
“Tuan Jungsu menyarankan, jika memang nona Pelangi belum siap, tetapi hubungannya dan Tuan Muda jauh lebih baik, bagaimana jika mereka melangsungkan kawin gantung saja?”
Bab 33 : Kawin Gantung
Semenjak awal melihat Pelangi begitu bersemangat mengunjungi Kim Jinnan ke rumah sakit, senyum yang sampai membuat wajah Yuan merah merona tak juga usai. Selalu saja menyertai terlebih ketika pria itu menoleh dan menatap Pelangi.
“Papa! Aku tahu Papa sengaja meledekku!” protes Pelangi lantaran sudah tidak tahan.
Akan tetapi, bukannya menyudahi terlebih berhenti, Yuan justri semakin menertawakan Pelangi yang sampai cemberut dan terlihat sangat sebal.
“Tapi Ngi-ngie lucu. Sampai mandi keramas begitu. Malam-malam ... hanya karena mau bertemu Jinnan?” ucap Yuan yang masih susah payah mengendalikan tawanya.
Yuan terus meledek Pelangi, kendati fokusnya tetap dengan kemudi lantaran ia memang mengemudi sendiri. Sedangkan Pelangi yang duduk di sebelahnya menjadi salah tingkah bahkan kadang sampai memunggungi Yuan.
“Baiklah. Papa akan diam. Tapi Papa senang, ... akhirnya anak Papa sudah besar,” ucap Yuan sambil sesekali berdeham demi meredam tawanya.
“Aku dan Jinnan hanya teman, Pa,” ujar Pelangi meyakinkan.
Yuan mengangguk-angguk di antara senyum yang masih menghiasi wajahnya. “Enggak apa-apa. Papa percaya Ngi-ngie tahu batasan dalam hubungan.”
Kali ini, balasan Yuan cukup membuat Pelangi merasa tenang. Pelangi berangsur menunduk sambil mengangguk. Bahkan, Pelangi sampai mengulas senyum. “Iya, Pa. Aku janji.”
“Tapi omong-omong, memangnya Pelangi maunya punya pasangan yang seperti apa?” lanjut Yuan.
Pertanyaan Yuan sukses menyejukkan perasaan Pelangi. Pelangi refleks mengangkat tatapannya. Dan dengan hati yang berbunga-bunga, ia menoleh menatap Yuan. Yuan, ya ... pria itu. Papa sambungnya itu memang luar biasa. Tak hanya selalu menjadi papa yang baik, karena Yuan juga selalu bisa menjadi teman bicara bahkan sahabat yang baik.
“Papa. Aku mau punya pasangan yang kayak Papa. Sayang keluarga. Serba bisa. Ganteng. Keren. Pokoknya Papa the best!” ucap Pelangi yang menjadi senyum-senyum sendiri.
Yuan yang menjadi tersipu, membiarkan tangan kirinya mengelus punggung kepala Pelangi tanpa mengurangi fokusnya dalam mengemudi. “Papa selalu mendoakan yang terbaik untuk keluarga kita, terlebih untukmu, Ngie.”
Pelangi mengangguk sambil mempertahankan senyum di wajahnya. “Iya, Pa. Makasih!”
***
Kim Jinnan sedang terduduk di kursi tunggu dengan lesu, ketika Yuan dan Pelangi sampai di ruang tempat Kim Jinnan terjaga.
Pandangan Kim Jinnan kosong, sedangkan wajah yang biasanya selalu ceria atau malah bengis juga ditekuk. Kim Jinnan seolah kehilangan gairah hidup. Atau malah lebih parahnya, sebagian nyawa pria muda itu ikut menghilang entah ke mana, bersamaan dengan kritisnya Kim Jungsu.
Pelangi dan Yuan yang mendapati kenyataan itu menjadi tidak tega. Tak terbayangnoleh mereka jika mereka ada di posisi Kim Jinnan mau pun kakek Jungsu sendiri. Belum lagi, jika bercermin pada masing-masing masa lalu keduanya, baik Kim Jinnam maupun kakek Jungsu pasti juga sama-sama menyesal.
Perihal Kim Jinnan yang pastinya menyesali masa lalunya, kenapa pria muda itu menghabiskannya dengan hal tak berguna, juga kakek Jungsu yang menyesal kenapa dirinya tidak memiliki waktu untuk Kim Jinnan, walau hanya sebentar?
