Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 71 : Temu


__ADS_3

“Meski temu ibarat penawar rindu, sampai kapan pun, aku juga selalu merasa ada yang kurang, di setiap aku jauh dari kalian.”


Bab 71 : Temu


****


“Tapi tunggu, Mi ...,” tahan Keinya yang kembali mengambil alih ponselnya.


“Kenapa?” Khatrin terheran-heran. Setelah menatap Keinya, ia juga melirik Kainya yang sampai menatap Keinya dengan mengernyit sesaat setelah bersedekap. Bahkan Kainya sampai bangkit dari duduknya.


“Ada masalah?” sela Kainya.


Keinya menghela napas pelan kemudian menekan tombol merah di layar ponselnya untuk menolak telepon dari Athan.


“Kenapa malah ditolak, enggak diangkat saja? Biar Mami yang urus kalau kamu memang enggak mau berurusan lagi sama dia,” keluh Khatrin. “Mami geregetan sama orang kayak dia!” tanpa ia sadari, ke dua tangannya saling remas di depan perut.


Keinya menggeleng. “Biar Yuan yang urus. Lagi pula, semua telepon masuk yang aku tolak langsung otomatis masuk ke nomor Yuan. Yuan sudah mengurus semuanya. Ya sudah, aku mau istirahat dulu sambil menunggu telepon dari Yuan. Sebentar lagi dia pasti telepon.” 


Keinya berlalu dengan langkah loyo. Ia merasa sangat lelah dengan kehidupan yang harus ia jalani. Mungkin karena beberapa bulan terakhir, hidupnya terlalu dimanja oleh Yuan. Di mana, dia bahkan sampai merasa menjadi manusia yang tidak berpikir. Semuanya benar-benar mudah. Sangat jauh dari sekarang sesaat setelah ia jauh dari pria itu. Karena semenjak Keinya jauh dari Yuan, satu persatu masalah menghampiri dan mempersulit hidup Keinya, sampai-sampai Keinya kewalahan dan jadi gampang emosi, marah-marah bahkan stres. Belum lagi, kesehatan Pelangi juga ikut terganggu dan itu makin membuat Keinya merasa tertekan.


Kepergian Keinya ke kamar meninggalkan Kainya yang kembali murung setelah ikut tegang terbawa emosi ketika mengetahui Athan menelepon Keinya.


“Kamu juga bisa dapat pria baik seperti Yuan,” ujar Khatrin berusaha menghibur Kainya.


Kainya menghela napas dengan kegelisahan yang membuatnya terlihat menyedihkan. “Memang masih ada, ya, Mi, pria seperti Yuan? Kalau masih, aku mau, meski harus melalui proses perjodohan,” ucapnya serius, tetapi buru-buru menambahi, “tapi beneran khusus yang seperti Yuan! Enggak harus kaya, asal perhatian dan tanggung jawab deperti Yuan!”


“Berarti Ben, enggak masuk, ya?” Khatrin termenung.


“Langsung eliminasi, Mi!” Kainya telanjur kesal pada Ben apalagi bila ia teringat cara pria itu menjebaknya sewaktu di tempat parkir mal Fahreza grup. “Memangnya pria kasar seperti dia, punya rasa tanggung jawab? Bisa-bisa aku jadi korban KDRT!”


Khatrin mengangguk mengerti. “Ya sudah, jangan membahas orang-orang yang enggak kita harapkan. Nanti kalau kejadiannya kayak mantan Keinya, kamu sendiri yang bakalan repot. Kan kamu sendiri yang tadi bilang begitu?”


“Ih, amit-amit!” Kainya langsung berlalu sambil menggetok-getok kepalanya.


Namun sepertinya keyakinan jika membicarakan orang yang tidak diharapkan selalu menjadi benang merah orang itu kembali pada kita memang benar adanya. Faktanya, baru juga menginjakkan kakinya di anak tangga pertama yang menghubungkan ke lantai atas selaku keberadaan kamarnya, seorang asisten rumah tangga mereka mengabarkan, Ben datang mencari Kainya.


“Ben mencari saya, bukan Keinya?” Kainya memastikan dari tempatnya berpijak sambil berpegangan pada pegangan tangga.


“Iya, Non. Bahkan tadi Tuan Ben sampai mengulang nama Non Kainya sambil memastikan kalau Tuan Ben mencari Non Kainya, bukan Non Keinya,” balas ART-nya sopan. Wanita bertubuh segar itu berlalu sambil membawa nampan berisi gelas kotor.


“Temui sebentar. Tegaskan dari sekarang!” bujuk Khatrin.


Kainya menggeleng. “Sepertinya Keinya jauh lebih cocok menghadapi Ben, apalagi emosi Keinya sekarang sedang sangat meledak-ledak. Pasti Ben akan langsung ketakutan enggak berani ganggu lagi.”


