
...“Semenjak aku bertemu bahkan bersamamu, aku selalu bahagia, sedangkan semua yang kujalani juga menjadi terasa lebih mudah.”...
Bab 62 : Me After You
****
“Kai, sebaiknya kamu ke kamar dan istirahat. Kamu pasti masih lelah setelah harus menempuh perjalanan jauh dari Korea.” Khatrin menuntun Kainya bangkit, tapi Kainya justru menepisnya.
Kainya menggeleng dan menatap Khatrin penuh kesedihan. “Aku yang salah, Mi, Pi. Kalau bukan karena kebohonganku, semua ini pasti enggak akan terjadi!”
Kainya terlihat begitu serius meyakinkan Khatrin maupun Philips. Namun, kedua orang yang Kainya ajak bicara belum begitu mengerti mengenai apa yang sebenarnya Kainya maksud. Kendati demikian, Kainya senantiasa membuat Khtarin maupun Philips hanyut dalam setiap cerita yang ia sampaikan.
“Mi, Pi. Keinya memang masih hidup!”
Ketika nama Keinya kembali disebut, Khatrin tak kuasa menahan air matanya. Sebelah tangannya bahkan refleks menahan dadanya yang tiba-tiba saja terasa sangat sakit.
Ada gejolak penyesalan yang seketika menghukum Khatrin dengan deretan rasa sakit, menghunjam jantung berikut hatinya dengan sangat kejam. Kainya, ... apa kebohongan yang dimaksud anak gadisnya itu? Keinya sungguh masih hidup?
“S-sebenarnya, ….” Kainya sengaja menunda, menggantung ceritanya agar ke dua orang di sisinya semakin penasaran. Benar, Philips yang jauh lebih tegar segera merangkulnya dari belakang. Tangan hangat Philips sampai mengelus punggung Kainya.
“Katakan. Mami dan Papi baik-baik saja. Kami sangat mengharapkan kejujuranmu,” lirih Philips begitu peduli sekaligus menjaga Kainya.
Dengan wajah yang begitu terlihat bersedih sekaligus menyesal, Kainya menoleh menatap Philips. Kemudian ia kembali menatap Khatrin dan berakhir dengan menunduk.
Bagi Khatrin dan Philips, kesedihan yang menyelimuti Kainya juga tak luput dari beban mental. Kainya anak mereka yang selama ini selalu menjadi anak yang baik dan turut andil membantu mengurus perusahaan, terlihat begitu sakit sekaligus tertekan.
“Semua ini bermula dari Keinya yang begitu mencintai kekasihnya. Mereka sudah pacaran semenjak awal Keinya SMA. Aku sudah berulang kali mengingatkan Keinya agar tidak berhubungan dengan pria itu, tapi yang ada Keinya justru membenciku. Namun, apa yang terjadi pada Keinya juga karena pengaruh pacarnya. Pria itu berhasil memperdaya Keinya, bahkan Keinya sampai hamil di luar pernikahan ....” Kainya menunduk dalam, sengaja larut dengan penyesalan sekaligus kesedihan yang begitu mendalam dan tak lain merupakan bagian dari sandiwaranya, agar rencananya terlaksana.
Khatrin terpejam kebas. Ia menjadi sesak napas dan begitu terpukul atas cerita Kainya. Keinya bungsunya hancur akibat pergaulan bebas.
Philips segera beranjak dari duduknya dan duduk di belakang Khatrin. Ia menahan tubuh Khatrin yang menjadi terlihat begitu lemah tak bertenaga.
“Mi ...? Maaf, ya?” rengek Kainya.
“Lanjutkan, Kai. Sekarang Keinya di mana? Bagaimana keadaannya?” pinta Khatrin lirih dengan air mata yang tak hentinya berlinang.
Ibu mana yang tidak sakit ketika mendengar kabar buruk mengenai anaknya? Bahkan kalau bisa, Khatrin tak mau anak-anaknya terluka. Khatrin rela menanggung semua luka anak-anaknya, asal anak-anaknya selalu bahagia.
