
Berat. Elia yang sampai gemetaran, sebisa mungkin berusaha tenang. Mengulas senyum, dan selalu menanamkan pemikiran-pemikiran baik untuk mengendalikan kehidupannya.
“Pelan-pelan. Tidak boleh langsung menyimpulkan. Anggap saja ini ujian untukmu menjadi manusia yang lebih baik. Terlebih kedepannya, hal semacak ini juga akan menjadi kawan baikmu.” Elia menasehati dirinya sendiri. Ia masih menatap Irene, kemudian berganti pada ponsel wanita itu yang berangsur meredup, setelah tadi sempat memajang foto Kim Jinnan.
“Jadi, menurutmu bagaimana?” Irene menatap ragu Elia. Di mana kemudian, ia sampai menertawakan dirinya sendiri. “Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku harus percaya pada bocah sepertimu yang bahkan bisa saja membohongiku?”
“Memang. Kita memang tidak seharusnya percaya kepada orang lain. Jangankan orang lain, diri sendiri saja masih sering ingkar, kan?” Elia membenarkan anggapan Irene.
Irene langsung diam dan menanggapi serius Elia. “Bocah ini?” batinnya yang mulai merasa jika Elia, tidak bisa dianggap sebelah mata.
“Pertama-tama, ... aku melihat jika Jinnan ini, bukan orang sembarangan. Jadi, satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan cukup tes DNA. Sedangkan mengenai ke depannya, tolong kamu pikirkan lagi.” Elia kembali meyakinkan. Namun wanita di hadapannya menjadi dirundung banyak kebingungan.
“Tes DNA?” ulang Irene yang sampai menatap tidak yakin Elia.
Elia mengangguk dan membenarkan. “Iya. Zaman sekarang sudah semakin canggih. Janin dalam kandungan saja sudah bisa menjalani tes DNA.”
“Janjin, bisa menjalani tes DNA?” ulang Irene lagi.
“Iya. Janin minimal berusia sepuluh minggu, sudah bisa menjalani tes DNA. Kamu enggak usah takut. Asal kamu benar, kebenaran pasti akan terungkap!”
Elia masih berusaha bersikap netral. Tidak membela Kim Jinnan, tidak juga Irene. Karena hal tersebut juga yang harus ia lakukan sebagai penengah untuk sesuatu yang bermasalah. Bahkan sekalipun sebenarnya, kepala Elia sudah terasa sangat pusing. Terlebih, Kim Jinnan suami Pelangi menjadi bagian dari kasus yang sedang ia tangani.
“Bagaimana mungkin, aku menjalani tes DNA, sedangkan ini, bukan anak Jinnan?” pikir Irene yang menjadi tidak baik-baik saja.
Irene terlihat menjadi gelisah bahkan takut. Itu juga yang Elia tangkap dari Irene.
“Bagaimana? Kamu siap?” tanya Elia dan sukses membuat Irene terkesiap. “Kamu menyembunyikan sesuatu? Katakan saja. Aku benar-benar akan membantumu.”
Hati Irene mendadak terasa sangat perih melihat ketulusan dari Elia. Padahal selama ini, yang Irene tahu, seorang Elena merupakan seorang bocah yang sangat pencemburu. Namun kini, di hadapannya, sosok Elia justru begitu menjiwai kasusnya tak ubahnya seorang psikiater. “Bagaimana mungkin?”
Suara Irene terdengar parau, seiring kedua mata wanita itu yang menjadi berkaca-kaca.
“Kemungkinan selalu ada asal dibarengi dengan kesempatan,” balas Elia. “Aku juga akan merasa sangat bersedih jika ada di posisimu. Kamu pasti butuh banyak dukungan, kan?”
Air mata Irene rebas. Dan Irene tak kuasa mengendalikan tangis berikut kesedihannya. Irene terlihat begitu terluka sekaligus tersiksa. Kenyataan tersebut pula yang membuat Elia terenyuh. Elia mengulurkan kedua tangannya dan memberikan bahunya kepada Irene. Irene yang awalnya ragu, tapi akhirnya menyerah dan mau bersandar kepada Elia.
“Jika itu benar-benar Jinnan ... kamu tidak akan sesedih ini. Kamu pasti memiliki alasan lain, kenapa kamu harus sesedih sekarang?” batin Elia.
“Tidak apa-apa ... setiap orang punya masalah ... dan setiap orang juga pernah melakukan kesalahan. Sungguh tidak apa-apa. Asal kita mau memperbaiki, dan sebisa mungkin jangan mengulangi ....”
