Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 39 : Kesepakatan


__ADS_3

“Aku ingin seperti ini. Selalu bersamamu, hingga akhir. Hingga raga tak lagi bernyawa. Dan hingga kita bertemu di kehidupan selanjutnya!”


Bab 39 : Kesepakatan


Pelangi dan Jinnan baru saja keluar dari ruang rawat kakek Jungsu, tepat ketika waktu menunjukkan pukul delapan malam. Pelangi memastikannya melalui arloji yang menghiasi pergelangan tangan kirinya.


Tadi, saat jam pulang, Kim Jinnan yang nyatanya masih menyempatkan diri mengurus perusahaan, juga sampai menyempatkan waktu untuk menjemput Pelangi. Dan ketika itu juga, Kim Jinnan yang sudah sampai janjian dengan Pelangi, sampai meminta restu khusus kepada Yuan. Namun, tadi Yuan belum bisa memberikan keputusan, dengan dalih, menyangkut Pelangi harus membahasnya dengan Keinya bahkan Athan sebagai ayah biologis Pelangi.


“Kamu kelihatan enggak bersemangat begitu? Memangnya tadi, di kantor sibuk banget?” tanya Kim Jinjan yang memang nyaris selalu memperhatikan gerak-gerik Pelangi.


Pelangi yang mendapat pertanyaan tersebut, refleks menoleh dan menatap Kim Jinnan. Ia melakukan hal tersebut dengan sebelah tangan yang sampai memijat-mijat tengkuknya.


“Biarkan aku yang memijatmu,” pinta Kim Jinnan.


Kim jinnan sudah sampai meraih tengkuk Pelangi, tetapi gadis itu buru-buru menghindar lantaran merasa geli.


“Sini, biar aku bantuin,” ujar Kim Jinnan.


Pelangi yang sampai menatap takut Kim Jinnan, dan kali ini ada di depan pria itu, segera menggeleng. “Enggak, ah ... geli ....” Ia mengatakannya dengan kedua tangan yang menahan tengkuk.


Apa yang Jinnan lakukan sukses membuat Pelangi merasa sangat tegang. Pelangi bahkan sampai merinding hanya karena tadi, Kim Jinnan sampai meraih tengkuknya. Dan yang tak kalah mencolok, tentu perihal jantungnya yang sampai berdegup kencang.


“Ngie ... jujur ya, aku lihat kamu, kayak yang takut banget dan masih belum bisa percaya sama aku,” ucap Kim Jinnan manatap Pelangi penuh keresahan.


Di tengah napasnya yang sampai memburu, Pelangi yang masih menatap Kim Jinnan pun segera mengangguk. “Ya. Memang begitu. Oh, iya, Jinnan ... aku punya permintaan.”


“Permintaan apa?” balas Kim Jinnan yang menjadi menatap Pelangi dengan mengernyit.


Pelangi dan Kim Jinnan masih ada di lorong ruang rawat kakek Jungsu. Tepatnya, mereka sudah berdiri di depan lift.


“Aku mau ... untuk satu minggu ke depan, kita enggak usah komunikasi ....” Sebenarnya, Pelangi belum selesai bicara, tetapi Kim Jinnan sudah lebih dulu berseru.


“Aku enggak mau. Dan aku enggak bisa!”


“Jinnan ... aku mohon seminggu saja. Kita enggak usah ketemu dan enggak usah komunikasi juga,” pinta Pelangi.


“Ya ampun, Ngie ... jangankan satu minggu ... satu detik aku enggak tahu kabar kamu saja, aku sudah kayak orang gila!” keluh Kim Jinnan yang sampai uring-uringan.


“Tapi, aku cuma ingin tahu saja. Aku ingin hidup tenang. Tanpa gangguan siapa pun,” ucap Pelangi yang menjadi tertunduk murung.


“Jadi, selama ini kamu merasa terganggu, jika aku menghubungi apalagi dekat-dekat kamu?” balas Kim Jinnan sambil menatap Pelangi penuh kepastian.


