Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 75 : Tuhan, Aku Ingin Hidup


__ADS_3

“Jika aku mencintaimu, tentu aku mau menikah denganmu!”


Bab 75 : Tuhan, Aku Ingin Hidup


****


Dalam keadaannya yang tak berdaya sekaligus menyedihkan, Tiara yang dipapah dua orang polisi melewati keberadaan Rara, tak hentinya tergelak. Tiara menertawakan Rara yang tengah didekap sekaligus ditangisi Kimo. Bahagia rasanya melihat salah satu incarannya sungguh sekarat tak berdaya hanya karena tembakannya.


“Flora, bangun, Ra! Ayo, buka matamu! Ambulans, mana ambulans? Polisi, kenapa kalian hanya diam? Cepat panggilkan dokter dan tolonglah Flora! Bagaimanapun, jika sesuatu yang buruk sampai menimpa Flora, kalian harus bertanggung jawab karena ini kelalaian kalian!” Kimo nyaris kehilangan akal. Ia sungguh tak bisa mengontrol emosi yang sampai membuat air matanya terus berlinang, terlepas dari tubuhnya yang telah gemetaran hebat tak ubahnya seseorang yang menggigil karena kedinginan bahkan sakau.


Banyak orang berkerumun di sana. Hanya saja, mereka benar-benar menonton dan sesekali bergunjing sambil menatap iba apa yang terjadi. Mengenai Rara dalam dekap pangkuan Kimo, di mana, Kimo yang tidak sabar menunggu kedatangan ambulans, memilih mengerahkan sisa tenaganya untuk membawa Rara, agar Rara mendapatkan pertolongan secepatnya.


Kimo berusaha keras melakukan yang terbaik, karena apa yang menimpa Rara membuat sebagian nyawanya seolah melayang. 


Tulang-tulang Kimo terasa begitu ngilu. Apalagi hati dan jantungnya yang sudah tak karuan dan sulit Kimo ungkapkan menggunakan kata-kata, saking sakitnya. Wanita yang sangat ia cintai dan tiga hari terakhir mendiamkannya, juga, wanita yang beberapa menit lalu baru saja menolak lamarannya, kini terpejam damai dengan warna kulit yang menyerupai kain kafan. 


Darah segar terus mengalir dari dada kiri Rara, dan itu membuat Kimo frustrasi. Kemeja lengan panjang warna biru yang Kimo kenakan juga sudah menjadi berwarna ungu kebiruan karena darah Rara. Bahkan Kimo yang awalnya terus meronta meminta pertolongan, kini tak lagi bersuara. Kimo hilang arah, menggeragap, lidahnya teramat kelu dan mungkin pria itu sudah gila tak beda dengan wanita yang menembak Rara.


Andai, Kimo bisa menahan Rara, tentu Rara tidak sampai memasuki area parkir. Tentu Rara tidak akan menjadi korban penembakan. Tentu wanita yang masih Kimo tegaskan menjadi bagian dari hidupnya, masih baik-baik saja.


****


Rara terus terngiang tangis meronta Kimo yang memanggilnya. Beberapa saat sebelum bertemu dengan Tiara, sebenarnya Rara baru saja meninggalkan Kimo. 


Awalnya, Rara berniat menyudahi hubungan mereka, tetapi Kimo tidak mau mengalah dan meminta waktu lebih dulu, kemudian tiba-tiba berlutut di hadapan Rara di depan banyak orang. Kimo melamar Rara di tengah mal Fahreza Grup. Tentu kenyataan tersebut membuat Rara tidak mungkin menolak lantaran jika itu yang ia lakukan, Kimo akan sangat malu. Belum lagi, di libur panjang yang sedang berlangsung untuk hari Natal, pengunjung mal benar-benar penuh.


Sorak-sorai menjadi penyelamat Kimo ketika Rara menerima cincin dalam cepuk biru berikut buket mawar putih yang Kimo hadapkan. Meski setelah cincin terpasang dan Rara juga mengajak Kimo meninggalkan keramaian, Rara justru jujur dan mengembalikan bunganya kepada. Namun, karena cincin dari Kimo juga tidak bisa lepas dari jari manis kananya, Rara meminta waktu pada Kimo untuk mengembalikannya di lain kesempatan. 


Kimo marah dan tidak bisa menerima keputusan Rara. Namun Kimo tetaplah Kimo. Meski pria itu marah seperti orang kerasukan setan, tetapi Kimo yang telanjur mencintai Rara buru-buru mengejar, sesaat setelah memungut buket mawar putih berukuran besar yang sampai Kimo sepak.


“Ra ... Flora, berhenti. Aku mohon berhenti, Ra!”


“Kimo, kamu harus percaya, selama ini aku hanya mempermainkanmu. Jika aku mencintaimu, tentu aku mau menikah denganmu!”


