
“Jangan pernah menyalahkan orang lain terlebih melampiaskan penderitaanmu, kepada orang lain! Salahkanlah dirimu kenapa kamu tidak bisa mengatasi masalahmu sendiri!”
Bab 56 : Wanita yang Kamu Sebut Ibu
****
“Kamu pasti bohong, kan?” tuding Rara pada Kimo saking tidak percayanya.
“Bohong apanya? Kamu minta diantar ke rumah Gio, kan? Ya ini!” Kimo geregetan. Namun melihat Rara yang terlihat tak hanya tidak percaya, sebab Rara juga sampai terlihat ketakutan, Kimo jadi tidak tega.
Kimo memaklumi ketakutan yang Rara rasakan apalagi ia juga pernah merasakannya. Karena baginya, pengkhianatan yang dilakukan pasangan jauh lebih menyakitkan dari vonis penyakit mematikan.
“Ayo, turun.” Suara Kimo melemah. Ia menggenggam sebelah tangan Rara sambil menatapnya teduh, menuntun wanita itu melalui gerakan wajah agar memercayainya.
“Ra, aku mencintaimu. Dan aku akan selalu mengupayakan yang terbaik buat kamu. Walau aku jauh dari sempurna, tapi aku akan memberikan semua yang aku punya tanpa kamu minta. Bahkan meski kamu sulit mempercayainya. Aku akan tetap melakukan yang terbaik untukmu. Meski kita lebih sering cekcok, karena aku yang memang enggak bisa bersikap lembut,” batin Kimo.
Pertanyaan demi pertanyaan yang memenuhi pikiran Rara berhasil meracuni wanita itu. Rasa tak percaya Rara atas kenyataan kehidupan Gio sungguh menjebak Rara dalam ketakutan tak berujung. Bahkan meski Kimo telah terjaga, menggenggam tangannya erat sambil terus menemani setiap langkahnya.
Dunia Rara seolah berputar lebih lambat. Sementara sepetak jalan di tengah hamparan halaman berumput hijau menuju pintu masuk utama rumah bernuansa emas di hadapannya menjadi terlihat begitu mengerikan. Dan jika Rara mengingat reaksi terkejut satpam yang berjaga di rumah kunjungan mereka, menandakan jika sebelumnya Kimo pernah datang. Satpam yang berjaga sempat ragu memberi Kimo izin, hingga membuat keadaan Rara semakin tidak nyaman.
Gio, ... sebenarnya ada apa dengan pria itu? Rara jadi semakin mencemaskannya. Aneh. Kenapa Rara justru mencemaskan bahkan semakin peduli kepada pria yang jelas-jelas telah menyakitinya?
“Sudah enggak usah setegang itu. Bukankah kamu sangat ingin menemui orang tua Gio? Lagi pula, ini kesempatan emas apalagi kata satpam, orang tua Gio juga sedang ada di rumah.”
Setelah berkata seperti itu, Kimo memperhatikan sekitar. Mereka tengah melangkah di tengah hamparan rumput hijau sambil bergandengan sangat erat layaknya sekarang, kenapa tiba-tiba saja, Kimo justru merasa sedang menjalani proses resepsi pernikahan menuju altar pelaminan? Sekadar memikirkan itu saja, hati Kimo menjadi berbunga-bunga. Seperti ada benih-benih kebahagiaan yang begitu cepat tumbuh dan bermekaran di sana.
Ingin rasanya Kimo membaginya, mengatakan kenyataan itu kepada Rara, tetapi dikarenakan yang bersangkutan sedang sangat tegang, Kimo urung melakukannya. Apalagi, ketika sebelah pintu bercat emas di hadapan mereka terbuka disusul keluarnya sesosok wanita berkaki jenjang mengenakan heels yang tingginya ada dua pulun senti, tiba-tiba saja tangan Rara yang Kimo genggam menjadi mencengkeramnya sangat erat.
Kimo menatap wajah Rara yang terlihat sangat ketakutan. Tatapan Rara berubah menjadi dipenuhi banyak luka sekaligus kekecewaan. Rara mengalami perubahan emosi yang begitu pesat. Rara terlihat sangat marah hanya karena kehadiran Piera—wanita cantik di hadapan mereka. Wanita cantik yang terlihat jelas menjaga penampilan meski sudah dimakan usia.
