Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 68 : Perjodohan dan Kerja Sama


__ADS_3

“Lamarkan Kainya untukku, Mam, Dad. Kita mulai semuanya dari Kainya.”


Bab 68 : Perjodohan dan Kerja Sama


****


“Meski ada dua wanita yang sama, aku hanya ingin menikahi Keinya.” Ben mengatakan itu di tengah hatinya yang makin risau. Sebab, hanya mengingat kebersamaan Keinya dan Yuan yang begitu dekat saja, membuat Ben seolah tidak memiliki harapan walau hanya sedikit. Namun apa pun yang terjadi, Ben akan melakukan semua cara agar ia bisa mendapatkan Keinya. Terlebih, ke dua orang tuanya sudah ada bersamanya menghadapi Philips yang memang sedang terimpit masalah keuangan. Ia akan menggunakan kenyataan itu untuk mendesak Philips agar mau memberikan Keinya sebagai barter.


Mendengar hal tersebut, Philips gusar. Apalagi, ia yang baru melihat Keinya dan Yuan saja sudah yakin, Keinya sangat mencintai Yuan. Lebih tepatnya, ke duanya yang begitu dekat terlihat jelas saling mencintai. Terlepas dari itu, mengenai lamaran sekaligus perjodohan yang ditawarkan oleh keluarga Ben, juga akan ia terima jika putrinya selaku yang akan menjalani perjodohan, mau. 


Philips tak mau egois meski keadaan keuangannya sedang terpuruk sedangkan keluarga Ben juga sampai menawarkan banyak kerja sama. Meski apa yang Ben sekeluarga lakukan membuatnya merasa, salah satu keluarga kaya raya di negaranya yang bergerak dalam bisnis properti tersebut justru tengah membeli harga dirinya.


“Mengenai pernikahan, perjodohan atau apa pun itu, sepenuhnya saya kembalikan kepada putri-putri saya.” Philips mengatakan itu dengan hati yang semakin ia lapangkan. Masih bersikap tenang menghadapi Ben berikut orang tua pria itu.


“Kalau begitu, boleh saya bicara dengan Keinya, Om?” pinta Ben sopan.


“Ya. Biar kami mendengar jawaban Keinya langsung.” Oskar selaku ayah Ben, menambahi, menyetujui permintaan putranya.


Tak mau membuat keadaan keruh, Philips pun menyanggupi. Ia langsung izin untuk memanggilkan putri yang baru beberapa jam lalu, menemuinya.


“Kita pasti bisa mendapatkan Keinya,” ucap Shena ibu Ben yang duduk di antara Oskar dan Ben.


Shena menatap Ben dengan senyum penuh keyakinan. Kenyataan yang langsung membuat Ben merasa lebih tenang. Karena biasanya, ketika sang ibu sudah berkilah, semuanya hasil yang Ben perjuangkan selalu lebih indah.


***


Pemandangan kebersamaan Yuan dan Keinya yang diselimuti kesedihan membuat Philips bingung. Yuan menyemayamkan kepalanya di pangkuan Keinya, sedangkan Keinya segera membelai kepala Yuan.


“Apa yang terjadi? Apakah Khatrin membuat keputusan fatal tanpa sepengetahuanku? Mereka sampai sesedih itu.” Fokus Philips teralih dari kebersamaan ke duanya. Ia mencari-cari keberadaan Khatrin. Setidaknya, sebelum mengantar Keinya menemui Ben dan orang tuanya, ia ingin mendengar langsung mengenai apa yang istrinya lakukan kepada Keinya maupun Yuan. Namun belum juga ia melangkah mencari Khatrin, tiba-tiba saja Keinya menyapanya.


“Boleh mengobrol sebentar?” ucap Keinya yang kemudian mengangkat kepala Yuan dari pangkuannya meski tanpa diminta, Yuan juga langsung beranjak, menunduk sopan pada Philips yang segera menghampiri mereka.


“Ada apa, Sayang?”


Keinya bangkit sedangkan Yuan berdiri di sebelahnya.


“Duduk dulu, Pi. Sebentar kok. Lagi pula, aku juga enggak bisa lama-lama karena takut Pelangi rewel,” ucap Keinya.


Philips mengangguk sambil tersenyum tulus, kemudian duduk di sofa kecil sebelah sofa panjang keberadaan Keinya dan Yuan yang berangsur duduk sesaat ia duduk.