__ADS_1
Baik Pelangi maupun Yuan sama-sama mengetahui hal tersebut. Apalagi selama ini, intensivitas kebersamaan di keluarga mereka sangat kuat. Berbanding terbalik dengan keadaan keluarga kakek Jungsu dan Kim Jinnan, yang bahkan sama-sama tidak punya waktu untuk kebersamaan mereka.
“Jinnan?” panggil Yuan dengan nada sarat perhatian. Terlebih, biar bagaimanapun, kakek Jungsu sudah sempat menitipkan Jinnan kepadanya dan Keinya.
Kim Jinnan dan Pak Jo yang duduk di sebelahnya, berangsur bangkit ketika tahu Pelangi dan Yuan datang. Pun dengan kedua pengawal Kim Jimman yang duduk di bangku seberang. Mereka kompal menunduk sopan kepada Yuan maupun Pelangi. Juga, Yuan dan Pelangi yang langsung membalasnya dengan mengangguk.
Kim Jinnan menatap tak percaya Yuan apalagi Pelangi. “Malam Om?” sapanya yang bahkan tidak bisa menyembunyikan duka yang sedang dirasakan.
Yuan mengangguk. “Malam Jinnan ... bagaimana keadaan kakekmu?”
Dengan wajah yang seketika dipenuhi sesal, Jinnan yang sempat menunduk pun berkata sambil kembali menatap Yuan. “Masih kritis Om. Belum ada perkembangan.”
“Memangnya awalnya bagaimana? Bukankah kakekmu selalu dikawal?” lanjut Yuan masih sarat perhatian.
Kim Jinnan mengangguk menyesal. “Kemarin kakek jatuh di toilet kantor, Om.”
Yuan merasa sangat prihatin atas keadaan tersebut. Sebelah tangannya menepuk-nepuk pelan sebelah pundak Kim Jinnan yang berangsur menunduk.
“Melihatnya seperti ini, kok enggak tega, ya?” batin Pelangi.
“Ya sudah, Ngie ... kamu bawa apa?” lanjut Yuan yang kali ini merangkul punggung Pelangi.
Yuan mendekati ruang ICU yang menjadi tempat Kim Jinnan terjaga. Melalui kaca yang menghiasi tengah bagian atas pintu, Yuan mendapati di dalam sana, kakek Jungsu sedang berjuang dengan seabreg alat bantu yang terhubung dengan tubuh kakek Jungsu. Dada kakek Jungsu sampai dibiarkan tak tertutup pakaian karena beberapa alat medis menyerupai kabel, mempel di sana.
“Aku membaca masakan mama. Katanya kamu lapar?” ucap Pelangi lirih.
Kim Jinnan mengangguk dan berangsur duduk diikuti juga oleh Pelangi yang duduk di sebelahnya, meski gadis itu meletakkan kantong bawaannya di tengah dan menjadi sekat kebersamaan mereka.
“Kenapa kamu membawa banyak sekali?” tanya Kim Jinnan lirih.
“Biar kamu enggak kelaparan,” balas Pelangi yang mengeluarkab kotak bekal dari kantongnya.
Kim Jinnan mengamati keseriusan Pelangi dalam mengeluarkan setiap kotak berisi makanan, dari dalam kantong yang ada di tengah mereka. Selain itu, Jinnan juga melongok kantong satunya lagi yang berisi aneka buah, lengkap dengan pisau juga sarung tangan plastik.
“Pelangi benar-benar melakukan semuanya dengan perencanaan matang. Aku benar-benar enggak salah milih,” batin Kim Jinnan.
Melihat kebersamaan Pelangi dan Kim Jinnan, Pak Jo--pria paruh baya yang kepalanya sudah dipenuhi uban itu menjadi tersenyum bahagia. Tanpa pamit kepada keduanya, pak Jo yang teleponnya kepada Kim Jinnan sempat membuat Pelangi curiga, meninggalkan kebersamaan. Pak Jo menghampiri Yuan yang masih menganati kakek Jungsu dari balik kaca pintu. Dan Yuan, terlihat sangat prihatin.
