Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 44 : Si Otak Rusak


__ADS_3

“Memangnya, jika kita benar-benar bercerai, ... apakah kenyataan itu bisa menjamin semuanya baik-baik saja? Kalian sungguh akan baik-baik saja? Justru, bukankah lebih baik jika aku di sisimu selama dua puluh empat jam?”


Bab 44 : Si Otak Rusak


Senyum di wajah Kimo berangsur menepi lantaran Rara hanya diam menatap wajahnya, dengan menelisik. Kimo yakin, Rara tengah mencurigainya dengan alasan yang belum ia ketahui.


“K-kenapa kamu hanya diam?” tanya Kimo bingung dan sampai tergagap.


Rara mengernyit, makin mencurigai pria di hadapannya. “Otakmu benar-benar rusak, kan?”


Keterkejutan tidak dapat Kimo tutupi. Bahkan yang ada, ia semakin tidak bisa menyembunyikan ketegangan yang sampai membuatnya gugup.


Melihat keadaan Kimo yang semakin tidak meyakinkan, Rara menjadi menghela napas kesal. Sungguh, semakin ia menatap wajah Kimo, semakin besar pula rasa kesalnya kepada pria itu.


“Jangan bilang, kamu hanya pura-pura, dan semua ini kamu lakukan karena--”


“Demi Tuhan, aku benar-benar amnesia!” sergah Kimo buru-buru menyela ucapan Rara yang terdengar meledak-ledak dan sampai membuat telinga Kimo pengang.


Rara tak lantas mempercayai kata-kata Kimo. Ia masih menatap pria di hadapannya sarat kecurigaan. Bahkan kali ini, tatapannya menjadi semakin sadis.


“Kamu bohong?” tuding Rara dengan suara lirih.


Meski mata Rara terus menatap tajam kedua manik mata Kimo, mencoba mencari kebenaran yang ia yakini, tetapi wanita itu juga sampai melangkah mendekat dan memojokkan Kimo.


Lantaran Rara semakin dekat, sedangkan tubuh Kimo sudah menyentuh lemari dinding yang melengkung sepanjang ruangan dapur cukup luas di sana, pria itu justru tiba-tiba mendekat dengan suka rela dan malah memeluk Rara dengan ekspresi tak berdosa.


“Biasanya kita seperti ini, ya? Kita suami istri yang saling mencintai, kan?” ucap Kimo yang sibuk tersenyum bak orang tak memiliki beban.


Sungguh, Rara dibuat risi karenanya. Kenapa tingkah Kimo menjadi semakin aneh saja? Jangan-jangan, Kimo kembali mengalami kecelakaan yang membuat otak pria itu semakin rusak? Atau malah, dugaan Rara mengenai Kimo hanya pura-pura amnesia, juga benar?


“Hah ... ternyata berpelukan seperti ini sangat menyenangkan!” seru Kimo kemudian sambil mengeratkan yang sampai ia goyang ke kanan dan kiri, sampai-sampai, Rara refleks menaruh vas bunga yang wanita itu sembunyikan di balik punggung, secara asal di sebelah rak piring, demi balas mendekap erat Kimo lantaran Rara takut jatuh.


“Aneh! Benar-benar aneh! Padahal kemarin kami sudah sepakat bercerai. Tetapi, kenapa sekarang jadi aneh begini? Bahkan aku juga jadi enggak percaya, aku justru nikah sama orang ini!” batin Rara dan kerap menelan ludah.


Mengenai kenapa Kimo bisa masuk ke rumah kendati Rara telah menguncinya, Rara tidak begitu heran lantaran ia memberikan kunci serep rumah kepada Kimo. Pun meski Kimo menolak keras ketika Rara melimpahkan rumah tersebut kepada Kimo mengingat rumah yang mereka tempati juga dibeli dengan uang tabungan Kimo. Kimo bilang, itu hak anak yang sedang Rara kandung. Namun jika Kimo justru tiba-tiba kembali, tentu ceritanya akan menjadi lain lagi. Sedangkan mengenai perubahan Kimo, Rara patut curiga.