“Begini, Pi. Mengenai pria yang tadi bersama Papi,” ucap Keinya yang duduk persis menghadap Philips sambil mencondongkan tubuhnya.


“Maksud kamu, Ben?” balas Philips langsung menebak sekaligus memastikan.


Keinya langsung mengangguk, sedangkan Yuan yang ada di sebelahnya masih menjadi penyimak baik.


“Kamu mengenal Ben?” sambung Philips.


Keinya segera menggeleng. “Enggak, Pi. Aku enggak kenal dia. Kami baru dua kali bertemu dan itu pun enggak sengaja.”


Philips mengernyit. Setelah termenung mencoba membaca situasi yang sebenarnya terjadi, ia berdeham. “Begini, Kei. Awalnya Papi pikir, Ben ingin menikahi Kainya. Tapi ternyata dia justru ingin menikahimu.”


Keinya dan Yuan langsung terkejut sekaligus tak menyangka. Mendapati ekspresi itu, Philips langsung meluruskan maksudnya.


“Jangan salah paham dulu. Meski awalnya Papi sama Mami sempat meminta Kainya menjalani perjodohan dengan Ben, itu pun kalau Kainya mau. Selebihnya, Papi enggak akan maksa apalagi ini menyangkut rumah tangga. Kalian berhak memilih dan menjalani pilihan kalian.”


Cara pikir Philips mengenai perjodohan membuat Keinya dan Yuan mendapatkan angin segar, setelah permintaan restu mereka pada Khatrin tak mendapatkan hasil.


“Jadi sekarang semuanya terserah padamu. Tapi sekarang juga, Ben dan orang tuanya sedang menunggumu dan mereka ingin mendengar jawaban langsung dari kamu, Kei,” tambah Philips.


“Aku sudah dengan Yuan, Pi. Yuan juga sudah melamarku. Hanya saja, Yuan juga ingin melamarku lagi di depan Papi dan Mami, serta orang tua Yuan.” Keinya mengatakan itu dengan suasana hatinya yang kembali bersedih. “Sedangkan tadi, sewaktu Yuan meminta restu ke Mami, Mami belum bisa kasih keputusan.”

__ADS_1


Philips mendengkus dan merasa tak habis pikir. “Pantas kalian sedih banget. Ternyata memang benar, Khatrin sudah membuat keputusan salah!” batinnya. “Jangan terlalu dipikirkan. Mami seperti itu karena mungkin Mami masih sangat tertekan. Jalani saja yang sudah ada. Kalau kamu memang sudah memilih Yuan, kamu juga harus siap menerima segala konsekuensinya.”


Balasan Philips membuat Keinya dan Yuan terenyuh. Ke duanya sampai menitikkan air mata dengan sebelah tangan Yuan yang refleks menggenggam sebalah tangan Keinya.


“Kami benar-benar menghargai keputusan Om. Dan saya sangat mengharapkan restu dari Om!” tambah Yuan.


Philips mengangguk. “Tunggu semuanya lebih baik lagi. Tunjukan ke Mami kalau kamu benar-benar tulus sekaligus serius kepada Keinya.”


Yuan mengangguk. “Iya, Om. Sekali lagi, terima kasih banyak.”


Philips kembali mengangguk. Kemudian tatapannya teralih pada Keinya. “Tolong temui Ben dan orang tuanya sebentar saja. Biar mereka enggak penasaran, yah, Kei.”


Sambil menyeka air matanya, Keinya mengangguk. “Iya, Pi.” Kemudian ia menatap Yuan. “Yu, tolong temani aku. Tadi Ben sempat maksa karena dia ingin bertemu kamu.”


Yuan mengangguk. “Baiklah, ayo kita temui mereka.”


Philips menemani Yuan berikut Keinya, menemui Ben sekeluarga. 


****


Pemandangan Yuan ada bersama Keinya sangat tidak Ben harapkan. Terpancar jelas dari cara Ben menatap Yuan.


Senyum lepas menjadi sambutan tunggal dari Oskar dan Shena yang sampai berdiri dari duduknya.


“Ini yang namanya Keinya? Cantik sekali,” ujar Shena bersama ucapan berikut ekspresi yang manisnya mengalahkan madu.


“Makasih, Tante,” balas Keinya tak kalah ramah.


