
...“Karena sekalipun kata maaf telah terucap, tetapi luka-luka yang telanjur ada tidak mungkin bisa sembuh begitu saja.”...
Bab 70 : Maaf
****
Meski Keinya memang memboyong sebagian barang-barangnya berikut Pelangi ke rumah Khatrin, Keinya hanya menginap untuk beberapa waktu tanpa benar-benar pindah. Paling tidak, Keinya melakukan itu selagi Yuan sedang ke luar kota, di mana Keinya juga diam-diam memiliki tujuan memantau perkembangan Kainya.
Yang membuat Khatrin tak habis pikir, di setiap kesempatan bahkan ketika sedang makan, Yuan begitu rutin menghubungi Keinya dan Pelangi. Mereka selalu saja melakukan telepon video di mana Pelangi begitu ceria dan sangat merespons Yuan. Beda ketika Khatrin berusaha mencuri perhatian bocah yang tentunya masih mewarisi gen dari Khatrin. Pelangi sungguh tidak mau ikut atau sekadar merespons Khatrin.
Anehnya, Pelangi hanya tidak mau ikut Khatrin, sebab ketika Philips yang mengajak, Pelangi juga mau-maunya saja.
“Oma jahat sih, ya. Jadi Pelangi enggak mau ikut!”
“Anak kecil itu enggak bisa dibohongi, Sayang. Karena anak kecil ibarat hati yang begitu peka. Kalau kita tulus, walau jarak memisahkan, anak kecil tetap bisa merasakan ketulusan kita.”
Kata-kata seperti itu juga sering terlontar dari Keinya maupun Philips. Ke duanya begitu lihai menyindir Khatrin.
****
“Kainya masih belum mau keluar dari kamar juga?” tanya Keinya terheran-heran pada Khatrin.
Khatrin menghela napas dengan wajah menunduk pasrah.
“Tegas dikit kenapa, Mi? Dobrak saja kamarnya kalau Kainya enggak mau keluar juga. Kalau ke aku dan Pelangi saja Mami bisa tegas, Mami tega! Bahkan Pelangi sampai sakit karena harus jauh dari Yuan, kenapa Mami ke Kainya malah lembek?” Keinya sudah tidak tahan. Empat hari kepindahannya, bahkan Yuan mau datang juga tidak boleh oleh Khatrin, tetapi pada Kainya ibunya itu selalu tunduk.
“Bagaimana mungkin aku dan Yuan bisa mengubah Kainya, sedangkan yang harus diubah saja enggak ada niat buat berubah bahkan Mami sampai mendukung?” Dada Keinya mulai terasa sakit. Dengan kekesalan yang membuncah itu, ia berlalu dari hadapan Khatrin.
Keinya berlari menaiki anak tangga menuju kamar Kainya. Ia membiarkan Pelangi di lantai bawah dalam boks berisi mainan di mana kening Pelangi masih dihiasi plester kompres penurun panas. Sebuah kenyataan yang sudah menjadi pemandangan mencolok, semenjak kepindahan mereka ke rumah Khatrin. Semenjak Keinya dan Pelangi harus jauh dari Yuan.
“Keinya, biarkan Kainya tenang dulu!” seru Khatrin dari depan anak tangga paling bawah.
Keinya tak mengindahkan teguran Khatrin. Tangan kanannya yang mengepal tetap ia hantamkan pada pintu kamar Kainya.
“Kai, buka, Kai! Masih enggak mau buka, juga? Mau sampai kapan kamu menyiksa Pelangi? Enggak cukup kamu menyiksa aku dan Yuan? Hanya karena kamu sakit hati ke aku, karena enggak ada satu pun yang mengenalimu? Hanya karena itu?!” Keinya terus mengguncang-guncang kop pintu kamar Kainya. “Kalau memang kamu enggak mau dianggap sebagai aku, seharusnya kamu kasih tahu mereka. Semudah itu!”
Khatrin berjalan dengan tergesa. “Keinya, sudah, cukup. Jangan begini. Dengan begini kamu enggak akan bisa menyelesaikan masalah!”
“Kalau begitu, katakan padaku bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini, Mi? Mami pikir cuma Mami yang sayang anak? Aku juga menyayangi anakku, Mi! Pelangi bahkan masih bayi, aku bahkan kita enggak tahu apa yang Pelangi rasakan. Sedangkan Kainya? Dia sama kayak Mami! Egois! Enggak tahu diri!” Keinya menatap Khatrin dengan sangat kecewa.
“Mami pilih kasih! Setelah dua puluh tujuh tahun menelantarkan aku, aku pikir pertemuanku dengan Mami akan membuatku bahagia dan bisa mendapatkan kasih sayang Mami. Tapi nyatanya apa? Mami hanya menyayangi Kainya!”
