Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 84 : Mia


__ADS_3

“Yang mengaku istri Yuan itu banyak. Tapi yang benar-benar istri Yuan hanya satu. Ini namanya Keinya, istri sekaligus wanita kesayangan Yuan! Dan alangkah baiknya kamu enggak bikin masalah sama Yuan, kalau kamu masih sayang nyawa kamu!”


Bab 84 : Mia


Tepat ketika Rara baru keluar dari ruang USG, ia dikejutkan oleh pasien yang sudah menunggu di depan pintu. Mia! Anak dari ibu tirinya yang sebenarnya sedang sangat ia hindari. Sosok yang tak hentinya menerornya melalui ponsel khusus kerja.


Berbeda dengan Rara yang menjadi cukup ketakutan, di mana wanita itu juga refleks mencengkeram gandengan Kiara hingga sang mertua kebingungan, Mia justru begitu antusias dan tak segan menahan sebelah tangan Rara.


“Ya ampun, Ra! Akhirnya aku bertemu kamu!”


Lantaran Mia sampai mendekap Rara, Kiara pun langsung mencoba mengakhirinya. “Maaf, Anda siapa? Tolong jaga jarak demi keamanan kesehatan.”


Kiara menatap Mia penuh peringatan.


Keantusiasan Mia berangsur sirna. Ia menatap Kiara dengan pandangan risi. Namun semua itu tak berlangsung lama, sebab fokusnya kembali tertuju pada Rara.


“Akhirnya, Ra ... aku sudah pusing nyari kamu ke mana-mana!” sergah Mia yang kembali antusias.


Kiara sampai menyikut kedua tangan Mia yang kembali menahan sebelah pergelangan Rara.


“Kenapa kamu tiba-tiba sibuk menghubungiku?” tanya Rara tanpa bisa mengendalikan apalagi menyembunyi kecurigaannya.


Mia terdiam bingung untuk beberapa saat.


Mendapati kenyataan sekarang, sambil menatap curiga Mia, Kiara berbisik pada sebelah telinga Rara, “ini orang siapa?”


Tanpa mengalihkan pandangannya dari Mia, Rara mendekatkan wajahnya ke sebelah telinga Kiara. “Anak ibu tiriku, Ma.”


Kiara mengangguk-angguk.


Sadar dirinya menjadi fokus perhatian, Mia segera mengalihkan tatapannya pada Kiara. “Hai, Tante ... saya Mia. Rara sering banget cerita tentang Tante sekekuarga, lho ....”


“Hah? Sering? Bertemu juga baru sekarang pun ini karena kebetulan? Enggak usah halu, deh Mi ... kamu lupa, dulu aku nyaris mati kalau enggak diselamatkan para tetangga, akibat kekejianmu dan mamamu?” sergah Rara kemudian. “Bahkan aku enggak akan lupa apalagi luka-luka kalian juga enggak sekadar ninggalin bekas di tubuh, melainkan ingatan dan hatiku!”


Sadar wanita bernama Mia akan memberikan efek buruk terhadap kesehatan Rara, Kiara langsung membawa Rara pergi.


“Sayang, ayo kita pulang. Tapi kita tebus obatmu dulu di depan,” bisik Kiara sambil memboyong Rara.

__ADS_1


Tanpa pamit layaknya Kiara, Rara meninggalkan Mia begitu saja.


“Lho, Ra ... kok kamu gitu? Kita ini saudara, lho?” seru Mia tanpa mengejar. “Rara pasti masih sakit hati banget, makanya dia kelihatan benci banget sama aku. Tapi ... demi minta bantuan, aku harus usaha. Mengenai USG lain kali saja. Ditunda dulu asal aku enggak kehilangan Rara!” Dengan kenyakinan tersebut, Mia menyusul kepergian Rara.


“Mereka mau nebus obat. Ya sudah, aku ikuti!” batin Mia.


Ketika Kiara meninggalkan Rara di bangku tunggu, saat itu juga Mia langsung beraksi. Dengan langkah hati-hati mengingat perutnya juga tampak buncit, Mia mendekati Rara.


