
“Tidak ada hubungan darah antara Kishi dan Rafaro. Jadi, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Dan bahkan, ... aku sempat mendengar keinginan kakek Franki untuk menjodhkan keduanya.”
Bab 12 : Rafaro, Pemuda yang Hangat
Ketika Dean memeluk Kishi, Kishi merasa dunianya mendadak berhenti berputar. Seolah tidak ada kehidupan lain selain dirinya dan Dean. Suara yang menghiasi suasana di sana juga sebatas detak jantung berikut deru napas mereka. Sungguh, dunia seolah hanya dimiliki oleh Kishi dan Dean.
“Seperti ini saja. Lebih lama lagi. Aku hanya ingin seperti ini. Bersamanya, ... tanpa ada jarak apalagi deretan penolakan yang selama ini Dean lakukan ...,” batin Kishi.
Kishi masih gemetaran ketika Dean mengakhiri dekapannya. Dan Kishi melihat kemarahan yang begitu besar, dari seorang Dean.
Sebelumnya, Kishi belum pernah melihat Dean semarah sekarang. Karena meski Dean memang terbilang cuek kepada orang lain, tetapi Dean bukan tipikal bengis yang akan membuat setiap mata yang menatapnya takut. Dean itu, ... sidingin yang beraura lembut. Apalagi kalau sudah memperlakukan keluarganya khususnya Pelangi, Dean tak ubahnya pelayan yang akan selalu memuliakan Pelangi.
Dean menatap kesal pemuda yang tadi sempat bertanya kepada Kishi. Pemuda yang tak hanya bertanya dengan nada kasar tak ubahnya membentak, melainkan Kishi juga yakin, pemuda tersebut sampai berusaha menyiramnya. Namun, karena Dean cepat sigap dan langsung mendekap Kishi, punggung Dean-lah yang menjadi basah.
“Apa maksudmu membuat keributan di kelas ini?” tanya Dean penuh penegasan. Rahang tegasnya tampak begitu tegang.
“Kau!” Si pemuda yang menjadi lawan Dean dan bernama Frendy, menatap Dean dengan begitu bengis. “Jangan jadi pahlawan di siang bolong!”
“Aku ketua kelas di sini, dan aku bertanggung jawab penuh untuk keamanan sekaligus kenyamanan di sini. Dan kamu, jika kamu berani bikin keributan di sini, aku enggak segan buat laporin kamu ke BP bahkan kepala sekolah!” tegas Dean nyaris tak berjeda.
Jika sudah seperti sekarang, Kishi seolah melihat aura seorang Yuan Fahreza yang sedang mengendalikan kehidupan Dean.
Frendy yang semakin menatap bengis Dean, mendorong dada Dean dan seketika itu juga, siswi-siswi di sana berteriak histeris.
“Lo semua, diam, ya!” bentak keempat teman Frendy sambil menunjuk-nunjuk siswi di sana.
Akan tetapi, jiwa pejuang siswi-siswi yang mengaku sebagai istri Dean jauh lebih kuat. Semua siswi di sana kecuali Kishi dan Feaya, sibuk mencari apa yang bisa membuat mereka menghajar Frendy dan keempat temannya. Ada tas, kemoceng, sapu ijuk, pengki, juga buku yang mereka gulung. Mereka berbondong-bondong menyerbu Frendy dan keempat rekannya.
Keempat teman Frendy digiring keluar sambil menerima penghakiman dari siswi yang bahkan tak segan menabok bokong keempatnya, hingga keempat pemuda bergaya keren itu kerap menjengit demi menghindari serangan.
Dan setelah berhasil, siswi-siswi itu segera berlari menyerang Frendy.
“Kalian berdua, urusan kita belum selesai, ya!” ancam Frandy sembari menunjuk-nunjuk wajah Dean dan Kishi.
“Selesaikan sekarang! Kalian semua diam!” balas Dean yang kali ini sampai membentak. Dean bahkan menatap tajam siswi-siswi yang akan menyerbu Frendy.
“Jangan biarkan murid bernama Frendy ini keluar dari kelas kita sebelum dia menyelesaikan urusannya!” tegas Dean lagi dengan tatapannya yang masih menatap lurus kedua manik mata Frendy.
Meski sempat menjadi ketakutan dan menatap Dean dengan banyak rasa tegang, siswi-siswi di sana segera mundur dan menjadi pagar di depan pintu yang sebelumnya mereka tutup bahkan kunci dari dalam.