Pelangi berangsur mengangguk sembari menatap Kim Jinnan dengan raut menyesal.


Kim Jinnan menghembuskan napas pasrah dari mulutnya bersamaan dengan ia yang sampai berkecak pinggang. “Kenapa kita enggak nikah saja, biar kamu enggak setakut itu? Toh, kalau kita nikah, kita bebas ngapain aja, kan?” ujarnya memberi solusi.


“Dasar pria mesum!” balas Pelangi cepat.


Pelangi berlalu dari hadapan Kim Jinnan, dan segera menekan tombol lift untuk membukanya.


“Kamu selalu bilang aku mesam-mesum, memangnya aku sebusuk itu di mataku?” keluh Kim Jinnan yang kemudian ikut masuk dan sampai menekan tombol tujuan lantai mereka, hingga akhirnya lift berangsur tertutup.


“Memang begitu, memangnya bagaimana lagi?” balas Pelangi yang memang masih blak-blakan.


Kim Jinnan merengut kesal dan kemudian menatao Pelangi yang ada di sebelahnya. Di tengah kenyataannya yang masih berkecak pinggang, ia pun berkata, “aku mesum karena aku masih normal.”


Kim Jinnan benar-benar mencoba memberi Pelangi pengertian. Namun tak lama setelah itu, tiba-tiba lift keberadaan mereka bergoyang-goyang, seiring lampu yang sampai berkedip-kedip nyaris mati.


“J-jinan, ... ini kenapa?” lirih Pelangi yang mulai ketakutan.


Kedua tangan Pelangi sampai berpegangan pada ujung jas Kim Jinnan.


“Aku juga enggak tahu. Tenang ... semuanya akan baik-baik saja,” balas Kim Jinnan sembari merangkul tubuh Pelangi.


“J-jinnan, ini bukan ulahmu, kan? Kamu sengaja melakukan ini demi?!” ucap Pelangi yang sampai menjerit lantaran lift, mendadak terjatuh melesat dengan sangat cepat.


Pelangi refleks memeluk erat Kim Jinnan. Begitu juga dengan Kim Jinnan yang mengeratkan pelukannya. Pun meski ketika mungkin lift terjatuh pada porosnya, tubuh mereka yang seolah dibanting juga sampai terjatuh. Pelangi dan Kim Jinnan masih saling merangkul ketika mereka terjatuh dan terperosok ke sebelah sudut belakang lift.


“Ya ampun ...,” rintih Pelangi.


“Bisa-bisanya, lift di rumah sakit elite bisa rusak begin!” umpat Kim Jinnan.


Suasana yang menjadi sangat gelap, juga kenyataan lift yang mendadak terperosok. Terlepas dari suhu di sana juga sampai memanas, membuat Pelangi semakin ketakutan. Bahkan, Pelangi sampai menyembunyikan wajahnya di dada Kim Jinnan.

__ADS_1


“Enak sih, begini ... bisa peluk-peluk ... katamu, aku kan mesum, ya? Tapi kok, kalau aku mesum, kamu masih nyaman-nyaman saja meluk aku?” sindir Kim Jinnan sembari mengibas-ngibaskan kemeja bagian dadanya dengan sebelah tangan yang tidak merangkul Pelangi.


“Kim Jinnan apa-apaan, sih? Aku beneran takut. Kalau kita terkurung lebih lama lagi bagaimana? Usaha apa bagaimana, kamu ini. Malah adem-ayem!” omel Pelangi.


“Ya santai dulu ... jarang-jarang, kan, bisa begini,” kilah Kim Jinnan yang memang masih menanggapi keadaan dengan santai.


Pelangi mendengus kesal sembari menyingkir diri dari Kim Jinan. Kemudian, ia juga sampai menjaga jarak dari pria itu. Kim Jinna ada di sudut belakang sebelah kanan, sedangkan Pelangi ada di sebelah kiri. Dan Pelangi tidak tinggal diam. Pelangi merogoh totebag-nya dan mengeluarkan ponsel dari sana.


