Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 75 : Menjalani Misi


__ADS_3

“Biarkan aku di sini saja,” ujar Elia yang sampai mengakhiri gandengan tangan Rafaro.


Rafaro refleks balik badan dan menatap tak mengerti Elia. “Aku salah?” tanyanya memastikan.


Elia menggeleng dan menepis anggapan Rafaro. “Enggak ... kamu enggak salah. Aku hanya ingin jaga-jaga. Kamu tolong urus Atala, ya. Aku penasaran sama wanita di dalam. Perasaanku jadi tambah enggak enak, kalau ingat dia sebut-sebut nama Jinnan buat tanggung jawab ....”


Elia menjadi merasa sangat bingung. Entahlah, kenapa masalah mendadak hadir secara bersamaan bahkan bertubi-tubi? Akan tetapi, Rafaro juga merasa tidak baik-baik saja jika harus meninggalkan Elia sendiri. Namun jika Rafaro tidak mengurus Atala, ia juga tambah tidak baik-baik saja, sebab masalah Atala juga sangat berpengaruh, bakan menentukan hubungan Elia dan Elena. Dan kalaupun Rafaro meminta bantuan seseorang untuk menjaga Elia selagi ia tak ada di samping gadis itu, yang Rafaro punya sekaligus percaya hanya Mofaro. Masalahnya, Rafaro tidak suka jika Mofaro dan Elia bersama, karena keduanya terlalu dekat.


“Ya sudah. Aku akan meminta sopirmu untuk ke sini, buat jaga-jaga jika sampai terjadi sesuatu,” ujar Rafaro yang sebenarnya merasa berat meninggalkan Elia. Namun demi kebaikan bersama, mereka memang harua berpisah dulu.


Elia mengangguk setuju dan langsung berlalu meninggalkan Rafaro.


“Langsung kabari aku jika terjadi sesuatu!” pesan Rafaro.


Elia balik badan sambil menghela napas dalam. “Kamu ini kenapa, sih? Kenapa jadi aneh begitu? Iya, jangan khawatir. Orang pertama yang akan kubuhungi itu kamu, selain papaku. Sudah sana susul Atala. Nanti malah kabur si Atalanya,” ujarnya.


Rafaro langsung mengangguk-angguk dan kemudian berlalu dengan langkah tergesa.


“Rasanya cukup aneh. Tadi, dia ... ngungkapin cinta ke aku, kan?” batin Elia yang kemudian kembali berlalu juga. Elia melangkah tergesa sebelum memasuki ruang rawat Irene dengan kati-hati.


***


Kehadiran Elia sukses membuat Irene yang masih berbaring, terkejut. Irene manatap bingung Elia yang ia kenali sebagai Elena kekasih Atala.


“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Irene yang langsung menatap tidak suka kehadiran Elia.


Tentu, pertanyaan Irene membuat Elia harus memutar otak demi mendapatkan balasan tepat, terlebih Elia juga belum memiliki persiapan dalam menjalani misinya.


“A-aku ...?” Elia masih mencari-cari alasan.

__ADS_1


“Atala enggak di sini! Kamu tuh masih bocah sudah cemburuan banget, sih! Kayak ibu tiri!” cibir Irene.


“Serius wanita ini mengenaliku sebagai Lena? Oke, deh ... aku jadi Lena!” batin Elia. “Enggak semua ibu tiri buruk, kali, Kak ....” Elia sengaja meledek Irene agar suasana kebersamaan mereka tidak begitu kaku sekaligus tegang.


Balasan Elia membuat Irene mendelik dan menatap tak percaya gadis itu. “Seriua, ini si Elena kesambet setan mana? Tumben dia enggak marah-marah dan malah ngajak bercanda ke aku? Biasanya, dia kan paling anti kalau tahu aku dekat-dekat Atala?” batinnya.


“Omong-omong, kok Kakak bisa pendarahan?” ujar Elia melanjutkan dan sengaja semakin mendekati Irene.


“Kok hari ini, kamu aneh banget, sih? Sejak kapan kamu panggil aku Kaka**k? Biasanya juga panggil nama, atau malah Tante!” keluh Irene yang sampai menatap saksama Elia.


Elia celingukan. “Ya ampun ... aku salah lagi!” batinnya sambil menyisihkan anak rambutnya ke belakang telinga sebelah kanan. “Ya mulai sekarang, lah, Kak ... lagian, kan, Kakak sedang sakit. Masa iya, aku bikin Kakak tambah kesal?”


Meski tetap merasa aneh pada Elia yang ia kenali sebagai Elena, akhirnya Irene berkata, “sudah jangan banyak omong! Ganggu saja! Lagian aku mau istirahat!”