Frendy yang merasa diperlakukan tidak adil, menatap semua itu sambil tersenyum sarkastis. Sesekali, ia juga akan menghela napas bahkan mendesah, menatap tak habis pikir Dean.
“Yuan Fahreza ...,” cibir Frendy dengan gaya yang begitu merendahkan.
“Enggak usah bawa-bawa orang lain dalam urusan kita! Kita ya, kita. Enggak usah menyangkut pautkan dengan orang lain termasuk orang tua!” bentak Dean.
“Kau pikir, kau siapa berani-beraninya membentakku?!” sergah Frendy sambil memelotot-lotot.
“Enggak usah mengalihkan pembicaraan! Cepat selesaikan saja urusan kita!” balas Dean cepat masih membentak.
Dengan napas terengah-engah lantaran tak kuasa menahan kesal, Frendy segera menunjuk Kishi yang diam-diam akan mengeringkan punggung Dean yang basah menggunakan sapu tangan.
“Urusanku dengan dia! Adik Kim Jinnan, si play boy banggsat!” seru Frendy.
Kishi langsung terdiam kebingungan, terlebih semua mata di sana juga langsung menjadikannya sebagai fokus perhatian.
“Serius, si Kishi adiknya Jinnan?”
“Tapi mereka enggak mirip, ya?”
“Iya juga, ya? Mereka enggak mirip. Jinan tinggi kayak tiang listrik, Kishi kerdil gitu!” bisik mereka.
Dean segera menampar tangan Frendy yang masih menunjuk Kishi. “Jangan sok tahu! Siapa bilang dia adik Kim Jinnan?” tegasnya dengan suara jauh lebih lirih.
“Kim Jinnan itu anak tunggal. Sedangkan Kishi, anak Athan Wijaya. Dia cucu dari Franky Tan, pemilik salah satu perusaan elektronik berpengaruh di Indonesia!” cibir Dean.
“Wah ... Kishi juga anak orang kaya.”
“Pantes kulitnya putih kayak salju.”
“Aku juga baru sadar, kalau jepit poninya Kishi kayak punya artis luar. Tuh jepit sekecil itu harganya jutaan.”
“Gila ... jangan bilang kalau Kishi bakalan jadi saingan terberat kita,” bisik siswi-siswi lagi sambil terus memperhatikan Kishi.
Frendy menjadi kebingungan bahkan menggeragap. Ia menatap sungkan Kishi yang masih diam menatapnya dengan ekspresi takut.
“Minta maaf sekarang juga. Termasuk teman-temanmu yang tadi suruh ke sini dan minta maaf juga!” tegas Dean kemudian.
Frendy menjadi menatap sungkan Kishi. “S-sori ....”
“Aku enggak bisa memaafkan kamu. Ingatanku terlalu tajam, dan selalu bisa mengingat semua yang menyakitkan,” balas Kishi.
Frendy menatap terkejut Kishi.
“Kamu meminta maaf kepadaku hanya karena kamu tahu, aku dari keluarga kaya raya, kan? Bagaimana jika aku hanya dari kalangan biasa? Pasti kamu tidak akan meminta maaf seperti ini?” balas Kishi yang memang menyayangkan apa yang Frendy lakukan.
“Tapi ....” Frendy berusaha menyelesaikan keadaan.
“Tapi jika kamu mau membuat pengakuan ke BK dan kepala sekolah mengenai apa yang kamu lakukan sekarang, aku juga akan mempertimbangkan permintaan maafmu.” Kishi meyakinkan.
“Yang benar saja?” keluh Frendy.
“Saat tadi kamu tiba-tiba datang dan langsung menyerangku, kamu tidak sampai berpikir mengenai dampak yang akan terjadi kepadaku?” balas Kishi dengan santainya.
Frendy yang tak bisa berkata-kata, berangsur menunduk seiring rahangnya yang menjadi menegang. “Kau sengaja menindasku?” lirihnya yang kemudian melirik tajam Kishi.
“Aku hanya ingin melihatmu merasakan apa yang kurasakan akibat ulahmu.” Kishi masih berusaha meyakinkan.
Frendy menatap bengis Kishi.
“Cepat lakukan. Lakukan sebelum dia berubah pikiran!” tuntut Dean.
__ADS_1
Frendy mendengkus kesal. “Aku pastikan, tidak ada satu pun dari keluarga sekaligus orang-orangku, yang membeli produk elektronik di perusahaan keluargamu.
“Silakan ....” Kishi menatap tegas Frendy yang kemudian berangsur meninggalkan kebersamaan.
