Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 11 : Satu Kelas


__ADS_3

“Kalau semua siswi di kelas ini istrimu, ... yang gendut tadi siapa?”


Season 3 Bab 11 : Satu Kelas


Langkah Dean terhenti tepat di lorong menuju kelasnya, ketika sebuah kotak cukup besar yang terbungkus kertas kado, tiba-tiba tersodor di hadapannya. Dari lorong seberang, sebab posisi mereka tepat di perempatan lorong. Feaya, gadis bertubuh besar itu menyuguhkan kotak terbungkus kertas kado berwarna merah hati tersebut, sambil memasang senyum yang begitu tulus.


“Terima kasih,” ucap Feaya yang masih senyum-senyum menatap kagum Dean.


Dean yang masih bungkam menjadi mengernyit bingung. “Kenapa dia mengucapkan terima kasih?” pikirnya.


“Kemarin. Hari jumat. Saat kamu menolongku.” Feaya menjelaskan.


Dean tak lagi menatap Feaya, lantaran dari seberang tercium aroma parfum yang cukup familier untuknya, dan sampai disertai suara langkah yang berangsur memelan.


“Kenapa kalian masih di luar? Ini kan sudah jam masuk kelas?” tegur Bu Sukma. Wanita bertubuh tambun itu menatap tajam kebersamaan Dean dan Feaya.


Akan tetapi, ketika Feaya meminta maaf sambil bergegas meninggalkan kebersamaan dan langsung masuk ke kelas dengan langkah tertatih, Dean justru hanya diam menatap sosok yang ada di balik tubuh bu Sukma. Kishi.


Kishi menatap tak berselera Dean yang nyatanya menerima kotak hadiah dari Feaya. Kisi tak acuh lantaran ia kesal bahkan cemburu. Jadilah, tanpa menatap Dean lagi, ia segera mengikuti bu Sukma yang memang akan membawanya ke kelas barunya.


Dean sadar, tadi, Kishi menatap sebal kotak hadiah yang ada di tangan kanannya. Namun, masa iya, ia harus membuang hadiah itu sekarang juga? Namun jika ia tidak melakukannya, tentu Kishi akan tetap marah kepadanya. Akan tetapi, kenapa Dean menjadi sibuk memikirkan perasaan Kishi, padahal sebelumnya, Dean berniat untuk bersikap biasa bahkan mengabaikan gadis itu?


Dean menyusul sembari memasukkan kotak pemberian Feaya ke dalam tas gendongnya. Dean berniat mengembalikan kotak tersebut kepada Feaya di jam istirahat.


Sembari terus melangkah mengikuti bu Sukma, Kishi bertanya-tanya dalam hatinya. Perihal keputusannya pindah sekolah hanya untuk bisa dekat dengan Dean.


“Apakah keputusanku salah? Namun sepertinya, aku memang tidak seharusnya pindah ke sini ... tapi jika aku kembali minta pindah ... papa apalagi mama, pasti semakin mencemaskanku,” batin Kishi yang kini baru saja berdiri di depan papan tulis di sebelah bu Sukma. 


Kishi melirk Dean yang baru saja masuk. Pria itu duduk sendirian karena kursi di sebelahnya kosong. Dan mendapati itu, Kishi menjadi kegirangan di dalam hati. 


“Serius, enggak ada kursi kosong lagi? Tapi ... paling Dean langsung tukar tempat,” batin Kishi yang menjadi tidak bersemangat. “Baiklah. Asal masih bisa melihat Dean bahkan meski dari kejauhan, ... itu sudah lebih dari cukup,” pikirnya berusaha berlapang dada.


Namun tiba-tiba Kishi teringat kata-kata Kim Jinnan beberapa saat lalu. “Namun jika kamu ingin mendapatkan sesuatu terlebih orang yang kamu cintai, tak seharusnya kamu hanya diam dan menyimpan cinta itu untuk dirimu sendiri,” dan teringat itu, Kishi pun menjadi keki. “Tapi seharusnya tanpa aku bilang pun, Dean juga sudah tahu. Dean pasti tahu kalau aku menyukainya. Masalahnya, mungkin karena Dean memang enggak suka sama aku, jadi ... jadi dia tetap cuek. Bahkan tadi, Dean mau-mau saja menerima hadiah cewek gendut itu,” batin Kishi yang kemudian mengenalkan dirinya sesuai tuntunan Kishi.