“Dia istri papanya Gio. Istri muda,” bisik Kimo.
Kimo belum selesai berucap, tetapi Rara tiba-tiba saja menatapnya dengan tatapan tajam. Rara terlihat sangat tak percaya bahkan terpukul. Air mata Rara sampai rebas, tak hentinya berlinang. Kemudian, Rara yang sampai menggeragap, menggeleng kaku, seolah menepis kata-kata Kimo.
“Ra, kamu kenapa?” Kimo mencoba mencari celah penyebab perubahan emosi Rara. Namun belum juga ia menemukan jawabannya, Rara justru mundur ketakutan. Dan ketika ia dapati apa yang membuat keadaan itu terjadi—dengan keadaan Rara yang menatap takut ke depan—di sana, Piera yang terlihat tak kalah terkejut juga sampai menjatuhkan tas tenteng yang awalnya Piera tenteng menggunakan tangan kanan.
Dengan seluruh tenaga yang tersisa, Rara mencoba berdamai dengan kenyataan. Ia berhenti mundur sambil memejamkan matanya erat. “Aku pasti salah lihat. Bukan. Itu bukan Ibu. Ayah bilang ibu sudah meninggal!” batinnya.
Seiring keyakinan yang ia tanamkan, Rara juga menjadi teringat berbagai kejadian.
“Maafkan Ayah, Ra. Sebenarnya, ... sebenarnya Ibu sudah pergi. Ibu sudah bahagia dengan pilihannya.”
__ADS_1
“Maksud Ayah, apa? Ibu pergi ke mana, Yah? Kalau memang Ibu pergi, seharusnya Ibu juga pulang, kan?”
“Ibu sudah bahagia di sana. Sekarang Ibu tinggal di salah satu bintang yang paling terang di langit. Jadi, kalau kamu kangen ibu, lihat bintang itu. Kamu juga harus berdoa untuk kebahagiaannya, ya.”
Kenang Rara pada pengakuan ayahnya ketika Rara menanyakan keberadaan ibunya yang tak kunjung pulang. Di teras depan rumah sederhana milik mereka, almarhumah ayahnya sampai menunjuk bintang yang bersinar paling terang di malam itu. Di usia Rara yang masih sangat muda yaitu delapan tahun, saat itu Rara dengan mudah percaya jika ibunya benar-benar terbang ke langit dan tinggal di bintang paling terang yang dimaksud. Rara masih ingat, malam itu, ayahnya menjadi terlihat sangat sedih bahkan sampai menitikkan air mata setelah memberikan jawaban tersebut. Jadi, semenjak itu pula, Rara memutuskan untuk tidak membahas ibunya lagi. Rara tak mau membuat ayahnya kembali bersedih. Karenanya, Rara memilih menyimpan kerinduan terhadap ibunya rapat-rapat. Di mana, Rara sering diam-diam menangis ketika melihat teman-temannya menghabiskan waktu bersama ibu mereka, atau ketika mereka menceritakan tentang ibu mereka. Tanpa terkecuali, ketika teman-temqn Rara memamerkan bekal buatan ibu mereka. Dan semenjak itu juga, Rara selalu berusaha ceria, menyimpan segala luka termasuk ketika ayahnya memutuskan untuk menikah lagi, sedangkan ibu berikut adik tirinya justru selalu melukai Rara di saat ayahnya tidak ada.
Kemudian, kejadian di dalam benak Rara digantikan oleh ucapan Kimo beberapa saat lalu, “Dia istri papanya Gio. Istri muda!”
Kini, Rara memberanikan diri untuk membuka matanya dengan harapan apa yang ia lihat sebelumnya, salah. Wanita yang bernama Piera itu bukan ibunya. Wanita yang dikata almarhumah ayahnya sudah meninggal dan hidup di bintang yang paling terang, di langit. Juga, wanita yang pernah membuat Gio meminta Rara agar lebih menjaga dalam berpenampilan.
