
“Mengenai cinta dan dengan siapa aku membaginya, biatkan Tuhan saja yang berbicara. Karena aku hanya akan menjalani sekaligus mengupayakan yang terbaik untuk setiap kisah yang Tuhan gariskan!”
Bab 22 : Usaha Hingga Akhir
“Sushi dari Jinnan? Memangnya kalian habis ketemu?” tanya Keinya terheran-heran.
Keinya menerima karton cukup besar yang Pelangi berikan dan dikata putrinya itu sebagai sushi pemberian Kim Jinnan.
Pelangi mengangguk di tengah kenyataannya yang masih tidak bersemangat.
“Ngie ... sushi dari Jinnan, mana?” seru Zean sambil berlari menuruni anak tangga. Zean terlihat sangat antusias.
“Tuh sama Mama. Ma, aku mau istirahat dulu, ya?” balas Pelangi.
Keinya segera mengangguk. “Ya sudah, kamu istirahat dulu.”
“Ma ... aku mau makan sushi!” rengek Zean untuk pertama kalinya dalam hidup mereka.
Keinya dan Pelangi sampai menatap Zean tidak percaya.
“Tadi dia sudah teleponan sama Jinnan. Mereka ngobrol, dan Kim Jinnan janji bakalan kirim sushi lewat aku,” bisik Pelangi.
“Ya ampun, Ngie ... si Zean nurut banget ke Jinnan,” balas Keinya sengaja berbisik juga. Kemudian ia memberikan karton berisi sushinya kepada Zean yang terlihat sudah tidak sabar.
“Ngefans berat katanya!” cibir Pelangi masih dengan suara lirih. “Tuh lihat saja, Ma ... rambutnya saja jadi dikasih pelumas sama jambul, biar mirip Jinnan, katanya!”
Keinya menghela napas sambil menggeleng tak habis pikir. “Ya sudahlah ... yang penting masih aman.”
“Ya sudah, Ma ... aku ke kamar, ya. Perihal Kim Jinnan, jangan terlalu Mama pusingkan. Gitu-gitu nurut kok sama aku,” pamit Pelangi.
Keinya mengangguk-angguk melepas kepergian Pelangi, sebelum akhirnya ia membantu Zean membuka setiap kotak sushi untuk Zean yang kesulitan.
“Kamu kan sudah sering makan sushi, kenapa harus seheboh ini?” ujar Keinya yang sampai jongkok bahkan bersimpuh di depan meja keluarga keberadaan sushi.
“Tapi ini dari Jinnan, Ma! Kim Jinnan! Aku ngefans sama dia!” balas Zean yang masih antusias.
“Kenapa kamu sampai ngefans ke dia?” balas Keinya lagi sambil membukakan bungkus sumpit dan memberikan sumpitnya kepada Zean.
“Dia ganteng, Ma. Keren! Dia juga suka kasih-kasih makanan ke orang miskin sejenis pengemis!” ucap Zean yang kemudian duduk di sofa dan segera menikmati satu kotak sushi menggunakan sumpit yang Keinya siapkan.
“Apa maksud Zean berkata seperti itu?” pikir Keinya yang kemudian memilih duduk di sebelah Zean. “Maksudnya, suka kasih-kasih makanan itu, bagaimana, Zean?”
Dengan mulut yang masih penuh sushi, Zean berkata, “Kim Jinnan orangnya baik, Ma. Setiap enggak sengaja lihat dia, dia pasti lagi kasih-kasih makanan. Kasih uang juga sama orang miskin!”
“Oh, mungkin maksud Zean, Jinnan dermawan?” pikir Keinya lagi. “Tapi, masa iya, ... hanya karena itu, kamu ngefans sama dia?” lanjutnya.
“Jangan salah, Ma! Jinnan itu sudah masuk internet! Dia tercatat sebagai generasi penerus pengusaha sukses, yang menjadi ancaman besar bagi kaum seusianya!” balas Zean masih menggebu-gebu.
“Ah, masa, sih?” balas Keinya ragu.
