Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Selepas Perceraian Season 2 Bab 1 : Restu


__ADS_3

Kalau memang kami tidak seharusnya ada, kenapa Tuhan membiarkan cinta tumbuh begitu kuat dan menyatukan kami di dalamnya?


Bab 1 : Restu


Kimo menyampirkan jas abu-abunya ke sebelah pundaknya kemudian menekan tombol kunci mobil di tangan kanannya sambil berlalu meninggalkan mobil tersebut dan memasuki beranda rumahnya yang sepi. Rumah bernuansa putih yang memiliki penerangan kuat itu ia amati sekilas sambil menekan bel yang keberadaannya persis di sebelah kanan pintu bermuka dua berukuran besar. Tanpa membuatnya menunggu lama, seseorang membukakan pintu dari dalam, dan Kimo dibuat terkejut lantaran Kiaralah yang melakukannya.


“Ya ampun, Mama. Kok Mama sampai yang buka pintu buat aku?”


Seulas senyum tulus menyertai sapaan Kimo disusul ia yang langsung membentangkan tangan kemudian mendekap hangat Kiara. Sungguh sebuah perhatian yang begitu besar baginya, lantaran Kiara sampai terjaga dan bahkan sampai membukakan pintu, setelah hampir setengah tahun mereka tidak tinggal bersama. Belum lagi, Kimo juga memiliki maksud lain dari caranya yang makin menghormati Kiara. Tentu tak lain karena ia juga ingin mendapatkan restu dari Kiara yang sudah tiga bulan ini menuntutnya untuk segera berumah tangga.


“Ma, aku mau mengobrol sebentar, boleh?” pinta Kimo sesaat mengakhiri dekapannya.


Kiara mengulas senyum sambil mengangguk. “Boleh, Sayang. Kebetulan, Mama juga ada hal penting yang ingin disampaikan ke kamu.”


Keduanya berjalan beriringan sambil terus bergandengan meninggalkan ruang tamu utama selaku ruang pertama yang keberadaannya tepat di depan pintu masuk. Mereka menjadikan ruang keluarga yang ukurannya jauh lebih luas dengan banyak lampu yang menyala terang, untuk duduk.


“Ma, sebenarnya,” Kimo memulai obrolan, antusias dan tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya hanya karena ia memikirkan hubungannya dengan Rara yang semakin dekat. Terlebih, seperti biasa, Kiara langsung menyambutnya dengan antusias bertabur kehangatan yang wanita itu layangkan melalui senyumnya.


“Kamu mau membahas pernikahan yang Mama minta?” sergah Kiara.


Kimo tersipu kemudian mengangguk. “Iya. Aku dan—”


“Iya. Mama juga setuju kalau kamu menikah dalam waktu dekat,” sergah Kiara yang lagi-lagi memotong ucapan Kimo.


Senyum Kimo makin tak terkendali. Ia merasa bersyukur lantaran meski berawal mengenalkan Rara melalui curhatan sekaligus foto kepada Kiara bahkan sang mama sama sekali tidak menggubrisnya, di pertemuan pertamanya orang tuanya dengan Rara di pernikahan Yuan dan Keinya, Kiara yang ia ketahui sangat selektif memilihkan pasangan, apalagi semenjak pengkhianatan Steffy dan Gio, justru langsung antusias layaknya sekarang.


“Mama sudah bahas ini dengan Kimi,” tambah Kiara masih antusias.


“Wah, Kimi juga sudah tahu?” balas Kimo makin tak menyangka.


Kiara mengangguk mantap. “Tentu! Mana mungkin Kimi nggak tahu, sedangkan dia juga yang akan menikah denganmu!” gerutunya.


Untuk beberapa saat, Kimo bergeming, tak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar dan terucap dari bibir Kiara. Kimi, akan menikah dengannya? Maksudnya?


Kiara menertawakan ekspresi kebingungan Kimo. “Kenapa harus terkejut begitu? Bukankah selama ini hubungan kalian sangat dekat? Kalian saling menyayangi?”


Kimo mendengus kesal. Wajahnya berubah menjadi sangat garang. “Mama sengaja merencanakan semua ini?” tudingnya sambil menatap sinis Kiara.


Untuk beberapa saat, Kiara terdiam karena terkejut, tak percaya dengan tanggapan Kimo yang begitu dingin kepadanya. “Kenapa?” keluhnya geram.