Rara berangsur menyudahi, menyingirkan kedua tangan Kimo dari dekapan mereka. “Bukankah kita sudah sepakat bercerai demi anak kita, agar terbebas dari mamamu?” sergahnya.


“Tetapi aku tidak bisa berhenti mencemaskan kalian. Aku terlalu takut jika harus berlama-lama meninggalkan kalian.” Kimo mengatakan itu sarat kesedihan. Bahkan selain ekspresinya sampai sangat memelas, kedua matanya juga menjadi basah.


Rara terdiam tanpa berkomentar lantaran lagi-lagi, ia berada di posisi sulit. Padahal, bercerai dari Kimo, ia yakini menjadi keputusan terbaik untuk terhindar dari Kiara yang bahkan sudah berani mengincar keselamatan anaknya.


“Jadi, menjadi asisten pribadimu selama dua puluh empat jam, bisa membuatku hidup dengan tenang. Demi Tuhan, aku rela enggak digaji. Cukup dikasi makan sehari dua kali!” Kimo masih memohon. Hanya saja, kali ini ia cenderung ceria bahkan manja, seperti bocah yang tak berdosa.


Rara melirik Kimo dan mulai merasa depresi. “Kamu baik-baik saja, kan?”


Kimo segera mengangguk. “Ya ... berada di dekat kalian seperti ini, aku jadi baik-baik saja!”


Tak mau semakin bingung bahkan pusing, Rara memilih berlalu. Meski tak lama kemudian, ia kembali pada Kimo dan disambut senyum hangat oleh pria itu. Pun meski kembalinya Rara karena untuk mengambil vas bunga yang sempat ia tepikan demi membalas pelukan Kimo, dan itu pun terpaksa.


“Oh, iya, kamu mau sarapan apa?” sergah Kimo sebelum Rara benar-benar meninggalkan area dapur.

__ADS_1


Rara yang nyaris melangkah melewati pintu dapur, berangsur menghentikan langkah, kemudian menoleh dan menatap Kimo. “Memangnya kamu punya uang, kalau aku minta macam-macam?”


Kimo langsung terdiam kebingungan. “Sebelum aku amnesia, aku punya uang bahkan tabungan, kan?”


“Masih disita polisi. Omong-omong, bukannya kamu sudah masak?” balas Rara. Ia mendapati wajan yang baru saja Kimo cuci. Namun, bukankah di kulkas mereka tidak ada yang bisa diolah apalagi dimasak? Lantas, barusan Kimo masak apa jika memang pria itu masih belum memiliki uang?


Kimo kembali tersenyum. “Selera makanku benar-benar jadi tinggi. Dan tadi, aku menemukan mi instan di lemari.”


Mendengar Kimo memakan mi instan, membuat Rara merasa bersalah bahkan bersedih. “Kamu masih lapar?” ucapnya kemudian sesaat setelah sempat terdiam menatap sedih Kimo.


Dan seperti tidak punya rasa malu, Kimo langsung mengangguk semangat.


“Demi Tuhan ... cobaan apa lagi, ini?” batin Rara sambil mengelus perutnya menggunakan tangan yang tidak menahan vas bunga.


Melihat tingkah Kimo yang justru tiba-tiba menjadi seperti bocah, rasanya Rara jadi tidak tega.


“Apa yang sebenarnya bikin kamu berubah seperti ini?” tanya Rara kemudian sesaat setelah menghela napas berat.


Kimo terdiam dan menjadi tertunduk sedih. “Aku enggak mau cerai ...,” ucapnya kemudian sambil menatap Rara. “Memangnya, jika kita benar-benar bercerai, ... apakah kenyataan itu bisa menjamin semuanya baik-baik saja? Kalian sungguh akan baik-baik saja? Justru, bukankah lebih baik jika aku di sisimu selama dua puluh empat jam?”


Pengakuan tulus Kimo menciptakan kesedihan yang begitu besar untuk Rara. Bahkan karenanya, mata Rara menjadi panas, basah. “Kamu enggak amnesia, ya? Kamu hanya pura-pura?” tudingnya. Sebab, Kimo yang tengah ia hadapi sangat mirip dengan Kimo yang menikahinya sebelum kecelakaan naas menimpa mereka.


