
“Bisa dibicarakan baik-baik, kan? Aku ini suamimu. Jadi tolong hargai aku. Kalaupun aku salah, harusnya kamu kasih tahu dengan baik-baik.”
Bab 60 : Kembali Bertengkar
Pelangi memasuki kamarnya dengan langkah loyo. Ia baru pulang kerja tanpa Kim Jinnan, lantaran khusus sore ini, ia pulang dengan Yuan. Dan setelah sampai di depan tempat tidur, ia mengembuskan napas panjang sambil menurunkan tas dari pundak kanan dan ia geletakkan begitu saja di lantai. Tentu, tidak ada hal yang lebih nyaman dari membantingkan tubuh di atas kasur, di mana Pelangi segera melakukannya.
“Ya ampun ... hari ini capek banget!” keluh Pelangi yang kemudian memejamkan kedua matanya. “Tidur dulu ... mumpung Jinnan belum pulang,” gumamnya.
Sekitar satu jam kemudian, di balik pintu kamar Pelangi yang berangsur terbuka, Kim Jinnan ada dan memasuki kamar Pelangi sembari melepas lilitan dasi dari kerah kemejanya yang kali ini tidak disertai jas. Hanya saja, membahas mengenai jas, di depan salah satu pintu lemari pakaian milik Pelangi, di sana ada satu jas milik Kim Jinnan yang tergantung. Jas yang sudah ada di sana sebelum mereka menikah, lantaran jas tersebut sempat Kim Jinnan pinjamkan kepada Pelangi. Kenyataan yang sukses membuat Kim Jinnan senyum-senyum sendiri, lantaran pada akhirnya, jas yang ia pinjamkan justru menjadi penghuni tetap kamar Pelangi.
Tak tama setelah itu, lantaran suasana kamar masih gelap gulita, Kim Jinnan sengaja menekan sakelar yang ada di sebelah sisi pintu. Membuat suasana kamar yang awalnya tak hanya gelap gulita melainkan juga senyap, menjadi terang benderang. Hanya saja, lantaran Kim Jinnan mendapati Pelangi tengah meringkuk di tengah kasur sedangkan sebagian kedua kakinya menggantung tidak sampai ada di atas kasur, Kim Jinnan memutuskan untuk kembali mematikan lampunya. Di mana setelah itu, dengan hati-hati, pria itu melangkah mendekati Pelangi.
Kim Jinnan hanya memasang satu lampu meja sebelum akhirnya membenarkan posisi tidur Pelangi, yang sampai ia bopong dan baringkan di posisi biasa Pelangi tidur. Tentunya, kepala sang istri bertumpu di tengah-tengah bantal.
“Jinnan ... aku ngantuk berat,” rengek Pelangi di tengah kedua matanya yang masih terpejam. Tak hanya itu, sebab Pelangi juga sampai buru-buru memunggungi Kim Jinnan.
“Iya, aku tahu ... kamu ini takut banget aku macam-macam, padahal aku memang ingin macam-macam!” ucap Kim Jinnan yang berangsur menarik selimut yang sampai tertindih Pelangi, dengan hati-hati.
Tak lama setelah itu, sebelah tangan Pelangi menimpuk asal ke belakang dan sukses mengenai wajah Kim Jinnan.
Kim Jinnan yang awalnya tersipu sampai menjadi terkikik lantaran dengan kata lain, Pelangi masih takut jika ia kembali macam-macam bahkan sekalipun mereka sudah menikah. Dan sebelum pergi ke kamar mandi, Kim Jinnan menyelimutkan selimut ke tubuh Pelangi hingga menutupi punggung.
***
Seperginya Kim Jinnan yang sampai mencium gemas sebelah pipi Pelangi, wanita muda itu menjadi mendengkus kesal bersamaan dengan kedua matanya yang berangsur terbuka. “Jinnan emang paling bisa bikin aku marah!” gumamnya yang kemudian menoleh ke nakas seberang.
Nakas sebelah biasa Kim Jinnan tidur. Tadi, Pelangi sempat mendengar Kim Jinnan meletakkan sesuatu di sana dan biasanya dompet bahkan ponsel. Benar saja, meski suasana kamar remang-remang, tetapi di nakas yang Pelangi maksud memang ada dompet berikut ponsel. Jadi, berhubung pintu kamar mandi masih tertutup rapat seiring suara air yang terdengar mengalir deras dari shower, Pelangi memutuskan untuk mengecek ponsel Kim Jinnan.
“Cek ponsel suami, harusnya enggak dosa. Enggak ada foto atau video lucnut juga, kan? Tapi, cek pesan sama riwayat sambungan teleponnya saja!” ujar Pelangi yang sudah memegang ponsel Kim Jinnan.
