
“Kehilangan kalian, ... membuatku hilang tujuan.”
Bab 91 : Menatap Masa Depan
“Kalau kamu sudah punya anak lagi, ... Pelangi sama aku saja, ya?” pinta Athan serius.
Meski merasa kurang yakin dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Athan, tetapi pada kenyataannya, ucapan tersebut sukses melukai hati Keinya. Pria yang duduk di hadapannya, menatapnya sangat memohon.
Keinya benar-benar sulit mengungkapkan perasaannya yang langsung bergejolak. Setelah semua luka yang Keinya lalui, bahkan dulu nyawa Keinya dan Pelangi nyaris terenggut lantaran sikap tidak bertanggung jawab Athan, andai saja Rara tidak mengurus persalinan Keinya yang bahkan terpaksa menjalani operasi sesar. Namun sekarang, Athan dengan begitu mudahnya meminta Pelangi kepada Keinya!
“Sama kamu, maksudnya bagaimana?” balas Keinya tanpa bisa menyembunyikan kemarahannya. Nadanya terdengar ketus.
Athan menjadi semakin diselimuti keresahan. Selepas perceraian mereka, karier Athan memang menjadi meredup. Pun perihal kehidupan Athan yang menjadi lebih sering lontang-lantung. Kali ini saja, di jam yang sudah bukan jam istirahat, Athan masih terjaga di restoran Keinya setelah sempat bermain cukup lama dengan Pelangi. Sedangkan sebelum jam istirahat tadi, sekitar pukul setengah sebelas, pria itu sudah datang dan langsung berusaha mencuri perhatian Pelangi. Karena meski kerap melakukan pertemuan, Pelangi masih sulit dekat dengan Athan.
Tatapan Athan berangsur teralih pada Pelangi yang tidur pulas di pangkuan Keinya. Dan dari penganatannya, Keinya melihat Athan sangat mengharapkan Pelangi.
“Tolong, ... hiduplah dengan lebih baik lagi. Tolong buat Pelangi bangga karena dia punga kamu.” Keinya mengatakan itu penuh keseriusan. “Jangan ulangi lagi kesalahan fatalmu di masa lalu. Aku beneran enggak bisa membayangkan kalau Pelangi sampai mengetahui semua itu.”
“Kehilangan kalian, ... membuatku hilang tujuan.” Athan semakin putus asa.
Bahkan Athan terlihat menahan sesak dari kebiasaan pria itu menghela napas pelan.
“Dan lepas darimu membuatku selalu menjadi ratu. Aku benar-benar bahagia ... dan aku sangat bersyukur, Tuhan mengirimkan Yuan untukku dengan semua ketulusan sekaligus kesempurnaannya.” Keinya mengatakan hal tersebut dengan hati yang menjadi terasa sangat damai terlepas dari ia yang sangat bangga memiliki suami seorang Yuan. Ya, Yuan Fahreza yang selalu menjadi malaikat kebahagiaannya.
Athan yang diam-diam mengamati Keinya bisa merasakannya. Keinya, ... mantan istrinya itu terlihat sangat bahagia sekaligus damai, terlihat dari wanita itu yang juga terlihat sangat mencintai sekaligus bangga memiliki Yuan.
“Yuan enggak hanya sukses bikin kamu bahagia. Karena semenjak kamu jadi istrinya, kamu jadi semakin bahkan sangat cantik ...,” lanjut Athan santai sambil menatap Keinya dengan seulas senyuman. Senyuman yang benar-benar tulus sarat kebahagiaan.
Lain halnya dengan Athan yang terlihat begitu damai, Keinya yang menjadi bahan pujian justru mendadak tersedak ludahnya sendiri saking terkejutnya. Pria yang merupakan mantan suaminya itu sedang merayunya? Enggak tahu diri banget?!
“Suami yang benar memang sudah seharusnya begitu, kan? Apalagi istri merupakan cerminan dari suami. Istri cantik dan bahagia, ... berarti karena suami sanggup mengurus dan tentunya tanggung jawab,” balas Keinya yang menjadi sinis lantaran merasa kesal, di masa lalu, Athan tidak pernah memperlakukannya dengan baik.
“Awal-awal sama aku, kamu bilangnya juga bahagia?” goda Athan yang kemudian menyesap kopi hitamnya. Terhitung, kopi tersebut merupakan kopi ke tiga lantaran sebelumnya, ia sudah menandaskan dua cangkir kopi.
“Kan hanya awal, ... setelahnya sengsara!” cibir Keinya. “Sudah, lah, Than. Kamu jangan kayak orang kurang kerjaan. Pergi sana! Kerja!” usirnya.