Kendati Kimo terus mengikuti, Rara terus melangkah tanpa berpaling sedikit pun.


“Itu tidak mungkin. Kamu mencintaiku! Dan—?”


“Aku tidak pernah mengatakan itu. Selama ini, kamu yang selalu mengambil keputusan sendiri, kan?”


Kemudian, Rara balik badan dan membuatnya menatap Kimo. Ia dapati Kimo yang begitu frustrasi dan tak hentinya menangis.


“Kamu marah karena aku belum potong rambut?” rintih Kimo.

__ADS_1


Rara menggeleng dan terus begitu.


Kimo menepisnya dengan menggeleng juga. “Demi Tuhan, setelah ini, aku akan langsung potong rambut, Ra. Kamu tahu sendiri, kan? Akhir-akhir ini jadwalku sangat sibuk. Aku enggak ada waktu buat potong rambut. Ini saja, aku baru pulang dan satu jam lagi sudah harus bertemu klien.”


Rara terus menggeleng di setiap ucapan berikut alasan yang Kimo berikan.


Mendapati itu, Kimo menjadi memijit depresi kepalanya menggunakan tangan yang tidak mengendalikan buket. “Kenapa kamu terus menggeleng, heum? Kepalamu sakit? Bahkan kamu menangis? Aku mohon jangan menangis, Ra. Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku,” ucapnya ketika mendapati Rara sampai berlinang air mata. Tangannya yang sempat memijit kepala, ia gunakan untuk menyeka linangan air mata Rara, kemudian menahan sebelah wajah wanita itu. Namun yang ada, Rara yang sempat terpaku menatap Kimo justru menepis dan lari meninggalkan pria itu.


Rara memang sempat minta maaf, di saat detik-detik terakhirnya sebelum kesadarannya benar-benar hilang. Namun, apakah kata maaf yang ia ucapkan bisa menghapus luka yang ia tanamkan dalam diri Kimo? Lantas, salahkan bila kini, di bawah alam sadarnya, ia justru ingin hidup? Ia terus memohon dan dengan tak tahu dirinya menolak kenyataan yang tiga hari terakhir sangat ia inginkan; mati.


“Tuhan, aku ingin hidup. Sekali lagi saja. Aku harus hidup karena Kimo sangat mencintaiku. Tak peduli kesulitan yang harus aku lalui saat aku bersamanya. Meski aku harus menanggung malu ketika orang-orang terlebih keluarga Kimo mengetahui bahwa ibuku seorang simpanan bahkan perusak rumah tangga orang. Aku akan tetap bersama dan hanya akan meninggalkannya jika Kimo yang meninggalkanku.”


“Satu lagi ... Keinya ... Tuhan, aku benar-benar harus hidup agar Keinya tidak gagal menikah. Restu maminya saja sudah membuatnya sulit, apalagi jika aku sampai mati? Tuhan, izinkan aku hidup dan membuat orang-orang yang menyayangiku bahagia ....”


***


Athan yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan dengan luka di lehernya yang sudah diplester, langsung tercengang ketika mendapati Rara terkapar dalam ranjang pesakitan dirundung oleh petugas rumah sakit berikut Kimo yang bahkan kemeja bagian depannya sudah berlumur darah, menuju UGD


Athan langsung mengikuti apalagi kebetulan rombongan yang membawa Rara juga melintas di hadapannya. “Apa yang terjadi? Kenapa bisa begini?” tanyanya kepada Kimo yang sampai ia tahan sebelah tangannya.


Mendapati suara bahkan sentuhan Athan, Kimo yang awalnya tak berdaya, seolah langsung memiliki banyak tenaga. Kimo melepas tahanan Athan dilengkapi bogem mentah yang langsung ia layangkan pada wajah pria itu. 


Biar bagaimanapun, bahkan kendati wajah Tiara dibubuhi banyak keringat dan tertutup sebagian rambut, tetapi Kimo masih mengenalinya sebagai istri Athan.


“Kenapa kamu begitu kasar? Aku hanya bertanya—”


Athan belum selesai bicara, tetapi Kimo langsung berteriak. “Semua ini salahmu. Salah kalian! Kamu dan istrimu sama saja! Kalian benar-benar selalu menyusahkan hidup orang! Kupastikan tidak hanya istrimu yang masuk bui, melainkan kamu! Kalian harus mendapat balasan setimpal untuk ini!” teriak Kimo.


Setelah berucap meledak-ledak hingga menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana, apalagi suasana sedang cukup ramai pasien, Kimo berlalu mengejar kepergian Rara menuju UGD, yang keberadaannya berada lurus dengan lorong keberadaannya.


“Istri? Apakah yang dimaksud Kimo ... Tiara?” Jantung Athan seolah lepas dari posisi semestinya.