“Ah, Mama enggak gaul, nih! Kan majalahnya ada. Tuh di kamarku juga ada beberapa!” balas Zean yang kali ini sampai terlihat sebal.
Keinya menelan ludah tanpa kembali berkomentar. Namun jauh di lubuk hatinya, ia berniat untuk mencari tahu atau setidaknya bertanya kepada Yuan. Terlebih yang Keinya tahu, Kim Jinnan sebatas pemuda play boy yang juga memiliki catatan buruk.
“Oh, iya, Ma ... si Dean tadi pacaran sama Kishi!” Kali ini, Zean kembali menggebu-gebu.
Dengan mulut yang penuh sushi berikut Zean yang mengunyah cepat sushinya, bocah itu menatap Keinya penuh keyakinan.
“Jangan asal bicara nanti kak Dean ngambek,” balas Keinya mencoba memberi pengertian.
“Aku serius. Kalau Mama enggak percaya, tanya saja sama Dean!” Gaya Zean kali ini menjadi begitu santai.
Zean mengangguk-angguk sambil menuntaskan sushi di kotak miliknya yang tinggal satu potong. “Ma, ... sushi dari Jinnan enak banget. Itu sisanya buat aku lagi, ya?”
“Benar-benar fans fanatik nih bocah!” batin Keinya yang segera mengangguk. “Ya sudah. Dihabisin, ya. Jangan lupa minum juga. Tapi, masa, iya, kamu habisin sendiri, sedangkan sushinya ada lima kotak? Memangnya enggak kekenyangan?”
“Buat nanti malam, Ma. Yang penting kan enggak dikulkasin,” balas Zean yang langsung beranjak dari sofa dan meraih satu kotak sushi lainnya.
“Ya sudah. Ini mau disimpan di dapur? Mawa bawain sekalian?” tawar Keinya.
“Enggak usah, Ma. Aku simpan di kamarku saja. Nanti kalau dimakan sama Dean, gimana?” balas Zean.
__ADS_1
Semua tentang Kim Jinnan, selain begitu menganggumi pria itu, sepertinya, Zean juga tidak mau membaginya. Jadi, setelah kembali membantu Zean membuka kotak berbahan mika yang direkatkan menggunakan staples, Keinya memilih berlalu.
“Ma ... jangan lupa, bilangin si Dean, jangan pacaran terus, gitu!” seru Zean kemudian yang sukses mematahkan langkah Keinya.
“Bocah ini, paling senang kalau Dean dimarahi,” batin Keinya.
Keinya menatap Zean sambil menggelang tak habis pikir.
“Syukurin tuh! si Dean pasti dimarahi!” batin Zean yang menjadi semakin bahagia. Tak semata karena sushi pemberian Jinnan yang sedang ia nikmati, melainkan kemungkinan Dean yang juga akan dimarahi karena sibuk pacaran dengan Kishi.
***
Di kamar, Pelangi berangsur duduk di tepi kasur. “Hari ini si Faro pasti kesal banget,” pikirnya sambil melepas tas dan meletakannya begitu saja di lantai.
“Sudahlah, ... aku ngantuk.” Pelangi berangsur merebahkan tubuhnya seiring kedua matanya yang berangsur terpejam.
“Seharusnya tidak ada yang mengganggu, apalagi tadi, aku sudah bilang ke Jinnan, kalau aku mau langsung tidur,” pikir Pelangi.
Karena sejauh ini, satu-satunya orang yang berani mengganggu Pelangi hanya Kim Jinnan. Jadi, setelah sebelumnya mereka sudah sempat berbagi informasi mengenai apa yang akan dijalani satu sama lain, seharusnya Kim Jinnan tidak menganggunya lagi.
Namun, ada satu hal yang tiba-tiba menghiasi ingatan Pelangi. Ya, ketika Kim Jinnan sampai menitipkannya pada Rafaro sebelum perpisahan mereka. Entah karena Kim Jinnan sengaja membuat Rafaro cemburu, atau memang, karena Kim Jinnan sudah berubah menjadi orang yang jauh lebih berpikir?
