Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 63 : Menuju Episode Terakhir


__ADS_3

Bagi Rara, delusi dan harapan nyaris tidak bercelah. Apalagi harapan yang sangat didambakan. Keduanya bak dua sisi mata pada uang logam yang tidak bisa dipisahkan.


Episode 63 : Menuju Episode Terakhir


Kiara memasuki ruang besuk tahanan khusus wanita, dengan langkah terjaga. Begitu banyak kekesalan yang terpancar di wajahnya. Wajah yang terlihat jauh lebih segar bahkan bersemangat. Hanya saja, ketika ia melihat sosok Steffy yang duduk menunggu di kursi roda, sisa ketenangan yang awalnya masih terpancar di wajahnya menjadi sirna. Yang ada, otot berikut saraf di wajah Kiara menjadi menegang seiring gigi-giginya yang bertautan kencang. Sungguh, Kiara tak dapat meredam kekesalannya bahkan meski sosok yang memicu kemarahannya itu duduk di kursi roda mengenakan seragam tahanan warna jingga.


Meski Kiara sudah duduk di hadapannya, Steffy tetap menunduk bahkan cenderung sengaja menepis kehadiran Kiara. Dengan raut yang hanya dipenuhi kekesalan dan kekecewaan, Steffy bahkan terlihat tidak sudi melihat wanita paruh baya di hadapannya.


“Benar-benar membuang waktu saja!” cibir Kiara dengan kedua tangan mengepal di atas meja panjang selaku sekatnya dan Steffy.


Steffy tetap bungkam. Melirik saja tidak.


“Apa maksudmu menaruh obat aborsi di makanan yang kubeli? Kau bilang mencintai Kimo dan akan mencintai kekurangannya juga, tapi apa? Kau malah menaruh obat aborsi di makanan yang kau pun tahu itu untuk Kimo!” tegas Kiara.


Sekitar tiga minggu lalu, ketika Kiara membelikan makanan pesanan untuk Kimo, sebenarnya Kiara juga bertemu dengan Steffy. Kiara yang sedang menunggu pesanannya dihampiri Steffy yang mengaku ingin membeli makanan dari restoran tempat Kiara membeli makanan yaitu nasi Padang dan rujak. Bahkan, Steffy juga membeli makanan yang sama persis dengan pesanan Kimo, lantaran Steffy mengaku ingin makan makanan yang Kimo makan, dan itu Steffy katakan sebagai bentuk rasa cintanya terhadap Kimo. Namun sungguh, Kiara tidak pernah menyangka kalau Steffy bahkan tega menaruh obat aborsi di makanan Kimo.


Andai, Kiara tak bergerak cepat melihat rekaman cctv di restoran tersebut, tentu Kiara juga tidak akan tahu Steffy pelakunya di mana, semua orang pasti akan tetap menganggapnya sebagai pelakunya. Wanita yang tega meracuni anak dan cucunya sendiri!


Di rekaman cctv yang Kiara lihat, ternyata Steffy sengaja membubuhkan obat di makanan yang Steffy beli, sebelum akhirnya diam-diam menukarnya dengan milik Kiara. Steffy melakukan itu ketika Kiara lengah, sedangkan saat itu, Steffy tak hentinya mengajak Kiara mengobrol. Kejadian itu terjadi persis ketika Kiara akan masuk mobil dan Steffy tiba-tiba membantu Kiara untuk membawa kantong berisi makanan pesanan Kiara, agar Kiara tidak kesusahan ketika masuk. Sungguh, setelah melihat video tersebut, kebencian Kiara terhadap Steffy langsung mencuat.


“Aku benar-benar menyesal! Dari awal kamu memang sengaja menghancurkan keluargaku!” tegas Kiara kemudian dan sampai menggebrak meja menggunakan kedua tangannya lantaran Steffy tetap bungkam.


“Kalau Tante menyesal, ya sudah! Pergi dari sini! Tante pikir, aku suka sama Tante? Memangnya Tante lebih baik dari aku? Bahkan Tante-lah yang membuatku memiliki rencana untuk kembali mendapatkan Kimo! Tante-lah yang membuat keluarga Tante hancur, bukan orang lain apalagi aku!” balas Steffy meledak-ledak.


Kiara refleks menampar keras sebelah wajah Steffy seiring air matanya yang berlinang. Sesal pun menjadi satu-satunya rasa yang menggerogoti kehidupan Kiara. Sungguh, memang tidak ada yang lebih baik dari Rara, untuk Kimo berikut keluarganya.


***


Di restoran Keinya, Gio tengah dilanda ketegangan yang membuat pria itu sampai berkeringat, hanya karena berhadapan dengan Kainya.


“Kamu sudah membuatku menunggu lebih dari sebelas menit. Katakan saja. Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?” tegur Kainya santai.


