
“Meski orang lain boleh berkomentar bahkan merasa lebih benar, tetapi semuanya kembali pada kita yang menjalani, kan? Toh, komentar orang lain nggak bisa menjamin kebahagiaan kita? Memangnya sejak kapan, komentar orang lain bisa menjamin kebahagiaan atau setidaknya bisa membuat perut kita kenyang?”
Bab 12 : Wanita Hebat
Di dalam lift, Mia mengoreksi penampilannya melalui cermin bedaknya. Ia mengeluarkan lipstik dari tas tangannya. Warna merah menyala seketika melekat di bibir seksinya. Kemudian, merasa kurang pas dengan bulu matanya, ia juga mengeluarkan maskara setelah menyimpan lipstiknya. Ia menggunakan itu dengan hati-hati hingga akhirnya lift terbuka tepat ketika ia menutup maskaranya. Penuh optimis bertabur senyuman, ia melanglah meninggalkan lift.
Wanita seksi itu mengikuti tikungan lorong yang tak lama kemudian membuatnya berada tepat di depan pintu hotel tempat Yuan menginap. Masih ia ingat betapa tampannya Yuan, ketika pria itu menolaknya dan mengatakan sudah menikah, tanpa sedikit pun meirik padanya. Baginya, itu tindakan sangat langka. Bahkan karena itu juga Yuan menjadi spesial di matanya. Itu kenapa, malam ini ia sengaja mengosongkan jadwalnya agar bisa menemui Yuan dengan leluasa.
Tank top hitam ia pilih sebagai pelengkap kemeja lengan panjang yang kedodoran dan sengaja tidak ia kunci kancingnya demi menonjolkan keindahan buah dadanya. Sedangkan untuk bawahannya, ia mengenakan celana levis sepaha yang bahkan dipenuhi sayatan di bagian depannya.
Di antara ketegangan yang menyergap bersama rasa gugup, Mia ai wanit seksi berambut pirang itu menekan tombol bel di sebelah pintu.
***
Di dalam kamarnya, Keinya dan Yuan sedang bahu-membahu mengurus Pelangi yang sakit. Selain rewel dan demam, Pelangi juga terkena cacar. Itu kenapa mereka batal pindah hotel termasuk jalan-jalan keluar. Terhitung, seharian ini mereka hanya di dalam kamar. Bahkan makan pun mereka lakukan di kamar.
Keinya menggendong Pelangi sambil menimangnya, sedangkan Yuan mengajak Pelangi berinterakhi melalui mainan kerincing berbentuk ikan warna kuning.
“Coba sini ikut Papa,” ucap Yuan sembari menyodorkan kedua tangannya ketika bel terdengar. Dengan kata lain, seseorang menekannya dari luar.
Yuan mengerutkan dahi. “Ma, kamu pesan sesuatu?”
Keinya menatap bingung Yuan. “Enggak, tuh. Aku pikir malah kamu yang pesan?”
“Tapi aku juga enggak?”
“Ya sudah dicek. Siapa tahu ada yang salah,” ujar Keinya sambil mengelus-elus kepala Pelangi yang berangsur berhenti menangis.
Yuan tersenyum geli. “Sayang, ini hotel berbintang, bukan indekos apalagi kontrakan. Ngapain orang yang nggak berkepentingan datang? Lagi pula, kita sama-sama nggak ada janji, kan?”
Keinya menatap teduh suaminya. “Ya sudah, aku saja yang buka pintu.”
“Jangan sembarangan buka pintu,” tahan Yuan yang awalnya akan duduk di tepi kasur.
Keinya balik badan. “Terus?” ucapnya mulai sebal.
“Biar aku saja. Kamu duduk saja.”
Keinya menghela napas cepat melepas kepergian suaminya. Namun belum juga ia duduk sesuai titah dari Yuan, pria itu sudah memanggilnya.
Dengan sebal, Keinya menyusul.
“Apa ...?” seru Keinya.
“Temani aku,” balas Yuan dengan ekspresi yang menjadi dingin.
Kenapa Yuan terlihat marah? Tapi masa, dia marah ke aku? batin Keinya.
Yuan membuka pintu dan menatap wanita di hadapannya sambil mengerutkan dahi. Terlebih, ketika ia memastikan melalui CCTV di sebelah pintu sebelum membukanya, ia langsung mengenali wanita itu. Pagi tadi, ketika ia keluar untuk menghubungi orang kantornya, agar suaranya tidak mengganggu Keinya dan Pelangi yang masih tidur, wanita di hadapannya sudah menemuinya. Yuan masih ingat walau tadi, ia hanya menatap wanita itu sekilas melalui kop pintu. Rasanya aneh saja, wanita itu justru datang di tengah waktu yang sudah tidak memungkinkan untuk bertamu, terlebih sedari awal ia memastikan di CCTV, wanita berpenampilan seksi dan merias wajahnya dengan rias tebal itu, tak hentinya tersenyum seperti sengaja akan menggoda.