“Ngie, ... tadi yang lewat itu, ... itu pa Jo yang telepon aku sebelum aku pergi. Dia yang mengabariku perihal keadaan kakek. Pak Jo juga sempat bikin kamu curiga kan, ke aku?” ucap Yuan masih lirih.
Pelangi yang sampai terdiam demi menyimak Kim Jinnan, menjadi celingukkan mendengarnya. Terlebih ternyata, selain pak Jo memang pria, pria itu juga sudah kakek-kakek.
__ADS_1
“Apaan, sih?” balas Pelangi terbilang mengomel dan sengaja menghindari info yang Kim Jinnan berikan.
Kim Jinnan mesem menatapi Pelangi penuh cinta sekaligus terima kasih. “Makasih ya?” lirihnya tanpa mengalihkan tatapannya. Tak peduli meski di sekitar mereka masih ada orang lain bahkan Yuan dan pak Jo yang memiliki andil penting.
Meski tampak malu-malu, Pelangi yang memberanikan diri untuk menatap Kim Jinnan pun berangsur mengangguk.
“Sebenarnya dari tadi aku pengin nangis. Tapi aku malu. Dan gara-gara itu, kepalaku tambah pusing,” ucap Kim Jinnan lagi.
“Ya sudah makan dulu. Nangisnya nanti saja. Nanti kamu jadi tambah kelaperan,” balas Pelangi.
Meski telah ada di sebelah Yuan, tetapi pak Jo masih mengamati sekaligus menikmati kebersamaan Pelangi dan Kim Jinnan. Pelangi yang sampai membukakan tutup kotak bekalnya sebelum memberikannya pada Kim Jinnan. Di mana setelah itu, setelah sempat mengamati Kim Jinnan makan, Pelangi juga berangsur mengeluarkan buah berikut pisau dan sarung tangan plastik yang langsung dikenakan.
Yuan yang menyadari apa yang dilakukan kepercayaan kakek Jungsu juga melakukan hal serupa. Mereka sama-sama menganati kedekatan Pelangi dan Kim Jinnan yang kadang mengobrol lirih sambil bertatapan.
“Ada apa pak, Jo?” tanya Yuan pelan setelah sebelumnya, kepercayaan kakek Jungsu tersebut juga sempat menyapanya dengan hormat.
Pak Jo berangsur mengulas senyum sambil menatap sopan Yuan. Kedua tangannya ia simpan di depan perut dan saling bertautan.
“Perihal mereka, ... tuan Jungsu sangat berharap, Tuan Yuan,” ucap pak Jo sambil menunduk sopan.
Yuan langsung memperhatikan kebersamaan Pelangi dan Kim Jinnan. Keduanya terlihat semakin akrab.
“Tuan Jungsu menyarankan, jika memang nona Pelangi belum siap, tetapi hubungannya dan Tuan Muda jauh lebih baik, bagaimana jika mereka melangsungkan kawin gantung saja?” tambah pak Jo masih membungkuk sopan.
“K-kawin, gantung?” ulang Yuan dengan dahi berkerut. Yuan merasa cukup syok.
“Iya, Tuan. Mereka menikah, tetapi karena suatu hal, sejenis nona Pelangi yang belum siap, mereka tidak akan tinggal bersama dulu,” balas pak Jo. “Jadi nanti, ketika mereka sudah sama-sam siap, mereka bisa tinggal bersama.”
Yuan tak kuasa memberi jawaban apalagi keputusan. Terlebih, Pelangi yang akan menjalani, juga ia yakini akan melakukan hal serupa. Pelangi masih belum bisa membedakan perasaan. Antara suka, peduli, juga mencintai, Pelangi benar-benar belum bisa memahami semua itu.
Namun jika melihat kedekatan Pelangi dan Kim Jinnan, rasanya cukup aneh jika seorang Kim Jinnan tidak memiliki posisi spesial di hati Pelangi?
Dan sebagai orang tua, Yuan juga merasa cukup dilema atas kenyataan kini.
Bersambung .....
Mana fans Mofaro sama Rafaro? Fans garis keras?
Kalau Author ngefans sama Zean saja biar aman 😂😂😂
Sabar saja, ya. Diikuti saja ceritanya. Dukung juga jangan sampai lupa 💓♥️🙏
__ADS_1