“Namaku Kishi Arsy Wijaya. Aku pindahan dari SMA Internasional Indonesia.” Ketika harus menyebutkan namanya, Kishi menjadi cukup kikuk, lantaran biar bagaimanapun, nama tengahnya sama dengan nama tengah Dean.


“Wah ... itu sekolahnya orang kaya. Sekolah mahal, itu, kenapa kamu malah pindah ke sini?” ujar seorang siswi dari sudut kanan belakang, tepat di depan Feaya.


“Hus! Sembarangan! Kamu pikir sekolah kita enggak berkualitas?! Kalau enggak berkualitas, kenapa anak-anak konglomerat seperti Yuan Fahreza, justru sekolah di sini?!” semprot bu Sukma yang sampai melotot-lotot kepada sisiwi tersebut.


“Dia adiknya Kim Jinnan ....”


“Iya, dia adiknya Kim Jinnan. Tadi aku lihat, Kim Jinnan sampai senyum kasih dia semangat.”


Perihal hubungan sekaligus kedekatan antara Kishi dan Kim Jinnan langsung menyeruak begitu saja tanpa bisa dikendalikan. Semua murid dalam kelas tersebut kecuali Dean, langsung sibuk membahasnya dengan suara lirih. Sontak, kenyataan tersebut juga membuat Kishi menjadi gugup. Kishi tidak menyangka jika keputusannya menghampiri Kim Jinnan akan membuatnya menjadi topik pembicaraan.


“Sudah ... sudah ... kalian ini, bukannya balas menyapa, apa bagaimana, malah sibuk gibah!” omel Bu Sukma. Wanita berkacamata tebal besar itu memang sudah terkenal hobi marah-marah.


Ketika kelas sudah mulai tenang, bu Sukma pun berkata, “Kishi, kamu duduk di sebelah Dean.”


Dan detik itu juga, Kishi seolah dilempar ke negara Jepang. Kishi terduduk di bawah pohon sakura yang bermekaran untuk berhanami lengkap dengan Dean yang menemani. “Akhirnya!” batin Kishi yang sampai menjadi berbunga-bunga.


“Terima kasih, Bu!” ucap Kishi sambil membungkuk sopan sesaat sebelum berlalu. 


Kishi melangkah bersemangat menelusuri lorong sekat meja menuju Dean. Pun meski detik itu juga, Dean langsung memalingkan wajah. Dean terkesan menepis kehadiran Kishi.


“Ehm!” Siswi di sebelah Kishi tiba-tiba berdeham.


Kishi langsung menyambutnya dengan senyum lepas. Akhirnya, ia akan mendapat teman pertamanya di kelas.


“Ingat, ya ... Dean itu pacarku!”

__ADS_1


“Dean suami virtualku!”


“Dean suami onlineku!”


“Dean suami masa depanku!”


“Dean suami sahku!”


Siswi-siswi di sana sibuk memberi Kishi peringatan. Dan kendati mereka mengucapkannya dengan suara lirih, tetapi tidak dengan tatapan berikut ekspresi wajah mereka yang begitu bengis. Bahkan, beberapa dari mereka sampai memberi Kishi kepalan tangan.


Kishi berangsur duduk sembari melepas tas gendong dari punggungnya.


“Enggak nyangka kalau dia jadi penghuni kursi yang selama ini aku jaga,” batin Dean yang diam-diam tersenyum.


“Bisa-bisanya kamu punya banyak istri tanpa ada resepsi?” keluh Kishi tanpa menatap Dean. Kishi segera mengeluarkan buku pelajaran berikut perlengkapan tulis yang tersimpan dalam kotak pulpen berwarna jingga.