Siswi-siswi di sana langsung minggir memberi Frendy jalan. Sedangkan yang terjadi pada Dean, pemuda itu segera berlalu meninggalkan Kishi yang sedang mencoba mengeringkan seragam bagian punggungnya.
Namun ketika Feaya memberikan sebuah handuk cukup besar lengkap dengan gadis bertubuh gendut itu yang tak hentinya menatap Dean sambil tersenyum, Dean justru menerimanya.
“Makaaih, lho, Ean ... hari ini kamu sudah bikin patah hatiku komplit,” batin Kishi yang menjadi tertunduk sedih.
Kishi bahkan tidak melirik Dean sedikit pun yang sibuk mengelap punggung menggunakan handuk kecil pemberian Feaya.
Ketika Kishi mencoba mengeringkan sebagian ujung mejanya yang sampai ikut menjadi basah, dering ponse dari tasnya membuat gadis itu terusik.
Rafaro : Aunty memintaku untuk menjemputmu. Katakan padaku, pukul berapa aku harus menjemputmu?
Kishi : Sekitar pukul dua, aku baru pulang.
Rafaro : Oke. Aku usahakan sebelum pukul dua, sudah di sana. Di sekolah Ngi-ngie dan Dean, kan?
Kishi : Iya ....
Rafaro : 😄
Setelah selesai mengeringkan meja, Kishi memutuskan untuk menyantap bekalnya. Dan bersamaan dengan itu, ia baru kepikiran, apa yang membuat mamanya mengutus Rafaro untuk menjemput?
“Mama enggak mendadak lahiran, kan?” pikir Kishi yang menjadi memelankan geraknya dalam membuka kotak bekal.
Namun ketika Kishi melihat ke ujung kanan selaku keberadaan Feaya yang masih senyum-senyum memperhatikan Dean, otak Kishi mendadak buyar. Kishi juga mendadak kehilangan selera makan.
Kishi buru-buru menutup lagi kotak bekalnya kemudian menyimpannya ke dalam tas. Ia mendengkus tanpa bisa mengendalikan rasa kesalnya. Namun kendati demikian, ia segera mengirim pesan singkat kepada mamanya.
“Kenapa kamu enggak jadi makan?” tanya Dean lirih tanpa menatap Kishi.
“Aku enek lihat tingkahmu. Sudah enggak usah tanya-tanya lagi!” balas Kishi ketus.
Setelah mengantongi ponselnya pada saku yang ada di seragam bagian dada, Kishi sengaja menjauhkan kursinya dari Dean. Dan Dean yang hanya diam, hanya menatap bingung apa yang gadis itu lakukan.
Setelah itu, Dean mendapati Kishi menulis di buku catatan.
PR hari ini :
Belajar bareng Rafaro
Menemui Kim Jinnan
“Dasar, kepo!” cibir Kishi. “Pantas saja kalian cocok!” ucapnya kemudian sambil melirik Feaya.
Dean yang sampai mengerutkan dahi, juga langsung menatap Kishi penuh kepastian. Ia mendapati Feaya yang ternyata menatapnya sambil terus tersenyum.
“Mulai sekarang juga, aku akan belajar jadi cantik demi Dean!” batin Feaya sambil melambaikan sebelah tangannya kepada Dean.
“Yang benar saja?” desis Dean sambil menatap Kishi dengan ekapresi keberatan.
Kishi tak acuh. Jemari-jemari gadis itu sibuk menulis di buku catatan yang sampai ia tutupi dari Dean.
Lain halnya dengan siswi-siswi di sana yang menjadi sensi kepada Feaya.
“Kok bisa, sih, Dean kasih Feaya perhatian lebih?”
“Iya! Apa juga bagusnya si gembrot itu?”
“Yang ada cuma makan, ngiler, berak juga!”
“Nah, itu!”
“Bahkan Kishi saja ditolak, ya? Masa iya, kita harus makan sama ngiler juga, biar diperhatiin sama Dean?”
Siswi-siswi di sana ketar-ketir. Namun lebih ketar-ketir lagi, Dean yang dicueki Kishi.
***
Berbeda dengan siswi lain, Kishi justru sengaja pulang lebih dulu meninggalkan Dean. Kishi masih mogok bicara dengan Dean dan memang sengaja mengabaikan pemuda itu.
“Dia sengaja!” batin Dean yang segera menyusul. Tak peduli meski Feaya telah menghempirinya. Namun Dean tiba-tiba kembali dan menghampiri Feanya.
