Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 66 : Mengungkap Kebenaran


__ADS_3

“Masalah akan selalu ada, meski kita juga tidak terlibat langsung di dalamnya.”


Bab 66 : Mengungkap Kebenaran


****


“Sial ... sial ... sial! Ayo, Kai, ayo cepat berpikir! Jangan ... jangan ... semua ini jangan sampai berakhir! Tak seharusnya begini!” Kainya terus menjerit dalam hati, menepis pemandangan yang terjadi di hadapannya.


Karena tak beda dengan Philips, Khatrin justru terlihat jauh tidak percaya sekaligus terpukul. Rasa bersalah turut mencekam Khatrin mengenai masa lalunya yang sempat menitipkan bahkan menelantarkan Keinya. Namun tentu, sekalipun Khatrin merasa menjadi ibu paling buruk bahkan penuh dosa, jiwa keibuannya juga bergejolak. Kedua tangannya meraba wajah Keinya yang seketika itu memejamkan mata. 


Khatrin meraba setiap inci wajah Keinya dan akan segera menyeka setiap air mata yang berlinang di sana. Seperti kehilangan akal, juga Khatrin membingkai wajah Keinya dan menatapnya saksama.


Setelah rantai air mata mengikat kebersamaan, Keinya dan Khatrin yang hanya saling tatap tanpa sepatah kata pun terucap, tubuh Khatrin justru tergolek nyaris terjatuh, ketika menarik tubuh Keinya ke dalam pelukannya.


“Mami!” isak Keinya panik.


“Yes! Lupakan semuanya! Fokuslah pada kesehatan Mami! Bagus, Mi! Pingsan yang lama, Mi!” Kainya bersorak senang dalam hatinya. Ia hanya pura-pura cemas dan menghampiri Khatrin yang dibopong Yuan. “Mami ...?”


Sesaat setelah merebahkan tubuh Khatrin di sofa panjang di sana, Yuan yang merasa risi terhadap Kainya yang tiba-tiba mendekap lengannya, segera mengenyahkan dan meninggalkan wanita itu. Yuan menatap sebal Kainya yang ia yakini hanya berpura-pura.


“Mi ... Mi, bangun, Mi,” lirih Keinya sembari membelai wajah Khatrin.


Keinya terlihat jauh lebih tenang ketimbang Kainya yang terlihat sangat panik. Kendati demikian, kepanikan Kainya terlihat sangat dibuat-buat. Bahkan ada kalanya, baik Yuan maupun Keinya juga mendapati Kainya diam-diam melirik mereka.


Yuan mengambil air mineral kemasan gelas yang kebetulan tersaji di meja sebelahnya. Ia memasangkan sedotannya kemudian memberikannya pada Keinya yang turut ia tepuk-tepuk pelan punggungnya. Tentu ia melakukan itu untuk menenangkan wanitanya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Bertemu dengan keluarga yang telah begitu lama meninggalkan Keinya sedangkan kebersamaan awal mereka justru terasa sangat sulit dikarenakan Kainya telah merusak segalanya. 


Bahkan bagi Yuan, Keinya tidak langsung mengamuk dan menuntut penjelasan pada Kainya saja, sudah untung. Dan kalaupun Keinya melakukan itu, tentu Yuan akan tetap mendukung karena biar bagaimanapun, Kainya sudah mempersulit hidup mereka.


Anehnya, air yang Yuan berikan pada Keinya justru disambar Kainya. Kainya bahkan mendorong tubuh Keinya agar menjauhi Khatrin. Andai saja Yuan tak langsung menahannya, tentu Keinya akan terjengkang dan berakhir di lantai.


“Sebaiknya kalian pergi!” usir Kainya. “Mi ... Mi bangun, Mi. Ayo minum ini, Mi.” Kainya mencoba membantu Khatrin yang masih terpejam untuk minum. “Jangan bangun Mi. Please, bantu aku mendapatkan Yuan!” batinnya.


Sesaat setelah saling tatap, Keinya dan Yuan menatap aneh tingkah Kainya. Kainya terlihat sangat tidak tenang bahkan tertekan. Benar-benar tidak jelas.


“Dia sedang memetik apa yang dia tanam,” lirih Yuan tepat di sebelah telinga Keinya. 


