
“Aku akan merasa sangat malu jika aku justru merendahkan orang yang kuanggap enggak lebih layak dariku, hanya karena aku enggak bisa lebih baik dari mereka.”
Bab 79 : Tentang Status Janda
*****
Dengan hati berbunga-bunga, Keinya menyuapi Rara. Mendapati Keinya yang tak hentinya tersenyum, Rara yakin sahabatnya itu sedang sangat bahagia. Tentu bukan karena Keinya sedang terjaga untuknya, melainkan hal lain mengenai hubungan Keinya dengan Yuan. Apalagi sepanjang kebersamaan tadi, ke dua sejoli itu tampak semakin romantis.
“Hampir satu minggu enggak ketemu, sepertinya hubungan kalian sudah mendapat titik terang?” ucap Rara sengaja membuka obrolan.
Rara menatap tenang Keinya sambil mengunyah pelan makanan yang ada di dalam mulutnya. Hari ini, Keinya membuatkan sop ayam berisi wortel, brokoli, berikut jamur tiram kesukaannya. Sahabatnya itu memang selalu tahu mengenai apa yang ia inginkan. Belum lagi semenjak ditinggal Keinya, kalau tidak memakan berlauk telur mata sapi dan mi instan, Rara terpaksa memakan hasil percobaan masakannya yang rasanya sangat kacau. Kalau tidak keasinan atau kemanisan, ada saja yang membuat Rara buru-buru memuntahkan hasil masakannya padahal ia hanya mencicipi sedikit.
Keinya sengaja menahan senyum berikut balasannya kepada Rara.
Mendapati itu, Rara langsung menegaskan sambil membuang wajahnya dari pandangan Keinya. “Nggak ... enggak, aku enggak penasaran!”
Keinya tergelak sambil menekap mulutnya menggunakan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya tetap mengendalikan mangkuk makanan Rara.
“Kalau ada yang bilang semuanya selalu ada waktunya termasuk kebahagiaan, anggapan itu memang tidak salah. Anggapan itu benar karena aku juga mengalaminya. Setelah cinta palsu Athan yang membuatku sengsara bahkan trauma. Sekarang aku dikelilingi kebahagiaan yang bahkan tidak pernah kubayangkan sebelumnya, walau hanya dalam mimpi. Bersama Yuan ... memiliki keluarga baru, juga Rara sahabat sejati yang selalu berjuang untuk kebahagiaanku. Meski awalnya aku berpikir selepas perceraian akan menjadi mimpi buruk bahkan awal kehancuran hidupku, nyatanya Tuhan memberikan itu sebagai wujud pelukan cinta-NYA kepadaku. Karena selepas perceraian pula, satu-persatu kebahagiaan, Tuhan datangkan kepadaku. Jadi, tidak ada salahnya jika aku belajar untuk semakin bersyukur seberapa besar pun kebahagiaan yang bisa kumiliki!” batin Keinya yang tak kuasa menyudahi tawa gelinya atas ulah Rara. Sahabatnya itu mengaku tidak penasaran, tapi mendadak merengek memintanya untuk cerita.
***
Ditemani Khatrin yang membantunya mengasuh Pelangi, Keinya mengunjungi butik yang ia pilih sesuai saran Yuan, untuk membahas perihal gaun pernikahan mereka. Namun, karena Yuan masih harus menyelesaikan pekerjaan, sepertinya pria itu akan telat mengikuti pertemuan kali ini.
Seperti biasa, menjadi bagian dari Yuan membuat Keinya mendapatkan segala sesuatunya dengan mudah. Tak hanya ke dua ajudan yang masih menyertai dan selalu terjaga untuknya, sebab di salah satu butik elite tersohor kunjungannya, Keinya juga kembali mendapatkan layanan khusus. Seorang resepsionis langsung mengantarkan Keinya berikut rombongan menuju ruang khusus, di mana sang desainer juga sudah menunggu. Keinya masuk bersama Khatrin dan Pelangi, sedangkan ke dua ajudannya sengaja berjaga di luar ruangan.