Kimo menghela napas dalam sambil mengenyahkan genggaman hangat kedua tangan Kiara dari tangannya. Tak hanya itu, ia juga sampai mundur dari duduknya sambil menepis tatapan Kiara.


“Apakah gadis itu sudah hamil?” tuding Kiara dingin sekaligus geram.


Kimo refleks menatap Kiara dengan tatapan yang semakin dingin. “Maksud Mama apa? Jangan terlalu kuno dan picik seperti ini!” keluhnya.


Kiara mulai gusar. Bahkan duduknya menjadi tidak tenang. “Bagaimana mungkin Mama bisa melepasmu untuk gadis yang bahkan anak dari wanita simpanan? Wanita perebut suami orang! Bagaimana jika—”


Kimo bangkit dari duduknya. “Rara tidak seperti yang Mama pikirkan! Rara bukan wanita seperti itu!” tegasnya dengan nada yang cukup tinggi sambil menatap Kiara penuh penekanan.

__ADS_1


“Kimo. Duduk dan jaga sikapmu!” tegur Franki dari anak tangga atas sana yang menghubungkan lantai atas dengan lantai keberadaan Kiara dan Kimo.


Kiara dan Kimo refleks menoleh dan menjadikan Franki fokus perhatian di mana Kiara juga sampai bangkit dari duduknya. Franki berangsur turun dan berhenti tepat di sebelah Kiara.


“Kalau cara Papa sama Mama seperti ini, kalian benar-benar nggak menghargai aku. Aku ini laki-laki, dan akulah yang memimpin sekaligus menentukan nasib rumah tanggaku!” tegas Kimo. “Aku bukan boneka apalagi benda mati yang bisa kalian atur sesuka hati!”


“Buah selalu jatuh tidak jauh dari pohonnya, Kimo!” tahan Kiara mengingatkan.


Kimo hanya melirik sinis di tengah kebungkamannya.


“Walaupun sekarang kamu sangat mencintai dan begitu percaya padanya, tetapi nanti kalau semuanya sudah terbukti, kamu pasti akan menyesal!” tambah Kiara.


Kimo menghela napas. “Sekarang kalian mau memberiku restu atau tidak? Apakah kalian berharap aku meninggalkan semua yang kalian berikan?” Kimo menatap kedua orang tuanya penuh kepastian.


Baik Franki maupun Kiara tidak ada yang berkomentar. Kenyataan tersebut membuat Kimo menyimpulkan keputusan keduanya. Segera, ia mengeluarkan dompet dan mengeluarkan KTP berikut SIM-nya sesaat sebelum meletakkannya di meja berikut kunci mobilnya.


“Aku benar-benar kecewa kepada kalian,” tandas Kimo.


“Kamu boleh memilih wanita lain selain Kimi, asal kamu juga memperhatikan bibir bobotnya! Mau ditaruh mana, harga diri kami, kalau orang-orang tahu latar belakang gadis itu!” sergah Kiara geram.


“Aku hanya akan menikah dan itu dengan Rara, apa pun dan bagaimanapun keadaannya bahkan ada tidaknya restu dari kalian! Satu lagi, mengenai Kimi ... seberapa pun dekat hubungan kami, sampai kapan pun dia tetap hanya sebatas adik dan keluargaku, meski kami memang tidak memiliki ikatan darah!” Setelah berkata seperti itu, Kimo berlalu dari hadapan orang tuanya.


Kiara menatap Franki penuh gelisah. Kimo benar-benar pergi dari rumah dan kenyataan itu dikuatkan dengan suara terbantingnya pintu. Franki merangkul Kiara sambil mengelus bahu sang istri.


“Biarkan saja. Kita lihat saja, sampai kapan dia akan bertahan.”


“Tapi Papa nggak bakal kasih restu ke mereka, kan?” desak Kiara harap-harap cemas.


“Pa!” tahan Kiara.


Franki menatap Kiara dengan tatapan serba salah. “Ini pasti karena Rara. Rara membuat Kimo menjadi pria yang lebih bertanggung jawab, Ma!” tegasnya meyakinkan.


Kiara menelan ludah sambil menggeleng dan menatap sang suami penuh kecewa. “Pokoknya Mama nggak mau tahu. Papa harus bantu Mama agar Kimo melupakan gadis itu! Pastikan Kimo juga dipecat dari perusahaan dan biarkan dia hidup susah agar dia bisa kembali pada kita secepatnya!” tegasnya yang kemudian berlalu dengan tergesa menaiki anak tangga yang menghubungkan ke lantai atas.