Lantas, inikah jawaban sekaligus alasan Gio yang dengan lancang memasuki kehidupan Rara? Sungguh, dunia Rara seolah runtuh. Benak dan kehidupannya dipenuhi wajah almarhumah ayahnya berikut wajah Gio. Keduanya yang silih berganti mengajaknya berkomunikasi, melalui semua kebersamaan yang mereka lalui. Ketulusan ayahnya yang masih tetap menanamkan rasa sayang sekaligus hormat pada ibunya, juga Gio yang awalnya begitu mencintainya, berujung dengan sikap pria itu yang baginya sangat berubah—menjadi orang lain tak beda dengan siluman yang tidak punya perasaan.
“Flora!” Kimo mengejar Rara.
Kimo semakin dibingungkan oleh tingkah wanita yang ia tegaskan sudah menjadi kekasihnya. Kenapa Rara justru menangis ketakutan dan bahkan lari pergi? Bukankah dari awal, Rara bersikeras meminta bertemu orang tua Gio?
“Flora Violetta ...?” lirih Piera. Ia menatap kepergian Rara dengan tatapan bergetar yang begitu sarat penyesalan, bersama hatinya yang menjadi terasa begitu perih.
Seorang ajudan pria yang mengenakan kemeja batik lengan pendek warna cokelat, memungut tas Piera dan memberikannya kepada Nyonya besar tersebut. Namun sang Nyonya tak kunjung menerima, dikarenakan tatapan berikut fokus wanita cantik bergaya glamor tersebut, terus tertuju kepada Rara yang tiba-tiba saja pergi, lari setelah mereka dapati, Rara sampai berlinang air mata.
“Sayang? Kamu bilang, kamu sedang sangat buru-buru, kok malah bengong di sini?” sapa Prabu—pria bertubuh tambun yang kiranya berusia di atas enam puluh tahun. Pria yang memiliki garis wajah sama dengan Gio.
Piera refleks menoleh dan membuatnya menatap Prabu yang memang suaminya dan sampai membuatnya terkejut.
“Apa Gio datang lagi? Anak kurang ajar itu macam-macam lagi sama kamu, huh? Sayang, ayo cerita, jujur saja!”
Prabu kian mencemaskan Piera. Sedangkan yang bersangkutan justru masih bergeming, hanyut dalam pemikirannya. Benak Piera dipenuhi sosok Rara. Rara yang dulu ia tinggalkan dalam keadaan masih sangat belia. Dan kini, setelah hampir dua puluh tahun berlalu sedangkan diam-diam ia juga memperhatikan perkembangan anak gadisnya itu, pertemuan mereka justru harus dalam situasi yang jauh dari kata baik.
***
Setelah dibuat panik atas keadaan Rara, kini, Kimo justru dihadapkan pada pandangan yang seketika menggonyak hatinya. Gio datang bersama Steffy—mantannya. Gio dan Rara bertatapan begitu dalam, sedangkan Steffy yang ada di sebelah pria itu, menatap Kimo dengan cukup ketakutan.
“Seret pelacur itu agar keluar dari rumahku!” Gio menatap Rara penuh kebencian.
Mendengar itu, Kimo dan Steffy sama-sama terkejut. Lain halnya dengan Rara yang masih tetap menatap Gio dengan tatapan tajam yang dihiasi rasa peduli.
“Bukankah dia, wanita yang kamu sebut ibu?” lanjut Gio.
Tepat di waktu yang sama, Kimo yang awalnya berdiri tiga meter di belakang Rara, langsung menarik sebelah lengan Rara dengan pelan. Ia mengamankan Rara di balik punggungnya.
“Kalau kamu berani menyakitinya lagi, kupastikan,” tegas Kimo yang sebenarnya belum selesai karena Gio telanjur menahannya dengan berseru.
__ADS_1
“Apa? Kamu pikir aku takut padamu!” Gio nyaris maju andai saja Steffy tidak menahan sekaligus menarik lengannya yang sudah digandeng wanita bertubuh jenjang tersebut.
Rara keluar dari balik punggung Kimo. “Begini, caramu melampiaskan rasa sakitmu?” ucapnya hati-hati. “Kamu pikir, aku bukan korban?” ia menatap Gio dengan tatapan prihatin, sebelum akhirnya ia juga menjadi tersenyum getir.
Kimo dan Steffy hanya menjadi penyimak meski keduanya sama-sama terjaga di sisi pasangan masing-masing.