Oskar menatap Philips dengan semringah. “Sudah disampaikan, kan?” ucapnya.


Philips mengangguk. “Sudah. Ayo silakan duduk lagi.”


Apa yang baru saja Philips sampaikan membuat kebahagiaan Shena dan Oskar gusar. Ke duanya kompak menatap Keinya yang duduk di antara Philips berikut seorang pria yang menyertai.


Keinya berdeham dengan rasa tegang yang seketika membersamai. Namun tiba-tiba saja, sebelah tangan Yuan menggenggam sebelah tangannya di mana ketika ia memastikan wajah pria itu, Yuan masih terlihat begitu santai.


Yuan menatap Ben, Shena berikut Oskar dengan seulas senyum. 


“Sebelumnya saya minta maaf karena jawaban yang saya berikan mungkin tidak sesuai dengan yang Om dan Tante, juga Ben harapkan. Karena pria di sebelah saya, dia calon suami saya dan kami sudah merancang pernikahan.”


Rasa kecewa langsung membuncah dari raut wajah orang tua Ben. Lain lagi dengan Ben yang langsung menatap serius Yuan penuh kesal.


“Kenapa Tuan Philips tidak mengatakan ini sebelumnya?” ucap Oskar dengan nada marah.


“Maaf, Om. Mengenai ini, Papi juga baru tahu, karena suatu hal di antara kami, kami baru bisa bertemu.” Keinya mencoba menjelaskan.


“Selain itu, perwakilan dari Tuan Oskar yang bernama Kemal juga mengatakan lamaran ini untuk Kainya, bukan Keinya,” tambah Philips.


“Ben?” tuntut Shena lantaran Ben hanya bungkam.


“Keinya bilang, Anda ingin bertemu dengan saya?” ucap Yuan yang akhirnya angkat suara dan sengaja ditujukan kepada Ben.


Ben menepis tatapan Yuan. “Tuan Philips, mengenai kerja sama kita,” ucapnya tertahan lantaran Oskar mendadak berseru.


“Batalkan saja jika perjodohan ini tidak jadi!” saut Oskar menggebu-gebu sambil bangkit dari duduknya disusul juga oleh Shena.


Kerasnya cara pikir Oskar membuat Keinya bergidik ngeri. Keinya segera ikut bangkit dari duduknya mengikuti Philips.


“Sebenarnya ada apa, Pi?” tanya Keinya yang telanjur takut dengan nada lirih.


Philips segera menggeleng, “enggak ada apa-apa, Sayang. Ini enggak ada sangkut pautnya sama kamu, kok.”

__ADS_1


“Mengenai kerja sama,” sela Yuan sembari bangkit dari duduknya dengan cukup santai. Di mana boleh dibilang, Yuan menjadi satu-satunya yang menyikapi keadaan dengan tenang. “Serahkan kepada saya, Om. Kita bisa memulai kerja samanya secepatnya.”


“Tidak perlu. Saya tidak mau lagi bekerja sama dengan kalian!” sela Oskar yang memang telanjur tidak sudi.


“Kerja sama yang saya maksud juga bukan dengan Anda, Tuan. Ini mengenai kerja sama saya dengan perusahaan Om Philips. Om, apa pun bidang kerja sama yang Om tawarkan, Fahreza Grup siap menjalankannya. Secepatnya, orang perusahaan saya akan menghubungi Om. Saya akan membentuk tim khusus untuk kerja sama kita,” timpal Yuan.


Diam-diam, Khatrin yang tak sengaja menyimak dari sebelah pintu kebersamaan menjadi bergeming, tak percaya Yuan mau turun tangan.


Ben berdeham kemudian bangun dari duduknya. Sedangkan Oskar dan Shena langsung pergi tanpa pamit bahkan meski sekadar untuk basa-basi.


“Mengenai salah paham ini, saya benar-benar minta maaf, Om. Saya akan segera menghubungi Om untuk semuanya.” Ketika akan pergi dari kebersamaan, tatapan Ben terus tertuju pada Keinya.


****


“Fahreza Grup itu yang bergerak di perhotelan dan apartemen, kan Dad? Mereka perusahaan besar. Mereka sudah punya banyak cabang hotel dan apartemen yang tersebar di kota-kota besar Indonesia, khususnya kota-kota maju. Belum lama ini, mereka juga baru meresmikan apartemen di Cibubur. Dady tahu, kan, Cibubur sedang menjadi tujuan utama bisnis di Jabotabek?” ucap Shena sambil menyeimbangi langkah Oskar yang begitu buru-buru.


