaku, di sudut sana juga ia rasa basah. Ketika ia memastikannya, ada darah yang mengalir dari sana dan itu akibat bogem panas pria berambut gondrong setengkuk, yang langsung membopong dan membawa Rara pergi.
“Sebenarnya pria itu siapa?” gumam Athan sembari melepas kepergian mobil Kimo yang membawa Rara. Dari cara Kimo menatapnya, pria itu sangat marah karena Athan dekat bahkan menyentuh Rara seperti yang pria itu katakan. Dengan kata lain, pria yang terlihat dari kalangan orang kaya itu memiliki perhatian khusus kepada Rara.
__ADS_1
*****