
“Kok Ngi-ngie bisa hamil? Memangnya kenapa, Jinnan? Kan kamu suaminya? Harusnya kamu tahu penyebabnya, karena Ngi-ngie, harusnya juga cerita sama kamu, kan?”
Bab 97 : Kok, Ngi-ngie Bisa Hamil?
Pagi ini, meski belum sempat mandi bahkan masih mengenakan piama, Pelangi yang sengaja bangun lebih awal, demi menemani suaminya sarapan, merasa suasana di meja sarapan kurang bersahabat. Tak hanya Dean yang pendiam dan hanya fokus sarapan sambil membaca surat kabar, sebab Yuan yang langsung tersenyum lepas menyambut kedatangan Pelangi dan Kim Jinnan juga langsung melirik Zean, tanpa berkomentar.
Pelangi rasa, perubahan yang terjadi memang ada pada Zean. Bahkan Zean yang biasanya bawel dan akan heboh jika ada Kim Jinnan, tetap cemberut sambil bersedekap tanpa menyentuh menu sarapannya.
“Zean, kamu kenapa?” tanya Pelangi sambil duduk pada kursi yang Kim Jinnan siapkan. Ia terus menatap Zean yang justru hanya memberinya lirikan sebal.
Meski memilih diam, Kim Jinnan juga merasa Zean memiliki masalah cukup serius. Lihat saja, sekarang, bocah bertubuh cukup gembul itu sampai bersedekap dan memberikan ekspresi marah.
Ketika Zean tak sengaja menoleh ke sebelah Pelangi dan mendapati Dean membuka mulut, ia langsung berseru, “Dean, kamu enggak usah ikut campur!”
Dean yang mendengar itu langsung terkesiap dan refleks menatap Zean. “Apaan, sih? Aku mau menguap, dan rasanya jadi aneh begini gara-gara gagal!” semprotnya.
“Oh!” Zean sengaja memasang wajah tak berdosa. “Salah siapa, biasanya, kamu kan sok ikut campur kayak super hero!”
“Lagian kalau kamu mogok makan, itu justru alhamdullilah. Beras sama makanan di rumah enggak cepat habis!” omel Dean lagi tanpa membuatnya berkata lantang layaknya Zean.
“Sebenarnya ada apa, sih?” Pelangi jadi bingung sendiri dan kemudian melakukan kode mata pada Yuan.
“Ini, semalam kan,” Yuan bermaksud menjelaskan, tapi Zean langsung mengambil kendali pembicaraan.
“Papa pembohong! Bilangnya Rora mau datang, aku sudah sampai mandi dandan ganteng, eh ditungguin sampai jam dua belas malem, enggak ada yang datang!” keluh Zean.
Kim Jinnan nyaris terkikik di tengah tatapannya yang terus tertuju pada Zean. “Zean ... sudah. Daripada kamu marah-marah, cepat sarapan. Nanti aku ajak kamu jalan-jalan.”
“S-serius, Jinnan? Jalan-jalan ke mana?” sergah Zean langsung antusias.
“Jalan-jalan ke ruang tamu,” timpal Dean tanpa menatap Zean lantaran fokusnya tetap tertuju pada surat kabar yang sedang dibaca.
“Kebiasaan banget si Dean! Sirik banget!” cibir Zean.
“Jinnan, ... bukannya kamu mau kerja?” ujar Pelangi. Sebab meski di hari libur bahkan hari Minggu, suaminya memang akan tetap bekerja jika memang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan layaknya sekarang.
“Aku cuma cek lapangan, kok. Jadi pulang cepet. Nanti bisa sekalian ke mal buat beli eskrim atau mainan,” balas Kim Jinnan yang langsung menatap istrinya dengan banyak cinta.
“Kalau begitu, aku ikut, ya?” sergah Pelangi antusias.
“Enggak usah. Aku cuma bentar kok.”
“Yah ... Jinnan.”
“Kamu enggak boleh capek-capek, Ngie.”