“Tapi aku ingin bantu Kakak,” balas Elia dan semakin membuat Irene menatapnya lebih kesal.


Irene sampai melirik tajam Elia, lantaran baginya, kehadiran gadis itu teramat mengganggu dirinya.


Pengakuan Elia sukses membuat Irene menatap curiga gadis itu. “Kamu kenal Jinnan juga?” tudingnya tanpa basa-basi.


Namun Elia yang sudah menyiapkan banyak alasan, segera menggeleng. “Ya enggaklah. Lagian, ngapain aku kenal cowok lain, sedangkan aku sudah punya Atala!”


“Oh ... syukur kalau begitu,” balas Irene masih menatap sebal Elia melalui lirikan.


“Tapi aku mau bantu Kakak. Buat meyakinkan Jinnan kalau itu anak dia! Aku jamin, pasti berhasil!” sergah Elia bersemangat.


“Caranya?” balas Irene yang menjadi melunak dan sampai menatap serius Elia.


“Coba, aku lihat dulu, Jinnan itu seperti apa? Kakak ada fotonya?” balas Elia masih bersemangat.

__ADS_1


“Lho, buat apa? Kenapa kamu harus melihat fotonya?” balas Irene yang kembali sensi.


“Ya tentu ... aku harus melihat wajah Jinnan agar aku tahu, karakter dia kira-kira seperti apa? Begini-begini, keluarga besarku merupakan keturunan ahli kesehatan. Kakek, nenek, bahkan papaku, semuanya dokter. Uyut pun, iya. Jadi aku juga bisa membaca karakter seseorang hanya dari melihat wajahnya dari foto!” Elia bersyukur, dirinya memiliki kecerdasan di atas rata-rata, dan bisa meyakinkan seseorang dengan jauh lebih mudah kendati ia sedang berbohong.


Dan bagi Irene yang mengetahui latar belakang keluarga Elena, apa yang Elia katakan juga sangat masuk akal. Jadilah ia meraih ponselnya dari nakas yang sedang ia punggungi. Dan ia langsung mrnyodorkan ponsel miliknya yang dipenuhi foto Kim Jinnan. Foto yang juga langsung membuat Elia menjerit dalam hati.


“Ya Tuhan benar ... ini Jinnan Ngi-ngie ... pantas saja perasaanku enggak enak. Duh ...!” batin Elia yang langsung terpukul bahkan dilema. Apalagi, Pelangi anak dari bibinya, belum lama menikah.


“Masa iya, Jinnan tega banget? Atau jangan-jangan, wanita ini bohong?” pikir Elia yang kemudian refleka menatap tajam Irene.


“Bagaimana?” tagih Irene sambil menatap tajam Elia.


Elia menggeragap untuk beberapa saat saking bingungnya lantaran Jinnan yang dimaksud Irene, nyatanya Jinnan yang sama dengan suami Pelangi.


“Kira-kira bagaimana, agar dia percaya?” lanjut Irene.


“Kapan kalian melakukannya, dan di mana?” lanjut Elia yang langsung menyikapi Irene dengan serius. Terlebih apa yang kini terjadi, sukses membuat hatinya terasa sangat sakit.


“Aku saja yang bukan siapa-siapanya, sakit. Apalagi Ngi-ngie yang istrinya?” batin Elia.


Irene menatap tak yakin Elia.


“Kamu bisa percaya padaku. Aku akan membantumu. Percayalah, ... aku ini wanita. Tentu aku akan memperjuangkan nasib kaumku juga!” tegas Elia meyakinkan.


“Apakah Elena bisa dipercaya? Namu caranya meyakinkanku, sungguh membuatku yakin, apalagi Atala yang sahabatku saja, sampai tidak mau menolongku? Elena satu-satunya orang yang penuli kepadaku!” batin Irene mencoba mengambil keputusan terbaik. Keputusan terbaik yang harus segera Irene ambil, lantaran di depan matanya, ada seorang gadis yang siap berkorban sekaligus berjuang untuknya.


“Ceritakan semuanya. Tanpa ada yang di tutupi. Karena di sini,” ujar Elia yang benar-benar akan mengusut semua kenyataan Irene hingga ke arat terlembutnya!


“Kim Jinnan yang jahat, atau wanita ini!” batin Elia seiring kedua tangannya yang sampai mengepal di kedua sisi tubuhnya. “Dan jika wanita ini yang justru berbohong, benar-benar enggak ada ampun!” Elia masih berbicara dalam hati, seiring pergolakan batin yang membuatnya nyaris kehilangan kesabaran.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2