Rara menghela napas sangat dalam dan terlihat menahan sesak yang luar biasa. “Meski awalnya apa yang kamu lakukan sangat membuatku sakit, setelah mengetahui semua ini, aku justru jadi kasihan sama kamu.” Rara tersenyum sarkastis sambil menggeleng tak habis pikir dan masih menatap Gio. “Bahkan dengan caramu begini, kamu justru jauh lebih menyedihkan bahkan hina dari siapa pun!”
“Pelacur itu yang membuat keluargaku hancur! Dia bahagia di atas kehancuranku dan mamaku! Asal kamu tahu, di sudut rumah megah ini, mamaku terkurung dengan penyakitnya gara-gara wanita yang kamu sebut ibu!” tegas Gio sambil maju dan seolah akan menerkam Rara hidup-hidup.
Kimo mendorong dada Gio hingga tubuh Gio berikut Steffy yang menahannya mental, tepat ketika Rara berteriak, “kamu pikir aku peduli? Kamu pikir aku ada sangkut pautnya dengan sakit mamamu bahkan kamu? Kalau cara kamu begini, kamu benar-benar pengecut! Kamu itu bukannya menyelesaikan masalah malah menambah masalah! Asal kamu tahu, qpa yang kamu lakukan justru menutup kebahagiaan untukmu bahkan mamamu!” Rara terengah-engah, tapi kemudian ia melanjutkan, “jangan pernah menyalahkan orang lain terlebih melampiaskan penderitaanmu, kepada orang lain! Salahkanlah dirimu kenapa kamu tidak bisa mengatasi masalahmu sendiri!”
Gio berlinang air mata. “Kamu pikir, kenapa aku sampai melakukan semua ini?” Ia mengenyahkan tahanan tangan Steffy tanpa mengalihkan tatapannya dari Rara. “Kamu pikir semua ini tidak menyiksaku?”
Steffy menatap kesal dan sangat tidak percaya dengan apa yang Gio lakukan kepadanya.
Gio tersedu-sedu. “Meski pada awalnya aku hanya mempermainkanmu, hingga detik ini aku tulus dan masih sangat mencintaimu!”
Gio terlihat seperti kehilangan akal. Dia terus maju sambil berbicara dengan lantang pada Rara yang juga menjadi ketakutan. Bahkan Kimo yang berusaha menahannya sampai Gio hadiahi bogem hingga pria berwajah dingin itu tersungkur.
“Gio!” bentak Rara.
Rara segera meninggalkan Gio untuk membantu Kimo.
Di waktu yang sama, Prabu dan Piera muncul dari balik gerbang bersama ajudan Piera berikut satpam yang melaporkan keributan yang Gio buat.
Prabu menatap tajam Gio. Namun Gio tak peduli dan segera menepisnya apalagi Piera ada di sebelah Prabu.
Fokus Piera tertuju pada Rara yang ditatapnya cemas. Dan tak lama setelah itu, fokus Gio juga tertuju pada Rara.
“Kimo ... Kimo, kamu enggak apa-apa, kan? Ya ampun, darah ....?” Rara yang berhasil membantu Kimo berdiri, langsung mengelap sudut kiri bibir Kimo yang dihiasi darah segar selaku bekas bogem Gio.
“Aku enggak apa-apa, Ra. Serius, aku enggak apa-apa.” Kimo berusaha meyakinkan Rara. Menggenggam jemari Rara yang awalnya mengelap darah di sudut kirinya bibirnya.
Rara menghela napas. Situasi kini sudah membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Apalagi ketika sebelah lengannya justru ditarik dari belakang dan itu oleh Gio.
Gio terus menarik, membawa pergi Rara menggunakan mobilnya dengan kecepatan penuh. Kimo yang emosi atas kenyataan tersebut segera menyusul. Kimo mengemudi dengan kecepatan penuh mengingat Gio juga mengemudi dengan kecepatan yang langsung membuat Kimo ketar-ketir.
******
Terima kasih sudah membaca Selepas Perceraian. Baca dan dukung terus ceritanya, Ya. Like, komen dan vote dari kalian sangat berharga buat Author.
__ADS_1
Love you ....