“Wah ... ternyata cuma aku yang diajak, ya? Asyikk!” sergah Zean tambah senang. “Jinnan! Kamu memang yang terbaik!” Zean sengaja menyodorkan kedua jempolnya kepada Kim Jinnan yang kebetulan duduk di hadapannya.
“Biarin, Ngie. Biar Zean dibawa Jinnan buat makanan buaya! Asal kamu tahu, Zean. Nanti, Jinnan bakalan ajak kamu ke kebun binatang. Jadi, kamu tinggal pilih, dilempar ke kandang buaya, atau malah harimau!” timpal Dean.
Zean langsung melirik sebal Dean. “Pacarnya Kishi!”
“Iya, dong!” Dean sengaja memasang wajah bangga kepada Zean.
Kim Jinnan yang masih sibuk tersenyum, terlepas dari kehamilan Pelangi yang sukses membuatnya sangat bahagia, hanya menggeleng geli melihat tingkah Zean dan Dean. “Sudah, Zean ... makan sarapanmu.” Bersamaan dengan itu, sebelah tangan Kim Jinnan, meraba sekaligus sibuk mengelus perut Pelangi.
__ADS_1
Pelangi yang mendapatkan perlakuan tersebut, menjadi tak segan bermanja dan bergelendotan pada sebelah pundak Kim Jinnan.
“Semalam kalian enggak makan?” ujar Keinya yang kebetulan baru datang sambil menggandeng Mentari. Keinya segera duduk di sebelah Yuan, persis bersebelahan dengan Zean.
“Makan, kok, Mah. Sekitar pukul satu pagi, kami kelaparan gara-gara malamnya cuma makan gado-gado!” Kim Jinnan menertawakan dirinya sendiri, lantaran hanya karena makan malam gado-gado, pukul satu pagi, baik dirinya maupun Pelangi sama-sama kelaparan. Jadi, mereka terpaksa bangun untuk makan, kendati yang mereka makan, juga kembali gado-gado.
Keinya dan Yuan langsung menertawakan balasan Kim Jinnan.
Lain halnya dengan Zean yang uring-uringan lantaran Mentari sibuk menimpuk kepalanya menggunakan centong sup yang dipegang Mentari. “Ya ampun, Riri ... kamu kan sudah aku kasih eskrim satu sendok, masih saja jahat ke aku, kayak Dean!”
Keinya merasa kecolongan, lantaran ia melupakan Mentari yang tidak sampai ia pangku, atau malah di dudukan di kursi khusus. “Riri jangan, Sayang. Sini centong supnya, Mama pinjam, ya.”
Melihat Zean yang terus diserang Mentari, Dean langsung tertawa lepas. “Riri ... Riri ... sini!” serunya.
Setelah mendengar panggilan dari Dean, Mentari yang juga masih mengenakan piama panjang warna ungu, segera mencari sumber suara. Dan ketika bocah itu sudah mendapati keberadaan Dean, detik selanjutnya Mentari juga langsung berlari dan menghampiri.
“Ya ampun ... good girl!” puji Dean yang langsung meninggalkan duduknya dan kemudian memeluk Mentari.
“Si Riri memang jahat kayak Dean. Anak buahnya Dean, dia. Kalau akulah, anak buahnya Jinnan. Iya, enggak, Jinnan?” oceh Zean kemudian kendati Keinya masih sibuk mengelus-elus kepalanya. “Pelan-pelan, Ma. Beneran sakit, lho, ditimpuk pakai centong besi!”
Kim Jinnan sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehebohan keluarga Pelangi khususnya Zean. Justru, Kim Jinnan merasa sangat terhibur, lantaran baginya, suasana keluarga Pelangi benar-benar hidup. Bukan hanya sebuah bangunan megah yang sekadar dipersiapkan untuk ditinggali layaknya apa yang Kim Jinnan rasakan selama ini. Sebab keramaian yang terjalin layaknya di keluarga Pelangi juga menjadi satu-satunya tujuan hidup Kim Jinnan, setelah berumah tangga.