Athan baru ingat, Tiara yang membawa pisau berikut pistol, ia tinggalkan begitu saja. Bahkan keberadaannya di rumah sakit juga tak luput karena pisau wanita itu.


“Sial! Aku kecolongan! P-pelangi? Keinya? Bagaimana dengan mereka?” Athan yang detik itu juga menjadi ketakutan bahkan kacau, segera menghubungi Keinya.


***


Di waktu yang sama, Keinya yang baru akan mematikan daya ponsel lamanya, dibuat geram lantaran Athan kembali menghubunginya. Jadi, ia yang tidak mau mengganggu Yuan yang sedang banyak pekerjaan, terpaksa menjawab telepon tersebut.


“Kei ... Kei, kamu di mana? Pelangi bagaimana? Kalian aman, kan? Kei, cepat hubungi polisi dan mintalah perlindungan pada mereka. Tadi Tiara membawa pisau dan pistol. Bahkan sekarang Rara sedang di UGD karena sudah ditembak Tiara!”


Kepanikan Athan dari seberang yang dihiasi bentakan suara Kimo lengkap dengan derap langkah tak beraturan dan terdengar dari banyak orang, membuat Keinya kebas. Bahkan untuk beberapa saat, Keinya sampai lupa untuk bernapas.

__ADS_1


“Menyingkir dan pergilah! Jangan mengganggu kami lagi!”


Bentakan suara Kimo terdengar semakin jelas. Dan kenyataan tersebut membuat air manta Keinya rebas.


Keinya yang awalnya berniat tidak mengganggu Yuan, justru menghubungi pria itu. Beruntung, di sambungan ke dua, panggilannya langsung terhubung.


***


Meski sudah berulang kali diusir bahkan Kimo juga sudah lelah mengusirnya, Athan tetap terjaga di depan UGD keberadaan Rara. Kimo yang duduk dengan sebelah kaki selonjor di sebelah pintu UGD, terlihat sangat menyedihkan. Sedangkan Athan duduk di bangku tunggu tepat menuju UGD, terlihat seperti orang hilang. Mungkin ada sepuluh meter, jarak pintu UGD dengan keberadaan 


Ketika pintu UGD tiba-tiba terbuka, baik Kimo maupun Athan sama-sama terlonjak dan segera terjaga.


“Pasien kehilangan banyak darah,” ucap seorang suster yang kebetulan membuka pintu. Ia hanya membuka sedikit pintunya, bahkan kemudian kembali menutupnya setelah keluar dengan hati-hati.


“Berhubung stok darah y ang sama dengan pasien sedang kosong, jadi tolong bantu kami mencarikan darah yang sama. Apakah di sini ada pihak dari keluarga pasien?”


“Ambil saja darah saya!” Kimo mengulurkan kedua tangannya kepada perawat tersebut.


“Darah saya juga tidak apa-apa, ambil saja!” sergah Athan tanpa ragu.


Suster tersebut bingung menatap kedua pria yang begitu sigap di hadapannya. “Apa golongan darah kalian?”


“Rara butuh golongan darah apa?” sergah Kimo.


“B,” balas suster.


“Oke. Saya O!” ucap Kimo.


Suster menatap Athan. Pria berkacamata itu terpejam pasrah.


“Darahku A …!” batin Athan yang terpaksa tutup mulut dan tak jadi berucap.


Kimo langsung meraih sebelah lengan suster tersebut. “Ayo cepat. Pasien harus segera diobati. Selain darah, Rara tidak mengalami luka serius, kan, Sus?”


“A-ya ... ya,” suster yang terlihat seumur Rara menjadi gugup lantaran Kimo sampai menggandeng bahkan berbicara dengannya, dengan jarak kelewat dekat.


Menyadari itu, Kimo langsung melepas gandengannya bahkan mengangkat kedua tangannya. “Maaf. Saya tidak bermaksud ... pasien di dalam itu istri saya. Dan kami pengantin baru, jadi Suster tahu bagaimana perasaan saya,” ucapnya. Apalagi, ia juga takut si suster terbawa suasana dan menjadi baper.


Perginya Kimo dan suster yang mencari donor darah tadi, meninggalkan Athan yang tenggelam dalam kesedihan. Athan meratapi pintu ruang UGD yang kembali tertutup rapat sesaat setelah sempat terbuka.


“Kenapa selalu begini? Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik, tetapi aku juga selalu melakukan kesalahan. Bahkan aku sudah berusaha melakukan semuanya dengan hati, tetapi yang kuhasilkan juga tetap kesalahan. Apakah aku memang ditakdirkan menjadi orang yang tidak berguna? Jangankan melindungi orang lain, melindungi diri sendiri saja, aku selalu gagal.”


******

__ADS_1


__ADS_2