Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 42 : Kehilangan


__ADS_3

“Ada banyak hal yang tidak bisa kulakukan dengan orang lain karena hal tersebut hanya bisa kulakukan dengan istri berikut anak-anakku. Keluarga kecilku. Jadi, setelah ini, ... tolong jangan pernah mengganggu apalagi melukai Rara lagi. Biarkan dia hidup tenang, karena kami sudah sepakat bercerai dan mengakhiri hubungan kami dengan baik-baik.”


Bab 42 : Kehilangan


Tidak ada gurat penyesalan apalagi kesedihan dari seorang Kiara. Meski senyum tak pernah lepas. Meski keramahan wanita itu tebarkan dengan begitu hangat, juga perhatian yang seolah tidak akan usai, tetapi hal tersebut sama sekali tidak menyentuh hati Kimi dan juga Franki. Keduanya kompak terduduk lesu menatap hamparan makanan lezat yang tersaji di atas meja makan.


Sore ini, Kiara sengaja memasak aneka menu andalan yang menjadi favorit di keluarga mereka. Ada kepiting lada hitam yang biasanya tak pernah lepas dari pengawasan, meski piring mereka sudah dipenuhi menu itu. Sebab saking enaknya, mereka tidak rela masakan langka Kiara sampai habis. Namun kini, baik Kimi maupun Franki justru sibuk dengan pemikiran masing-masing. Kimi yang kembali trauma mengenai masa lalu karena Rara yang ia anggap wanita kuat dan awalnya ia jadikan panutan, justru menyerah. Serta Franki yang merasa tak berdaya karena telah gagal menjadi kepala keluarga. Bahkan yang paling membuat Franki kehilangan, tak lain mengenai anak dalam kandungan Rara. Karena baginya, dengan membiarkan Kimo dan Rara berpisah, ia baru saja membuat masa depan cucunya itu hancur.


Kiara kebingungan mendapati kedua orang di hadapannya yang terlihat jelas kehilangan semangat hidup. Keduanya tak hanya lesu berikut tatapan mereka yang kosong, melainkan seperti kehilangan sebagian besar nyawa.


Meski Kiara yang baru akan duduk setelah mengisi setiap piring dengan beberapa centong nasi mengetahui penyebabnya, tetapi Kiara merasa jika apa yang akan terjadi pada Kimo dan Rara merupakan keputusan terbaik. Bercerainya keduanya adalah hal paling membuatnya lega. Belum lagi, selain orang-orang tidak banyak yang mengetahui pernikahan Kimo, lepasnya anaknya dari Kimo juga berarti nama baik keluarganya tidak tercoreng oleh latar belakang Rara. Pun meski Rara sedang hamil. Kiara rasa, itu bukan perkara yang perlu dipikirkan apalagi dipusingkan. Jika memang Rara menuntut tanggung jawab, perihal uang bisa ia berikan dengan cuma-cuma berapa banyak wanita itu mau asal Rara tak lagi mengganggu hidup Kimo.


Kedatangan Kimo yang tidak beda dengan Kimi berikut Franki--sangat lesu--langsung Kiara sambut antusias berikut senyum yang kian lepas.


“Sayang, kamu sudah pulang?” sapa Kiara yang langsung mundur dari duduknya hingga membuat kursi tempatnya duduk berderit, hanya untuk menghampiri Kimo.


Meski Kiara sudah merasa cukup lelah dengan senyuman yang membuat wajahnya terasa kaku berikut giginya yang kadang sampai kering saking lamanya ia melakukan itu lantaran sama sekali tak mendapatkan balasan, demi menghibur Kimo yang terlihat sangat kehilangan, wanita itu tetap bersikap hangat.


Setelah terdiam sejenak lantaran sapaan Kiara, Kimo yang menatap sang mama dengan padangan datar, hanya mengangguk dan berlalu menaiki anak tangga yang menghubunhkannya ke lantai atas selaku lantai keberadaan kamarnya.


“Mau ke mana? Ayo, sini. Kita makan dulu. Makan bersama,” sergah Kiara yang sudah dekat dengan keberadaan tangga.


Kimo menghentikan langkahnya. Masih tak bersemangat, tetapi kemudian, ia mengikuti tuntunan Kiara. Hal tersebut membuat hati Kiara menjadi berbunga-bunga.


Kiara sampai menyambut Kimo dengan pelukan hangat. Pemandangan yang sudah menjadi hal biasa dalam keluarga mereka. Kimi dan Franki yang masih menyaksikannya kompak menghela napas lirih kemudian kembali tertunduk, menatap kosong piring berisi nasi putih yang begitu pulen dan masih mengepulkan asap tipis.


