Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 76 : Bertemu Mantan


__ADS_3

“Ada dua wanita yang sama. Jadi benar, Keinya dan Kainya memang ada? Mereka kembar?”


Bab 76 : Bertemu Mantan


****


Kainya mengamati buku-buku yang terpajang di salah satu rak yang ada di toko buku kunjungannya. Ketika ia mengamati buku pilihannya lebih teliti, ia tak sengaja melihat Gio yang berjalan ke arahnya. Seketika itu juga dunia Kainya seolah berputar melambat. Di mana, meski Gio sempat menatapnya, pria itu berlalu begitu saja.


Dengan dada yang berdebar-debar, Kainya melepas kepergian Gio yang berlalu menuju lorong pajangan buku sebelah. Dan karena Kainya masih bisa melihat Gio dari keberadaannya walau hanya bagian dada ke atas, rasanya, ketegangan berikut hatinya yang tak hentinya berdebar, turut disertai kebahagiaan khusus. Gio ... pria dari masa lalu yang telah mengubah hidup Kainya. Mantan cinta yang tak pernah sampai.


Mendapat abaian dari Gio, Kainya menjadi menunduk sedih. “Tentu dia enggak mau kenal aku, karena dari dulu, yang Gio tahu aku ini Keinya. Gio memang ngeyel!” batinnya.


Ketika Kainya mengangkat tatapannya, di waktu yang sama, Gio juga balik badan mengamati buku-buku di balik pajangan keberadaan Kainya.


“Kalau Gio tahu aku bukan Keinya, pasti aku masih punya kesempatan walau hanya sebatas kenal.” Dengan keyakinan tersebut, Kainya langsung berujar, “Gio, kalau aku bilang, aku bukan Keinya, kamu tetap enggak percaya?”


Gio terdiam sejenak. Ke dua matanya mengerling. Ketika ia tidak mendapati orang lain di sekitarnya, apalagi tadi, wanita yang ia anggap Keinya juga memanggil namanya—Gio, Gio pun menatap yang bersangkutan dan kebetulan tepat di hadapannya, penuh tanya.


“Kamu ngomong sama aku?” tanya Gio memastikan.


Kainya mengangguk sambil terus menatap sedih Gio. Bayang-bayang di masa lalu saat ia remaja di mana ia sibuk meminjam buku di salah satu taman bacaan dan membuatnya sering bertemu Gio, menghiasi benaknya. Bahkan, dulu, Gio sampai menghampirinya dan mereka juga sering menghabiskan waktu bersama untuk membaca. 


Boleh dibilang, Gio merupakan awal mula Kainya membenci Keinya, lantaran meski dari awal sudah mengenalkan diri sebagai Kainya, yang Gio kenal hanya Keinya. Pria itu terus mengenal Kainya sebagai Keinya. Jadi, untuk terakhir kalinya, Kainya menegaskan dirinya sebagai Kainya sekaligus kembaran Keinya.


“Aku Kainya, bukan Keinya. Aku kakak sekaligus kembaran Keinya. Dulu, kita sering menghabiskan banyak waktu bersama, untuk membaca di salah satu taman bacaan. Kamu ingat aku?” Kainya mengatakannya dengan harap-harap cemas. “Dulu, aku selalu marah kalau kamu memanggilku Keinya. Apalagi ketika kamu bilang menyukaiku, tapi kamu tetap memanggilku Keinya.”


Gio terdiam tak percaya seiring kerut di dahinya yang kian bertambah.


“Aku bilang begini biar enggak ada salah paham lagi. Aku dan Keinya kembar, dan kami memang ada. Tetapi mengenai Keinya dan Athan, mereka juga ada. Jadi, kalau selama ini kamu berpikir Keinya wanita gampangan dan telah mengkhianatimu karena dia lebih memilih Athan ketimbang kamu, itu karena dulu yang sama kamu itu aku, bukan Keinya.” Kainya meyakinkan sekaligus menatap tegas Gio.


“Demi Tuhan, Gio ... Keinya enggak tahu mengenai hubungan kita. Kamu saja yang ngeyel, enggak mau percaya aku Kainya, bukan Keinya!” tegas Kainya mengomel. Setelah mengatakan itu, ia menghela napas panjang seiring kelegaan luar biasa yang turut ia kantongi. 


Ketika Kainya baru berlalu dari hadapan Gio, ponselnya berdering. Itu telepon dari Khatrin. “Iya, Mi?” jawabnya.


Gio masih terdiam tak mengerti. “Masa, sih, selama ini aku salah? Kainya, ya, Keinya, kan? Apa bedanya?”