“Kainya benar-benar ‘sakit’. Kenapa dia masih saja mempersulit hidupnya sendiri?” batin Yuan. “Kuharap, kamu tetap mengambil tindakan agar Kainya jera, meski dia memang kakak sekaligus kembaranmu,” lanjut Yuan masih bertutur lirih tepat di sebelah telinga Keinya.


Keinya tak kuasa membalas Yuan. Ia hanya menunduk sambil terpejam pasrah.


Keinya merasa sangat tak habis pikir pada Kainya yang selama ini selalu berkedok menjadi malaikat pelindung untuknya, padahal pada kenyataannya, sosok yang selalu berpura-pura menjadi tamengnya itu justru menjadi sosok yang sangat ingin menghancurkannya. Anehnya, setelah semua yang Kainya lakukan menciptakan banyak kekacauan, Kainya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah apalagi menyesal. Yang ada, Kainya justru bertingkah seolah-olah menjadi korban.


“Lebih baik kalian pergi. Kalian hanya membuat keadaan runyam!” usir Kainya pada Keinya dan Yuan. “Kalian nggak boleh di sini! Aku belum selesai dengan rencanaku!” batinnya.


Yuan menghela napas pelan. Kemudian ia menelan salivanya sambil menatap Keinya dan menunjukkan keprihatinannya atas apa yang menimpa Kainya, melalui tatapannya.


Keinya menggeleng. “Tolong jangan pulang sekarang,” pintanya lirih.


Yuan mengangguk. “Aku akan menghubungi Rara dan memintanya menjaga Pelangi,” balas Yuan tak kalah lirih.


Keinya mengangguk. “Makasih, Yu.”


Sesaat sebelum meninggalkan Keinya untuk menghubungi Rara, terlebih dulu Yuan mencium kening wanitanya cukup lama. Membuat Kainya yang memperhatikan kebersamaan tersebut menjadi terbakar api cemburu.


“Keinya benar-benar nggak punya perasaan!” cibir Kainya dalam hati.

__ADS_1


Yuan keluar dari ruang keluarga keberadaan mereka. Di luar sana, di teras taman yang menghadap pada kolam renang dan menjadikan dinding berikut pintu kaca sebagai sekat ruangan mereka, Yuan mulai berbincang melalui telepon di ponsel.


“Kalaupun sekarang Yuan memilihmu,” tegas Kainya lirih sambil menatap Keinya penuh kebencian, sesaat setelah kepergian Yuan.


Keinya menatap Kainya sambil berkata, “dari dulu Yuan hanya memilihku. Kamu saja yang pura-pura jadi aku dan mengacaukan segalanya. Yuan sudah banyak terluka karenamu, jadi berhentilah.”


“Setelah apa yang menimpaku, kamu justru memintaku berhenti? Kamu pikir aku enggak terluka? Aku mencintai Yuan, dan seharusnya kamu melepasnya untukku!”


“Kainya, Yuan enggak pernah mencintai kamu. Aku mohon sadarlah!” balas Keinya penuh penekanan. “Kalau kamu benar-benar mencintai Yuan, kamu enggak mungkin terus-menerus menyakitinya. Kamu juga enggak mungkin sengaja menabraknya!”


Balasan Keinya kali ini membuat Kainya menggeragap. “Kata siapa aku sengaja menabrak Yuan? Aku hanya enggak sengaja menabraknya karena rem mobilku blong. Gini-gini, aku juga korban, Kei. Kecelakaan itu membuatku terluka parah!” elaknya.


Keinya tersenyum sarkastis. “Tentu saja rem mobilmu blong, kan kamu memang sengaja merusaknya!”


Lagi-lagi Kainya tersudut. “Kenapa Keinya tahu kalau aku sengaja merusak rem mobilku?” batinnya.


“Kalau saja Yuan enggak melihat kamu sebagai kakakku, dia enggak mungkin mencabut laporan kecelakaan yang sengaja kamu lakukan. Pembunuhan berencana hukumannya berat, lho. Apalagi, Yuan juga masih menyimpan bukti-bukti kejahatanmu!”


Kainya kalah telak. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang Keinya katakan. “Tapi aku melakukan semua itu karena kamu! Kalau kamu enggak ada, tentu semuanya enggak terjadi dan Yuan pun akan memilih aku!”