***


Rara baru saja menutup laptopnya kemudian melakukan peregangan demi mengurangi sakit di punggungnya, ketika bel apartemen terdengar bunyi. Meski Keinya memang tak lagi tinggal dengannya semenjak satu minggu sebelum menikah lantaran Keinya akan tinggal di rumah impian yang telah Yuan siapkan, tetapi sahabatnya itu memintanya untuk tetap tinggal di apartemen yang Keinya jadikan sebagai kantor perusahaan penerbitannya untuk sentara waktu.


Dan kendati merasa curiga kenapa ada yang datang di tengah waktu yang sudah hampir jam dua belas malam, tetapi Rara melangkah menghampiri pintu untuk memastikannya. Mungkin saja itu Yura yang masih tinggal di apartemen Yuan dikarenakan wanita itu membutuhkan sesuatu. Tetapi ketika Rara memastikan melalui kamera di sebelah pintu, ternyata tidak ada siapa-siapa. Lantas, siapa yang tadi menekan bel apartemennya dari luar?


“Orang iseng? Tapi kan aku nggak ulang tahun ...? Dan nggak mungkin hantu juga, kan?” pikir Rara yang memilih berlalu. Apartemen Fahreza Grup milik Yuan merupakan apartemen terpercaya yang terjamin keamanannya. Ia tidak perlu pusing memikirkan gangguan dari pihak luar lantaran di luar sana ada petugas khusus yang berjaga selama 24 jam penuh untuk mengawasi setiap pergerakan di luar ruangan apartemen melalui kamera pengawas. Terlebih, tidak sembarang orang diizinkan memasuki area apartemen apalagi di waktu yang sudah selarut sekarang.


Namun, baru juga menekan kop pintu kamar, Rara dikejutkan oleh seseorang yang menerobos memasuki apartemen sesaat terdengar suara tombol pintu yang terbuka. Kimo, pria itu terlihat sangat muram dan sepertinya, kekasihnya itu dalam keadaan yang kurang baik.


“Tadi kamu yang menekan bel?” tanya Rara memastikan sambil menghampiri Kimo yang juga beranjak meninggalkan pintu menuju ke arahnya.


Kimo tak menjawab. Dan Rara semakin yakin dugaannya mengenai Kimo yang sedang tidak baik-baik saja memang benar adanya. Pun meski Kimo sudah berdiri di hadapannya. Kimo tetap bungkam sambil terus menatapnya. Kesal, sedih, bahkan marah terpancar dari wajah berikut cara pria itu menatapnya.


Bukankah mereka belum lama berpisah? Tadi, pukul tujuh malam Kimo melepasnya setelah menghadiri resepsi pernikahan Keinya dan Yuan di mana mereka juga sampai mendapatkan buket pengantin, kan? Lantas, kenapa kebahagiaan yang sedari tadi menguasai Kimo, kini hilang tanpa tersisa sedikit pun?

__ADS_1


Belum juga kebingungan Rara sirna, tiba-tiba saja Kimo mendekapnya sangat erat kemudian mengunci keningnya dengan kecupan hangat.


Pasti ada masalah. Pasti ada yang salah. Itulah yang Rara yakini atas kejadian kini. Terlebih, dekapan Kimo begitu kuat. Sampai-sampai, tulang tangan berikut punggung Rara terasa sangat sakit. Kendati demikian, Rara memilih bungkam lantaran ia sendiri mulai merasakan kesedihan yang Kimo rasakan. Apakah ini berhubungan dengan tanggapan dingin Kiara?


“Ra, bagaimana kalau kita menikah?” ucap Kimo tiba-tiba tanpa mengakhiri dekapannya. Hanya saja, dekapannya tak seerat sebelumnya.


“Bulan depan, kan?” balas Rara tidak yakin.


“Semua persiapan sudah beres. Bulan depan resepsinya saja.” Nada suara Kimo masih terdengar datar tapi serius.


Rara berangsur menjauhkan tubuhnya dari dekapan Kimo. Tanpa mengakhiri dekapan mereka, ia menengadah menatap wajah Kimo sambil berkata, “katakan ini di depan orang tuamu!”


