Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 85 : Stop! Tolong!


__ADS_3

Bab 85 : Stop! Tolong!


Atala mengemudikan motor Mofaro dengan kecepatan penuh. Ia menggunakan setiap celah jalanan di tengah kemacetan, demi segera sampai di kediaman Anton, selaku tujuannya. Karena menurut keterangan dari Irene ketika kemarin Atala menanyakan kronologi Anton menjebak Irene, mula-mula, Anton datang ke tempat kerja Irene. Anton menjemput Irene dengan dalih, Atala sedang sakit di rumah Aton, sedangkan di rumah Anton tidak ada yang bisa Anton percaya untuk menjaga Atala. Ya, semuanya Anton lakukan tanpa membuat Irene curiga. Jadi, kini Atala yakin, jika hal yang sama juga Anton lakukan kepada Elena.


“Temanmu yang bernama Irene itu terlihat cukup liar. Kalian hanya sebatas teman, kan?”


“Elena kekasihmu sangat manis. Sepertinya usianya masih sangat muda?”


Dan mengingat itu, Atala benar-benar geram. Tak habis pikir olehnya lantaran sepertinya, papanya memang mengalami kelainan atau bahkan penyimpangan seksual. Padahal rencananya, sore ini juga, Atala baru akan menemui Anton dan bermaksud berbicara empat mata, agar Anton mengakui perbuatan bejatnya, kemudian mempertanggung jawabkannya ke pihak yang berwajib. Namun, belum juga rencana itu terlaksana, Anton justru kembali berulah.


“Semoga aku enggak terlambat!” batin Atala. Entahlah, di tengah kecemasan yang bahkan membuatnya sulit berpikir jernih, perjalanan yang ia arungi justru terasa memakan waktu sangat lama. “Kok enggak sampai-sampai, sih?” Atala sudah sangat tidak sabar, terlebih ia tidak mau sesuatu yang buruk apalagi fatal sampai menimpa Elena layaknya apa yang telah menimpa Irene.


“Tuhan ... tolong hentikan semua ini! Lebih baik Engkau cabut nyawa papa, atau malah nyawaku, jika papa terus berulah apalagi pada Elena!” Atala masih meronta-ronta dalam hatinya, di mana semakin lama, matanya yang awalnya hanya memerah, juga sudah sampai basah.


Tak hanya kedua mata Atala yang terasa panas akibat tangis yang mewakili perasaan berikut isi hati pria itu, hingga pandangan Atala juga menjadi tidak jelas. Sebab, sekujur tubuh Atala juga memanas, seolah-olah, tubuh Atala sedang direbus atau bahkan panggang. Semua itu terjadi lantaran Atala merasa malu sekaligus marah.


*** 


Bagi Elena, apa yang Anton lakukan sudah tidak masuk akal. Tak sekadar karena pria itu terkesan mengulur-ngulur waktu dan bahkan sampai membawanya ke rumah, sedangkan menurut Anton, keadaan Atala sudah sangat parah akibat kecelakaan, dan harus dirujuk ke Singapura. Sebab sedari awal kebersamaan, Anton terkesan membatasi gerak-gerik Elena yang sekadar memegang ponsel saja tidak boleh. Layaknya sekarang, di tengah kepala Elena yang menjadi terasa sangat pusing tak lama setelah meminum air putih yang Anton berikan khusus, papa Atala itu mendadak merebut ponsel Elena, padahal Elena sedang berbicara dengan Elia melalui sambungan telepon yang Elia lakukan.


“Om ini apa-apaan, sih? Om Ini aneh! Atas dasar apa, Om main rebut ponselku, sedangkan aku sedang telepon?!” tegas Elena sembari menyeringai menahan pusing di kepalanya.


“Om melakukan ini semua, karena Om sayang sama kamu!” sergah Anton yang kemudian membuang asal ponsel Elena ke sofa, sedangkan pemilik ponsel justru bangun dan mundur menghindarinya.


“O-om, ini apa-apaan, sih? Enggak jelas banget!”

__ADS_1


“Elena sayang ....”


“Stop, OM! Aku enggak suka, ya, dengan cara Om! Lagi pula, alasanku ke sini juga karena Om bilang, Atala kecelakaan!”


“Dan satu lagi! Ini ... kenapa kepalaku jadi sepusing ini?! Minuman tadi enggak Om macem-macemin, kan?”


Elena terus mundur, menghindari Anton yang juga terus menyusul dengan langkah hati-hati. Bahkan saking pusingnya, Elena sampai menggunakan tangan kanannya untuk menjambak kuat-kuat rambutnya yang terurai. Elena sengaja melakukannya demi meredam rasa pusing itu yang juga membuat pandangannya mulai kabur.


“Stop, Om ... jangan dekat-dekat!” Elene menyodorkan telapak tangan kanannya dengan maksud, Anton berhenti menyusulnya. 