***
Kishi : Adikku beneran cowok, De! 😆😆
Pesan WA dari Kishi membuat Dean refleks tersenyum. Tak seperti biasanya yang selalu akan mengabaikan setiap pesan mau pun panggilan telepon masuk tanpa terkecuali dari Kishi, kali ini, Dean langsung membalasnya.
Dean : Selamat, ya. Aku ikut senang dengarnya.
Kishi : Iya. Aku senang banget, sumpah! Tapi sayangnya, lusa mereka baru bisa pulang 😔
Dean : Ya enggak apa-apa. Yang penting semuanya sehat.
Kishi : Baiklah. Aku mau tidur siang dulu. Kamu juga istirahat, ya. Makasih banyak buat hari ini ♥️
Dean : Mimpi indah, ya.
Ketika Dean baru saja meletakkan ponselnya di meja belajar, tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Karena kalau tidak salah, tadi Kim Jinnan sempat mengobrol dengan Zean melalui telepon rumah. Dan sepanjang perbincangan yang membuat Zean begitu antusias, Kim Jinnan juga sedang bersama Pelangi di salah satu restoran yang menyajikan masakan Jepang. Di mana, Kim Jinnan sampai menawari Zean sushi yang membuat Zean menjadi semakin girang.
Dean tersenyum getir. Tak tega rasanya jika harus membayangkan apa yang baru saja ia pikirkan. Terlebih Dean paham, selain Rafaro sangat mencintai Pelangi, Kim Jinnan juga sangat pandai membuat lawannya emosi. Bisa jadi, tadi, Kim Jinnan sengaja pamer kemesraan di depan Rafaro.
Belum usai Dean berpikir mengenai penderitaan yang Rafaro lakukan, tiba-tiba saja, orang yang ia pikirkan tersebut justru mengiriminya pesan WA.
“Panjang umur nih orang!” ucap Dean yang kemudian langsung membaca pesan dari Rafaro.
Rafaro : De, sebenarnya Ngi-ngie sama pria itu, asli apa pura-pura, sih?
Membaca pesan tersebut, Dean jadi bingung sendiri. “Terus, aku harus jawab apa?” pikir Dean.
Demi menjaga hubungannya dengan Kishi lantaran takut Rafaro sampai membatasi restunya, Dean pun membalas pesan tersebut.
Dean : Aku juga kurang tahu, Raf. Kalau urusan itu, Ngi-ngie juga enggak kasih penjelasan gamblang. Tapi sejauh ini, Ngi-ngie sama Jinnan ya begitu.
Rafaro : Begitu bagaimana? Kalai kamu memang tahu, jujur saja.
Dean : Aku no komen, Raf. Kalau kamu mau tahu jelasnya, mending kamu tanya saja sama Ngi-ngie.
Setelah mengetik dan mengirimkan pesan tersebut pada Rafaro, Dean buru-buru beranjak dari depan laptopnya. Dean sampai berlari menuju tempat tidur yang keberadaannya ada di belakang meja belajar, sebelum akhirnya membantingkan diri di sana.
“Ampun, Ngie ... aku enggak bermaksud macam-macam. Tapi aku balas begitu biar posisiku aman, dan aku juga enggak salah info!” uring Dean yang sampai menutupi wajahnya dengan bantal.
***
Di kamar, Pelangi yang belum lama terpejam, mendapatkan panggilan masuk di ponselnya. Dan kenyataan tersebut sukses membuat Pelangi naik pitam.
Pelangi langsung merogoh saku seragam bagian dadanya dan mengeluarkan ponselnya dari sana. Tanpa memastikan sang penelepon, ia langsung berkata, “Kim Jinnan, kamu ini enggak ngerti bahasa manusia apa bagaimana?!”
Tidak ada balasan. Dari seberang benar-benar terdengar senyap. Hingga akhirnya Pelangi menyadari jika apa yang dilakukannya salah. Karena bisa jadi, yang meneleponnya bukan Kim Jinnan.
“Rafa?” batin Pelangi sembari mengerutkan dahi setelah ia terpaksa membuka matanya untuk memastikan si penelepon.