“Pah ... Mah ... aku mau bicara serius.” Kim Jinnan mengambil alih pembicaraan setelah suasana di sana menjadi cukup hening, lantaran setiap orang sibuk dengan kesibukan masing-masing.
Keinya sibuk mengurus kepala Zean, sedangkan yang bersangkutan langsung menghabiskan nasi goreng sea food-nya dengan lahap. Dean sibuk mendulang Mentari, Yuan sibuk dengan ponsel yang layarnya terus menyita fokus perhatian pria itu, sedangkan Pelangi masih bersandar manja di pundak Kim Jinnan.
Akan tetapi, ucapan yang Kim Jinnan tuturkan, sukses membuat orang-orang di sana menyikapinya dengan serius. Semua mata kecuali Pelangi, langsung tertuju pada Kim Jinnan.
“Iya, Jinnan. Ada apa?” tanggap Yuan yang sesekali mengerjapkan matanya sambil menatap serius sang menantu.
“Jangan pindah rumahlah, di sini saja! Enggak seru kalau enggak ada kalian!” potong Zean.
Keinya buru-buru membekap mulut Zean dari belakang. Dan kenyataan tersebut sukses membuat Kim Jinnan terkikik.
“Ayo, Jinnan. Lanjutkan. Biasa, Zean memang begini.” Keinya menyeringai sungkan pada Kim Jinnan.
Jinnan mengangguk dan bersikap sangat manis. “Sebenarnya, Ngi-ngie hamil. Dan dengan kata lain—”
“Kok bisa?!” seru Zean penasaran sekaligus syok.
Dan semua yang di sana langsung terdiam, tanpa terkecuali Kim Jinnan.
“Kok bisa, sih, Mah, Ngi-ngie hamil? Hamil itu, kalau sudah tua kayak Mamah, kan?” Zean benar-benar ingin tahu dan menatap penasaran Keinya yang masih merangkulnya dari belakang.
Sungguh, seumur hidupnya, hal yang paling membuat Keinya merasa sangat sulit adalah menjawab setiap pertanyaan nyeleneh dari Zean.
“Kata siapa, Mamah sudah tua? Mamahmu masih sangat mudahlah, Zean,” sela Yuan sambil tersenyum lepas dan sengaja menggoda Keinya.
Keinya tersenyum geli dan kemudian tersenyum lepas sambil menatap Pelangi dan Kim Jinnan. “Selamat, ya. Mamah benar-benar senang! Semoga, Ngi-ngie sama babynya selalu sehat. Pokoknya semuanya sehat dan bahagia!”
Meski masih memangku Mentari, Dean juga langsung mendekap Pelangi yang berangsur mengakhiri sandarannya kepada Kim Jinnan. “Wah ... akhirnya! Selamat, yah, Ngie! Serius, aku seneng banget bakalan tambah rame juga nih rumah!”
“Sini ... Papah juga mau peluk!” sergah Yuan yang sampai mengakhiri kesibukannya.
Setelah meletakkan ponselnya begitu saja, Yuan membentangkan tangannya dan siap memeluk Pelangi. Dan semuanya benar-benar mengakhiri kesibukan mereka, tanpa terkecuali Keinya yang sampai berderai air mata. Air mata bahagia tentunya.
__ADS_1
Kendati demikian, Zean yang ikut nyempil dan kemudian duduk di pangkuan Kim Jinnan pun kembali bertanya, “kok Ngi-ngie bisa hamil? Memangnya kenapa, Jinnan? Kan kamu suaminya? Harusnya kamu tahu penyebabnya, karena Ngi-ngie, harusnya juga cerita sama kamu, kan?” bisik Zean tepat di sebelah telinga Kim Jinnan.
Saking bingungnya, Kim Jinnan sampai lupa bernapas lantaran pria itu tidak bisa menjawab pertanyaan Zean.
