Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 80 : Kim Jinnan Menemui Irene


__ADS_3

“Tadi, ada yang ke sini?” tanya Atala sembari menutup pintu ruang rawat Irene yang baru saja ia buka.


Irene yang cukup kaget, menjadi menggeragap.


“Itu Elia. Bukan Elena.”


Dan pengakuan lanjutan dari Atala, sukses membuat Irene terdiam. Bukan karena Irene telah salah sangka kepada Elia yang dianggapnya Elena, melainkan tujuan Elia yang sampai meminta Irene berbagi cerita. Irene sungguh penasaran, meski pada kenyataannya, tadi, Elia juga sampai memberinya solusi penyelesaian masalah. Masalah mengenai kehamilan Irene, meski perihal tes DNA yang dijadikan solusi utama oleh Elia, tidak mungkin Irene lakukan. Karena mana mungkin, Irene melakukan tes DNA, sedangkan anak dalam kandungannya memang bukan anak Kim Jinnan?


“Kenapa?” tanya Atala lantaran Irene menjadi terlihat kebingungan.


Atala duduk pada kursi tunggu yang ada tak jauh dari Irene. Ia terus menatap Irene yang tak kunjung memberinya balasan.


“Apakah sesuatu yang tidak kamu inginkan, telah terjadi?” lanjut Atala.


“Enggak, sih. Tapi tadi dia sempat bantu aku. Aku pikir, dia Elena karena dia juga mengaku sebagai Elena?” balas Irene akhirnya.


Meski tidak begitu mencurigakan, tetapi bagi Irene, apa yang Elia lakukan merupakan hal yang cukup serius. Apalagi, Elia juga sampai mengaku sebagai Elena. “Apa maksudnya sampai membohongiku?”


“Elia gadis baik-baik. Jangan buruk sangka kepadanya,” ujar Atala yang berharap Irene berhenti berpikir buruk kepada Elia.


Akan tetapi, balasan Atala membuat Irene tersinggung. “Apa maksudmu dengan, dia yang kamu anggap gadis baik-baik? Hanya karena aku hamil di luar nikah, terus kamu anggap aku bukan gadis baik-baik? Aku enggak layak menghakimi Elia?!”


Balasan Irene yang begitu sewot sekaligus emosional, membuat Atala merasa tak habis pikir. Padahal, tanpa harus dijelaskan, apa yang Irene katakan memang benar, terlepas dari Irene yang bahkan sampai ingin melimpahkan kesalahan sekaligus tanggung jawab itu kepada Kim Jinnan.


“Enggak usah seserius itu kalau kenyataannya memang enggak benar. Sudah, lebih baik kamu istirahat saja. Dan mulai sekarang, kamu harus belajar menerima kenyataan. Kamu juga harus jujur kepada orang tuamu,” ucap Atala yang memang tidak ingin berdebat apalagi dengan Irene. Terlebih, jauh di lubuk hatinya, Atala sedang sangat terluka.


Atala patah hati lantaran ternyata, selain ia yang diputuskan Elena, Elia dan kekasihnya juga tak segan pamer kemesraan kepadanya. “Ya ampun ... Elena bilang, aku bahkan tidak boleh merindukannya!” batin Atala sesaat setelah sampai menghela napas dalam.

__ADS_1


“Aku ini korban, Atala! Seharusnya, kamu mikirnya ke situ!”


Dan Atala benar-benar terkejut, lantaran Irene masih saja meledak-ledak.


“Kalau kamu korban, terus aku apa? Kenapa kamu justru melampiaskan kekesalanmu kepadaku? Seharusnya kamu melampiaskan pada ayahnya! Jangan orang lain, apalagi kami yang tidak bersalah!” balas Atala dengan nada suara yang sebisa mungkin ia jaga. Atala masih berusaha sesabar mungkin demi menjaga perasaan Irene.


“Tega, kamu!” balas Irene yang kali ini kembali terisak-isak.


Menangisnya Irene membuat Atala tak berdaya. Atala terenyuh tanpa tahu harus berbuat apa. “Ayolah, Ren. Aku bukan pria penyabar apalagi pria baik-baik,” bujuknya.


“Kalau kamu enggak mau jujur, aku bisa apa sedangkan besok, aku sudah harus aktif bekerja lagi?” lanjut Atala masih berusaha mengambil hati Irene.


“Aku mau mati saja,” balas Irene yang masih menangis dan tampak sangat emosional.


“Kamu pikir, mati itu mudah?” balas Atala sambil bersedekap dan menepis tatapannya dari Irene.


Irene menatap serius Atala seiring ia yang berangsur duduk. “Atala, aku mohon, nikahi aku.”


Atala benar-benar tak percaya sekaligus tidak habis pikir, terhadap cara pikir Irene. Bahkan meski Irene memang sedang sangat tertekan, bagi Atala, tak seharusnya sahabatnya itu juga sampai melibatkannya lebih jauh dalam masalah yang pokok permasalahannya saja, belum Atala ketahui hingga detik ini.