__ADS_1
“Ini aku, bukan dia. Sudah kuduga. Kalian memang sandiwara. Dia, memaksamu, kan?” balas Rafaro dari seberang.
“Raf, aku capek. Aku mau istirahat dulu, ya?” balas Pelangi yang mulai kewalahan menghadapi Rafaro.
“Iya. Istirahatlah. Tapi kamu jangan sampai mengorbankan dirimu, hanya untuk hubunganku dan Mo. Kami akan baik-baik saja, meski kita tetap bersama, Ngie!” dari seberang, Rafaro masih sibuk meyakinkan.
Pernyataan Rafaro sukses membuat Pelangi bergeming. Pelangi yang bahkan menjadi tidak mengerti mengenai perasaannya sendiri. Ya, Pelangi tidak yakin pada siapa hatinya memilih. Rafaro yang selalu membuatnya nyaman? Mo yang selalu membuat Pelangi tertawa? Atau, ... Kim Jinnan yang selalu membuat Pelangi emosi, tetapi akhir-akhir ini, ada sisi berbeda yang membuat Pelangi mau-mau saja menerima Kim Jinnan dalam hidupnya?
Sungguh, Pelangi saja tidak bisa memahami isi hatinya. Apalagi jika Pelangi harus menjelaskan perihal apa yang Pelangi rasakan? Itu juga yang membuatnya terdiam cukup lama. Membuat Rafaro di seberang sana, semakin menunggunya.
“Mengenai cinta dan dengan siapa aku membaginya, biatkan Tuhan saja yang berbicara. Karena aku hanya akan menjalani sekaligus mengupayakan yang terbaik untuk setiap kisah yang Tuhan gariskan!” batin Pelangi.
“Iya, Raf. Terima kasih.” Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Pelangi mengakhiri sambungan telepon mereka. Dan setelah itu, Pelangi yang telanjur pusing menghadapi cinta dari pria-pria di sekitarnya, menjadi tidur sangat pulas.
***
Di kamarnya, Rafaro yang duduk di tepi kasur, dan masih menggenggam erat ponselnya, menjadi memiliki pemikiran baru. “Dengan kata lain, enggak salah, kan, jika aku juga masih berusaha mendapatkan Pelangi?” pikirnya. “Tak peduli apa pun, juga siapa pun yang harus kami jaga, termasuk Mo?”
Rafaro sudah berpikir untuk ke sekian kalinya perihal hubungannya dengan Pelangi. Dan selama itu juga, tidak ada kesimpulan atau keputusan lain yang lebih tepat kecuali memperjuangkan cintanya kepada gadis itu.
“Kalaupun Mo juga mau kembali berjuang, aku oke oke saja. Bahkan meski aku harus kalah karena Mo yang Ngi-ngie pilih. Ini jauh lebih baik ketimbang Ngi-ngie berkorban terlalu banyak!” pikir Rafaro lagi sebelum akhirnya membantingkan diri ke kasur.
Tak beda dengan Pelangi, Rafaro juga berangsur memejamkan kedua matanya. Dan Rafaro tidur sangat pulas setelah pemuda itu menemukan keputusan yang paling tepat untuk masa depan cintanya. Mengenai perjuangan, berikut akhir dari perjuangan itu sendiri. Rafaro akan berusaha hingga semuanya benar-benar berakhir.
***
Keesokan harinya, semuanya berjalan dengan semestinya. Mereka menjalani aktivitas layaknya rencana. Meski ketika di jam istirahat, Pelangi juga mendapatkan kunjungan dari Kim Jinnan. Bahkan, pria muda itu tak segan tetap bertingkah kendati Pelangi sedang bersama Yuan.
“Sudah kubilang, aku ada bekal makanan dari rumah, masih saja ngeyel!” omel Pelangi yang juga tak canggung melakukannya kendati Yuan masih bersama mereka.
Pelangi dan Yuan memang sedang makan siang. Keduanya memakan bekal buatan Keinya. Sedangkan Kim Jinnan yang baru datang, juga sampai membawa makanan. Kim Jinnan membawa beberapa kotak makanan yang dipesannya dari restoran.