“Ra ....”


Kehadiran Mia kembali mengejutkan Rara. “Kamu ini kenapa sih, maksa banget?” tanya Rara sambil menahan pangkal perutnya menggunakan kedua tangannya.


Mia tertunduk sedih. “Meski kamu masih sakit hati, seenggaknya kamu ingat, aku sama mama pernah urus kamu. Kami juga berjaga dalam hidup kamu.”


Pengakuan Mia membuat Rara mengernyit terkejut. “Berjasa dari mana? Kalian berulang kali melakukan KDRT iya! Kekerasan pada anak di bawah umur! Bahkan seharusnya kalian sudah diamankan!”


Mia yang tertunduk menyesal menjadi terlihat begitu gelisah. “Tapi sekarang kamu sudah hidup enak. Sedangkan aku dan mama,”


Saking kesalnya, Rara sampai bangkit dari duduknya. “Masalahku sama kalian apa?” sergah Rara memotong penjelasan Mia yang lagi-lagi hanya bisa menelan ludah. “Sudah deh, Mi, enggak usah aneh-aneh! Bukankah kalian juga sudah mengambil semuanya? Rumah, mobil, ... dan semua aset milik ayah yang seharusnya jadi hakku?”


“Ra,” sergah Mia sambil menatap Rara dengan memohon. “Aku sedang hamil, sedangkan mamaku sedang sakit. Mama sakit-sakitan sejak lama, dan hidup kami jauh dari kata bahagia ... setelah semua yang terjadi pada kita, sedikit pun, ... kamu beneran enggak tersentuh?”


Mia nyaris kembaki mencengkeram sebelah pergelangan tangan Rara, tetapi Rara langsung dan memang berhasil menghindar.


“Kok kamu jahat banget, sih? Ya sudah ... kalau gitu, tolong pinjami aku uang!” pinta Mia kemudian.


Rara menghela napas tak habis pikir sambil menatap sebal Mia.


“Jangan takut enggak aku kembalikan! Suamiku itu orang kaya! Namanya Yuan Fahreza! Dia pengusaha hotel dan apartemen! Kalau kamu enggak percaya, ini aku ada buktinya. Aku ada fotonya Yuan!”


Kali ini, Rara menjadi bergeming saking tidak percayanya. Bukan karena meyakini mengenai pengakuan Mia, melainkan kegilaan Mia yang sampai membawa Yuan ke dalam bujuk rayunya.


“Ya sudah, aku ikuti permainanmu! Berani-beraninya kamu mencatut nama Yuan!” batin Rara sambil bersedekap dan tak hentinya melirik sebal wanita di hadapannya.


Ketika Mia menyodorkan ponsel berisi foto Yuan yang mengenakan setelan jas hitam layaknya keseharian pria tersebut, Rara juga berangsur mengeluarkan ponselnya. Ia memilih foto kebersamaannya dengan Kimo yang disertai Yuan dan Keinya.


“Ini asli! Itu kamu nyomot di internet, kan?!” cibir Rara sambil menyodorkan layar ponselnya kepada Mia.

__ADS_1


Di foto tersebut, Rara dan Keinya berada di tengah-tengah, sedangkan Kimo dan Yuan, ada di samping mereka. Sambil tersenyum lepas ke arah kamera, keempatnya terlihat memamerkan kebahagiaan sekaligus kemesraan.


Mia sampai mengambil alih ponsel Rara. Wanita itu menatap layar gawai itu dengan saksama dan kadang menatap tak percaya kepada Rara. Dari ekspresinya kini, di wajahnya seolah tertulis pertanyaan; ini kamu? Kamu kenal Yuan Fahreza juga?


“Makanya, jadi orang itu enggak usah mengada-ngada! Malu sendiri, kan?!” omel Rara yang kemudian mengambil paksa ponselnya dari Mia yang seketika itu langsung kikuk dan terlihat jelas menahan malu.