Pelangi bermaksud menelepon Yuan dan mencari bantuan, tetapi sialnya, ponselnya mati karena kehabisan daya batre.


“Jinnan, pinjam ponselmu!” pinta Pelangi kemudian sambil menyodorkan tangan kanannya pada Kim Jinnan yang masih saja diam.


Pelangi merasa tak habis pikir kenapa Kim Jinnan bisa setenang itu, sedangkan nasib mereka sedang ada di ujung tanduk?


“Atau jangan-jangan, dugaanku benar? Kamu sengaja melakukan ini?” tuding Pelangi.


Kim Jinnan yang sedang merogoh saku sisi celana sebelah kanannya hanya menghela napas panjang sebelum akhirnya ia meletakkan ponselnya di atas tangan Pelangi.


Pelangi pun segera menerimanya. Gadis itu tampak antusias menggunakan ponsel Kim Jinnan. Ponsel yang sampai menggunakan foto Pelangi sebagai wallpaper. Namun terlepas dari itu, ponsel yang Jinnan berikan memang bukan ponsel yang sebelumnya Pelangi lihat. Ponsel lama yang juga menjadikan foto wanita seksi yang hanya mengenakan bikini berwarna hitam, sebagai wallpaper layar utamanya.


“Kamu ganti ponsel? Ceritanya, yang ini khusus buat aku, sedangkan yang itu khusus buat yang lain?” cibir Pelangi sengaja.


Dan yang membuat Pelangi semakin sebal, bukan karena Kim Jinnan hanya diam. Sebab ponsel Kim Jinnan sama sekali tidak memiliki jaringan seluler. Pun meski Pelangi sampai mengguncangnya dengan tenaga penuh. Bahkan kadang, tangan Pelangi sampai terangkat tinggi. Dan tak jarang, gadis itu melakukannya dengan menengadah sekaligus susah payah. Sampai-sampai, Kim Jinnan yang menyaksikannya menjadi risi sendiri.


“Ngie ... sekali lagi kamu ribut, aku cium, ya?!” tegur Kim Jinnan yang memang sengaja mengancam.


Pelangi menjadi terdiam loyo dan kembali terduduk di sudut belakang sebelah kiri. “Sampai kapan kita akan di sini?” ucapnya sembari terduduk dan mendekap kedua lututnya.


Pertanyaan Pelangi terdengar sangat tak bersemangat. Masih ada rasa takut yang terdengar terlepas dari Kim Jinnan yang sampai mendapati beberapa buih keringat di wajah gadis itu, khususnya dahi. Kim Jinnan bisa melihatnya dengan jelas, kendati kini, suasana di sana hanya remang-remang, mengandalkan aplikasi senter di ponsel Kim Jinnan sebagai satu-satunya penerang.


Dengan hati yang mendadak dikuasai rasa bersalah, Kim Jinnan pun meraih sebelah tangan Pelangi. “Kemarilah. Aku enggak akan macam-macak. Aku janji akan melakukan semuanya jika kamu juga mau.”


Pelangi menatap bingung sekaligus takut Kim Jinnan. Karena baginya, Kim Jinnan yang memiliki riwayat kehidupan sebagai play boy itu bisa saja mendadak berubah menjadi buas, jika Pelangi dekat-dekat dengan pria itu. Namun, kendati Pelangi tidak mendekat, justru Kim Jinnan yang mendekat.


Kim Jinnan merengkuh tubuh Pelangi dengan hati-hati. Rengkuhan yang menjadi hangat tak ubahnya rengkuhan yang selalu Dean dan Yuan lakukan. Juga, rengkuhan yang sukses membuat Pelangi merasa jauh lebih tenang.


“Dengar ... di luar sudah berisik. Dengan kata lain, sudah ada yang sedang membenarkan lift,” lirih Kim Jinnan tepat di sebelah telinga Pelangi.


Kim Jinnan sampai membelai-belai kepala Pelangi dan sesekali mencium puncak kepala gadis itu. “Yuan Fahreza terlalu memanjakanmu. Jadinya kamu parah begini,” ucapnya.