“Jangan keluar dari rumah bagaimana? Aku sedang di toko buku buat beli beberapa buku bacaan, Mi. Lagi pula di rumah terus juga bosan ... hah? Tiara menembak Rara dan sekarang, Rara masuk UGD?” Mendengar itu, langkah Kainya refleks memelan.

__ADS_1


“Iya, makanya Keinya minta kamu hati-hati, kalau bisa kamu di rumah saja. Takut Tiara melihat kamu dan dia mengiranya, kamu Keinya, Kai. Cepat kamu pulang. Mami enggak mau kamu kenapa-kenapa,” jelas Khatrin dari seberang terdengar menuntut.


“Ya ... iya, Mi. Aku bayar buku pilihanku dulu, setelah itu, aku langsung pulang.” Kainya bergegas menyimpan ponselnya ke dalam tas di pundaknya, tetapi seseorang tiba-tiba menahan sebelah lengannya dari belakang, ketika ia akan melangkah.


“Siapa yang di UGD? Rara siapa? Apakah dia Flora sahabatmu, ah maksudku, sahabat Keinya?” Gio menatap Kainya penuh kepastian.


Begitu banyak kecemasan yang terpancar dari tatapan berikut gelagat Gio ketika membahas Rara. Kainya mengangguk sambil menerka kenapa pria di hadapannya begitu mencemaskan Rara? Namun tak berselang lama dari itu, ada yang menarik Kainya dari seberang Gio disertai tamparan panas yang sampai mendarat di sebelah wajah Kainya.


“Jadi karena wanita ini, kamu membatalkan pernikahan kita?” ucap wanita tersebut selaku penarik lengan sekaligus penampar Kainya—Seffy.


Kainya yang refleks menahan pipi bekas tamparannya geram. “Kalau punya mulut dijaga, dong! Satu lagi, kalau kamu berurusan denganku,”


Kainya belum selesai berbicara, tetapi Steffy berteriak. “Dasar pelakor! Wanita murahan! Wanita kegatelan!” sambil mendorong-dorong tubuh Kainya.


Teriak histeris Steffy terus berlanjut meski Gio menggandeng dan telah membawa pergi Kainya dari hadapan Steffy.


“Gi-gio, aku belum membayar buku pilihanku!” ujar Kainya bingung.


“Sudah, taruh saja di situ, beli lain kali saja. Yang terpenting sekarang, antar aku ke Rara jika kamu dan Keinya memang kembar!” tegas Gio.


“Gio, aku menyesal dan sangat menyesal telah kenal bahkan percaya sama kamu. Kimo jauh lebih baik ketimbang kamu!” teriak Steffy semakin menjadi-jadi. Tak mau ketinggalan, ia membuntuti kepergian Gio dan Kainya.


***


Keinya masih terengah-engah. Bahkan genggaman hangat yang Yuan lakukan sama sekali tidak mampu meredamnya. Rasa kesal yang mencekam membuncah dan membuat Keinya sangat marah. Kapan, Tiara dan Athan berhenti mengganggunya? Bukankah mereka sudah mengambil semuanya? Namun, kenapa mereka masih saja mengusik bahkan melukai orang-orang dalam hidup Keinya?


Yuan segera menahan pergelangan tangan Keinya, tatkala mobil mereka menepi persis di depan pintu masuk rumah sakit keberadaan Rara dirawat. Ia melakukan itu lantaran Keinya buru-buru meninggalkannya bahkan mengakhiri genggaman tangan mereka, sesaat sebelum membuka pintu untuk keluar.


Menyadari Yuan menuntunnya, mengharapkannya untuk mengikuti, Keinya menurut. Meski kecemasan kadang membuat Keinya tiba-tiba melangkah mendahului Yuan, di mana setelah itu, Yuan juga akan buru-buru memimpin.


Yuan menghela napas dalam. “Sayang, tenangkan dirimu,” pintanya lirih sambil terus melangkah cepat demi menyeimbangi langkah Keinya.


Sambil terus melangkah, Keinya menoleh dan menatap Yuan dengan mata berkaca-kaca sekaligus bergetar. 


Mendapati itu, Yuan yang sadar Keinya akan kembali menangis segera mengangguk, sarat kesabaran. “Aku tahu. Aku juga mencemaskan Rara. Semuanya mencemaskan Rara. Tapi kalau caramu begini, semuanya juga akan mencemaskanmu. Bahkan aku yakin kalau Rara jauh lebih mencemaskanmu.”


Keinya tak kuasa berkomentar lantaran lidahnya sudah kelu semenjak ia mengakhiri sambungan teleponnya dengan Yuan, ketika mengabarkan kejelasan kabar dari Athan mengenai Rara.