Elena menoleh ke belakang dan ia baru saja meninggalkan sofa panjang yang sempat ia tempati, di ruang tamu kediaman Anton. Sial, pria paruh baya yang memiliki garis wajah mirip Atala itu tetap saja menyusulnya. Dan meski pandangan Elena sudah kurang jelas, tetapi Elena bisa memastikan pandangan Anton terhadapnya, tak ubahnya pandangan pria hidung belang yang dipenuhi nafsu. Pria itu memang tersenyum, tetapi pandangannya yang mesum sukses membuat Elena jiji.


“Demi Tuhan ini kenapa? Kenapa aku merasa om Anton enggak beres! Dia menjijikan! Ya Tuhan, siapa pun, ... tolong aku!” batin Elena yang sebenarnya sudah ingin menangis karena takut. Elena takut, papa dari mantan pacarnya itu justru akan macam-macam kepadanya.


“Yang jelas, Om mau bikin kamu senang, Sayang!” Anton tersenyum bringas dan mulai meraih kedua lengan Elena yang kemudian ia belai dengan sangat menjiwai, sambil memejamkan pelan kedua matanya.


“Om!” Elena menggunakan seluruh tenaganya yang masih tersisa untuk menendang tubuh Anton, hingga tubuh pria paruh baya itu mental dan sampai terduduk di lantai.


Akan tetapi, apa yang Elena lakukan justru membuat Anton tersenyum puas ditengah tatapannya yang masih bringas. Anton, menatap Elena penuh cinta, sedangkan Elena yang ditatap, berusaha untuk sesegera mungkin bangkit, kendati tubuhnya saja sudah kehilangan banyak tenaga bahkan Elena merasa, dunianya mulai berputar-putar.


“Sumpah! Air minum tadi pasti sudah Om Anton kasih obat!” batin Elena terengah-engah.


Elena sengaja menghentikan langkahnya. Gadis itu terdiam sembari menatap bingung suasana sekitar, lantaran semakin lama, dunianya semakin bergoyang dan berputar tidak jelas. Bahkan kini, lantai tempatnya berpijak juga seolah terangkat hingga yang ada, Elena terjatuh.


“Aaa!” Elena masih merasakan sakit akibat terjatuh, tetapi tangan cukup berbulu Anton yang sudah berkeriput, justru ia dapati mulai menjelajahi kakinya.

__ADS_1


Elena menangis meronta ketakutan dan tak hentinya meminta tolong, tetapi sialnya, rumah Anton sangat sepi dan sepertinya memang hanya dinuhi Anton dan Elena sendiri.


“Papah ... aku takut, Pah ... Mamah ....” Elena terus menjerit dalam hatinya. “Tolong aku, Pah ... Mah!”


*** 


Di ruang kerjanya, Steven baru saja melepas salah satu pasiennya yang merupakan pria paruh baya, dengan senyum tulus layaknya biasa. Dan ketika pasien itu benar-benar meninggalkan ruang kerja Steven yang merupakan seorang psikiater, tak lama setelah pintu tertutup, Steven berniat meraih gelas minum yang dilengkapi tutup. Steven berniat menghabiskan isinya yang merupakan air putih. Namun, bukannya meraih gelasnya, tangan Steven yang tiba-tiba gemetaran, justru membuat gelas itu jatuh dan pecah terkapar di lantai.


“Lho ...?” Steven menatap bingung pecahan gelas akibat ulahnya, bersamaan dengan rasa ngilu yang tiba-tiba memilin ulu hatinya, dan kenyataan tersebut membuat tangan yang awalnya akan meraih gelas, menjadi mencengkeram dada. “Ada apa, ini?”


*** 


Di rumah, Kainya sedang mendulang Shean di dapur, ketika ponsel yang ada di meja bersebelahan dengan gelas berisi jus sayurnya, tiba berdering. Dering panggilan masuk dari Steven, yang ketika ia akan meraih ponsel untuk menjawabnya justru menubruk gelas lantaran Kainya melakukannya dengan buru-buru.


Gelas menggelinding dari meja dan akhirnya pecah, sedangkan Shean yang duduk di kursi dengan Kainya mendadak menangis lantaran kaget. 


“Ini kenapa, sih?” gumam Kainya yang menjadi bingung sendiri. Terlepas dari itu, tiba-tiba saja, Kainya juga merasa takut. Jadilah, lantaran telepon masuk dari Steven sampai terulang, Kainya membiarkan Shean terus menangis, lantaran ia ingin memastikan keadaan Steven. Kainya takut, ketidaknyamanan yang tiba-tiba menyekapnya, juga karena Steven sedang tidak baik-baik saja.


“Sayang, kamu lagi ngapain? Kok Shean, nangis?” seru Steven dari seberang.


Suara Steven yang terdengar baik-baik saja membuat Kainya mengembuskan napas lega di tengah kenyataannya yang sampai memejamkan mata. “Shean kaget, Pah. Tapi enggak apa-apa, kok.”


“Oh ... terus, Lili sama Lena, sudah pulang?” lanjut Steven.


Dan ketika nama kedua putri kembarnya disebut, dunia Kainya menjadi hening. Kainya kembali kebingungan dan entah kenapa, pikirannya juga menjadi kosong bersamaan dengan suara nguingan yang tiba-tiba saja terdengar sesaat sebelum semuanya mendadak kembali hening.

__ADS_1


__ADS_2