“Yang mengaku istri Yuan itu banyak. Tapi yang benar-benar istri Yuan hanya satu. Ini namanya Keinya, istri sekaligus wanita kesayangan Yuan! Dan alangkah baiknya kamu enggak bikin masalah sama Yuan, kalau kamu masih sayang nyawa kamu!” jelas Rara tegas sambil menyimpan kembali ponselnya di saku susu celananya sambil berlalu tanpa pamit bahkan sekadar basa-basi kepada Mia. Ia menghampiri Kiara yang masih di tempat penebusan obat. Jaraknya dari Kiara sekitar sepuluh meter. Tampak mertuanya yang sedang melakukan pembayaran obat.


“Gila saja ... Rara sampai kenal Yuan dan istrinya? Serius, ... dengan kata lain, hidup Rara beneran enak! Rara sudah jadi orang kaya!” batin Mia sambil menatap takjub kepergian Rara. “Lagian Tuhan enggak adil banget, kenapa Tuhan harus jodohin Yuan sama wanita lain, bukan aku saja?!” batinnya kesal sambil mengentak-ngentakkan kedua kakinya, meski yang ada, ulahnya tersebut sukses membuatnya terpeleset. Beruntung, ada bangku tunggu bekas Rara duduk yang langsung Mia gunakan untuk berpegangan. Karena jika saja tidak ada, mungkin tubuh Mia sampai terbanting dan terkapar di lantai.


“Ma ... masa Mia sampai ngaku-ngaku jadi istrinya Yuan?” keluh Rara berbisik.


Kiara refleks menelan ludah saking terkejutnya. Ia juga refleks melirik Mia untuk memastikan apa yang sedang dilakukan wanita itu. Mia sedang berpegangan pada bangku tunggu bekas ia meninggalkan Rara.


“Dia beneran saudara tiri kamu?” tanya Kiara penasaran. Karena selain Rara yang terlihat jelas tidak menyukai Mia, tetapi keduanya tidak memiliki kemiripan bahkan dalam garis wajah walau hanya sedikit.


“Mia itu sebatas anak dari mama tiri aku, Ma. Jadi, pas mama Mia dan ayahku menikahah, mama Mia bawa Mia, ayah, bawa aku. Jadi sebenarnya kami enggak ada hubungan, apalagi semenjak ayah meninggal, mereka sudah mengusirku dan menguasai semua peninggalan ayah.”


“Mereka orang gila harta kayaknya. Jadi sekarang mereka sengaja cari kamu, buat minta bantuan?” balas Kiara.


Dengan keadaannya yang menjadi tidak bersemangat, Rara berangsur mengangguk.


“Enggak tahu diri banget tuh orang! Ya sudah. Ayo kita pulang saja. Urusan saudara tirimu, nanti Mama yang urus!” Kiara menggandeng Rara dengan hati-hati layaknya sebelumnya. Sesekali, ia juga melirik sebal ke arah Mia yang ternyata juga melirik sekaligus memperhatikannya.


“Mia bahkan sampai ngaku-ngaku jadi istri Yuan. Keinya aman, kan? Awas saja kalau Mia sampai rusuh!” batin Rara yang akan langsung turun tangan jika apa yang ia takutkan--Mia merusuhi hubungan Keinya dan Yuan memang benar!


Bersambung ....


Selamat pagiiii. Duh, hari ini mau update sekali lagi, enggak? Mumpung rada santai. Tapi sorean, ya. Kalau mau. Wkwkwk


Di ujung cerita, Author usahakan bakalan banyak manis-manis ^^. Dan karena ini mau berakhir, jadi semua tokoh juga bakal dikelarin kisahnya seperti voting di akhir bulan lalu.


Semuanya diharapkan sabar. Nanti Author usahakan semua tokoh dapat giliran.


Buat yang belum baca cerita Author selain ini, boleh banget lho, baca sekaligus dukung cerita yang lain juga. Jangan pikir Author enggak banyak naskah, ya. Enggak hanya yang di sini. Di WP apa tabungan pribadi juga banyak. Termasuk yang sengaja Author diemin ^^


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2