Kishi benar-benar tidak menatap bahkan melirik Dean meski hanya sebentar.


“Kalau semua siswi di kelas ini istrimu, ... yang gendut tadi siapa?” ucap Kishi tiba-tiba, masih belum menatap atau sekadar melirik Dean lantaran fokusnya terus tertuju pada buku pelajaran, menyimak setiap yang bu Sukma ucapkan.


“Kepo!” balas Dean tiba-tiba. 


Tak beda dengan Kishi, Dean juga tidak menatap atau sekadar melirik Kishi. Ia sibuk dan fokus dengan buku pembelajarannya. Namun detik berikutnya, Kishi menjadi menatap Dean.


“Wah, ternyata kamu bisa ngomong? Kok selama ini diam saja?” lirih Kishi terheran-heran.


Dean berangsur menoleh dan menatap Kishi. “Kamu jauh lebih menarik jika sedang diam.” Seulas senyum Dean suguhkan menyertai anggukan sekaligus kedipan sendunya. Dan hal tersebut sukses membuat Kishi gugup.


Kishi sampai terbatuk-batuk dan menekap mulutnya menggunakan kedua tangan demi meredamnya.


“Tadi itu apa? Dean tidak hanya berbicara denganku, karena dia juga tersenyum bahkan ... memujiku?!” batin Kishi benar-benar girang.


“Kenapa begitu?” balas Kishi yang juga tetap fokus mencatat.


“Karena kamu bodoh!” balas Dean.


Kishi refleks melirik sebal Dean. “Sekali berbicara, kata-katamu benar-benar pedas!” umpatnya lirih.


Dean tak lantas menjawab. Ia segera membuka beberapa lembar buku tulisnya kemudian menulis cepat di sana.


-Keputusanmu tampil mendekati Kim Jinnan sungguh berakibat fatal-


Dean mengangsurkan itu kepada Kishi sebelum kembali menutupnya, setelah ia yakin, Kishi telah membacanya.


“Masa sih?” lirih Kishi sambil menatap Dean.


Dean menatap sebal Kishi. “Balik lagi ke sekolah lamamu saja sana!” omelnya lirih.


Kishi langsung menggeleng. “Enggak mau. Nanti kamu malah jadi kangen aku!”


Setelah berkata seperti itu, Kishi sengaja tak acuh, benar-benar fokus dengan pelajaran yang sedang dijalani. Berbanding terbalik dengan Dean yang menjadi ketar-ketir menghalau gugup. 


“Sejak kapan bocah ini jadi pandai berbicara?!” rutuk Dean dalam hati sembari diam-diam mengamati wajah Kishi.


*** 


Di jam istirahat, Kishi mendapat telepon video dari Mofaro melalui aplikasi WA.


“Hallo kesayangan,” goda Mofaro dari seberang sana.


Kishi tersenyum sambil menggeleng geli. “Sana-sini kamu panggil kesayangan? Bahkan kambing di-make-up kayaknya bakal kamu panggil kesayangan juga!”

__ADS_1


Mofaro yang sedang duduk di sofa menjadi terpingkal-pingkal. “Mom ... Kishi bilang, kambing di-make-up juga bakalan aku panggil kesayangan! Hahaha ....”


“Kamu kan memang ganjen!” Suara Rara turut terdengar dari seberang dan sukses membuat Kishi kian terkikik. “Kishi ... bagaimana dengan sekolah barunya?”


“Aman, Ma ... Mama lagi ngapain?” balas Kishi yang memang memanggil Rara ‘mama’.


“Ini, Mama lagi lanjut proyek tulisan.”


“Sudah ah, Mom ... sini.” Mofaro yang masih menahan tawa, mengambil alih ponselnya.


“Kesayangan ... kau orang bertemu Dean sama Ngi-ngie juga, enggak?” lanjut Mofaro.


“Iya. Bahkan aku duduk di sebelah Dean. Kamu tahu, Om ... semua siswi di kelas ini istrinya Dean ....” Kishi sengaja mengatakannya dengan berbisik-bisik dan sengaja menyindir Dean.