__ADS_1
“Tenangkan pikiranmu. Kamu harus bahagia. Dan kamu tahu bagaimana caranya, agar kamu bisa bahagia? Kamu yang menentukan. Dan kamu juga yang akan merasakannya ....”
Elia menepuk-nepuk pelan, punggung Irene yang masih terisak-isak dalam pelukannya.
“Aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan ...?” keluh Irene masih terisak-isak. “Aku hanya korban!” pekiknya kemudian.
Elia mendapati kedua tangan Irene sampai mencengkeram selimut yang menghiasi ranjang rawat wanita itu. Ya, Elia bisa memastikan, Irene tidak berbohong dengan penegasannya. Irene merupakan seorang korban, terlepas dari Irene yang Elia yakini membenci pelakunya. Pelaku yang membuat Irene hamil.
Sekali lagi Elia bisa menyimpulkan, pria itu bukan Kim Jinnan. Sebab, di setiap Elia menatap Irene ketika wanita itu membahas Kim Jinnan, yang ada di mata Irene berikut nada suara wanita itu hanyalah cinta. Hasrat Irene untuk bersama Kim Jinnan terlihat begitu besar.
***
“Kita putus saja.”
Atala menatap Elena dengan mata yang bergetar. Di mana Elena berangsur menatap sekaligus balas menatapnya.
“Itu jauh lebih membuatku memiliki harga diri.” Elena yakin dengan keputusannya. “Dan aku yang memutuskanmu, bukan kamu yang memutuskanku seperti yang kamu inginkan bahkan di kedatanganmu kali ini.”
Tujuan Atala menemui Elena memang untuk mengakhiri hubungan mereka. Namun Atala juga tidak menyangka jika dirinyalah yang justru dicampakan Elena.
“Jika aku terus memaksa bersamamu, itu namanya pembodohan. Aku masih terlalu muda, dan aku bisa mendapatkan yang lebih darimu. Aku cantik, cerdas, terlebih keluargaku juga berasal dari keluarga berada.” Elena masih menatap serius Atala.
Sebuah kelegaan yang luar biasa dan sebelumnya belum sempat Elena rasakan, semenjak ia menjalin hubungan dengan Atala, mulai membuat Elena merasa kembali menjadi manusia normal.
“Awalnya, aku pikir, punya pacar itu keren. Denganmu yang seorang pilot, dan awalnya begitu peduli kepadaku, meski pada akhirnya kita sama-sama mengetahui siapa kita? Kamu mengira aku sebagai Elia, sedangkan aku yakin, aku tetap bisa membuatmu mencintaiku, jika kita tetap bersama.”
Elena berangsur menunduk. Ia menggigit bibir bawahnya sekuat mungkin demi meyakinkan dirinya sendiri, bahwa melepas Atala merupakan kebahagiaan.
“Jangan sampai kamu menyesal, apalagi sampai merindukanku. Karena meski aku hanya kekasih salah sasaran bahkan tidak pernah kamu harapkan, tetapi aku yakin, tidak ada yang bisa mencintaimu dengan tulus, kecuali aku. Dan kalaupun ada, mungkin kamu akan sulit menemukannya.” Elena masih menguasai pembicaraan lantaran Atala hanya diam.
Atala benar-benar diam lantaran detik itu juga, yang ada pikirannya menjadi kacau. “Ayolah, Atala ... bukankah ini yang selama ini kamu harapkan? Putus dari Elena?” batin Atala yang kemudian dikejutkan oleh tangan kanan Elena.
Elena mengangsurkan tangan kanannya pada Atala dan bersiap menjabat tangan pria itu. “Maaf, ya ... selama ini aku selalu menuntutmu ini-itu. Aku terlalu pencemburu. Kalaupun kamu tidak mau menganggapku, enggak apa-apa. Yang penting aku sudah minta maaf kepadamu.”
Atala yang masih diam, menatap tak percaya uluran tangan kanan Elena berikut wajah gadis itu yang menatapnya dengan banyak ketenangan. Tatapan yang sempat hilang semenjak Atala jujur, jika gadis yang dicintainya adalah Elia.
Lantaran Atala hanya diam memandanginya, Elena pun meraih paksa tangan kanan Atala untuk menyalaminya. “Kosong-kosong. Orang tua kita enggak harus tahu. Ini masalah kita dan kita juga yang harus menyelesaikannya.” Elena berangsur menyudahi salaman mereka.
“Ya sudah ... kamu kan selalu sibuk. Toh, kita sudah enggak ada urusan,” lanjut Elena sambil beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Di sofa ruang tamu kediaman Elena, Atala benar-benar merasa dibuang.