Kainya yang sekarang sangat membuat Gio takjup. Tenang, semakin anggun, semakin cantik, bahkan ... sangat sabar. Belum pernah Gio menjumpai wanita seperti Kainya yang baginya nyaris mendekati kata sempurna. Meski dulu mereka sempat bersama dan kendati Gio mengiranya sebagai Keinya, tetapi sungguh, Kainya yang ada di hadapannya kini terlihat begitu matang. Bahkan meski sebelumnya, ia sempat menjalani hubungan dengan Kimi, Steffy, bahkan Rara.


Demi meredam rasa gugup yang tiba-tiba menjadi teman baiknya, Gio pun berdeham sambil menunduk sebelum akhirnya kembali menatap Kainya. “Akhir-akhir ini, ... kamu sangat sibuk?” tanyanya basa-basi dan sebisa mungkin mengulas senyum.


Kainya menggeleng sambil mengerucutkan bibirnya. “Enggak juga. Biasa saja?” balasnya masih santai dan memang sudah menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini. Kebiasaan yang ia miliki semenjak batin berikut hatinya menjadi begitu damai.


Gio jadi bingung sendiru mengenai percakapan apa yang harus ia lakukan, sedangkan perubahan Kainya membuatnya menjadi menyegani wanita itu.


“Mengenai merek rotimu yang,”


Gio belum selesai dengan ucapannya, tetapi Kainya langsung menanggapinya dengan seulas senyuman sambil berkata, “sudah, enggak usah dibahas. Kamu dan perusahaanmu memang layak mendapatkannya. Maaf, kalau saat itu aku terbawa suasana bahkan kekanak-kanakan!” Kainya menunduk menyesal.


“Sebenarnya kamu kenapa?” ucap Gio saking herannya.


Kainya terdiam menatap heran Gio. “Apanya yang kenapa? Setiap karya bahkan makanan, memang akan menemukan jalan takdir termasuk penikmatnya, kan?”

__ADS_1


“Bukan itu ...,” bantah Gio sambil menunduk.


Kainya mengernyit makin tidak mengerti.


Gio melirik, menatap malu-malu lawan bicaranya. “Kamu membuatku semakin tidak bisa mengendalikan perasaanku. Perubahanmu sungguh membuatku kagum.”


Ucapan Gio yang terbilang seperti sedang mengungkapkan perasaan, membuat Kainya menunduk sambil sesekali menelan ludah. Pun dengan kedua tangannya yang mrnjadi mencengkeram ujung dress selutut yang dikenakan.


Mengenakan dress selutut, lengan panjang warna jingga, ditambah rias Kainya yang begitu natural, membuat wanita itu bak bidadari di mata Gio. Belum lagi sikap Kainya yang menjadi begitu tenang--lemah lembut. Tak ada celah yang membuat Kainya memiliki kekurangan di mata Gio.


Kainya sadar, Gio sedang menatapnya. Terus begitu dan baginya hal tersebut tidak baik jika terus dibiarkan.


Ketika Kainya mengangkat tatapannya, Gio tersentak dan buru-buru menghindar, saking gugupnya. Pria itu, ... jelas salah tingkah dan Kainya menyadarinya. Seorang Gio yang selalu tampil sangat bahkan gagah di balik jas kebanggaannya, harus segugup itu hanya karena dibalas tatapannya oleh Kainya?


“Mengenai hubunganmu dengan Kimi, ... bisa tolong diperbaiki?” pinta Kainya.


Permintaan Kainya yang terdengar tulus, membuat Gio mengerutkan dahi. “Kainya tidak salah bicara, kan?”


“Gi ... aku enggak salah obrolan, kok. Aku ingin membahas mengenai Kimi, di pertemuan kita ini.”


“Kenapa harus orang lain? Bahas kita saja,” balas Gio terdengar malas. Bahkan menatap Kainya saja menjadi enggan.


“Tapi kamu memang belum minta maaf ke Kimi dan keluarganya, kan?” tanya Kainya kemudian.


Gio berdeham dan terlihat jelas sedang jual mahal.


“Sekarang, Kimi memiliki dua keluarga,” lanjut Kainya.


Kainya menggeleng pelan. “Bukan begitu. Kimi belum menikah.”


Gio mengangguk-angguk, dan kemudian bertanya, “hubungan dua keluarga Kimi dan aku, apa?” tanyanya dengan ekspresi yang begitu polos.


“Kamu tahu, kan, kalau sebenarnya, Kimi hanya anak angkat di keluarga Kimo? Belum lama ini, keluarga kandung Kimi menemukan Kimi,” tutur Kainya sarat pengertian.


“Kai, hanya minum jus mangga?” tanya Keinya yang sampai menghampiri kebersamaan sambil menuntun Pelangi yang sudah tidak bisa diam--tak hentinya jalan bahkan lari ke sana kemari.