“Meski aku tulus menolongmu, bukan berarti aku juga bisa menikahimu, atau wanita lain, sesuka hati. Kalau saja aku mau, aku bisa dengan Elena. Bahkan meski dia sangat protektif dan bahkan usianya jauh lebih muda dariku, dia tulus mencintaiku. Dia bisa menyeimbangiku walau perbedaan tetap ada dalam hubungan kami!” tegas Atala masih berusaha sesabar mungkin.


“Kamu pikir, apa alasanku lebih memilih tinggal di apartemen?” balas Irene yang masih terisak-isak. Irene masih menatap Atala dengan sangat berharap.


Atala menghela napas dalam sambil menggeleng. “Enggak, Ren. Aku enggak bisa berpikir sejauh itu. Otakku sudah terlalu penuh dengan masalah. Jika memang kamu enggak mau jujur kepadaku, aku enggak akan memaksa. Aku memang membantumu cuma-cuma, tapi cuma-cuma juga masih ada batasnya.”


“Atala ...,” rengek Irene benar-benar memohon.

__ADS_1


“Di dunia ini yang punya masalah bukan hanya kamu, lho. Orang yang selalu terlihat bahagia pun pasti memiliki masalah. Bahkan bisa jadi, masalahnya lebih berat dari kita,” balas Atala.


“Sebulan, saja. Setelah itu kita bercerai. Aku benar-benar hanya butuh status. Dan kamu benar-benar tak perlu mengakui anak ini,” lanjut Irene lagi masih memohon.


Atala menggeleng tegas. “Maaf, Ren. Mungkin aku memang bukan sahabat yang baik. Karena mengenai pernikahan, aku benar-benar akan selektif. Dan untuk permasalahan itu, aku enggak bisa mengabulkan permintaanmu.”


Balasan Atala yang terdengar sangat tegas, sukses menghancurkan hati Irene. Irene yang berangsur menunduk benar-benar bungkam.


“Katakan padaku, siapa sebenarnya, ayahnya?” lanjut Atala.


Akan tetapi, Irene tetap bungkam. Awalnya, tatapan wanita itu memang kosong. Namun sekitar dua puluh menit kemudian, Irene berangsur merebahkan tubuhnya dan memunggungi Atala. Kenyataan tersebut membuat waktu tunggu Atala menjadi sia-sia. Akan tetapi, Atala tak kuasa meninggalkan Irene begitu saja. Pun meski Atala mulai gemas dengan masalah yang Irene hadapi. Sampai-sampai, Atala ingin menghubungi orang tua Irene dan memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka, mengenai masalah Irene. Hanya saja, Atala tidak tega kepada Irene yang ia yakini belum siap.


***


Kehadiran Kim Jinnan di kamar rawat Irene, sukses membuat Atala yang masih berjaga di sana, terkejut. Terlebih, selain waktu nyaris menyentuh pukul sebelas malam, keadaan Irene juga masih sama. Irene yang Atala yakini belum tidur, masih memunggunginya dan sengaja mendiamkannya.


“Selamat malam?” sapa Kim Jinnan yang masih berdiri membelakangi pintu.


Gaya Kim Jinnan begitu santun dan sukses membuat Atala apalagi Irene tak percaya. Bahkan dari gaya berpakaian saja, Kim Jinnan yang sekarang sangat berbeda dengan Kim Jinnan yang mereka kenal. Kini, mengendalkan setelan panjang lengkap dengan jas hangat, Kim Jinnan berdiri di hadapan mereka.


Antara tak percaya, sekaligus bahagia, Irene langsung duduk sesaat setelah mendengar suara Kim Jinnan, di mana Irene juga langsung menatap antusias sumber suara kedatangan layaknya sekarang. Demi Tuhan, pria yang berdiri membelakangi pintu di hadapannya memang Kim Jinnan. Pria muda itu terlihat begitu tenang dan membuat Kim Jinnan terlihat semakin gagah. Kegagahan yang semakin istimewa atas kesantunan yang turut menyertai Kim Jinnan.


“Jinnan ... kamu datang?” sergah Irene kegirangan. Irene bahkan nyaris turun andai saja Atala tidak menahan mengingat Irene juga masih diinfus.


“Si Irene enggak ingat, tadi habis nangis-nangis, minta bantuanku? Berasa habis manis sepa dibuang, kalau begini caranya!” batin Atala yang merasa dicampakkan Irene detik ituk juga.


Kim Jinnan yang awalnya menoleh ke belakang, segera mengangguk sambil menatap Irene. “Iya,” ucapnya yang begitu sarat pengertian.

__ADS_1


“Ini bocah ngapain juga sampai ke sini? Serius, dia mau tanggung jawab? Bukankah dia sudah menikah? Tapi, masa, iya, dia mau menikahi Irene juga?” batin Atala tak hentinya bertanya-tanya, mengenai maksud Kim Jinnan datang ke sana. Di mana, seandainya Kim Jinnan sampai mau bertanggung jawab, Atala adalah orang pertama yang akan memaki pria itu.


Bersambung ....


__ADS_2