Kimo hilang arah. Tak mungkin ia mengabulkan permintaan Rara, sedangkan beberapa saat lalu, sekitar dua jam yang lalu, ia baru saja memilih meninggalkan orang tua berikut fasilitas yang ia punya demi Rara. Jadi mustahil bila ia meminta restu orang tuanya lagi bahkan itu di hadapan Rara.


“Aku tidak ingin mengambil risiko. Karena sampai kapan pun, wanita dan anaklah yang selalu menjadi korban,” tambah Rara. “Jadi kembalilah pulang ke orang tuamu kalau kamu belum siap melakukannya.” Rara tertunduk sedih.


Kimo menghela napas pasrah. “Aku sudah memilihmu. Jadi jangan pikirkan orang lain termasuk orang tuaku.”


Rara tersentak dan menatap Kimo tak percaya. Biar bagaimanapun, setelah Keinya menikah, ia hanya tinggal memiliki Kimo. Benar-benar tidak ada yang lain meski Piera ibunya masih hidup bahkan wanita itu mengetahuinya. Namun hingga detik ini, hubungannya dengan Piera benar-benar sekadar status tanpa itikad baik apa pun mengenai hubungan mereka yang dilakukan Piera. Jadi sedih saja, jika hanya karena Kimo memilihnya, pria itu harus dibuang bahkan kehilangan keluarganya.


Aku tidak mengharapkan sesuatu yang sempurna termasuk dalam cinta karena itu hanya ada dalam cerita. Aku memang bukan Keinya yang memiliki Yuan berikut keluarga hangat dari kedua belah pihak, tetapi apakah aku terlalu serakah jika mengharapkan ketulusan restu dari orang tua Kimo? Kalau memang kami tidak seharusnya ada, kenapa Tuhan membiarkan cinta tumbuh begitu kuat dan menyatukan kami di dalamnya?


“Pergi dan tidurlah. Aku akan memikirkan semuanya dan menyelesaikan segera.” Kimo membalutkan jasnya pada wajah Rara, kemudian ia menahan bahu wanita itu untuk memunggunginya. Kimo menuntun Rara untuk memasuki kamar.


“Beri aku kesempatan untuk bertemu dengan orang tuamu,” ujar Rara semangat.


“Tidak perlu.”


“Aku mohon,” sergah Rara sambil berusaha balik badan, tetapi Kimo menahannya untuk tidak melakukannya.


Kimo berhasil mendorong Rara masuk ke kamarnya.


Rara buru-buru balik badan, menatap Kimo sebelum pria itu menutup pintu. “Demi Tuhan. Ada tidaknya restu dari mereka tidak akan mempengaruhi keputusanku menikah denganmu!” rajuk Rara.


“Jangan pernah menemui mereka. Hanya dengan begitu kamu sudah sangat membantu sekaligus menghargaiku,” tegas Kimo di antara keseriusannya.


Hati Rara terbesit. Perih. Benar-benar perih. Lebih perih dari ketika ia mengetahui ibunya masih hidup dan justru menjadi simpanan bahkan seorang pelakor.


Di saat ada cinta yang benar-benar tulus untukku, kenapa harus sesulit dan sesakit ini?


“Sekali saja,” pinta Rara yang tak mampu membendung air mata kesedihannya agar tidak berlinang.


Kimo yang turut menitikkan air mata, berangsur menggeleng kemudian menengadah, menghalau sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya hingga ia harus menghela napas beberapa kali.


“Aku mohon ...,” rengek Rara. “Aku janji hanya sekali dan setelah itu, aku tidak akan meminta apa pun lagi. Nggak ada salahnya kan, aku berusaha?”


“Tapi jika aku membiarkannya, kamu hanya akan semakin terluka.” Kimo berusaha meyakinkan Rara.


“Tapi jika aku hanya diam dan membiarkan semua ini terjadi, aku merasa sangat tidak berguna,” isak Rara sambil mengelap air matanya menggunakan kedua punggung tangannya silih berganti.

__ADS_1


Kimo mulai merasa serba salah. Melihat Rara sesedih sekarang dan itu karenanya, lebih sulit bahkan menyakitkan dari ketika ia memilih meninggalkan orang tuanya. “Aku mohon, mengertilah. Aku lebih tahu watak orang tuaku!”


Rara memang tidak melakukan permohonan lagi, tetapi tangisnya justru semakin tak terkendali. Terisak-isak bahkan sampai sesenggukan. Kenyataan yang membuat Kimo tak berdaya di mana pria itu juga menjadi merasa tak berguna.


__ADS_2