“Ketika awal aku menemui Mami, Keinya tahu tapi karena dia sedang hamil sementara suaminya jahat dan membatasi gerak Keinya, akhirnya Keinya memilih suaminya. Aku sudah memaksa Keinya untuk meninggalkan suaminya yang bahkan tidak memberikan pernikahan layak, tapi ... Keinya memintaku berbohong, melakukan semua yang aku lakukan selama ini ....” Kainya kembali menunduk menyesal dan kali ini sampai berlinang air mata.
“Jadi sekarang, Keinya di mana?!” Khatrin geram terbawa cerita Kainya. Tak disangka dan ia sangat terluka, ternyata Keinya juga mengalami apa yang Khatrin rasakan ketika muda. Terjerat cinta pria jahat hingga Khatrin terpaksa menitipkan bayi kembarnya demi menyiapkan kehidupan layak untuk putri kembarnya.
“Aku yakin, ceritaku akan membuat Mami masuk perangkap karena dulu, Mami juga mengalami cerita yang aku buat. Sebentar lagi, semuanya akan seperti rencana. Tentunya, hubunganku dengan Yuan juga akan baik-baik saja!” batin Kainya yang mulai merasa puas dengan hasil sandiwaranya.
Diam-diam, Kainya melirik Khatrin yang sedang ditenangkan oleh Philips.
“Jangan terbawa emosi, Sayang. Keinya pasti baik-baik saja,” bisik Philips yang untuk ke sekian kalinya sambil mengelus punggung Khatrin.
__ADS_1
Mendapati itu, Kainya tersenyum sarkastis.
“Sebenarnya selama ini, aku juga berhubungan baik dengan Keinya, Mi ... Pi. Kami tetap berkomunikasi baik, meski harus bersembunyi-sembunyi dari suami Keinya. Apalagi setelah suami Keinya justru selingkuh dan mencampakkan Keinya. Aku sengaja menyewa apartemen untuk Keinya dan anaknya.”
“Anak?” tahan Khatrin tak percaya.
Gelora bahagia terpancar nyata dari wajah Khatrin.
Kainya segera mengangguk. “Meski aku sudah berhasil membuat Keinya dan suaminya bercerai, mantan suami Keinya sangat tidak tahu diri dan masih sering mengancam Keinya. Bahkan sekarang, mantan suami Keinya sudah tahu apartemen Keinya dan aku sudah bingung harus bagaimana agar Keinya lepas dari pria itu?”
“Aku ingin melaporkan kasus ini ke polisi, tetapi Keinya enggak mau karena dia takut, kalau mantan suaminya masuk penjara, masa depan anaknya juga akan terancam.”
Ke dua tangan Khatrin mengepal sangat kencang, seiring tubuhnya yang sampai gemetaran menahan kesal. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Khatrin melayangkan sumpah serapah pada mantan suami Keinya yang telah membuat kehidupan Keinya sangat menderita bahkan hingga sekarang.
Setelah memastikan kemarahan semakin menguasai ke dua orang di hadapannya, Kainya melanjutkan, “jadi, Mami dan Papi mau bantu Keinya, kan?” tanyanya memohon.
“Pasti!” saut Philips tanpa pikir panjang.
Khatrin berangsur menoleh ke belakang dan menatap suaminya itu penuh terima kasih. Ia benar-benar bersyukur karena Tuhan memberinya pria yang begitu tanggung jawab dan mau menerimanya berikut kekurangannya. Dimana, hal yang sama juga ia harapkan akan terjadi pada Keinya. Tuhan akan mengirimkan pria baik-baik, pria bertanggung jawab yang mencintai Keinya dengan tulus sama seperti Philips mencintainya, bahkan kalau bisa lebih.
“Maaf ya, Mi ... Pi ... aku memang enggak berguna. Meski aku sudah berusaha melakukan yang terbaik, hasilnya selalu sangat jauh dari yang kuharapkan. Bahkan semuanya justru jadi berantakan,” sesal Kainya sambil menunduk. Ia terisak-isak meski sesekali, ia juga akan melirik ke depan, memastikan reaksi Khatrin dan Philips yang ia harapkan semakin termakan ucapannya.
“Meski Mami memang kecewa, kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk semuanya, Sayang. Pasti selama ini kamu sangat tersiksa karena menahan beban yang begitu besar.” Khatrin berangsur mendekat, mendekap tubuh Kainya penuh kasih sayang di tengah air matanya yang kian berlinang. “Kamu hebat. Kamu wanita kuat!”