Dean mengembalikan kotak hadiah berikut handuk Feanya. Dan kenyataan tersebut sukses membuat siswi-siswi di sana sesak napas lantaran mengira Dean memberi hadiah kepada Feanya.
“Jangan memberiku hadiah lagi,” ucap Dean sebelum berlalu.
“Kenapa?” tanya Feanya dengan polosnya sambil menerima kotak hadiah miliknya.
Dean hanya menghela napas sambil menatap lelah Feanya sebelum akhirnya berlalu dari pandangan gadis itu, juga siswi-siswi di sana, yang masih terjaga di kursi masing-masing
Seperginya Dean, siswi-siswi di sana langsung menyerang Feanya. Mereka mencoba merebut kotak hadiahnya dari Feanya.
“Apa-apaan, sih? Ini punyaku!” tolak Feanya.
“Tapinini dari Dean! Kamu enggak pantas menerimanya!”
“Kasihin, enggak? Kamu cukup makan yang banyak saja, sana!”
***
__ADS_1
Ketika akan menuju gerbang, Kishi tidak sengaja melihat Pelangi yang akan duduk menunggu di bangku dekat gerbang.
“Ngie!” sergah Kishi yang sampai berlari.
Pelangi menyambutnya dengan senyum lepas.
“Aku numpang duduk di sini, ya?” lanjut Kishi yang langsung duduk di sebelah Pelangi.
Kishi yang sampai ngos-ngosan segera melepas tasnya kemudian membukanya dan mengeluarkan bekal air minum dari sana. Kishi meminumnya sambil memunggungi Pelangi.
“Tubuhmu tinggal tulang-belulang, kamu enggak pernah makan?” cibir Pelangi yang sebenarnya mencemaskan keadaan Kishi.
Dengan kenyataannya yang terlihat jauh lebih rileks, Kishi pun berujar, “ini efek kebanyakan makan hati, Ngie. Gosong hatiku, selera makan pun hilang.”
Kishi memasukkan bekal minumnya ke dalam tas lagi. Dan sambil kembali mengenakan tasnta, pandangannya menyisir sekitar.
“Kamu cari siapa? Kalau hari ini enggak ada yang jemput, sekalian saja gabung sama kami.” Pelangi menyatakan kami karena Dean juga sudah ada di depan matanya.
Namun, Kishi buru-buru menggeleng sambil beranjak. “Enggak. Hari ini, mama sudah minta Rafaro buat jemput. Nah, itu mobilnya. Aku duluan, ya. Daaah!”
Kishi segera berlari, tanpa tahu jika kedua orang yang baru ia tinggalkan, menjadi patah hati di waktu yang sama, hanya karena melihatnya bersama Rafaro.
Di seberang, Rafaro yang cukup memasuki pelataran tempat fotokopi dalam memarkirkan mobilnya, sampai turun menyambut Kishi. Rafaro mengusap kepala Kishi dan langsung mengajak gadis itu mengobrol. Keduanya tampak asyik dengan obrolan sambil terus melangkah menuju pintu penumpang sebelah setir.
Rafaro segera membuka pintu sebelah setir untuk Kishi, kemudian menutupnya. Dan sebelum masuk, kembali menyetir, Rafaro melemparkan senyum hangatnya pada kebersamaan Pelangi dan Dean.
“Rafaro ... dia pemuda yang hangat. Rafaro selalu bisa membuat orang di sisinya merasa nyaman. Bukan hal yang sulit untuk tidak jatuh hati kepada Rafaro!” Pelangi mengatakan itu tulus. Dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sebab meski sama-sama peduli keluarga layaknya Dean, tetapi Rafaro selalu bersikap hangat kepada setiap orang, kendati Rafaro juga terbilang pendiam.
Pelangi melambaikan tangannya kepada Rafaro. Dan sebelum masuk ke mobil, Rafaro juga balas melambaikan tangan pada Pelangi.
“Tidak ada hubungan darah antara Kishi dan Rafaro. Jadi, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Dan bahkan, ... aku sempat mendengar keinginan kakek Franki untuk menjodhkan keduanya.” Pelangi tertunduk sedih. “Masa iya, setelah harus melepas pemuda sehangat Rafaro, aku justru dapat yang seperti Kim Jinnan? Sudah bengis, ... mesum lagi!” gumamnya.
Dean gelisah. Kedua matanya tak hentinya melepas kepergian sedan hitam yang Rafaro kendarai. Sialnya, di dalam mobil, Rafaro sampai merangkul punggung kepala Kishi sedangkan bersamaan dengan itu, Kishi juga menjadi tertunduk sedih.