Athan tergelak sambil meletakkan kembali cangkirnya di lambar. “Kesannya aku ini pengangguran enggak berguna banget, ya?” Ia benar-benar masih menggoda wanita di hadapannya, terlebih Keinya terlihat jelas terbawa emosi.
“Emang! Enggak berguna! Cari kerja yang bener terus menikah sama wanita yang bener juga! Jangan sampai kembali menghidupi istri sekaligus simpanan pria lain kayak yang sudah-sudah!” omel Keinya. “Anak sama istri sendiri disia-siakan, eh kamu malah menghidupi wanita simoanan oria lain!” Keinya sengaja tertawa jahat jika ingat karma Athan dan Tiara.
Athan langsung berdeham dan terlihat menelan ludah, terlepas dari raut wajah pria itu yang menjadi getir.
“Ketawa kamu lebih pahit dari kopi hitam tanpa gula tahu!” hardik Athan.
Bukannya berhenti apalagi iba, balasan Athan justru membuat tawa Keinya semakin lepas. “Demi Tuhan, ... aku benar-benar bahagia!”
“Puas?” tahan Athan masih menatap serius Keinya.
__ADS_1
Keinya buru-buru mengangguk sambil menatap puas Athan yang sampai memfokuskan wajah berikut tatapannya kepada dirinya.
“Sekarang katakan kepadaku, ... apa yang aku bisa tapi Yuan tidak bisa melakukannya untukmu?” tuntut Athan kemudian.
Keinya langsung terdiam dan merenung. Tak sampai lima detik, ia kembali menatap Athan kemudian berkata, “satu-satunya yang enggak bisa Yuan lakukan hanyalah ... Yuan enggak bisa hidup tanpa aku. Karena tak beda denganku yang enggak bisa tanpa dia, Yuan juga akan sulit jika aku enggak ada.” Keinta mengatakan itu dengan hati yang menjadi berbunga-bunga hanya karena mengingat hubungannya dengan Yuan berikut pengorbanan pria itu.
Athan bisa merasakan kebahagiaan yang begitu besar perihal Yuan dalam hidup Keinya. Ya ... Yuan Fahreza, selain pria itu memiliki semua kemewahan, Yuan juga sangat tulus mencintai Keinya. Bahkan, ... Pelangi saja sampai begitu lengket dengan Yuan. Dan bukannya marah, melihat Keinya sebahagia sekarang bahkan wanita itu terlihat sangat ceria menenangkan Pelangi yang terbangun akibat tawa lepas Keinya, Athan juga merasa ikut bahagia bahkan lega.
Tak lama setelah itu, ponsel Keinya berdering dan ternyata merupakan telepon videi dari Yuan.
“Pa!” seru Pelangi langsung antusias.
“Iya, Sayang ... i love you!” balas Yuan tak kalah antusias.
“Yuo, Pa!” balas Pelangi masih menguasai layar ponsel dan memang akan selalu berusaha mendapatkan perhatian Yuan.
“I love you, Mama ... dede ... kalian sudah makan? Ma, vitamin sama susunya sudah?” sambung Yuan.
“Dede? Vitamin sama susunya? Keinya sedang hamil?” pikir Athan yang kemudian menatap saksama Keinya.
Keinya berangsur menunduk menyelaraskan wajahnya dengan Pelangi demi bisa tersorot kamera dan terlihat Yuan. “Bentar lagi. Masih kenyang habis makan salad buah. Papa sudah makan?”
“Oh, gitu ... iya, ini baru beres makan.”
“Papa ... Ngingi kangen. Ayo pulang ...!” seru Pelangi masih tak mau kalah.
“Nanti Papa pulang lebih awal. Sore, ya. Papa lanjut kerja di rumah sambil main sama Ngingi,” ujar Yuan berusaha menenangkan Pelangi.
Pelangi yang menyimak serius langsung mengangguk-angguk, menyetujui usul Yuan.
Tak lama setelah itu, setelah panggilan video Yuan berakhir, Athan mengeluarkan ponselnya dari saku sisi calana panjang yang dikenakan. Dan tak lama setelah itu, ia menyodorkan ponsel dengan layar yang menampilkan nominal tabungannya kepada Keinya.
Keinya terdiam menatap bingung Athan. Athan ternyata memiliki simpanan uang yang tergolong banyak.
“Terima kasih karena kalian sudah menjaga Pelangi dengan sangat baik. Tapi, aku juga ingin menafkahi Pelangi sebagai bentuk tanggung jawabku sebagai ayahnya.” Athan mengatakan itu penuh ketulusan.