“Bisikkin, lah, Jinnan. Sama aku, jangan ada rahasia. Soalnya aku penasaran banget!” lanjut Zean masih memohon.
Zean buru-buru menempelkan telinganya di sebelah wajah Kim Jinnan, dengan harapan, Jinnan akan segera membisikan jawabannya.
Setelah sampai berdeham dan kemudian menelan ludah, Kim Jinnan pun berbisik, “Ngi-ngie hamil, karena sekitar delapan bulan lagi, Ngi-ngie bakalan punya anak!”
“Omg ... Ngi-ngie beneran sudah tua kayak Mamah! Tapi, kok ... Ngi-ngie bisa hamil, ya? Pertanyaanku kan, alasan Ngi-ngie bisa hamil, Jinnan?”
Meninggalkan Zean yang masih saja ingin tahu, semuanya sudah mulai kembali ke tempat duduk masing-masing, setelah sampai mengucapkan selamat dan turut memeluk Kim Jinnan juga. Hanya saja, kendati semuanya sudah kembali, Zean tetap anteng duduk di pangkuan Kim Jinnan.
“Dulu, sewaktu Mama masih seusiamu, Papa masih mati-matian, cari Mamamu!” ujar Yuan antusias dan siap mengupas masa lalunya bersama Keinya.
Keinya memiringkan kepalanya sambil menatap Yuan. “Umur segitu, kita harusnya belum kenal, kan, Yu?”
“Sudah! Baru sebatas kenal, sebelum akhirnya kamu donorin darah ke aku!” balas Yuan yakin.
“Masa, sih?” Keinya masih tidak yakin.
“Serius. Awal kamu kuliah, kita sudah kenal!” timpal Yuan.
“Jangan-jangan, Papah lagi yang sok kenal!” seloroh Zean yang kemudian terkikik dan terpaksa menekap mulutnya menggunakan kedua tangan.
“Nah! Bener kata Zean! Kayaknya Papa yang sok kenal, dan Mamah memang belum kenal Papah!” Keinya membenarkan anggapan Zean.
“Cihuy ... asyik! Berantem, dong! Biar tambah rame!” timpal Zean kegirangan.
Yuan yang tersipu dan sempat menunduk malu, hanya menggeleng geli dan kemudian merangkul kepala Keinya. Di mana, sebuah kecupan mesra ia daratkan di kening sang istri sangat lama.
Dan semua yang di sana tanpa terkecuali Mentari bahkan Zean, kompak bertepuk tangan.
“Jinnan ... kamu kan suami Ngi-ngie. Ayo, cium Ngi-ngie juga, kayak Papah ke Mamah!” usul Zean dan semuanya sukses tertawa tanpa terkecuali Pelangi.
“Sini, aku cium kamu dulu biar kamu enggak bawel!” ujar Kim Jinnan yang kemudian mencium gemas pipi Zean yang tembem.
“Hahahaha ....!”
Semuanya menertawakan Zean.
“Dean enggak pernah cium aku, padahal katanya, dia kakak kandungku? Jangan-jangan, Dean anak pungut lagi, makanya dia enggak sayang sama aku!” protes Zean.
“Sini ... sini, aku cium!” sergah Dean.
Sambil terus mengemban Mentari. Dean meninggalkan tempat duduknya dan kemudian mendium kening Zean.
“Lah, Ri ... kamu juga cium aku!” ujar Zean kemudian setelah Dean selesai menciumnya. “Eh ... jangan pakai centong!” protesnya lantaran Mentari nyaris menghantamkan centong ke wajahnya.
Dibantu Dean, Mentari benar-benar mencium Zean. Meski yang ada, Zean langsung merengek jijik lantaran Mentari yang sedang flue sampai meninggalkan ingusnya di pipi Zean.
“Si Riri pasti sengaja, ini ... ninggalin ingus! Dikiranya pipiku tempat parkir!”
Bersambung ....
__ADS_1