Di seberang, Mofaro kembali terpingkal-pingkal diikuti juga oleh Rara.


Dean yang sedang membaca buku, langsung melirik sebal Kishi. “Dasar ember!” cibirnya pelan.


Beberapa siswi yang berdatangan tampak membawa makanan bahkan minuman dan langsung disuguhkan kepada Dean. Namun dari semuanya, Dean benar-benar abai, fokus dengan buku bacaannya.


“Om ... sudah dulu, ya. Aku mau makan siang,” pamit Kishi sengaja berbisik-bisik. Bahkan ia sengaja memunggungi Dean lantaran takut mengganggu pemuda itu.


“Iya. Sana makan yang banyak, biar cepat tua terus dapat warisan banyak dari opa Franki! Hahaha ....”


Balasan Mofaro sukses membuat Kishi refleks tertawa lepas. Bahkan Kishi menjadi susah payah menahan tawanya. 


Dean berdeham dan jelas menegur Kishi.


Mendapati itu, Kishi juga segera berdeham demi meredam tuntas tawanya. “Om ... lain kali jangan telepon kalau aku sedang sekolah, ya.”


“Kenapa? Ah ... oke oke, aku tahu. Nanti malam aku ke rumahmu.”


“Oke!”


“Bye kesayangan ....”


Mofaro mengakhiri panggilan mereka dan Kishi segera menyimpan ponselnya ke dalam tas. Kemudian Kishi mengeluarkan bekal makannya yang turut dilengkapi dengan sebotol air mineral.


Kishi mengamati sekitar. Siswi di sekitarnya tampak patah hati lantaran Dean mengabaikan mereka. Bahkan, sebagian dari mereka tampak setengah hati menyantap apa yang tadi sempat akan mereka berikan kepada Dean. Namun ketika Kishi melihat ke sudut kanannya, di sana ada Feaya yang tak hentinya menatap Dean. Feaya bahkan tak hanya senyum-senyum, sebab sesekali, gadis itu juga akan mengelap air liur yang menetes dari mulutnya.


“Segitunya?” gumam Kishi geli sendiri. “Tapi kok, tadi hadiah dari dia sampai Dean terima, ya?” pikirnya. 


Kemudian, Kishi melirik cemas Dean yang masih fokus membaca. “Dean, enggak beneran suka sama si gendut itu, kan?” batinnya. 


Jauh di lubuk hatinya, Kishi benar-benar merasa cemburu bahkan patah hati, jika apa yang ia pikirkan, justru kenyataan Dean yang sesungguhnya. Dean memiliki hubungan spesial dengan gadis gendut yang kadonya sampai Dean terima.


“Apakah kamu yang bernama Kishi, adiknya Kim Jinnan?!” ujar seorang pemuda yang tiba-tiba menghampiri Kishi.


Pemuda yang mengenakan seragam layaknya Dean tersebut, menatap Kishi dengan serius bahkan marah. Pemuda tersebut tidak datang sendiri, karena pemuda tersebut juga disertai empat pemuda lainnya.


Kishi hanya terdiam menatap pemuda tersebut yang bahkan belum Kishi kenal atau sekadar temui sebelumnya. Namun tak lama kemudian, Dean tiba-tiba mendekap Kishi disusul lantai sekitar yang Kishi dapati menjadi basah, seiring suasana di sana yang menjadi hening.


“D-dean, melinduniku? T-tapi, pemuda tadi siapa?” batin Kishi yang sampai menjadi gemetaran. Kishi tak hanya takut, melainkan sampai syok. 


Kishi benar-benar bersyukur, karena Dean ada dan bahkan sampai melindunginya. “Kim Jinnan, ada masalah apa dia dengan cowok-cowok tadi ...,” batin Kishi merasa sangat ngeri.


Bersambung ....


Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa. Like, komen, sama votenya. Kalaupun enggak bisa vote, tinggalin like komen kalian biar ceritanya enggak tenggelam.


Author usahakan buat kebut ceritanya, kok. Biar cepat tamat 😂😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2