__ADS_1


Lantaran tangis Keinya akhirnya pecah, Yuan pun merengkuh kemudian mendekap tubuh Keinya sambil terus melangkah. Namun ketika mereka sudah dekat dengan ruang ICU keberadaan Rara dirawat, keberadaan Athan yang duduk fi bangku tunggu di depan ruangan tersebut langsung mengusik Keinya.


Keinya menyudahi dekapan Yuan dan menatap kesal Athan yang langsung berdiri dari duduknya. Athan bahkan menggeragap dan terlihat sangat bersedih. Di mana, keputusan Athan yang justru menarik sebelah lengan tangan Keinya kemudian mendekap wanita yang sudah menjadi mantan istrinya tersebut, langsung mengejutkan bahkan menyulut emosi Yuan.


“Aku benar-benar minta maaf!” tangis Athan seiring pelukannya yang makin erat. “Rasanya, rasanya seperti mimpi masih bisa memeluk kamu seperti ini!”


“Mantan enggak tahu diri!” batin Yuan.


Rahang Yuan mengeras sedangkan kedua tangannya mengepal erat lantaran menahan kesal. Kemudian ia berdeham, bermaksud memberi Athan peringatan. Apalagi semenjak awal dipeluk, Keinya sudah sibuk memberontak.


“Athan, lepas!” protes Keinya untuk ke sekian kalinya.


Athan yang terkejut segera menyudahi pelukannya. Ia mendapati tatapan sengit Yuan berikut Keinya yang sama-sama terarah padanya. 


“Semua ini karena kamu. Andai kamu dan Tiara enggak ada dalam hidup kami, tentu kami jauh dari mara bahaya!” tegas Keinya. “Jangan pernah menggangguku apalagi orang-orang dalam hidupku lagi!” lanjutnya.


“Sudah, kita tinggalkan saja,” ujar Yuan yang seketika merangkul kemudian menuntun Keinya memasuki ruang rawat Rara.


***


Rara belum sadarkan diri. Hanya saja, menurut dokter yang menangani, sedikit saja peluru melesat ke bawah, akibatnya sangat fatal karena pasti mengenai jantung Rara. Sedangkan yang terjadi pada Kimo, tak lama ketika darahnya diambil untuk Rara, pria dingin itu justru pingsan. Hanya Yuan yang mengetahui alasan Kimo pingsan, di mana karena kenyataan tersebut pula, Yuan jadi sulit untuk mengakhiri tawanya. 


“Bocah itu takut jarum suntik. Pantaslah dia sekarat gara-gara nekat donorin darah buat Rara!” batin Yuan yang sampai disikut Keinya akibat kesibukannya tertawa.


Keinya yang sempat menangis tersedu-sedu menyalahkan dirinya sendiri atas musibah yang menimpa Rara, tak kuasa menahan tawanya ketika Yuan bercerita mengenai Kimo yang fobia jarum suntik, sampai-sampai, Kimo sekarat sangat lama bahkan hingga sekarang.


Melihat kedekatan Keinya dan Yuan yang sarat kemesraan, bahkan Keinya juga tak sungkan bergelendot bahkan memeluk Yuan di tengah umum, Athan yang masih ada di sana menjadi minder sekaligus cemburu.


“Yu?” panggil Keinya lirih dengan suara sengau berikut matanya yang begitu sembam. Ia menengadah menatap wajah Yuan yang ada di atas wajahnya. “Sepertinya lebih baik Rara dan Kimo dulu yang menikah. Karena meski mereka masih sama-sama keras, mereka ibarat kutub magnet yang walau dalam ukuran paling kecil pun, akan tetap bersama.”


Yuan mengangguk tulus. Ke dua tangannya yang awalnya menahan pinggul Keinya, berangsur membingkai wajah wanita tersebut. “Baiklah. Tapi biar bagaimanapun, semuanya kita serahkan kepada mereka yang akan menjalani. Sedangkan untuk persiapan pernikahan kita, alangkah baiknya, mulai kamu siapkan dalam waktu dekat. Kamu yang tentukan, sesukamu, sespesial mungkin!”


Keinya yang tersipu berangsur mengangguk. Sedangkan Athan yang tak tahan melihat kebersamaan ke dua sejoli di depan pintu ruang rawat Rara, memutuskan berlalu. Hanya saja, kedatangan Gio dan Kainya langsung membuatnya kebingungan dan refleks menghentikan langkah. 


“Ada dua wanita yang sama. Jadi benar, Keinya dan Kainya memang ada? Mereka kembar?” batin Gio maupun Athan. Keduanya sampai merinding taj percaya, menatap Kainya berikut Keinya, silih berganti. 


Jadi, wanita yang ada dalam gandengannya benar-benar Kainya kembaran Keinya? Wanita yang juga merupakan cinta pertamanya? Pikir Gio.

__ADS_1


__ADS_2