“Aku juga mau jadi laki-laki terbaik buat kamu!” ucap Kim Jinnan.


Dan apa yang Kim Jinnan ucapkan dipenuhi keseriusan tanpa sedikit pun keraguan. Itu juga yang membuat Pelangi tidak berani menatap Kim Jinnan atau sekadar membalas tatapan pria itu.


“Kamu ... sudah minta maaf kepada semua wanita yang kamu kencani?” tanya Pelangi dengan hati-hati dan masih belum berani menatap Kim Jinnan.


“Sudah. Tapi mereka enggak percaya kalau aku mau menikah.”


Kim Jinnan menghela napas dalam sembari mengalihkan tatapannya. Ia menatap lurus ke depan, sedangkan sebelah tangannya yang tidak merengkuh Pelangi, berangsur membuka kancing jas berikut kemeja Kim Jinnan. Kim Jinnan melakulannya dari bawah kerah hingga dada lantaran suhu yang panas sampai membuatnya sangat gerah.


“Kenapa harus buru-buru? Enggak apa-apa, kan, nikahnya tiga atau lima tahun lagi?” ujar Pelangi.


“Ngie ....”


“Mama pasti enggak setuju. Mama bisa kepikiran bahkan tertekan. Apalagi, mama tipe yang akan berpikir keras. Selain itu ... demi Tuhan, ... aku benar-benar belum siap. Dan jika memang kamu harus buru-buru menikah, tentu lebih baik kamu menikah dengan wanita lain.”


“....”


“Enggak peduli meski sampai ada pernikahan gantung untuk kita. Karena sampai kapan pun, yang terpenting buatku tetap keharmonisan keluarga.”


“....”


“Aku enggak mau, ... gara-gara ini, papa dan mama jadi sering bertengkar.”


Kim Jinnan benar-benar masih diam.


“Seperti kamu yang menginginkan yang terbaik untuk kakekmu ...aku juga begitu.” Pelangi menatap Kim Jinnan penuh ketulusan.


Kedua mata Pelangi dan Kim Jinnan benar-berar bertatapan intens.


“Dua tahun lagi, ya?” lirih Jinnan memohon.


“Minimal tiga tahun,” balas Pelangi sambil mendengkus dan menepis tatapan Jinnan.

__ADS_1


“Ya sudah, tiga tahun lagi,” sergah Kim Jinnan tak mau menyia-nyiakan kesempatan.


Pelangi bergumam dan entah bermaksud apa. Yang jelas, balasan dari Pelangi benar-benar membuat Kim Jinnan sangay tegang.


“Lihat nanti,” balas Pelangi yang justru nyaris memunggungi Kim Jinnan.


“Kok, lihat nanti?” keluh Kim Jinnan.


“Ya iya. Jika kamu menunjukkan keseriusan dan menjadi pribadi yang lebih baik, tentu aku mau menikah denganmu. Tapi jika kamu masih suka main wanita dan menghabiskan waktumu untuk hal yang tidak jelas, buat apa aku menikah denganmu?” balas Pelangi sambil menatap kesal Jinnan.


“Padahal sekarang saja aku sudah berubah,” keluh Kim Jinnan merasa terzalimi.


“Kim Jinnan, yang mau menikah denganku juga banyak, bukan hanya kamu!” tegas Pelangi yang nyaris menjitak kepala Kim Jinnan yang sudah sampai menunduk, andai saja pintu lift tidak tiba-tiba terbuka.


Pelangi pun berangsur bangun. Namun karena Pelangi kesulitan bangun, Kim Jinnan yang lebih dulu berhasil berdiri, berangsur membantunya. Kim Jinnan, menggenggam erat kedua tangan Pelangi.


“P-ponselmu?” ujar Pelangi kebingungan.


Kim Jinnan pun segera mengambil alih ponselnya dari tangan kanan Pelangi. Namun karena Pelangi mendadak sempoyongan dan ternyata kedua kaki gadis itu kesemutan, Kim Jinnan pun berangsur jongkok dan memberikan punggungnya kepada Pelangi.