Kiara yang masih begitu bersemangat menarik kursi di sebelah Franki dan berhadapan persis dengan kursi keberadaan Kimi. Namun, bukannya duduk, Kimo yang Kiara tuntun untuk duduk pada kursi pilihannya justru menatap sedih Franki dan Kimi.


“Aku ...,” ucap Kimi makin tertunduk sedih.


“Aku sudah memutuskan, kita akan pindah ke Australia.” Kimo mengatakan itu dengan nada suara yang begitu datar seiring tatapannya yang menjadi menunduk.


Setelah sempat hening lantaran tak ada yang merespons hingga Kiara yang menunggunya juga sedikit bingung, akhirnya wanita itu pun menanggapinya dengan senyum yang begitu lepas.


“Waw! Ide bagus, Sayang! Mama setuju! Mulai malam ini juga, Mama akan siap-siap. Pilih-pilih barang mana yang akan dibawa. Lagipula, barang-barang kita juga masih banyak di Ausi!”


“Tapi aku enggak ikut. Papa enggak ikut, kan?” ujar Kimi sambil menatap datar Franki.


“Franki mengangguk. “Papa banyak kerjaan.”


“Mulai besok, aku boleh ikut Papa? Kasih aku pekerjaan agar aku sedikit berguna.” Kimi memohon pada Franki.


Kiara mengerutkan dahi. “Kimi, kenapa kamu berbicara seperti itu, Sayang?” tegurnya.


Kimi tertunduk tak bersemangat. “Karena kalian mengambilku dari panti asuhan. Bagaimana jika ternyata, aku lebih parah dari Kak Rara? Ternyata ibuku bukan sekadar wanita simpanan bahkan pelakor. Bagaimana jika orang tuaku justru penjahat berdarah dingin? Pedofil bahkan parahnya pengidap penyakit menular?”


Kiara menjadi dilanda kerisauan. Ia menatap Kimo dan Franki yang ternyata sampai menatap, menyimak Kimi dengan dahi berkerut.

__ADS_1


“Kenapa kamu berbicara seperti itu? Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu?!” Nada Kiara kali ini terdengar mengomel dan sarat kemarahan. “Jangan bahas hal seperti itu lagi!” tambahnya penuh peringatan.


“Aku takut ...,” ucap Kimi kemudian. “Aku juga tidak diharapkan mertuaku, terus anakku mati gara-gara dibunuh mertuaku sendiri ....” Air mata Kimi rebas.


Kiara benar-benar tak bisa berkata-kata. Yang ada, tubuhnya menjadi gemetaran hebat dilanda ketakutan.


Kimo dan Franki terpejam pasrah dengan sesak yang tiba-tiba menyumbat dada mereka. Dari sekitar mata mereka, tampak basah dan kemudian berlinang.


“Ternyata begitu, latar belakang Rara, sampai-sampai, Mama tidak menyukainya?” batin Kimo.


Franki yang berusaha tegas, berdiri dan meninggalkan tempat duduknya. Ia menghampiri Kimi kemudian mendekapnya. Sesekali, ia akan menepuk pelan punggung berikut bahu Kimi. Dan tak jarang, ciuman penuh kasih sayang juga ia layangkan di kepala Kimi.


“Aku ingin mencari orang tuaku!” ucap Kimi di tengah isaknya.


Kimo berlalu dengan pemikirannya yang melayang tidak jelas. Namun ia tengah bertanya-tanya, kenapa ia harus amnesia dan justru hanya kehilangan ingatan tentang Rara? Kenapa ia tidak amnesia total, melupakan semua hal, atau malah mati saja, bila pada kenyataannya, ia hanya melupakan istri yang tengah mengandung anaknya dan saat ini sangat tertekan hanya karena hubungan mereka?


“Kimo sayang, kamu mau ke mana?” sergah Kiara berusaha menahan Kimo.


Kimo menghentikan langkahnya. Masih tidak bersemangat dan kemudian berkata, “aku hanya bingung ... kenapa aku hanya melupakan istriku yang sedang mengandung anakku dan saat ini, dia sangat tertekan hanya karena hubungan kami? Kenapa aku tidak melupakan semuanya, atau malah mati saja?”


Pernyataan Kimo bak benda tajam yang langsung menyerang hati setiap yang mendengar tanpa terkecuali Kiara. Wanita itu, sebenarnya merasa sangat bersalah, tetapi Tuhan belum benar-benar memberinya hidayah untuk menyadari kesalahannya sendiri.


“Kalian pasti juga tahu. Ada banyak hal yang tidak bisa kulakukan dengan orang lain karena hal tersebut hanya bisa kulakukan dengan istri berikut anak-anakku. Keluarga kecilku. Jadi, setelah ini, ... tolong jangan pernah mengganggu apalagi melukai Rara lagi. Biarkan dia hidup tenang, karena kami sudah sepakat bercerai dan mengakhiri hubungan kami dengan baik-baik.”