Pertama-tama, ketika Pelangi mengaktifkan tombol layar, di layar ponsel tersebut langsung terpajang foto baru. Benar-benar bukan foto Pelangi yang sebelumnya menjadi wallpaper. Di situ sudah diganti wajah Pelangi yang sedang tertidur lelap dan sedikit mangap menyampingi posisi kamera, sedangkan di hadapannya ada wajah Kim Jinnan. Hidung Kim Jinnan bahkan menempel di punggung hidung Pelangi.
“Kan ... aku dijadiin percobaan mesum!” batin Pelangi yang menjadi merengut kesal. “Mana ambil posisiku lagi mangap lagi!” Setelah menghela napas dalam, tujuan Pelangi bukanlah menu galeri. Sebab tujuan utamanya adalah kotak pesan. Pesan biasa.
__ADS_1
Di menu pesan Kim Jinnan banyak ruang obrolan selain pesan-pesan promo dari pihak operator berikut pesan penipuan yang mengatas namakan pemenang dari undian berhadiah. Ada lima puluh ruang obrolan lebih yang semuanya merupakan kepentingan pekerjaan. Pelangi mengetahui hal tersebut lantaran ia sampai mengeceknya satu-satu.
Tujuan utama Pelangi berlanjut ke aplikasi WA. Di sana, suasana ruang obrolan jauh lebih dasyat dari pesan biasa. Deretan pesan yang panjangnya melebihi kenangan masa lalu itu sampai membuat Pelangi bosan terlebih isinya hanya untuk keperluan pekerjaan, selain beberapa ruang obrolan bersama teman pria Kim Jinnan yang isinya membuat Pelangi geleng-geleng, lantaran kebanyakan pesan di sana menggoda Kim Jinnan perihal malam pertama.
“Pantes Jinnan mesum. Temannya saja gila semua!” pikir Pelangi yang masih tersungut-sungut.
Ada satu hal yang membuat Pelangi merasa sangat istimewa perihal isi WA Kim Jinnan. Mengenai ruang obrolan Pelangi yang menjadi satu-satu ruang obrolan yang disematkan dan dinamai dengan : Istriku. Namun, ketika Pelangi sampai melihat ruang obrolan kakek Jungsu yang masih ada di deretan ruang obrolan, detik itu juga hati Pelangi terenyuh.
Saking sedih sekaligus kehilangan terhadap sosok kakek Jungsu, pikiran Pelangi sampai kosong untuk beberapa saat. Pelangi teringat wajah berikut segala tingkah kakek Jungsu ketika kebersamaan mereka. Khususnya, mengenai kakek Jungsu yang begitu murah senyum. Rasanya, selalu ada yang kurang bahkan hilang, di setiap Pelangi teringat kakek Jungsu.
“Jangan hanya sedih, Ngie ... ayo kirim doa buat kakek!” batin Pelangi menyemangati dirinya sendiri.
Lantaran tidak ada yang mencurigakan, Pelangi memutuskan untuk meletakan ponsel Kim Jinnan dan kemudian melanjutkan tidurnya. Namun, belum juga Pelangi memunggungi ponsel yang baru diletakkan, dering sebuah tanda messangger masuk, sukses mengalihkan fokus Pelangi.
“Oh ... aku belum cek facebook, instragram, bahkan messangger? Jinnan kan pakai banyak aplikasi,” gumam Pelangi yang kemudian kembali meraih ponselnya.
Di layar ponsel Kim Jinnan ada satu ruang obrolan messengger dengan poto profil wajah kucing putih yang begitu imut. Tak tanggung-tanggung, dari ruang obrolan tersebut langsung ada sebelas pesan belum terbaca dalam waktu yang begitu singkat.
“Ngetiknya cepet banget?” Pelangi yang penasaran pun segera memastikannya. Apalagi, pesan tersebut juga terus bertambah hingga Pelangi pusing sendiri melihatnya.
-Aku kangen
-Kenapa kamu tambah cuek?
Belum apa-apa, Pelangi mendadak lemas bahkan vertigo hanya karena membaca sebagian pesan tersebut. Pelangi terengah-engah dan memutuskan untuk menggenggam erat ponsel yang awalnya ia tatap, seiring kedua matanya yang menjadi terpejam erat.
“Apa-apaan, ini?!” Dan andai saja ketika seseorang sedang marah bisa mengeluarkan asap dari lubang hidung berikut telinga, mungkin kamar Pelangi sudah mengalami polusi udara atas asap yang keluar dari lubang hidung berikut lubang telinga Pelangi sendiri.