Philips terpejam sambil menghela napas panjang. Luka dan bahagia ia rasakan dalam waktu bersamaan. Mengenai cerita tentang Keinya yang tak hanya memberikan kebahagiaan untuk keluarga kecilnya, melainkan luka yang begitu dalam atas penderitaan yang harus Keinya rasakan tak beda dengan jalan hidup Khatrin, sebelum ia menemukan wanita itu.
“Tapi, Mi ... Pi ...,” ucap Kainya. Ia berangsur melepaskan dari dekapan Khatrin. Ia menggenggam kedua tangan Khatrin dan menatap kedua netra sang ibu dengan begitu dalam sekaligus memohon.
“Kita akan mengurus Keinya secepatnya bila perlu sekarang,” tegas Philips tak bisa menyembunyikan kecemasannya. Ia yakin, sesuatu yang penting juga akan kembali Kainya sampaikan bahkan mungkin jauh lebih menyakitkan dari cerita sebelumnya.
Kainya menatap sedih ke dua wajah di hadapannya yang begitu dipenuhi kecemasan sekaligus luka. “Mengenai Yuan,” ucapnya berat.
Ketika nama Yuan disebut, emosi Khatrin dan Philips langsung tersulut. Rona cemas sekaligus luka yang awalnya menyekap atas cerita tentang Keinya, enyah begitu saja dari kehidupan mereka.
“Pria jahat itu kembali mengganggumu?” sergah Philips langsung emosi.
Kainya buru-buru menggeleng, menatap Khatrin dan Philips penuh keyakinan. “Mi, Pi ... sebentar. Biar aku jelaskan. Masalahnya enggak seperti yang Mami darn Papi pikirkan.”
Khatrin menghela napas pelan, mencoba menguasai diri dan menempatkan dirinya sebagai ibu yang harus mengakhiri semua kegilaan Kainya kepada Yuan si pria jahat yang sudah menghancurkan kehidupan Kainya. Khatrin tidak mau nasibnya yang pernah diperdaya cinta dan sudah menimpa Keinya, juga sampai menimpa Kainya.
“Lupakan Yuan, Kai,” pinta Khatrin lirih tapi tegas.
Kainya segera menggeleng. Ia nyaris berucap, tapi Philips memanggilnya dengan tegas.
“Masih banyak pria yang lebih baik dari dia, Kai!” kecam Philips.
“Bukan begitu, Mi. Pi. Karena mengenai hubunganku dan Yuan juga ada sangkut pautnya dengan Keinya.” Kainya sengaja bertutur cepat agar Khatrin dan Philips tidak menghalang-halanginya dalam menjelaskan.
__ADS_1
Philips dan Khatrin terheran-heran. Kenapa Kainya mengatakan hubungan Kainya dan Yuan juga berhubungan dengan Keinya?
Kesedihan di wajah Kainya kian bertambah. Bahkan ia sampai berlinang air mata. “Tolong, beri aku kesempatan untuk menjelaskannya. Aku janji ini yang terakhir kalinya.”
Philips dan Khatrin saling menoleh dan membuat keduanya menjadi bertatapan. Kemudian mereka kembali menatap Kainya, siap menyimak apa yang akan putri mereka ceritakan.
“Sebenarnya, Yuan salah sangka. Karena selama menjalin hubungan, aku memang enggak cerita kalau aku punya kembaran. Jadi, ketika Yuan tahu tentang Keinya dan dia pikir aku, dia kecewa banget. Yuan menganggap aku pembohong. Itu juga yang menjadi alasan Yuan membatalkan pernikahan kami. T-tapi, ketika aku cerita semuanya, dia menyesal minta aku kasih kesempatan, apalagi Yuan juga belum bisa melupakan aku, Mi ... Pi ....”
“Tolong restui kami. Aku mohon. Yuan juga sangat memohon dan sangat ingin menemui Papi Mami untuk meluruskan kesalah pahaman di antara kita.” Kainya sampai bersimpuh kemudian mendekap lutut Khatrin. “Tolong restui kami, Mi ... Pi ... kami saling mencintai!”
Khatrin dan Philips tak kuasa menahan kesedihan mereka. Begitu rumit kisah cinta anak-anak mereka karena kesalah pahaman yang bermula dari ketidakjujuran.