“Hallo? Anda masih ingat saya? Saya yang tadi pagi. Eh, maaf, saya sengaja berbicara dengan bahasa Indonesia, karena tadi, saya tidak sengaja mendengar Anda berbicara dengan bahasa Indonesia.”
Benar dugaan Yuan, wanita di hadapannya bukan wanita baik-baik dan sengaja menggodanya.
Lain halnya dengan Yuan, Keinya yang masih di balik pintu justru sampai berhenti bernapas saking terkejutnya mendengar suara si wanita. “Masih ingat? Yang ... yang tadi pagi? Wanita ini siapa dan apa hubungannya dengan Yuan?” pikirnya curiga.
“Tidak sengaja mendengar? Berarti pendengaran Anda masih cukup baik?” ulang Yuan masih mengerutkan dahi.
Mia langsung mengangguk di tengah keantusiasannya. “Boleh, saya masuk?” pintanya tanpa basa-basi.
Dada Keinya menjadi sesak. Apalagi ketika ia juga mendengar langkah nyaris masuk. “Kalau kamu mau masuk, kamu harus berhadapan dulu denganku!” tegasnya. Ia menatap kesal sekaligus jijik wanita yang bersangkutan dan terlihat jelas sangat terkejut melihat keberadaanya.
__ADS_1
Mia terlonjak kaget, menatap Keinya tidak percaya.
“Dia istri saya!” tegas Yuan. “Dan bukankah tadi pagi sewaktu kamu mengenalkan diri, saya langsung menegaskan bahwa saya sudah menikah?”
“Sebagai seorang wanita, saya merasa heran sekaligus malu dengan cara Anda menggoda seperti ini,” saut Keinya sambil menatap sekaigus menggeleng tak habis pikir.
“Kalau memang tidak ada urusan, tolong pergi. Bahkan sekalipun kamu tidak memakai pakaian sekalipun, saya tidak akan tergoda karena saya sudah memiliki istri saya!” tegas Yuan yang kemudian menuntun Keinya untuk masuk.
Keinya tak lantas mengikuti tuntunan Yuan. Ia masih menatap kesal sekaligus jijik, wanita di hadapannya. “Tolong, jaga sikap Anda. Karena tanpa harus bersikap murahan, Tuhan sudah menyiapkan jodoh untuk Anda. Kalaupun Anda ingin memiliki jodoh yang baik, Anda juga harus bersikap baik. Bukan menyelinap ke kamar hotel pria, malam-malam!”
Yuan menghela napas pelan. “Masih ada yang ingin kamu katakan?” tanyanya sambil menatap Keinya penuh cinta.
Keinya menggeleng sambil menelan ludah. “Sayang, hatiku sakit gara-gara wanita itu. Selain karena dia berani-beraninya mengganggumu padahal kamu sudah pakai cincin nikah bahlan kamu sudah bilang ke dia kamu sudah menikah, aku juga malu hanya karena aku wanita sama seperti dia ....” Keinya sengaja mengatakan itu dengan suara yang lantang.
Yuan mengangguk menunjukan kepeduliannya sembari menuntun Keinya masuk.
“Salah, jika seorang wanita panggilan sepertiku juga mencintai suamimu!” tegas Mia yang sakit hati sambil berlinang air mata.
Langkah Yuan dan Keinya refleks berhenti, tetapi detik berikutnya Yuan menjadi sibuk menenangkan Keinya untuk tidak menggubris Mia.
“Bayangkan kalau kamu jadi aku, dan tanyakan itu kepadamu!” teriak Keinya.
Mia tertunduk sambil terisak-isak.
“Pergi dari sini dan jangan pernah menggaggu kami lagi!” hardik Yuan.
“M-maaf,” ucap Mia di tengah isaknya, tetapi Yuan dan Keinya telanjur masuk, di mana Yuan juga sampai membanting pintu ketika menutupnya.
***
Kiara baru saja membuka matanya dengan hati yang berbunga-bunga. Ia memang baru bangun tidur, bukan pingsan apalagi sakit, karena kedua hal tersebut hanya bagian dari sandiwaranya untuk menolak Rara. Hanya saja, yang membuatnya terkejut bahkan ia sampai terlonjak, tak lain ketika ia menoleh ke sampingnya, sedangkan Rara justru ada di sana.