“Di sini akulah yang sebenarnya korban! Pelangi, apalagi Yuan!” Keinya sudah tidak bisa menahan segala sesuatunya. Tak hanya air mata dan emosi, tetapi juga kepercayaannya terhadap Khatrin.
“Lebih baik aku tetap menjadi anak yang dibuang daripada aku harus membuat orang-orang yang tulus mencintaiku terluka. Anak, pria yang begitu tulus kepadaku, mereka semua jauh lebih menghargaiku!” Keinya masih meledak-ledak.
“Kalau Mami tetap begini, aku rela enggak pernah ada dalam hidup Mami. Lebih baik aku enggak punya keluarga daripada anakku semakin menderita!” tegas Keinya yang kembali berlalu dengan langkah jauh lebih cepat dari sebelumnya.
“Keinya, Mami begini ke kalian karena Kainya enggak punya apa yang kamu punya!”
__ADS_1
“Jadi Mami berharap aku enggak punya apa-apa? Maaf, Mi. Aku enggak bisa. Aku punya tanggung jawab besar pada Pelangi. Kalaupun aku belum punya Pelangi, demi Tuhan, lebih baik aku enggak pernah tahu jati diriku daripada harus hidup dikekang begini!”
“Maaf karena aku harus terlahir dari Mami. Semoga Mami bahagia dengan cara hidup Mami!”
“Jangan pergi dan tetap di sini, Kei!”
Untuk ke sekian kalinya, Keinya mengabaikan Khatrin. Ia segera menghampiri Pelangi dan menggendongnya. Lebih dulu ia mengemasi barang-barangnya yang memang masih tergeletak di dalam koper meski Khatrin sudah berulang kali memintanya untuk menyusunnya di lemari. Atau setidaknya membiarkan ART di sana untuk menyusunnya. Namun, Keinya yang sudah curiga pada gelagat Khatrin dari awal, tetap dengan keputusannya. Di rumah ini, rumah ibunya sendiri, Keinya lebih memilih sebagai tamu.
Keinya melangkah terseok, menggendong Pelangi sambil menarik kopernya yang besar. Ketika ia keluar dari kamarnya yang memang berada di lantai bawah dan kebetulan lurus dengan kamar Kainya, ia dikejutkan oleh keberadaan Kainya. Kainya terlihat begitu pucat. Bibir yang selalu dipoles gincu merah milik Kainya, kering pecah-pecah dengan beberapa darah segar dan mengering yang terlihat begitu mencolok.
“Jangan pergi dari sini. Dan jangan marah sama Mami.” Nada suara Kainya terdengar sangat mengambang. Wanita itu seolah sedang belajar bahasa asing yang untuk melafalkannya saja masih jauh dari benar.
“Aku enggak peduli!” tegas Keinya dengan nada yang juga seperti sedang mengeja.
Keinya berlalu meninggalkan Kainya berikut Khatrin yang berdiri di anak tangga paling bawah sambil membawa nampan berisi makanan, seperti awal perdebatan mereka.
“Aku mohon jangan pergi. Dua hari yang lalu aku sudah hampir mati karena bunuh diri andai Mami enggak datang!” tahan Kainya masih berdiri di tempat.
Keinya yang refleks balik badan menatap Kainya dengan mata bergetar. Rasa tak percaya sekaligus iba terpancar dari tatapannya. “Aku juga tetap enggak peduli. Kamu sudah dewasa dan tahu mana yang benar atau pun sebaliknya. Jika memang kamu selalu merasa enggak puas dengan apa yang kamu dapatkan, tolong lihat dirimu sebelum kamu menyalahkan semua yang menimpamu kepada orang lain!” Keinya mengatakan itu dengan emosi yang kembali meluap. “Kamu bukan malaikat, Kai ... bahkan malaikat saja bisa salah apalagi kamu?” linangan air mata kembali membasahi pipi Keinya. “Logikanya, Kai. Aku benar-benar kasih kamu pengertian yang paling sederhana ... Yuan, seandainya dia benar-benar memilih kamu, dia enggak mungkin mengejarku sejauh ini. Dan seandainya alasanmu membenciku karena kamu merasa hanya menjadi bayang-bayangku, kamu itu cerdas, orang bodoh saja bisa menjelaskan siapa dirinya, apalagi kamu!”