Kesedihan semakin menyelimuti ekspresi Kimo. Tanpa memgalihkan tatapannya dari Rara, ia menggeleng pelan. Baginya, selama apa pun ia menatap mata Rara, tidak sedikit pun ia menemukan kebohongan apalagi kekeliruan. Yang ada, dari mata itu ia selalu menemukan ketulusan berikut luka yang begitu besar. Terlepas dari itu, Kimo juga merasa selalu ada kekuatan yang membuatnya selalu ingin dekat dengan Rara. Seperti sekarang, perlahan langkahnya menghampiri wanita itu.


Ketika Kimo semakin dekat dan terlihat jelas mengincar bibirnya, bahkan pria itu juga sampai membungkuk berikut kedua tangannya yang sampai menahan bahu Rara, Rara buru-buru menyodorkan bakan menempelkan vas bunganya pada bibir Kimo.


“Ingat, ... asisten enggak boleh kurang ajar!” cegat Rara kemudian tanpa bisa menyembunyikan ketegangannya.


Kimo terdiam pasrah. “Memangnya menurutmu, asisten selama dua puluh empat jam itu apa, kalau bukan suami?” tanyanya frustrasi.


Kimo mencebik. “Dia bahkan masih buron, kan? Aku takut jika dia tiba-tiba datang dan melukaimu,” keluhnya.


Kenyataan kini membuat Rara semakin galau. Jadi, apa yang harus ia lakukan setelah Kimo justru jelas-jelas melayangkan bendera perdamaian bahkan rujuk?


***


Sepanjang hari ini, Kimo benar-benar terjaga di sisi Rara. Bahkan meski Rara menyibukan diri dengan pekerjaan di laptop. Kimo kerap mondar-mandir dan kadang mengintip apa yang Rara kerjakan. Tak jarang, Kimo yang juga sibuk mencari perhatian Rara juga sambil bersih-bersih di sekitar Rara. Dari mengelap-ngelap meja, juga memainkan kemocengnya, asal bisa berkeliaran di sekitar Rara. Di ruang kerja wanita itu yang keberadaannya ada di ruang keluarga. Tentunya, menyiapkan susu hamil menjadi keahlian baru Kimo meski Rara terlampau serius dengan apa yang dikerjakan.


“Kimo ... Kimo ... ini kenapa begini? Kamu tahu, enggak?” keluh Rara tiba-tiba.


Rara memberi celah untuk Kimo mendekat. Kimo yang posisinya ada di belakang Rara, tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Kimo mengambil posisi nyaris merangkul dan sengaja meletakan wajahnya di sebelah pundak Rara.


Meski awalnya sengaja berniat mencuri kesempatan dalam kesempitan pada Rara, tetapi mendapati laptop Rara dipenuhi banyak pemberitahuan dan bahkan secara beruntut, membuat Kimo menjadi menyikapinya dengan serius.


Kimo menghela napaa dan mengambil alih laptop Rara secara penuh. Ia mengambilnya dan benar-benar mencoba mengatasinya.


“Laptopmu pakai pengaman, enggak?” tanya Kimo tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop Rara. Jemarinya bekerja dengan hati-hati di atas papan tik, mencoba tekan beberapa kunci di sana.


“Pakai, tapi aku enggak yakin juga ... duh, jangan-jangan, kayak pas punya Keinya.”


Kimo melirik Rara yang menjadi terlihat sangat cemas.

__ADS_1


“Kamu bisa enggak? Ah ... aku telepon Gio saja!” ucap Rara kemudian dan bergegas meninggalkan kebersamaan dengan tergesa.


Rara menuju telepon rumah yang posisinya ada di ujung depan ruangan kebersamaan mereka.


“Kok Gio, sih? Gio pacar, eh ... mantannya Kimi bukan? Tapi, kok, Rara bisa sampai kenal Gio?” batin Kimo bertanya-tanya.


“Jam makan siang, ya? Di restoran Keinya ... masa kamu enggak tahu? Ya sudah catat ....”