“Yang benar saja, kamu mau menggendongku? Di tempat umum?” lirih Pelangi merasa risi, tetapi kedua kakinya memang masih kesemutan dan itu membuat kakinya sulit bergerak.


Pelangi merasa malu sekaligus kikuk lantaran Jinnan tetap menggendongnya. Terlebih kini, petugas keamanan rumah sakit sudah menunggu mereka di depan lift, setelah tadi, manager rumah sakit sampai meminta maaf atas kerusakan lift yang membuat Pelangi dan Jinnan, terjebak di dalamnya.


“Jinnan ... aku malu. Semua orang mememperhatikan kita,” keluh Pelangi lirih dan sampai membenamkan wajahnya di tengkuk Kim Jinnan.


“Jika kamu malu, terus begitu. Tutupi wajahmu dan jangan sampai orang laim tahu,” lirih Kim Jinnan.


Jinnan terus melangkah tenang keluar dari rumah sakit, meski semua mata yang ada di sana, terus saja memperhatikan kebersamaan Kim Jinnan dan Pelangi.


“Ngie ...?” panggil Kim Jinnan masih dengan suara lirih.


Mereka akan melewati pintu utama rumah sakit. Pintu utama yang memiliki dua sisi muka. Pelangi bergegas membukanya agar Kim Jinnan lebih mudah melaluinya.


“Aku ingin seperti ini. Selalu bersamamu, hingga akhir. Hingga raga tak lagi bernyawa. Dan hingga kita bertemu di kehidupan selanjutnya!” tegas Kim Jinnan yang masih dengan suara lirih.


Mendengar itu, hati Pelangi menjadi terbesit. Pelangi pun tak kuasa menahan air matanya untuk tidak mengalir.


“Janji, ya ... mulai sekarang juga, kita sama-sama jaga hati kita. Kita sama-sama menjadi pribadi lebih baik agar tiga tahun kemudian, kita bisa menikah!” lanjut Kim Jinnan dengan suara sengau.


Mereka sudah nyaris memasuki tempat parkir yang keberadaannya di depan rumah sakit.


“Baiklah,” sanggup Pelangi.


“Kita jadian, ya?” ucap Kim Jinnan kemudian.


“Haruskah secepat itu?” keluh Pelangi yang sampai terdengar menahan takut.


“Kamu ini kok takut banget sih, kalau diajak berkomitmen?” omel Kim Jinnan.


Pelangi tertunduk murung. “Iya. Aku memang takut.”


“Ya sudah. Kita jadian. Dan satu bulan lagi, aku akan datang ke rumahmu untuk membahas pertunangan!” tegas Kim Jinnan.


“Kalau tunangannya satu tahun lagi bagaimana?” tawar Pelangi.


“Ya audah, satu tahun lagi.” Dan lagi-lagi, Kim Jinnan mengalah.


Pelangi benar-benar merasa lega dibuatnya. Beban hidup ya seolah langsung hilang atas kesepakatan yang bari mereka lakukan.


“Terima kasih Kim Jinnan.”


“Ya. Namun, seharusnya aku yang berterima kasih, Ngie.


“Tapi kakiku beneran sakit,” keluh Pelangi.


“Nanti kalau sudah sampai rumah, aku kompresin,” balas Kim Jinnan.


Mengenai masa depan, Pelangi merasa akan banyak keindahan yang mewarnai hidupnya. Tak ubahnya namanya--pelangi. Pelangi yang tersusun dari banyak warna. Karena meski berbeda, warna-warna itu tetap bersatu dan menciptakan keindahan yang luar biasa.


Dan Pelangi berharap, semoga, apa yang ia bayangkan benar-benar akan terjadi!


Bersambung ....

__ADS_1


Alhamdullilah bisa up. Tiga tahun lagi, siap-siap kondangan, ya? 😂😂😂😂🙏


__ADS_2