“Itu mama yang masak? Bagilah ... itu pasti lebih enak dari masakan koki ternama sekalipun. Nih, kamu makan ini saja!” pinta Kim Jinnan yang sukses membuat Yuan tertawa.
“Benar, kan, Om? Masakan istri jauh lebih enak dari masakan siapa pun tanpa terkecuali koki andal?” ujar Kim Jinnan yang sampai menatap serius Yuan.
Yuan yang masih menahan senyumnya, segera mengangguk-angguk.
Kotak bekal Yuan dan Pelangi, benar-benar berisi masakan sederhana. Masakan rumahan ala Keinya. Ada tumisan sayur, ayam goreng lengkap dengan sambal, telur balado dengan bumbu merah yang menyala, selain sup iga sapi yang dipadukan dengan kacang tolo dan wortel.
“Kamu makan juga. Tante Keinya selalu sengaja membawa bekal lebih, kok,” ucap Yuan dan sukses membuat Kim Jinnan tersenyum semringah.
“Kim Jinnan, kamu ini enggak tahu malu banget, sih?” batin Pelangi sembari menatap sebal Kim Jinnan yang duduk di sebelahnya.
“Oh, iya ... omong-omong, makasih banyak buat sushinya. Zean sangat suka, sampai-sampai, semua sushinya dia umpetin buat dimakan sendiri,” lanjut Yuan yang kemudian memadahkan semangkuk sup dan ia berikan kepada Kim Jinnan.
Di ruang kantor khusus tersebut yang sering digunakan untuk makan, memang ada stok seperangkat alat makan tanpa terkecuali pisau buah.
Kim Jinnan menjadi tersipu dan segera menerima semangkuk sup dari Yuan. “Sama-sama, Om. Kebetulan, kemarin saya sudah berjanji kepada Zean, tetapi karena jadwal yang tiba-tiba berubah, saya menjadi tidak bisa menepati janji tersebut.”
“Iya. Om lihat, sekarang kamu mulai sibuk menggantikan kakek Jungsu, ya?” saut Yuan sembari menikmati sup miliknya, setelah sampai memberikan semangkuk sup kepada Pelangi.
“Alhamdullilah, Om. Besok saja, saya akan keluar kota untuk beberapa hari.” Kim Jinnan mengangguk mantap.
“Si Jinnan, gayanya alim bener. Eh, dia mau keluar kota? Syukurlah, ... dengan kata lain, beban hidupku bakalan berkurang,” batin Pelangi sambil melirik sinis Kim Jinnan.
“Mm ... ini sangat enak, Om!” seru Kim Jinnan tiba-tiba, sesaat setelah ia baru saja mulai memakan sup yang Yuan berikan.
Sekali lagi, Yuan hanya menanggapinya dengan tawa lepas. Antara menghergai usaha Jinnan dalam mendapatkan simpatinya, juga kenyataan masakan Keinya yang memang sangat enak.
“Aku pasti bakalan rindu sama masakan tante Keinya,” ujar Jinnan kemudian.
“Kalau memang ada waktu, kamu main saja ke rumah. Setiap hari, tante Keinya selalu masak, kok,” balas Yuan.
“Oh, siap, Om. Ini kode keras, ya, Om?” sambut Kim Jinnan semringah dan lagi-lagi sukses membuat Yuan tertawa. “Semoga, aku bisa jadi mantu idaman ya Alloh!” batin Kim Jinnan.
“Ini cowok-cowok sebenarnya kenapa, sih? Ketawa mulu!” batin Pelangi yang menjadi merasa bosan.
Tak terbayang oleh Pelangi, apa yang akan terjadi jika kejadian layaknya sekarang juga menjadi rutinitas barunya. Bisa jadi, tensi darahnya semakin tinggi. Bahkan tak menutup kemungkinan, Pelangi akan mengalami stroke dini lantaran harus terus-menerus menahan emosi.
Bersambung ....
__ADS_1
Di bab selanjutnya, bakalan ada Mo yang masih usaha ngejar Pelangi, yaa 😂😂😂
Duh Kim Jinnan, mantu idaman 😆😆😆