Setelah basa-basi, mereka langsung membahas detail konsep gaun pernikahan yang Keinya inginkan berikut jas untuk Yuan.
__ADS_1
“Dari detail konsep yang Nyonya Yuan berikan, ini mirip konsep gaun pernikahan artis Tasya Kamila, ya? Warnanya pastel, berekor, nanti rambut Nyonya Yuan juga mau pakai mahkota disanggul?” Ivan, pria tambun yang memiliki kepribadian lembut selaku sang desainer, berbicara dengan begitu santai.
Yang membuat Keinya belum terbiasa, tak lain karena semua orang Yuan memanggilnya dengan sebutan “Nyonya Yuan”. Hal tersebut kadang membuat Keinya gugup atau malah lupa kalau panggilan itu ditujukan kepadanya.
Tak lama setelah itu, ketika Keinya menjelaskan setiap detailnya lebih teliti sedangkan Pelangi sibuk jalan-jalan bersama Khatrin, Yuan datang. Yuan segera mengemban Pelangi lantaran bocah yang sudah mulai belajar jalan itu langsung menangis begitu melihatnya. Hal tersebut dimanfaatkan Khatrin untuk ke toilet selagi cucunya sedang ada yang menjaga.
Beberapa karyawan butik tampak berkerumun tak jauh dari resepsionis. Khatrin yang belum begitu paham mengenai denah butik perihal keberadaan toilet, memilih menghampiri mereka untuk menanyakannya. Namun, rona bahagia berikut senyum yang sedari awal mengetahui Yuan menunjuk salah seorang desainer ternama di negara mereka untuk menangani pakaian pernikahan Keinya dan itu benar-benar membuat Khatrin bahagia sekaligus tersanjung, ternoda oleh bisikan para karyawan tersebut.
“I-itu, yang tadi, yang tadi itu beneran CEO Fahreza Grup? Ganteng banget! Aku pikir CEO-nya sudah ‘tuwir’ atau seenggaknya bertubuh gendut lengkap dengan perut yang buncit! Jelek lah pokoknya!”
“Iya. Namanya Yuan Fahreza! Meski dia memang melanjutkan usaha keluarga, semenjak dia yang mengendalikan, kesuksesan usahanya jadi berkali-lipat! Bahkan kudengar sekarang Fahreza Grup juga merambah ke dunia penerbitan buku termasuk web novel!”
“Astaga ... jiwa miskinku langsung menggeliat membayangkan pundi-pundi yang bakal dihasilkan Yuan! Apalagi kabarnya Yuan juga sampai kasih jet pribadi lho, buat istrinya ini!”
“Eh, omong-omong, calon istri Yuan, kabarnya janda beranak satu, tahu!”
Suasana mendadak senyap. Pandangan terkejut saking tak percayanya menghiasi wajah ke lima karyawan butik yang kiranya berusia berkisar 24 tahun tersebut. Wanita-wanita berpenampilan menarik bak pramugari dengan seragam terusan selutut lengan pendek berwarna biru muda itu tampak begitu risi dan tidak bisa menerima kenyataan.
“Hem ... kasihan, ganteng-ganteng dapat bekas.”
“Yang salah dari janda apa?” Kesabaran Khatrin benar-benar habis tak tersisa. “Salah mereka-mereka yang jadi janda apa?”
Penegasan Khatrin langsung membuat ke lima karyawan tadi terlonjak apalagi ketika mereka mendapati Khatrin yang mereka ketahui datang bersama Keinya, sebagai pelakunya.
Sambil berlinang air mata, Khatrin menatap kecewa ke lima wanita yang langsung berjejer menunduk di hadapannya dengan masing-masing tangan mereka yang disimpan di depan perut.
“Kalian wanita, tetapi kalian dengan teganya melukai kaum kalian!” tegas Khatrin. Membuat ke lima karyawan di hadapannya sibuk meminta maaf sambil gemetaran ketakutan.
__ADS_1
“Kalaupun kalian bukan janda, enggak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Gimana kalau kalian juga jadi janda?”
“Iya, Bu. Maaf. Maafkan kami, Bu! Kami salah!”