Ketika Pelangi menoleh pada Dean, ia mendapati adiknya itu terlihat sangat kesal. Otot-otot di wajah Dean tampak tegang, terlepaa dari kedua tangan pemuda itu yang mengepal kencang di kedua sisi tubuh.
“Makanya jujur. Sudah, kamu langsung hubungi dia saja. Wa apa gimana? Ayo, mobil jemputan kita juga sudah datang!” sergah Pelangi yang sampai menggandeng paksa Dean untuk masuk ke mobil.
“Ayo, De ... nanti keburu Kim Jinnan datang,” rengek Pelangi.
“Orang itu selalu bikin masalah. Tadi saja, ada yang tiba-tiba datang melabrag Kishi karena dia pikir, Kishi adik Kim Jinnan!” cibir Dean yang akhirnya menutup pintu penumpang keberadaannya.
Pelangi menanggapi cerita Dean dengan serius. “Oh, iya, terus gimana?”
“Ya sudah, aku beresin.” Dean menunduk malas.
“Tapi, Kishi enggak apa-apa, kan?” lanjut Pelangi bersamaan dengan melajunya mobil yang mereka tumpangi.
“Kayaknya dia sih sampai syok. Sampai gemetaran tadi.”
“Ya ampun ... Kim Jinnan emang enggak ada bagus-bagusnya ....” Pelangi sampai mengelus dada.
“Gitu-gitu kan idolanya Zean ...!” cibir Dean.
Pelangi menggeleng sambil bergidik. “Enggak tahu kenapa? Apa dosaku di masa lalu, sampai-sampai, dia ngebet deketin aku!” keluhnya sambil bersedekap.
“Kalau dia berani macam-macam, balas saja Ngie, jangan enggak!" cibir Dean lagi.
Bukannya setuju apalagi senang, tetapi kenyataan Dean yang banyak bicara bahkan emosional, cukup mengusik Keinya yang menjadi yakin, adiknya itu sedang kesal karena cemburu.
“Kamu cemburu, ya?” tanya Pelangi kemudian sambil menahan tawanya.
Tiba-tiba saja, wajah Dean menjadi diselimuti banyak kesedihan. Pemuda itu mengangguk, tanpa berkomentar atau memberikan penjelasan. Membuat Pelangi enggan melanjutkan pembicaraan.
“Sudah kirim WA saja,” ucap Pelangi akhirnya.
Dean hanya menghela napas dalam, kemudian menatap ragu Pelangi.
“Hanya seperti itu enggak akan menyelesaikan masalah!” semprot Pelangi akhirnya sambil bersedekap dan membuat tampangnya terlihat galak.
***
Rafaro masih memijat-mijat kepala berikut tengkuk Kishi. Sebelum pulang, gadis itu meminta diantarkan ke klinik atau rumah sakit lantaran akhir-akhir ini bahkan sekarang, Kiahi kerap pusing.
“Kalau sudah berobat tetap sakit, berarti pusingnya karena kurang perhatian Dean.” Rafaro sengaja menggoda Kishi.
“Sudah, jangan pijit-pijit. Kamu fokus nyetir saja,” balas Kishi.
“Jalan hidup kita masih terlalu panjang. Dan waktu yang kita miliki hanya akan sia-sia, jika kita mengharapkan yang tidak pasti,” ucap Rafaro yang akhirnya mengemudi meggunakan kedua tangan.
“Jadi, kamu juga sudah menyerah buat dapati Ngi-ngie?” tanya Kishi penasaran.
“Aku enggak bilang begitu, kan?” balas Rafaro yang masih mengemudi dengan tenang.
“Curang ... minta orang lain buat menerima kenyataan, tapi kamu sendiri juga jauh lebih keras kepala!” cibir Kishi.
Rafaro tertawa kecil. “Pandai-pandai menghibur diri saja, Shi. Masa iya, hidup dibawa serius terus?” balasnya santai.
Kishi mendengkus lelah sambil melirik Rafaro. “Andai aku juga bisa seperti itu. Sayangnya aku belum bisa. Ajarin, dong ....”
“Ya bertahap. Lagian, umurmu baru berapa?” balas Rafaro masih santai.
“Jangan bilang umurku berapa? Waktu seumurku, kamu sama Mo juga sudah kuliah! Huh!” balas Kishi yang menjadi uring-uringan, tetapi sukses membuat Rafaro tertawa lepas.
Bersambung ....
Ikuti dan terus dukung ceritanya, yaaa.
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1