Rara yang awalnya tengah sibuk mengetik menggunakan laptop, menatap bingung sang mertua. “Karena aku menantumu, itu kenapa aku terjaga di sini. Mama kan sedang sakit itu krnapa aku menjaga Mama di sini.”
Kiara menggeragap. Bingung mau berkata apa, sedangkan kebenciannya terhadap Rara masih sangat besar. “Siapa yang mau dijaga olehmu, dan siapa pula yang mengizinkanmu masuk ke kamar saya?!”
Meski Kiara makin meledak-ledak dalam bertuturnya, tetapi Rara masih bertahan dengan sikap tenang yang bahkan begitu santai. Pun meski nada suara Kiara juga terdengar depresi.
“Keluar ... cepat keluar!” teriak Kiara kemudian.
“T-tapi, Ma ....”
“Jangan panggil aku mama!” saut Kiara masih berteriak.
“Tetapi aku menantumu,” balas Rara berusaha menjelaskan.
“Aku tidak sudi memiliki memantu sepertimu! Lagi pula, aku tidak pernah menyetujui hubunganmu dengan anakku!”
“Meski Mama nggak setuju, tetapi Kimo sangat mencintaiku, Ma ... kami saling mencintai.”
“Persetan dengan cinta, cepat pergi dari sini!”
Rara terdiam pasrah menatap sang mertua penuh rasa kecewa. “Mama berbicara seperti itu, seolah-olah Mama nggak punya perasaan dan bahkan hati. Mama tahu Kimo lebih dari siapa pun bahkan melebihi apa yang kutahu.”
“Kalau memang aku ini sangat hina, nggak mungkin Kimo sampai melangkah bersamaku sejauh ini, Ma. Bahkan Kimo juga ggak mungkin mengorbankan hubungan kalian.”
“Satu lagi, sekalipun buah nggak pernah jatuh jauh dari pohonnya, tetapi setiap buah juga nggak pernah memiliki bentuk bahkan rasa yang persis.” Rara mengatakan itu dengan hati yang terluka.
“Kalau memang hanya masalah statusku, seharusnya semua itu sudah cukup menjawab ketidaksetujuan Mama terhadap hubungan kami.”
Meski Rara sampai berlinang air mata, tetapi hal tersebut tak lantas membuat Kiara iba.
__ADS_1
“Kalau memang Mama ingin aku pergi, berarti nanti Kimo juga nggak pulang ke sini lagi. Karena meski Kimo anak Mama, tetapi semenjak Kimo menikahiku, kewajibannya lebih besar kepadaku ketimbang Mama.” Rara menyeka air matanya.
Kiara menepis Rara.
“Ya sudah. Mama mau disiapkan sarapan apa?”
Kiara tetap diam.
“Ma, Mama harus terbiasa menerima keberadaanku. Sekarang aku istri Kimo, menantu Mama.”
“Sudah diam jangan berisik!” bentak Kiara yang sampai melemparkan bantal guling ke wajah Rara.
Rara langsung menangkap bantalnya kemudian meletakkannya di kasur Kiara.
“Hubunganku dan Kimo, juga hubunganku dengan Mama itu nyata, Ma. Nggak bisa diubah apalagi direkayasa,” ucap Rara sarat kesabaran.
“Kalau kamu berharap jadi menantu di sini, kerjakan semua pekerjaan rumah tanpa bantuan siapa pun!” tantang Kiara.
Rara terdiam sembari mengerutkan dahi. “Mama ini bagaimana? Aku ini menantu, bukan pembantu. Kalaupun aku harus melakukan beberapa pekerjaan, aku masih bisa. Tetapi jika harus mengerjakan pekerjaan rumah sebesar ini, lebih baik aku keluar uang untuk membayar pekerja. Begini-begini, aku juga punya pekerjaan tetap. Bahkan tanpa nafkah dari Kimo, aku masih bisa hidup lebih dari berkecukupan. Jadi Mama nggak usah khawatir aku sampai menghabiskan uang Kimo.”
Penjelasan demi penjelasan Yang Rara berikan membuat Kiara semakin tertekan. “Cepat pergi dari sini!” tegasnya lirih saking kesalnya.
“Tapi, Ma ....”
Kiara menoleh dengan cepat dan menatap Rara dengan bengis. “Sampai kapan pun yang namanya harga diri dan nama baik, nggak bisa dinilai dengan apa pun apalagi sampai dibeli! Bagaimanapun caramu meyakinkan, sama sekali nggak merubah keputusan saya!”
Rara menelan ludahnya. “Baik kalau begitu, Ma. Berarti Mama nggak sayang anak, karena Mama lebih sayang harga diri Mama. Cukup tahu saja, semoga di masa depan, aku bisa jadi orang tua yang lebih menyayangi anaknya dari apa pun termasuk harga diriku.”