Kainya mengangguk sambil menuntun Pelangi kemudian memangkunya. “Pelangi sudah tambah pinter, ya?”


Di meja Kainya dan Gio memang hanya berisi segelas jus mangga untuk Kainya, sedangkan Gio memesan segelas kopi ekspresso dan sepiring waffle. Itu mengapa Keinya sampai memastikan, mengingat sekarang sedang jam makan siang. Kainya sendiri Keinya ketahui sedang istirahat di jam makan siang. Kainya sudah menjalani aktivitas layaknya biasa termasuk bekerja dan mengurus usaha roti yang Kainya kelola.


“Oh, iya, Kai. Bentar lagi Daniel datang. Dia minta pesanan kayak biasa,” ucap Kainya sambil menatap Keinya.


Keinya mengangguk. “Ya sudah aku siapin dulu. Sayang, sini ikut Mama. Nanti Om Gio-nya marah, kamu dicubit lho,” ucap Keinya yang kemudian mengambil alih Pelangi dari Kainya.


Ketika Kainya tergelak atas penuturan Keinya, Gio justru langsung protes.


“Enggak boleh gitu, dong, Kei ... nanti Pelangi beneran takut sama aku!”

__ADS_1


“Lah biarin. Emang kenyataannya kamu memang gitu, kan?” balas Keinya dengan entengnya sambil berlalu meninggalkan kebersamaan. Sedangkan Pelangi yang ada di gendongannya diam-diam menatap takut ke arah Gio.


“Siapa tahu kamu pengin jadiin aku menantu?!” canda Gio.


“Ogah! Aku sudah sepakat mau jodohin anakku sama anak Rara atau Kimi!” balas Keinya dengan santainya.


“A-aku, ditolak mentah-mentah?!” lirih Gio tak percaya.


Kainya sukses dibuat tertawa lepas atas kenyataan yang berlangsung. Tak lama kemudian, kehadiran Daniel juga sukses membuat Gio kesal.


“Kalau gini caranya, kapan aku pedekate sama Kainya?” batin Gio pura-pura tersenyum ramah pada Daniel.


Daniel yang langsung menuntaskan sisa jus mangga milik Kainya dan duduk di sebelah wanita itu, membawa rantang bekal.


“Memangnya, masakan Kak Steven enak?” tanya Daniel sambil melongok isi rantang yang sedang Kainya buka.


Ada amplop merah hati di atas kotak bekal yang dibungkus kain itu. Amplop merah hati yang sukses membuat Kainya tersenyum tipis namun begitu tulus.


“Steven itu siapa?” batin Gio menerka-nerka.


Isi rantang bekal itu sushi, salad buah yang saosnya dipisah, dan juga sup rumput laut dengan daging sapi. Daniel yang tertarik mencoba langsung menyomot sepotong sushinya, tetapi tangan Kainya langsung menampiknya dengan pukulan panas.


“Ya ampun, pelitnya!” cibir Daniel sambil meringis kesakitan. Tidak dapat shusi, ia justru mendapat timpukan panas.


“Sebentar difoto dulu!” gerutu Kainya.


“Alay ...!” cibir Daniel.


Kainya siap menyusun rantang berikut amplop merah hati pemberian Steven seiring senyum tipis yang tak hentinya menghiasi wajah wanita itu. Membuat Gio semakin yakin, Steven merupakan orang spesial untuk Kainya.


***


Rara baru saja selesai yoga di teras balkon kamarnya, ketika bel rumahnya terdengar bunyi. Seseorang pasti datang dan menekannya dari luar. Namun, karena Kimo ia ketahui sedang masak, Rara pun berinisiatif membuka pintunya.


Kiara yang membawa dua kantong belanjaan berukuran besar, satu berisi sayuran dan satunya lagi berisi buah, sukses mengejutkan Rara. Selain tiba-tiba datang disertai seorang sopir, mertuanya itu juga menyambutnya dengan senyum. Adakah yang salah? Atau jangan-jangan, Rara hanya sedang berdelusi? Karena Rara terlalu mengharapkan keutuhan keluarga hingga ia berdelusi Kiara sudah mendapatkan hidayah dan mau menerimanya?


Bagi Rara, delusi dan harapan nyaris tidak bercelah. Apalagi harapan yang sangat didambakan. Keduanya bak dua sisi mata pada uang logam yang tidak bisa dipisahkan.


Bersambung ....


Besok, Selepas Perceraian ending, ya? Setuju?


Wahh ... kok Author nelangsa gini, ya? *_*


Nantinya, kisah cinta Daniel akan Author ceritakan di novel Author yang judulnya : Menjadi Istri Tuanku.


Terus dukung ceritanya, ya.

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2