“Aku hanya mencintai Keinya!” sergah Yuan yang baru kembali dan langsung mengalihkan fokus perhatian Keinya maupun Kainya.


Sambil kembali melangkah, Yuan yang menatap tajam Kainya berkata, “Aku hanya mencintai Keinya. Jadi tolong, akhiri semuanya!”


Kainya bergeming menatap Yuan penuh kekecewa. “Kamu jahat, Yu!”


Yuan menggeleng tak habis pikir. “Aku mohon, berhentilah. Carilah pria yang benar-benar mencintaimu,” pintanya berusaha memberi pengertian. “Dengan caramu yang seperti ini, kamu justru akan semakin terluka.”


“Tapi—” Nada tinggi Kainya tertahan oleh seruan Khatrin.


Kainya gelagapan lantaran ia yakin, Khatrin hanya pura-pura pingsan. Lihat saja, wanita itu langsung duduk sambil memijat-mijat pelipis.


“Jadi, semua yang kamu ceritakan selama ini, bohong?” tanya Khatrin putus asa sambil menatap Kainya.


Untuk ke sekian kalinya, Kainya kalah telak dan hanya bisa menunduk pasrah.


Khatrin yang masih menatap Kainya pun berkata, “minta maaf.” Ia mengangguk kemudian melakukan gerakan wajah menuntun Kainya untuk minta maaf.


Kainya masih diam dan hanya menatap sekilas ke tiga orang di hadapannya.


“Ayo, minta maaf,” tuntut Khatrin masih berusaha sabar.


“Tapi, Mi ...,”


“Mami sudah dengar semuanya, ayo minta maaf, Kai!” Nada suara Khatrin meninggi. “Tadi Mami hanya pura-pura pingsan, karena kalau Mami minta pengakuan langsung, pasti akan ada kebohongan.”


Kainya tertunduk lemas bersama tubuhnya yang sampai loyo.


Khatrin menatap Kainya sambil terus memijat pelipisnya. “Kainya ... kalau kamu enggak mau minta maaf, Mami akan minta Yuan buat melanjutkan kasus kecelakaan yang kamu lakukan! Lebih baik kamu dipenjara dan dihukum berat kalau kamu tetap enggak mau minta maaf. Belajar dari kesalahanmu. Kalau kamu sudah enggak mau dididik Mami, kamu boleh pergi dari rumah ini!”


Keputusan yang terlontar dari Khatrin sungguh di luar dugaan. Tak hanya Kainya yang tak percaya selaku terdakwa di sana, karena Keinya dan Yuan yang berdiri bersebelahan juga merasakan hal serupa. Tak pernah terbayang oleh mereka Khatrin akan setegas barusan.


Bukannya meminta maaf seperti yang Khatrin tuntutkan, Kainya justru berlalu dan berlari menaiki anak tangga yang menghubungkan ke lantai atas.


Keinya menatap cemas Khatrin. “Yu, titip Mami,” ujarnya yang kemudian memilih menyusul Kainya dengan berlari.

__ADS_1


Yuan meraih air mineral kemasan gelas berikut sedotan yang langsung ia pasang. Ia memberikan itu pada Khatrin sambil jongkok demi menyeimbangi tingginya dengan ibu dari wanita yang begitu ia cintai.


Khatrin menatap lelah air mineral kemasan gelas yang Yuan berikan, sesaat sebelum menatap wajah Yuan.


“Apa yang harus saya lakukan kepada putri-putri saya?” tanya Khatrin lirih sambil menitikkan air mata.


Yuan bergeming. Hatinya berdesir, meninggalkan rasa yang begitu perih atas penderitaan yang terpancar begitu kuat dari raut Khatrin, sesaat sebelum wanita itu kembali menunduk.


****


“Sebenarnya apa yang membuatmu begitu membenciku? Aku mohon, tolong katakan kepadaku. Kenapa kamu begitu sakit hati kepadaku, Kai?” tanya Keinya. Ia menerobos masuk pintu kamar yang Kainya masuki dan kebetulan tidak ditutup rapat.


“Apakah kamu pikir, aku enggak malu terus menjadi bayang-bayangmu? Aku lelah, Kei. Aku benar-benar lelah ....” Kainya berlinang air mata menatap Keinya. “Aku bahkan bisa menjadi lebih baik dari kamu, tapi kenapa aku tetap menjadi bayang-bayang kamu?”