Kimo terlihat sangat kehilangan, kendati pria itu amnesia dan melupakan semua tentang Rara. Ketiga orang di sana tanpa terkecuali Kiara, bisa melihatnya dengan jelas. Kesedihan yang begitu kental dan membuat siapa yang melihat tampang Kimo atau mendengar suara Kimo, juga bisa merasakannya.


Mulut Kiara baru saja menutup, ketika tiba-tiba terdengar bising suara pecah gelas dan piring berikut sendok dan garpu. Ternyata itu Franki yang seketika itu juga mundur dari kursi tempat pria itu duduk dengan kasar.


Kimi yang sempat ketakutan, menjadi ikut berdiri. Sedangkan Kimo hanya terpejam pasrah tanpa memastikan apa yang terjadi di belakangnya. Lain halnya dengan Kiara yang begitu terkejut dan terlihat sangat ketakutan menatap sang suami.


Franki terlihat sangat marah. Tatapan tajamnya saja seolah ingin menerkam Kiara hidup-hidup detik itu juga. “Papa sudah capek. Kepala Papa nyaris meledak. Tetapi sebelum itu, Papa hanya bisa kasih Mama keputusan terakhir!” tegasnya yang kemudian menghela napas dalam. “Mulai sekarang juga kita bercerai. Mama dengan urusan Mama, dan Papa dengan kehidupan Papa. Mengenai rumah ini, silakan Mama ambil. Sedangkan anak-anak, mereka bebas memilih jalan hidup masing-masing!”


Kiara bak tersambar petir di siang bolong. Saking terkejutnya, ia bahkan sampai lupa bernapas. Ia menatap tak percaya Franki yang baru saja menalaknya.


“Aku ikut Papa!” sergah Kimi. “Aku akan mencari keluargaku!” tambahnya yang kemudian menggandeng sebelah tangan Franki.


Tanpa melayangkan komentar, Kimo justru melangkah pergi. Kimo terus melangkah dan sepertinya akan meninggalkan rumah. Setelah terdengar pintu terbuka, mereka benar-benar yakin, Kimo memang meninggalkan rumah.


Sebelum pergi, Franki mengemasi beberapa barang-barangnya ke dalam koper. Franki melakukan itu dengan cepat dan terbilang asal. Membiarkan Kiara yang memohon dan memintanya untuk tinggal. Tak beda dengan Franki, Kimi yang mengemasi barang-barangnya ke dalam koper jauh lebih rapi, juga mengabaikan Kiara yang tak hentinya memohon sambil menangis. Namun baik Kimi maupun Franki kompak mengabaikan Kiara.


Yang membuat Kiara merasa seperti mendapatkan harapan, tak lain ketika Franki yang sudah hampir keluar meninggalkan pintu rumah mereka, justru kembali dan naik ke atas. Tetapi ternyata pria itu hanya melihat kamar bayi di sebelah kamar Kimo dan kemudian menangis di sana. Franki meratap sedih ranjang berikut lemari bayi yang sudah ia beli khusus. Sebuah bantal guling bayi juga turut ia peluk bahkan bawa.


“Pa ... Kimi ...! Kalian enggak boleh begini dan membiarkan Mama sendirian!”


Kiara kalang kabut, tak hentinya memohon sambil menahan lengan, tangan, berikut koper Kimi dan Franki, sekenanya. Sayangnya, Franki tetap dengan keputusannya. Ia menuju mobil kesayangannya yang terparkir di depan garasi rumah. Setelah memasukkan koper berikut Kimi yang segera duduk di sebelah kemudi, sedangkan Franki bersiap di balik kemudi, mereka benar-benar meninggalkan Kiara seorang diri bersama satpam yang awalnya membantunya mengangkat koper berikut membukakan gerbang rumah.


“Kenapa begini? Kenapa mereka benar-benar pergi?!” raung Kiara kebingungan. Kiara tak hentinya mondar-mandir di depan gerbang yang berangsur menutup sempurna. Kehilangan, itulah yang menggambarkan perasaannya sekarang. Menangis tiada henti di tengah ketakutan yang kian menyiksa pun tak kunjung membuatnya mendapatkan keajaiban atas keutuhan keluarganya yang bercerai-berai.

__ADS_1


***


Pagi ini, Yuan cukup bertanya-tanya, apa yang sebenarnya Keinya inginkan, kenapa istrinya itu mengajaknya jalan-jalan menelusuri kompleks rumah mereka? Keinya bahkan memintanya mendorong sepeda Pelangi sedangkan di belakang mereka, kedua ajudan yang selalu menyertai Keinya juga turut terjaga.