Kainya menunduk sedih seiring tubuhnya yang tergolek dan terduduk di lantai. “Maafkan aku, Kei ... aku benar-benar minta maaf. Tolong maafkan aku! Tapi aku mohon, jangan pergi dari sini! Izinkan aku menebus kesalahanku! Izinkan aku membuat keluarga ini benar-benar utuh!” tangisnya. “Demi Tuhan aku janji, aku enggak bakalan ganggu hubunganmu dan Yuan lagi! Mi, Mami jadi saksi, Mi! Aku serius, demi Tuhan ....”
Mendengar tangis Kainya yang sampai meronta-ronta, Keinya jadi tidak tega.
“Aku mohon, Kei ...,” tangis Kainya sambil berusaha beranjak. Ia sampai merangkak cukup lama karenanya.
Mendapati Kainya kesulitan berdiri, Khatrin segera menepikan nampannya ke meja piano yang ada persis di sebelahnya. Kemudian ia berlari membantu Kainya berdiri. Kainya melangkah terseok menghampiri Keinya. Dan ketika sudah ada di hadapan kembarannya, Kainya segera bersimpuh mendekap kedua lutut Keinya.
Kainya terus terisak kendati Keinya sudah sampai membantunya menyeka air mata. Mendapati itu, Khatrin tak kuasa mengendalikan air matanya untuk tidak mengalir. Hanya saja, air mata kali ini karena ia merasa sangat bahagia lantaran akhirnya ke dua anaknya mau membuka hati mereka. Inilah yang ia harapkan dari ke dua putrinya tanpa salah paham apalagi rasa iri. Belum lagi, sebagai seorang ibu, Khatrin sangat mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Ia selalu mencoba memahami anak-anaknya berikut apa yang seharusnya ia lakukan. Meski untuk urusan Keinya, ia juga tidak mungkin melepasnya begitu saja apalagi jika mengingat status Keinya sebagai ibu tunggal.
Khatrin tak mau status yang sudah memberatkan Keinya, akan membuat Keinya semakin dipandang sebelah mata, jika orang-orang tahu Keinya tinggal bersebelahan dengan Yuan bahkan mereka sering menghabiskan waktu bersama, sedangkan mereka belum terikat dalam ikatan yang jelas.
****
“Kenapa harus peduli pada kata orang, Mi?” tegas Keinya ketika Khatrin mengutarakan alasannya. “Saat aku sakit, saat aku terpuruk, saat aku benar-benar enggak tahu harus berbuat apa, kata-kata orang sama sekali enggak ada yang menolong apalagi menyelesaikan masalahku maupun masalah kita.” Keinya berucap tegas tak beda ketika ia sedang memimpin rapat atau menjelaskan detail hal kepada kliennya.
Mereka telah duduk di sofa ruang keluarga keberadaan boks Pelangi, di sofa yang sama selaku sofa paling panjang di sana. Keinya duduk di tengah sambil memangku Pelangi, sedangkan Kainya dan Khatrin di kanan kirinya. Tentu, Keinya yang berada di tengah menjadi fokus perhatian di sana.
“Jadi tadi, waktu Mami terus minta aku buat menunggu Kainya, rasanya aku ingin mengamuk. Mana bisa aku maupun Yuan mengubah Kainya, sedangkan Kainya saja enggak ada niat buat berubah?” Keinya kembali mengomel lantaran terbawa suasana tadi. Emosinya ternyata hanya redam untuk beberapa saat lantan ketika ia mengingat kegilaan kembarannya, emosinya kembali bangkit.
Ketika Khatrin refleks menepuk-nepuk pelan punggung Keinya, Kainya selaku terdakwa di sana langsung menunduk menyesal sambil meminta maaf.
“Tapi kamu tulus, kan, Kai?” tanya Keinya yang tiba-tiba saja merasa curiga. Bagaimana tidak, bertahun-tahun Kainya berbohong hanya karena kebodohannya sendiri!
Khatrin kehilangan ekspresi. Rasa takut juga tak dapat ia tahan, membuatnya menjadi gelisah detik itu juga.
“Demi Tuhan, Kei. Aku benar-benar menyesal. Aku bersumpah, aku siap menerima azab bila pada kenyataannya, penyesalan dan maafku ke kalian, hanya pura-pura,” ucap Kainya sambil menggenggam sebelah tangan Keinya.
“Kamu enggak usah minder apalagi terus-menerus mengurung diri, Kai. Yang harus kamu lakukan sekarang ya berubah. Tunjukkan kalau kamu memang serius berubah. Mulailah dengan melakukan hal-hal yang lebih positif.” Khatrin menatap cemas Kainya.
__ADS_1
Kainya mengangguk dengan kesedihan yang masih menyertainya.
“Ingat, hidup menjadi dirimu, bukan diriku apalagi bayang-bayang!” timpal Keinya masih kesal.