Keinya mengulas senyum sambil mengangguk. “Iya. Pelangi berhak mendapatkannya.” Entah kenapa, Keinya merasa jauh lebih bisa menyikapi Athan dengan jauh lebih santai. “Ingat pesanku, ... tolong, buat Pelangi bangga karena dia punya kamu.”
Athan langsung mengangguk semangat sambil kembali mengantongi ponselnya. “Dan jika web novelmu bermasalah, tolong jangan salahkan aku.”
Keinya mengernyit, menatap Athan tidak mengerti. “Kenapa begitu?”
“Ryunana sudah berulang kali memaksaku untuk menyadap web novelmu. Bahkan hingga sekarang.” Athan menghela napas tak habis pikir.
Tak beda dengan Athan, hal yang sama juga Keinya lakukan. Keinya menghela napas tak habis pikir, terlepas dari Ryunana sendiri yang saat ini sedang sangat getol mengajaknya bekerja sama.
“Dia menawariku kerja sama untuk event nulis, lho,” tutir Keinya kemudian.
__ADS_1
Athan mengerutkan dahi berikut bibirnya sambil terdiam merenung untuk beberapa detik. “Dia kan punya web novel sendiri, kenapa justru mengajakmu kerja sama untuk event nulis juga?”
“Hah? Masa, sih?” Keinya benar-benar baru mengetahui perihal Ryunana yang ternyata memiliki web novel juga. Dan dari Athan, ia mengantongi semua informasi tentang Ryunana.
“Ah, sudahlah ... tahu Ryunana enggak kapok-kapok!” Keinya benar-benar pasrah sekaligus angkat tangan.
“Yang lebih gilanya, dia sudah berulang kali ngajak aku nikah!” tambah Athan dan sukses membuat Keinya terkesiap.
Keinya yang sempat terdiam saking terkejutnya segera berkata, “no! Kamu harus cari ibu sambung yang baik untuk Pelangi, juga masa depan keluargamu! Jangan sampai salah lagi, Than!” tegasnya.
Athan menghela napas dalam kemudian mengangguk. “Tentu. Kalau enggak, kenapa aku terus menolak bahkan berusaha melarikan diri darinya?"
Keinya mengangguk setuju. “Awas saja kalau kamu asal pilih pasangan!” tambahnya.
“Ya sudah. Aku mau balik kerja. Tolong, jaga Pelangi. Ngingi ... Ayah pergi dulu, ya ... Ayah mau kerja lagi!” pamit Athan yang langsung bersikap manis kepada Pelangi.
Athan sampai mengemban Pelangi, kemudian menimangnya dan tak lupa mencium bocah cantik itu.
“Makasih ... dadah ...,” ucap Pelangi sambil melambai-lambaikan tangan melepas kepergian Athan, bersama Keinya.
Ketika Athan meninggalkan pintu masuk restoran Keinya, di ana tangga terakhir, dompetnya terjatuh dari saku belakang.
Di waktu yang sama, Kimi yang kebetulan akan memasuki restoran Keinya dan mendapati hal tersebut, langsung berkata, “maaf, Kak. Dompet Kakak, jatuh.”
Mendapati teguran tersebut, Athan langsung terdiam sejenak. Pertama-tama, ia menatap Kimi yang masih berdiri serius di hadapannya dengan tangan kanan wanita itu yang menaha kaitan tas di pundak kanan.
Menyadari itu, Kimi mengulas senyum kemudian melangkah dan memungut dompet Athan. Ia memberikan dompet tersebut kepada pemiliknya.
Athan terpaku menatap dompet yang masih Kimi sodorkan, berikut wajah Kimi sendiri yang terlihat begitu tenang. “Melihat wajah wanita ini, ... kok aku melihat masa depan, ya?” Athan mendadak memikirkan Kimi sebagai masa depannya, terlebih beberapa saat lalu, ia baru saja membicarakan perihal pasangan dengan Keinya.
“Terima kasih!” ucap Athan kemudian sambil menerima dompetnya.
“Sama-sama, Kak. Lain kali hati-hati!” balas Kimi masih sopan, tetapi ia segera undur bersama panggilan masuk yang menghiasi ponselnya.
“Aku sudah di restoran Kak Kei, lho Ma.” Sambil terus berbicara dengan Sahila melalui sambungan telepon, Kimi berangsur memasuki restoran Keinya. “Mama di mana?”
Athan yang masih memandangi kepergian Kimi menjadi tersipu. “Dia kenal Keinya? Baguslah. Coba, aku langsung masuk lagi saja. Biar aku sekalian minta pendapat Keinya!” pikirnya sambil bergegas kembali memasuki restoran yang belum lama ia tinggalkan.
Bersambung ....
Ayo, berhasil enggak usaha Athan? Wkwkwkwk
Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaaa.
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1