“Kalian enggak tahu betapa beratnya perjuangan seorang janda, terlebih bagi mereka yang sampai terpaksa berpisah karena KDRT, perselingkuhan, atau parahnya, suami mereka justru meninggal!” Khatrin sampai terisak-isak. “Jadi tolong, ya, rnggak usah menatap janda dengan sebelah mata. Beban hidup mereka sudah sangat berat, jangan memperberat beban hidup mereka dengan cara kalian yang seperti ini.” Khatrin menyeka air matanya.
“Mi ... aku enggak pernah malu, meski aku janda. Justru aku bangga, karena status ini kulakukan untuk kebahagiaan anakku, agar kami mendapatkan kehidupan lebih layak tanpa harus merusak kehidupan orang lain apalagi orang yang mencintaiku!”
Kehadiran Keinya begitu melengkapi ketakutan ke lima karyawan butik dan dua di antaranya merupakan resepsionis yang sempat menyambut Keinya dan Khatrin, dengan sangat hangat.
“Orang-orang boleh saja memandangku sebelah mata bahkan kaumku sendiri. Aku enggak masalah karena itu hak mereka. Aku percaya Tuhan enggak tidur. Sudah terlalu banyak yang Tuhan kasih ke aku apalagi setelah Yuan ada dalam hidupku. Lagi pula, anggapan mereka enggak akan mengubah hidupku karena aku punya pendirian.”
“Yang ada, aku akan merasa sangat malu jika aku justru merendahkan orang yang kuanggap enggak lebih layak dariku, hanya karena aku enggak bisa lebih baik dari mereka.”
Keinya berangsur menghampiri Khatrin kemudian menyeka tuntas air mata wanita itu yang terlihat begitu terluka. “Lain kali Mami enggak perlu menjelaskan siapa aku maupun janda-janda di luar sana. Kita hidup dari yang kita tanam. Enggak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Lagi pula, selama ini aku juga hidup sekaligus menghidupi anakku dengan keringatku sendiri.”
Keinya menatap saksama ke dua mata Khatrin yang justru menjadi semakin basah. “Kalau Mami sudah enggak ada urusan, tolong temani aku mengurus rancangan gaun pengantin, ya?” pintanya.
Khatrin segera mengangguk sambil mengumpat kesal dalam hatinya, kenapa ia masih saja menitikkan air mata, padahal balasan Keinya sudah membuatnya sangat bangga?
Tanpa menatap apalagi mengindahkan kata maaf dari ke lima karyawan di sana, Keinya memboyong Khatrin yang sampai merengkuh kemudian mendekap tubuhnya sambil terus mengikuti tuntunan langkahnya.
Keinya memaklumi kenapa Khatrin begitu terluka bahkan terpukul? Sebab selain Keinya juga akan mengalami hal yang sama jika ada di posisi Khatrin, sampai kapan pun, seorang ibu tanpa peduli statusnya bahkan janda sekalipun, akan menjadi orang pertama yang merasa terluka sekaligus paling terluka, ketika anak-anaknya terluka. Ibarat kulit ari, itulah ibu bagi anak-anaknya. Ibu merasakan semua yang menimpa anak-anaknya. Bahagia atau sebaliknya, ibu selalu bisa merasakannya walau terkadang, tak semua ibu bisa mengekspresikannya.
Ketika memasuki ruang rapat yang dihiasi kebersamaan Yuan dan Pelangi, Keinya berkata, “lihat, Mi. Aku enggak kekurangan apa pun. Yuan begitu menyayangi Pelangi dan mencintaiku tanpa batas! Enggak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Khatrin mengangguk setuju. Keakraban Yuan yang terus menciumi Pelangi dan sengaja membuat bocah itu tertawa karena geli, juga berhasil membuat Ivan ikut gemas. Ivan bahkan sampai ikut menggoda-goda Pelangi setelah sampai meninggalkan kursi Ivan duduk.
__ADS_1
Keinya yang menggandeng tangan Khatrin, sengaja melupakan insiden tidak mengenakan yang dilakukan karyawan butik, dan kali ini melepas kepergian mereka sambil menunduk sarat kecemasan sekaligus takut.
******