Tak lama setelah itu, mungkin tiga menit kemudian, Kim Jinnan keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan baju dan hanya melilit perut ke bewah menggunakan handuk. Kim Jinnan tersenyum ketika mendapati Pelangi yang duduk meringkuk membelakanginya di antara suasana hening yang masih menyelimuti.
“Enggak jadi tidur?” sapa Kim Jinnan yang kemudian membuka lemari dan mengambil satu setel piama lengan panjang warna hitam miliknya.
“Kim Jinnan, cepat ke sini. Aku mau bicara serius!” tegas Pelangi tanpa melakukan perubahan berarti dan masih memunggungi sang suami.
__ADS_1
Nada suara Pelangi dipenuhi emosi dan Kim Jinnan menyadarinya. “Ada apa?” balasnya yang cepat-cepat mengenakan piama pilihannya kendati sebagian tubuhnya masih basah. Kim Jinnan yakin Pelangi sedang sangat marah dan itu kepadanya.
“Cepat ke sini sebelum aku benar-benar marah!” sergah Pelangi dengan nada suara yang jauh lebih tinggi dan sukses membuat Kim Jinnan tersentak.
Suasana hati Kim Jinnan sampai menjadi tidak baik. Sungguh, selain takut sesuatu telah terjadi hingga Pelangi sampai meledak-ledak, dibentak seperti tadi juga membuat Kim Jinnan merasa kurang nyaman. Kim Jinnan tidak suka dibentak tanpa alasan apalagi selama hidupnya, kakek Jungsu tidak pernah melakukan itu kepadanya.
“Bisa dibicarakan baik-baik, kan?” sergah Kim Jinnan yang bahkan sampai mengancing piamanya sambil melangkah tergesa menghampiri Pelangi.
Akan tetapi, Pelangi yang sudah telanjur sakit hati menjadi benar-benar emosi. Pelangi bahkan melempar kuat-kuat ponsel Kim Jinnan yang awalnya masih ia genggam, di mana ponsel tersebut melesat persis di hadapan Kim Jinnan sebelum akhirnya terbanting dan terkapar di lantai. Tak sampai di situ, karena setelah semua itu terjadi, tanpa memberi Kim Jinnan penjelasan, Pelangi yang sudah menangis juga segera lari dan mengunci diri di dalam kamar mandi.
Kim Jinnan kebas dan bahkan menggeragap. Namun demi mengakhiri keadaan, Kim Jinnan segera menyusul Pelangi dengan langkah tergesa. Ia bahkan lupa melanjutkan mengancing atasan piamanya yang baru sampai dada.
“Ngie ...?” panggil Kim Jinnan yang sengaja menempelkan sebelah wajahnya ke pintu.
“Ngie, buka. Aku enggak suka kalau kamu begini. Bahkan kamu asal main banting?”
Pelangi tidak merespons kendati Kim Jinnan masih mendengat isak tangis Pelangi dari balik pintu. Kim Jinnan yakin, istrinya memang ada di balik pintu.
“Ngie ... aku tahu kamu dengar aku,” lanjut Kim Jinnan yang kali ini sampai mecoba membuka pintunya. Ia memutar gagang pintu yang nyatanya masih dikunci.
“Bisa dibicarakan baik-baik, kan? Aku ini suamimu. Jadi tolong hargai aku. Kalaupun aku salah, harusnya kamu kasih tahu dengan baik-baik.”
“Buka pintunya ayo kita bicara. Enggak enak ada orang tua sama saudaramu!”
Dari dalam, Pelangi benar-benar tidak memberi respons. Hanya isak tangis yang terdengar dan membuat Kim Jinnan semakin serba salah sekaligus kewalahan. Dan Kim Jinan tetap menunggu di deoan pintu, sedangkan Pelangi terisak-isak sambil menekuk lututnya di balik pintu.
Dirasa Kim Jinnan, dunianya menjadi suram hanya karena didiamkan oleh Pelangi. Pelangi yang mendadak marah bahkan tak segan membanting ponselnya.
“Tunggu ... ponsel? Jangan-jangan, masalahnya dari sana?” pikir Kim Jinnan yang kemudian bergegas meninggalkan pintu kamar mandi untuk mengambil ponselnya yang tadi ia biarkan begitu saja.
Bersambung ....
Sebaiknya, cek ponsel pasangan enggak, sih?
__ADS_1
Yang Author takutin tuh kayak Ngi-ngie. Apalagi, Author tipikal pencemburu. Bisa dimatiin semua tokoh di cerita Author, kalau Author lagi kezel😂😂😂😂
BTW, enggak terasa besok lebaran, ya. Hari ini sahur terakhir. 💐💐💐💐. Yuk makin semangat ibadah sama berjuangnya. Berjuang mendapatkan Mofaro atau Rafaro yang masih jomlo, contohnya 😆