“Iya ....” Kainya menghela napas lirih. Raut lelah masih mencekamnya yang dua hari lalu mencoba mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kusen pintu kamar mandi. Mengingat itu, ia benar-benar tambah malu pada dirinya sendiri yang memiliki cara pikir sangat sempit.
Karena Pelangi kembali menangis, Keinya pamit undur.
“Sini sama Oma,” ujar Khatrin yang tetap tidak mengubah keadaan Pelangi menjadi lebih baik.
“Kita telepon Papa ... telepon Papa, ya ....” Keinya mengeluarkan ponsel dari saku sisi celana yang dikenakan.
“Bukankah Yuan bukan ayahnya? Sudah, jangan dibiasakan ketergantungan ke Yuan!” Khatrin yang masih berusaha membujuk Pelangi.
“Tapi Yuan menyayangi Pelangi lebih dari siapa pun, Mi!” balas Keinya sedikit sanksi. Rasa kesal selalu menyertainya jika ada yang mempermasalahkan hubungan Yuan dan Pelangi, siapa pun orangnya.
“Di mana ayah kandungnya?” lanjut Khatrin. “Kamu belum cerita sama Mami, Kei.”
Membahas Athan, suasana hati Keinya kembali menjadi buruk, lantaran semua luka yang ditorehkan pria itu benar-benar dalam.
Semua yang Athan lakukan membekas tanpa bisa benar-benar hilang dari ingatan Keinya. Karena sekalipun kata maaf telah terucap, tetapi luka-luka yang telanjur ada tidak mungkin bisa sembuh begitu saja. Akan ada bekas, bahkan parahnya trauma. Paling tidak, demi mencari posisi aman agar tidak terus-menerus kesal, Keinya lebih baik mengurangi komunikasi dengan Athan kalau bukan untuk urusan yang sangat penting.
“Dari awal niatnya sudah enggak baik, Mi. Meski memang dia sempat tulus, tapi dia sekongkol sama selingkuhannya buat menghancurkan bisnis aku. Dan setelah aib selingkuhannya terbongkar, aku enggak tahu bagaimana kabarnya,” balas Keinya berusaha sesantai mungkin. Paling tidak ia harus bersyukur karena lepasnya ia dari Athan, Tuhan memberinya Yuan yang berkali-lipat jauh lebih baik.
“Terbongkar bagaimana?” Khatrin makin penasaran.
“Wanita itu penipu. Selain memiliki banyak suami, dia juga sudah menjadi buronan polisi,” saut Kainya sambil bangkit dari duduknya. “Jangan membahas orang-orang yang enggak kita harapkan, karena biasanya itu bisa jadi benang merah mereka kembali ke kita,” tambahnya sambil bersedekap.
Keinya bergidik ngeri sedangkan Khatrin langsung menyeletuk, “amit-amit,” sambil mengetuk-ngetuk kepalanya.
“Mengenai rumahmu, harta gana-gani, sudah kelar?” sambung Kainya.
Keinya kembali bergidik. “Yuan memintaku untuk melupakannya. Lagi pula, Tuhan sudah memberiku lebih dari gana-gani yang seharusnya aku dapatkan. Termasuk kebahagiaan yang enggak pernah Pelangi dapat sebelumnya, sebelum perceraianku dan Athan.”
“Satu lagi, Mi. Jangan pernah ada perjodohan!” tegas Kainya tiba-tiba.
“Mami enggak ada perjodohan buat kamu, atau kalian,” balas Khatrin bingung.
“Tapi Ben sibuk telepon aku! Dia juga kirim pesan banyak banget! Awas saja kalau Mami atau Papi asal menjodohkan aku. Pokoknya, siapa pun dari kalian yang menjodohkan aku, atau menerima perjodohan, berarti orang itu yang harus menjalani perjodohan!” saut Kainya kesal bahkan sampai geregetan. Ke dua tangannya mengepal di depan dada.
“Kalau Mami yang menerima berarti Mami yang nikah sama pria itu. Dan kalau Papi yang menerima juga begitu. Aku rasa ini ide yang sangat bagus!” timpal Keinya. Belum lama ia berucap, dering telepon masuk di ponsel yang ada di genggamannya dan itu dari Athan, langsung membuatnya bergidik.
Kainya dan Khatrin kompak bertanya melalui tatapan mereka yang sarat penasaran.
“Athan ....,” lirih Keinya enggan menjawab dan memberikan ponselnya kepada Khatrin.
“Biar Mami yang urus!” tegas Khatrin langsung murka.
Kainya dan Keinya refleks berkode mata. Bisa mereka pastikan, Khatrin akan memarahi Athan habis-habisan.
__ADS_1
Bersambung ….