“Di dunia ini eggak ada yang mengenal Kainya. Di mata semua orang hanya ada Keinya. Kainya benar-benar enggak ada!”


Keinya menemukan banyak luka di antara kekecewaan yang Kainya keluhkan. Di balik kebohongan yang selama ini Kainya lakukan, karena kembarannya itu terlanjur terluka bahkan sakit hati. Memikirkan itu, hati Keinya terasa begitu sakit. Kainya sampai ikut berlinang air mata.


“Kai,” ucap Keinya berusaha menenangkan sekaligus meyakinkan Kainya.


“Tinggalkan aku, Kei! Tinggalkan aku agar aku masih punya sisa harga diri!”


“Tapi, Kai ....”


Dengan penuh rasa kesal, Kainya mendorong paksa Keinya keluar dari kamarnya. Dan meski ia melakukan itu tanpa menatap Keinya, air matanya juga terus berlinang meneriakkan luka-luka yang selama ini ia tahan. Luka-luka yang selalu ia sembunyikan di balik wajah dingin berikut gaya elegan yang ia pilih menjadi penampilannya.


Tubuh Kainya yang memunggungi pintu berangsur merosot dan terduduk di lantai. Di mana, tatapan yang selalu tajam itu menjadi kosong. Sedangkan jemari-jemari panjang berkuteks menyala yang terlihat sangat cantik justru menjadi jeruji untuk kedua lututnya yang ditekuk.


Bersamaan dengan itu, bayang-bayang monokrom yang menghiasi ingatannya begitu menyiksa Kainya. Mengenai semua orang yang mengira Kainya sebagai Keinya.


“Kei, selamat, ya! Kamu hebat!”


“Ya ampun, Keinya, kamu hebat banget?!”


“Kamu Keinya, kan? Aku sudah lama memerhatikanmu, lho.”


“Kei ... menikahlah denganku!”


Semua bayang-bayang itu tak beda dengan mimpi buruk, terus terulang, memekakkan indra pendengar dan bahkan membuat Kainya ketakutan. Kainya sampai menjambak-jambak rambutnya, hingga susunan rambutnya yang tergerai menjadi berantakan. Pun meski ungkapan cinta yang ia dapatkan dari Yuan ketika ia memutuskan pura-pura menjadi Keinya juga sangat Kainya rindukan. Apalagi ketika menjadi Keinya, Kainya sempat mendapatkan banyak cinta dari Yuan.


****


Di depan pintu kamar Kainya, Keinya terjaga tak beda dengan Kainya. Punggungnya menyandar pada pintu. Benar-benar sama dengan apa yang terjadi pada Kainya meski ia tak sampai menekuk lutut berikut menjambak-jambak rambunya.


Tak lama kemudian, sepasang kaki bersepatu kulit warna hitam yang begitu mengkilap, mendekatinya. Semakin dekat, langkah itu semakin pelan. Di mana kemudian, Keinya mendapati Yuan jongkok di hadapannya sebagai pemilik sepatu tersebut.


“Lagi-lagi aku yang salah, Yu ...,” ucap Keinya lirih dan terdengar sangat frustrasi.


Begitu banyak luka yang sampai membuat Keinya tak berdaya. Yuan yang turut merasa sakit hanya karena melihat Keinya begitu sakit, berangsur mendekap Keinya dengan harapan, apa yang ia lakukan mampu membuat Keinya merasa jauh lebih tenang.


“Aku hanya mencintaimu. Aku mohon, tetaplah di sisiku.” Yuan mencoba meyakinkan Keinya. “Semua ini hanya salah paham. Jangan terus-menerus menyalahkan dirimu untuk semua masalah yang berhubungan denganmu, Kei. Masalah akan selalu ada, meski kita juga tidak terlibat langsung di dalamnya.”


Keinya terisak-isak. Benar-benar hanya itu yang bisa ia lakukan tanpa ada hal lain termasuk membalas dekapan Yuan. Tubuhnya telanjur kebas.


“Tuhan, kapan kami bisa terbebas dari salah paham? Izinkan kami menjalani hidup dengan tenang, bahagia, tanpa apa yang Kainya sebut bayang-bayang!” batin Keinya benar-benar memohon.

__ADS_1


*****


__ADS_2