“Mulai saat ini, tolong Mama lihat, aku bisa menjadi istri yang baik untuk Kimo. Aku juga akan menjadi mama yang baik untuk anak-anak kami,” ucap Rara sesaat sebelum berlalu dengan begitu tenang, meski hati dan jiwanya begitu terluka.
“Jika kalian sampai punya anak, saya nggak akan menganggapnya!”
Penegasan Kiara mematahkan langkah Rara yang baru saja akan melewati lorong menuju pintu masuk kamar Kiara.
“Terserah Mama. Aku nggak akan memaksa, karena kalaupun Mama nggak mengakui anak-anakku juga nggak merubah apa pun. Anakku nggak akan kekurangan apa pun. Baik materi, apa lagi kasih sayang,” balas Rara tanpa menoleh sedikit pun.
Kimo bilang, aku nggak boleh sampai ditindas mamanya, hanya karena mamanya nggak suka aku. Justru, aku harus meyakinkan mamanya, meski harus sampai menindas wanita yang kini menjadi mertuaku. Ya sudah, semoga aku nggak salah langkah. Nggak rela saja, hanya karena suatu hal yang membuat statusku tercoreng, semua tentangku juga menjadi cacat. Berpikir demikian, Rara merasa jauh lebih tenang.
“Kelak, saat kamu sudah menjadi ibu, kamu akan mengetahui alasan Mama seperti itu ke kamu,” ucap Kimi yang ternyata berdiri di balik pintu kamar Kiara.
Rara yang baru keluar dari kamar dan mendapatinya, langsung mengulas senyum. “Kamu berbicara seperti itu, sudah tahu duduk perkaranya, belum?” tanyanya sopan saking kesalnya. Sudah cukup baginya penghakiman berikut imbas buruk yang harus ia rasakan hanya karena Piera seorang pelakor. Rara tidak mau bersedih yang sampai membuatnya menangis, apalagi kembali tertekan dan berujung stres. Sebab kini, ia ingin hidup bahagia bersama Kimo dan menjadi istri yang baik untuk suaminya itu.
Kimi menatap sebal Rara. “Kalau memang tidak mau mendengar kata-kata orang lain, hiduplah dengan cara pikirmu yang dipenuhi keegoisan!” tegasnya datar.
Rara segera mengangguk. “Tentu. Memang itu yang akan kulakukan. Kudoakan kamu nggak sampai mengalami apa yang aku rasakan, ya.”
“Semenjak kamu ada, Mama jadi sering marah-marah. Kesehatan Mama jadi memburuk gara-gara kamu!” balas Kimi.
Rara sengaja bersikap sangat ramah. Ia terus menatap Kimi penuh senyum. “Meski orang lain boleh berkomentar bahkan merasa lebih benar, tetapi semuanya kembali pada kita yang menjalani, kan? Toh, komentar orang lain nggak bisa menjamin kebahagiaan kita? Memangnya sejak kapan, komentar orang lain bisa menjamin kebahagiaan atau setidaknya bisa membuat perut kita kenyang?”
Kimi menghela napas pelan. “Sudah sana pergi. Aku nggak mau Mama tambah sakit hanya karena melihatmu masih di sini!” cibirnya sambil bersedekap dan memasang wajah angkuh.
Rara mendekati Kimi yang memiliki tubuh lebih tinggi darinya. Sambil menatap kedua manik mata wanita muda itu, tangan kanannya bergerak dan menopang sebelah wajah Kimi.
Kimi terdiam tegang. Apa maksud Rara bersikap seperti sekarang? Bahkan ia menjadi takut, meski senyum yang sedari awal menghiasi wajah Rara, berikut tutur kata wanita itu yang begitu halus kepadanya, benar-benar tulus.
“Kelak, ketika ada yang meragukan ketulusanmu hanya karena kamu anak adopsi yang berasal dari panti asuhan, aku adalah orang yang akan berdiri di depanmu untuk melindungimu,” tegas Rara lirih di tengah kesedihan yang membuncah. Ia bahkan menyadari, dari matanya yang menjadi terasa basah sekaligus panas, sudah sampai berlinang air mata. “Aku nggak rela bila sampai ada orang lain yang merasakan apa yang aku rasakan. Dicela, hanya karena orang terdekatmu melakukan kesalahan.”
Seperginya Rara, Kimi yang menjadi berderai air mata, juga menjadi merasa sangat bersalah kepada wanita itu. Ia merasa sangat hina lantaran sudah menjadi bagian dari rencana Kiara untuk menyakiti wanita itu. Rara wanita hebat! Pantas Kak Kimo begitu mencintainya dan bahkan rela mengorbankan semuanya.
***
__ADS_1