Andai, baik Kainya maupun Keinya juga jujur mengenai status mereka yang kembar pada pasangan berikut orang-orang di sekitar mereka, pasti tidak akan terjadi kesalah pahaman yang berujung fatal layaknya sekarang. Kalau keadaannya sudah seperti sekarang, siapa yang rugi dan harus disalahkan?
***
Keinya baru keluar dari kamar mandi sambil menyeka wajah dan sekitar lehernya menggunakan handuk kecil, ketika ponselnya berdering dan ketika ia pastikan ternyata pesan WhatsApp masuk dari Yuan.
[Sayangku : Suaraku jelek. Jadi aku langsung kirim versi aslinya saja dari penyanyinya, daripada telingamu jadi sakit. Pergilah ke balkon untuk mendengarkan lagu ini menggunakan headset.]
Selain pesan di atas, Yuan juga menyertakan lirik lagunya “Paul Kim” yang berjud “Me After You”.
Keinya yang tahu lagu tersebut, di mana artinya memang sangat romantis, segera mengambil headset di laci nakas yang ada di hadapannya. Ia bergegas dan sampai setengah berlari menuju balkon, sambil memasang headset dan siap mendengarkan lagunya.
Keinya merasa sangat tidak sabar, di mana ulah Yuan sungguh membuatnya berbunga-bunga. Romantis, terlepas dari Keinya yang seolah baru merasakan indahnya jatuh cinta.
Tak lama kemudian, Keinya terisak-isak di sela mendengarkan lagu tersebut sambil membaca liriknya melalui pesan WhatsApp yang Yuan kirimkan. Di mana, Keinya dikejutkan oleh sepasang tangan Yuan yang mendekapnya dari belakang. Tangis Keinya kian pecah karenanya.
Keinya segera balik badan dan membuatnya menghadap Yuan. Yuan yang langsung mengelap setiap linangan air matanya, sebelum pria itu mengeluarkan cepuk hati berwarna merah.
Cepuk tersebut berisi cincin berlian berhias kuntum menyerupai bunga mawar yang begitu cantik sekaligus berkilau.
Keinya segera melepas headset dari telinganya.
“Kemarin aku melamarmu tanpa cincin, kamu enggak bingung?” tanya Yuan memastikan sambil tertawa. Ia memang menertawakan dirinya yang melamar pun sampai lupa membawa cincin pengikat.
“Bahkan meski kamu cuma kasih aku sayuran, aku juga enggak keberatan,” balas Keinya jujur. Sebab baginya, memiliki sekaligus dicintai Yuan merupakan sebuah keberuntungan bahkan anugerah. Ia bahagia bersama Yuan bahkan dari hal-hal kecil sekalipun.
Yuan segera memasang cincin pengikatnya ke jari manis tangan kanan Keinya dengan gaya yang jauh lebih serius.
“Pas!” batin Keinya berbunga-bunga. Seolah banyak kembang api yang meledak-ledak di dada berikut di atas kepalanya.
“Selangkah lagi, pasti semuanya akan lebih mudah. Maaf, ya. Aku masih belum bisa bikin kamu bahagia,” ucap Yuan sambil menatap dalam ke dua mata Keinya, sedangkan ke dua tangannya masih menggenggam ke dua jemari tangan Keinya.
Keinya menggeleng. “Jangan bilang begitu. Sebelumnya aku belum pernah sebahagia ini. Tapi semenjak aku bertemu bahkan bersamamu, aku selalu bahagia, sedangkan semua yang kujalani juga menjadi terasa lebih mudah.”
Kebahagiaan yang Keinya rasakan justru membuatnya terjebak dalam tangis. Keinya merasa sangat bersyukur memiliki dan dicintai Yuan meski setelah ini, ada misi besar yang harus mereka lakukan sebelum menuju pernikahan selaku awal mula sebuah hubungan sakral.
__ADS_1
Yuan mengecup kening, kemudian kedua kelopak mata Keinya dengan begitu pelan. Di mana, kecupannya berakhir di bibir Keinya, di antara doa-doa terbaik yang mereka panjatkan dalam hati, untuk kebaikan sekaligus kebahagiaan hubungan mereka.
*****