“Oh, iya ... Sabtu besok, kamu enggak perlu datang ke sekolahku buat acara itu. Intinya, kita benar-benar enggak ada hubungan apa-apa lagi. Terus, aku juga mau ganti nomor ponsel. Aku enggak akan menghubungi nomormu, meski aku juga hafal nomormu.”
Jauh di lubuk hati Elena, sebenarnya ia merasa sangat sakit. Namun, bukan sebuah hal yang keren jika memiliki pasangan tetapi tidak menghargai satu sama lain. Juga, tidak ada untungnya jika hubungan seperti itu tetap dipertahankan. Justru, yang terkeren itu memiliki seseorang yang tulus bahkan mencintai kekurangan kita, layaknya Rafaro kepada Elia. Ya, Elena akan mencari pasangan yang dengan bangga menegaskan dirinya sebagai pasangannya, bukan pasangan yang justru masih mencari cinta lain dari orang lain.
Elena menghela napas dalam demi meredam sesak di dadanya. “Jaga dirimu. Jangan lupa makan dan istirahat teratur. Dan ingat lambungmu. Hindari kopi dab minuman bersoda.”
“Kau membuangku, tetapi kau juga masih peduli kepadaku?” ucap Atala yang akhirnya angkat bicara seiring ia yang sampai beranjak.
Elena mengerucutkan bibir dan kemudian menggeleng. “Enggak, ... biasa saja. Aku kan memang penyayang. Kamunya saja yang enggak sadar. Ya sudah, ya ....”
Elena meninggalkan Atala, meski pria itu masih berdiri di depan sofa bekasnya duduk.
“Rasanya kok begini amat? Aku dibuang, dan kayak orang gila begini?” batin Atala yang kemuduan memutuskan pergi.
“Legaa ...,” batin Elena.
Elena menaiki anak tangga menuju lantai atas selaku lantai keberadaan kamarnya, sambil menepuk-nepuk cukup bertenaga, dadanya menggunakan kedua tangan.
“Meski enggak yakin bisa, tapi aku akan membiasakan tidak menghubunginya. Bisa kan karena terbiasa. Bodoh banget sh kamu, Len!” umpat Elena yang memarahi dirinya sendiri di dalam hati.
Namun, tiba-tiba saja Elena dibingungkan dengan apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki hubungannya dengan Elia?
“Rafa bilang, Elia masih ada urusan dan tadi, setelah bilang kalau dia pacar Elia, Rafa langsung pergi dan katanya mau jemput Elia? Ya ampun, ... romantisnya ... bikin iri saja!”
Tiba-tiba saja, Elena memelankan langkahnya lantaran ia belum memiliki rencana perihal bagaimana caranya ia memperbaiki hubungannya dengan Elia. Jadi, ia memutuskan untuk kembali turun dan meminta bantuan Kainya.
“Ma ... Mama?” Elena terus memanggil Kainya dengan nada manja. Nada manja yang beberapa saat lalu, Kainya bilang sangat Kainya rindukan dari anak-anaknya, khususnya Elena.
“Apa, Sayang? Mama sedang telepon sama Papa. Di dapur,” seru Kainya yang menyempatkan waktu untuk melongok dari jendela dapur dan memang tembus pada keberadaan Elena yang sedang mencari-cari di depan sana.
Kainya benar-benar merasa lega. Akhirnya suasana rumahnya kembali hangat rengekan manja Elena. Pun meski Elia belum kembali. Namun karena tadi Kainya sempat mendapat kabar dari Rafaro perihal keberadaan Elia, Kainya merasa baik-baik saja, lantaran ia percaya pada Rafaro.
Tadi, Kainya memang menemui Rafaro yang datang bersama Atala. Akan tetapi, Kainya sama sekali tidak ikut campur mengenai urusan Elena dan Atala. Kainya benar-benar menyerahkan semuanya kepada Elena dan Atala, yang menjalaninya.
“Jadi, urusan dengan Kimo dan Rara, sudah beres, ya? Mo, oke, kan? Hah, wajahnya masih bengkak? Tadi wajah Atala juga masih hancur, sih, Ven. Ya sudah, kamu cepat pulang, ya? Heum ... bye ....” Kainya menutup teleponnya dan membuat sambungan teleponnya dengan Steven berakhir.
Kainya segera menyambut Elena yang sudah ada di hadapannya. “Ada apa?” tanyanya sarat perhatian. Dan Elena langsung mengatakan semuanya. Perihal gadis itu yang belum memiliki ide untuk meminta maaf kepada Elia.
__ADS_1
Bersambung ....