Khatrin menggeleng sambil tersenyum. “Kalau kamu mau, kamu juga boleh memarahi Ben. Dengan catatan, Ben memang salah.”

__ADS_1


Kainya mendengkus kesal. “Baiklah, aku siap-siap dulu,” ucapnya setengah hati.


****


Keinya baru saja memejamkan mata sedangkan Pelangi yang duduk di dekat kepalanya sibuk memukuli wajah Keinya, ketika telepon masuk dari Yuan menghiasi ponselnya.


“Iya, Yu?” ucap Keinya menjawab telepon dari Yuan sambil duduk menyandar pada sandaran tempat tidur, sejajar dengan Pelangi.


“Kamu sedang tidur?” balas Yuan dari seberang sana dan langsung bisa memahami apa yang terjadi.


Sambil menguap, Keinya berkata, “enggak mungkin. Pelangi saja sibuk memukul wajahku terus jambak-jambak.”


Dari seberang, Yuan langsung tertawa, sedangkan Keinya telanjur memejam. Namun karena mendengar suara pecah, Keinya langsung terlonjak memastikannya. Belum ada dua menit tidak diawasi, gelas yang letaknya persis di nakas sebelah kasur keberadaan Pelangi, sudah pecah. Pelangi yang melakukan itu. Dan Keinya langsung menempatkan Pelangi ke tengah-tengah kasur.


“Ribetnya jadi ibu. Mau istirahat belum ada dua menit saja ... sabar, Kei. Nantinya kamu juga kangen suasana ini,” batin Keinya. 


Keinya menatap lemas pecahan gelas yang awalnya menemani dua botol air mineral berukuran 1,5 liter di nakas.


“Ada yang pecah?” tanya Yuan dari seberang.


Keinya mengangguk lemas sambil bergumam, “Gelas di nakas dibanting Pelangi.”


“Jauhkan Pelangi dari barang-barang yang berbahaya.”


“Kalau sudah tolong pergi ke depan, aku ada kirim orang antar makanan buat kalian.”


“Kan bisa dititipkan ke satpam?” Keinya segera jongkok untuk membereskan pecahan gelas yang terserak di lantai.


“Enggak ... aku sudah minta ke orangnya agar kamu yang langsung ambil.”


“Ya ampun, Yu? Kenapa kamu jadi ribet seperti ini? Ya sudah kalau begitu aku langsung keluar. Kasihan orangmu kalau harus menunggu lebih lama lagi.” Keinya menghela napas, merasa tak habis pikir dan meninggalkan pecahan gelas yang sudah ia kumpulkan di helai tisu. Ia melangkah hati-hati meninggalkan area pecahan gelas kemudian menghampiri Pelangi yang sudah mulai menarik-narik kabel lampu meja di nakas sebelah. Dikarenakan Pelangi juga kembali aktif menjambaknya, Keinya pun terpaksa menurunkannya dari gendongan. Ia meraih ikat rambut di nakas keberadaan dua botol air mineral kemudian mencepol rambutnya tinggi sekaligus kencang.


***


Yang membuat Ben terkejut, kenapa Keinya menggendong anak kecil bahkan balita? Wanita itu bahkan tidak meliriknya yang duduk di ruang tamu selaku ruang pertama di rumah keluarga Keinya setelah pintu masuk utama.


“Itu anak siapa?” tanya Ben pada Kainya yang duduk di hadapannya dan sedari awal menemuinya menyikapinya dengan dingin.


“Ya anak Keinya. Masa anak tetangga apalagi kamu?” balas Kainya sambil melirik sebal Ben.


Ben refleks menelan salivanya saking terkejutnya. Wanita yang ia cintai ternyata sudah punya anak? “Memangnya, kapan Keinya menikah?” tanyanya refleks tanpa bisa menutupi keterkejutannya. Ia benar-benar dibuat penasaran lantaran bila diamati, Keinya seperti wanita yang belum menikah. Tubuh pun terbilang proporsional sedangkan gerak-gerik Keinya masih sangat lincah.


Bukannya menjawab, Kainya justru terdiam sesaat setelah menghela napas sambil bersedekap dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa tempatnya duduk.


Merasa diabaikan, Ben melirik ke luar rumah, mencoba memastikan apa yang Keinya lakukan di sana.

__ADS_1


****


Keinya terus melangkah ke luar sambil menggendong Pelangi tanpa menggunakan kain emban. Ia sengaja ke gerbang dan langsung disambut oleh satpam yang berjaga.


“Pak, ada orang yang mau kirim barang buat saya?” tanya Keinya kepada satpam tersebut yang langsung membukakan gerbang untuknya.


“Iya, Non. Itu di depan,” jawab satpam tersebut dengan sopan sambil menunjuk sosok pengguna jaket hitam hijau yang menunggu di dekat pohon bambu kuning dan keberadaannya persis di depan ruang satpam. “Tadi saya tanya keperluannya, tapi Masnya bilang sudah telepon Non Keinya,” tambah si satpam.