Langkah Oskar berangsur memelan. Ia menyimak dengan baik setiap cerita dari Shena.


“Sangat menguntungkan kalau kita bisa bekerja sama dengan Fahreza Grup, Dad!” tambah Shena semringah.


“Seharusnya tadi Dady rnggak langsung pergi hanya karena terbawa emosi. Meski aku enggak bisa mendapatkan Keinya sekarang, kita enggak tahu apa yang akan terjadi nantinya, kan?” keluh Ben yang melangkah tergesa di belakang orang tuanya.


“Iya si Dady. Emosian banget,” sela Shena sambil mendengkus geregetan.


“Tadi Momy juga ikut-ikutan,” sela Ben mengoreksi, membuat Shena langsung diam bahkan salah tingkah.


“Bagaimanapun caranya, aku ingin kita tetap berhubungan baik dengan keluarga Om Philips. Enggak apa-apa, meski aku harus memanfaatkan Kainya.” Ben yakin dengan keputusannya. “Lamarkan Kainya untukku, Mam, Dad. Kita mulai semuanya dari Kainya. Bilang ke Om Philips kalau apa yang terjadi tadi hanya salah paham.”


“Aku tahu ini sama saja mempermalukan kalian. Namun, dengan begini, aku juga akan membantu kalian untuk bisa bekerja sama dengan Fahreza Grup!” Ben menatap yakin orang tuanya yang seketika terdiam. 


Oskar dan Shena terdiam merenung, terlihat sangat serius.


***


“Jangan terlalu dipikirkan. Mereka memang terkenal keras,” ujar Philips mencoba mencairkan suasana terlebih Keinya masih terlihat sangat cemas.


“Mengenai kerja sama tadi, saya benar-benar serius, Om,” ucap Yuan yang kemudian merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan kotak kartu nama. Ia mengambil dua kartu namanya dan memberikannya kepada Philips. Belum sempat ia berucap, ponselnya yang ada di saku sisi celana berdering. Ia pun segera undur apalagi itu panggilan masuk dari Rara, sedangkan pikirannya langsung tercuri pada Pelangi.


“Iya, Ra ada apa? Pelangi demam tinggi? Baiklah, aku dan Keinya akan segera pulang.”


Mendengar nama Pelangi disebut, Keinya langsung menghampiri Yuan. “Yu, Pelangi demam?” Ia menatap Yuan dengan perasaan campur aduk bahkan hancur.


Sambil mengantongi ponselnya, Yuan mengangguk. “Kita pulang.”


“Pi, aku sama Yuan pamit dulu,” sergah Keinya.


Philips yang kebingungan segera mengangguk. “Segera hubungi Papi kalau sampai terjadi sesuatu,” ucapnya yang sebenarnya tidak begitu paham dengan persoalan yang sedang Yuan dan Keinya cemaskan. Pelangi itu siapa? Anak Keinya?


“Om, mengenai kerja sama yang saya maksud, tolong Om pertimbangkan lagi. Saya tunggu kabar baik dari Om!” ucap Yuan di sela pamitnya.


Ketika Keinya dan Yuan sudah meninggalkan pintu, tiba-tiba saja Khatrin berseru. “Mami ikut. Biar sekalian kamu pindah ke sini. Seenggaknya kalau enggak keburu malam ini, besok pagi kamu langsung pindah.”


Keinya terpejam pasrah. “Aku mohon, Mi. Jangan bahas ini dulu. Kita bahas lain kali saja. Mami juga belum bisa kasih restu sekarang, kan?”


Keinya segera menarik lengan Yuan sembari melangkah tergesa. Kendati demikian, Yuan tetap membungkuk pada Khatrin sebagai tanda hormatnya.


“Mengenai urusan cinta anak-anak, harusnya Mami enggak ikut campur terlalu jauh,” ujar Philips.


Khatrin masih dengan keputusannya, mengajak Keinya tinggal bersama mereka dan menjauhkannya dari Yuan, hingga Kainya bisa menerima kenyataan. “Papi tolong jaga Kainya. Mami akan mengikuti mereka!”


****

__ADS_1


__ADS_2