“Kenapa harus dicatat? Aku kan pengingat yang baik. Sudah, katakan saja,” balas Gio dari seberang dan terdengar menggoda Rara.


“Ngakunya pengingat baik. Tanggal jadian kita saja, dulu kamu selalu lupa ...,” cibir Rara.


Kimo sampai memelotot mendengarnya, meski kini, Rara kembali berbicara dengan serius, setelah menyebutkan alamat restoran Keinya.


“Tanggal jadian bagaimana? Maksudnya, mereka pernah pacaran?” pikir Kimo ketar-ketir dan terus saja melirik Rara sambil memasang pendengarannya, siap menyimak semua perbincangan Rara.


“Terus, ini aku harus bagaimana? Laptopku kayaknya mau sekarat. Ini kena sadap, ya? Ih gila saja! Athan kan sudah pergi ke dunia lain, sedangian Tiara sudah dipenjara? Masa iya, masih ada yang mau menyadap data bisnisku dan Keinya ...?”


Dari seberang, Gio justru tertawa lepas.


“Sudah ... sudah, enggak usah ketawa. Kamu sama Athan sama busuknya. Kalian sebelas dua belas. Cepat ke restoran Keinya, karena aku juga akan ke sana. Bisa rugi besar kalau aku sampai kecolongan data lagi!” omel Rara yang langsung menutup gagang teleponnya.


“Kok kamu seakrab itu sama Gio?” tanya Kimo tiba-tiba ketika Rara melangkah ke arahnya.


“Lah, kenapa? Kami kan memang berteman dekat.” Rara menatap bingung Kimo.


Kimo ditawan gelisah. Ia berkacak pinggang dan berangsung menghadap Rara, menatap wanita itu penuh kepastian. “Kamu enggak berniat buat mencarikan calon papa baru buat anak kita, kan?”


Pertanyaan Kimo barusan, refleks membuat Rara menelan ludah dan terasa begitu kasar. “Ya ampun ... si otak rusak ini,” batinnya. “Dia cemburu? Berati memang sudah jadi sifatnya. Tapi, ... bukankah dia masih belum ingat aku?” pikir Rara yang menjadi tersenyum girang.


“Kenapa kamu malah senyum-senyum begitu?! Aku serius, loh! Kamu mau ke mana? Aku belum selesai bicara,” keluh Kimo melepas Rara dengannpandangan tak rela.


“Aku mau siap-siap!” balas Rara terdengar santai tanpa menatap Kimo. Ia terus berjalan menaiki anak tangga menuju lantai atas selaku keberadaan kamarnya.


Sambil melangkah menyusul kepergian Rara, Kimo berseru, “ingat, ya ... aku enggak mau cerai!”


Semua keluh kesah Kimo membuat Rara menjadi begitu bahagia. Karena baginya, Kimo yang amnesia dan tidak, sama saja. Sama-sama protektif dan sangat pencemburu.


Ketika Rara nyaris sampai di lantai atas meninggalkan anak tangga terakhir, tiba-tiba saja ia teringat kata-kata Kimo.


“Memangnya, jika kita benar-benar bercerai, ... apakah kenyataan itu bisa menjamin semuanya baik-baik saja? Kalian sungguh akan baik-baik saja? Justru, bukankah lebih baik jika aku di sisimu selama dua puluh empat jam?”


Lantas, apa yang harus Rara lakukan, jika keputusan Kimo justru lebih baik dari perceraian yang mereka pilih sebelumnya?


Dan ketika Rara menoleh ke bawah, Kimo masih berkecak pinggang sambil menatapnya penuh peringatan. “Aku enggak mau cerai! Kita cerainya pura-pura saja!”


“Dasar si otak rusak!” cibir Rara lirih sembari mencebik dan menatap Kimo. Jadi, sekarang, status mereka apa?


Bersambung ....


Selamat pagi ... alhamdullilah bisa update pagi-pagi 😄😅. Tetap ikuti dan dukung ceritanya, yaa ....

__ADS_1


Salam santun,


Rositi.


__ADS_2