Keinya mengangguk. “Oh, oke, Pak. Makasi. Orangnya memang sudah menghubungi saya.”


Belum sempat memanggil pria yang dimaksud, Keinya langsung mundur terkesiap kemudian tergelak sesaat pria yang dimaksud balik badan dan menatapnya.


“Sejak kapan kamu jadi ojol, Yu?” tanya Keinya yang masih terpingkal-pingkal.


Yuan menghampiri Keinya sambil menggeleng tak habis pikir. Untuk pertama kalinya ia melihat Keinya terpingkal-pingkal, tetapi itu karena menertawakannya.


“Menurut gosip yang disebarkan Tiara, aku ini ojol, kan?” ucap Yuan sengaja menggoda Keinya.


“Baiklah. Berarti aku berhasil bikin kamu senang bahkan sampai terpingkal-pingkal, setelah empat hari ini kamu lalui dengan marah-marah, kan?” ucap Yuan yang kemudian membentangkan ke dua tangannya sambil melakukan gerakan wajah, agar Keinya mendekat dan masuk ke dalam dekapannya.


Keinya menjadi terbesit. Ia melangkah mendekati Yuan tanpa bisa mengakhiri senyum berikut tatapannya kepada ke dua mata Yuan yang juga terus menatapnya penuh cinta. Tatapan yang benar-benar tidak pernah berubah selama ia mengenal pria itu. Justru, setelah empat hari tidak bertemu, rasa rindu yang sempat menyiksa mereka dan berakhir dengan temu, membuat cinta di antara mereka semakin kuat. 


Akhirnya Keinya kembali merasakan sekaligus memiliki tempat yang selalu membuatnya merasa sangat nyaman—dada berikut dekapan Yuan.


“Sekilas jaket ini memang kayak seragam. Padahal aku belinya edisi khusus,” ucap Yuan masih mendekap tubuh Keinya berikut Pelangi yang langsung ia ciumi pipinya.


“Edisi khusus buat ngibulin aku?” tebak Keinya sambil menengadah menatap Yuan.


“Lebih tepatnya begitu,” balas Yuan sambil tersenyum bangga lantaran usahanya membuat Keinya terkejut bahkan tertawa lepas berhasil. “Mmmm! Baru empat hari enggak ketemu rasanya sekangen ini!” sergah Yuan sambil memejamkan mata dan sengaja menggoda Keinya karena ia buru-buru berkata pada Pelangi, “empat hari ini Mama begitu, kan? Saking kangennya ke Papa, Mama marah-marah mulu? Ya ampun, kasihannya kamu jadi korban emosi Mama. Sini 


… sini, sama Papa.”


Yuan mengambil alih Pelangi. Ia menimang-nimang dan sampai mengangkat Pelangi tinggi. Sedangkan Keinya yang ada di belakang ke duanya tak mampu menahan air matanya. Namun Keinya buru-buru mengelap air matanya.


Tidak ada yang setulus Yuan dalam hidup Keinya dan Pelangi. Tidak ada yang mencintainya dan Pelangi lebih dari Yuan, bahkan setengahnya pun tidak. Juga, belum ada yang bisa membuat Pelangi seceria sekarang.


“Ngie-ngie, dengarkan Papa,” ucap Yuan sesaat menempelkan sebelah wajahnya ke sebelah wajah Pelangi. “Di mana pun Ngie-ngie berada, Ngie-ngie harus bisa menyesuaikan diri. Ngie-ngie harus tetap sehat, bahagia seperti sekarang karena semuanya juga sayang Ngie-ngie. Ini rumah Oma, lho ... Oma juga sayang Ngie-ngie. Nantinya, Papa juga datang buat ketemu Ngie-ngie. Ngie-ngie enggak boleh sumeng lagi, ya. Ngie-ngie juga harus jagain Mama biar Mama enggak marah-marah terus ....”


Kali ini Yuan menatap Pelangi penuh cinta. Sedangkan Keinya tak kuasa menahan jerit batinnya yang sudah menangis meronta-ronta saking terharunya. Keinya mendekap punggung Yuan dan membenamkan wajahnya di sana sambil terisak-isak. Terpikir olehnya, kenapa mereka tidak bertemu dan bersama dari dulu saja?


“Mama juga jangan nangis apalagi sedih, ya? Justru, dengan jarangnya temu, rasa rindu di antara kita juga membuat cinta kita semakin kuat, kan?” ucap Yuan.


“Meski temu ibarat penawar rindu, sampai kapan pun, aku juga selalu merasa ada yang kurang, di setiap aku jauh dari kalian. Bahkan meski sekarang kita sama-sama, tapi aku yang sadar restu belum membersamai hubungan kita, rasanya sungguh menyakitkan!” batin Yuan.


****

__ADS_1


__ADS_2