Yuan yakin, Keinya memiliki tujuan, kenapa pagi-pagi sebelum ia berangkat bekerja, istrinya itu mewajibkannya selalu jalan-jalan bersama. Seperti sekarang, jalan kaki sambil mendorong sepeda Pelangi. Dengan musik di sepeda yang diputar terbilang berlebihan kendati hal tersebut mrmbuat Pelangi tak hentinya bergoyang dan kadang tertawa puas, Yuan semakin yakin, Keinya sengaja mencuri perhatian seseorang atas keadaan mereka.


“Sayang, sejauh ini, kamu sudah kenal dengan tetangga yang mana saja?” tanya Yuan sambil menatap Keinya sarat cinta. Senyum yang begitu lembut berikut tatapan yang selalu membuat hati Keinya merasa hangat.


Keinya tak langsung menjawab lantaran wanita itu justru terdiam. Keinya terlihat jelas sedang berpikir dan sepertinya memikirkan pertanyaan Yuan.


“Kita belum kasih bingkisan perkenalan untuk tetangga, ya?” ucap Keinya kemudian.


“Pakai makanan dari restoran kamu saja, sekalian buat promosi.” Yuan mengatakan itu sambil tersenyum geli.


Mendapati itu, Keinya menjadi terkikik. “Kenalan sama tetangga pun harus pakai otak bisnis, ya?” sindirnya.


Yuan masih menahan dan bahkan menghalau tawanya. “Ke depannya, aku dan orang-orangku juga akan lebih sering ke sana. Jadi, ruang super vip di restoran sengaja aku buat untuk pertemuan sekaligus rapat penting dengan para kolega sekalian promo restoranmu yang sudah jadi trending topik.”


Keinya menghela napas lembut kemudian mendekap manja sebelah lengan sang sumi, disusul menyandarkan kepalanya pada dada sang suami. “Mimpi apa, aku, ya, Yu, bisa jadi istrimu?” ucapnya masih tak percaya.


Mendapatkan semua kemewahan sekaligus ketulusan, tentu tidak pernah Keinya bayangkan setelah melewati kehidupan yang terbilang kelam. Dari hidup di panti asuhan, mendapatkan pendidikan sekaligus pekerjaan penuh perjuangan, juga pengkhianatan dari Athan, lantaran pria itu hanya menjebaknya dalam pernikahan palsu sesuai skenario dari Tiara.


Yuan tersipu. Ia sengaja mendorong sepeda beroda tiga milik Pelangi dengan satu tangan, karena satunya lagi mengelus lembut kepala Keinya. “Bisa jadi, dari kehidupan sebelumnya, kita memang sudah jodoh, kan?”


Keinya tersenyum girang sambil menatap Yuan.


“Jadi sekarang katakan kepadaku, apa tujuanmu mengajakku jalan-jalan seperti ini?” ucap Yuan kemudian tak mau menunda lagi.


Keinya langsung celingukan.


Yuan tersenyum simpul kemudian kembali mengelus kepala Keinya.


“Kelihatan banget, yah? Kenapa sih, kamu selalu tahu setiap aku ada maksud lain?” keluh Keinya yang langsung ditertawakan oleh Yuan.


Dalam hatinya, Keinya berujar, jika tujuannya membawa Yuan jalan-jalan di kompleks perumahan mereka, tak lain karena ia ingin memamerkannya kepada Itzy. Hanya saja, sampai detik ini Keinya belum berani mengatakannya kepada sang suami, lantaran ia takut, suaminya itu sampai tergoda Itzy yang baginya lebih menarik karena selain lebih muda, Itzy juga memiliki kepribadian ceria dan sangat mudah akrab dengan orang lain.


“Yu, kira-kira, apakah ada, hal yang membuatmu bisa mencintai wanita lain?” tanya Keinya kemudian saking penasarannya. Ia menatap Yuan dengan sangat dalam seiring langkah mereka yang menjadi memelan dan bahlan tak lama kemudian menjadi berhenti.


Yuan yang juga menatap dalam Keinya berangsur mengangguk, dan hal tersebut langsung membuat Keinya merasakan apa yang dinamakan kehilangan dan membuatnya kembali merasa sangat terluka tak beda ketika ia mendapatkan pengkhianatan dari Athan. Bahlan karenanya, Keinya menyesali keputusannya bertanya kepada Yuan.


“Seharusnya, aku enggak usah menanyakannya ...,” sesal Keinya dalam hatinya dan kali ini menjadi menunduk menahan banyak kecewa bahkan luka.


Bersambung ....


Alhamdullilah, masih bisa update. Semoga kalian enggak bosan menunggu dan mengikuti kisahnya, ya.


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2