Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 25 : Pulang (Revisi)


__ADS_3

...“Bukankah aku tidak mencintai Keinya? Kenapa aku merasa takut bahkan tidak suka jika dia bersama pria lain, selain aku?”...


Bab 25 : Pulang


Yuan bergeming di antara kekecewaan yang mulai menyelimuti kehidupannya. Mengenai dirinya yang tetap merasa gagal meski pria itu sadar, alasan Keinya tetap mengabaikannya, karena Keinya telanjur trauma. Luka yang wanita itu sembunyikan terlampau dalam; mengenai pengkhianatan, berikut Pelangi yang masih sangat membutuhkan kelengkapan peran orang tua.


[Apakah cintaku hadir di waktu yang salah? Namun, sampai kapan? Jika aku diam, kamu pasti nggak tahu. Tapi jika aku terus meyakinkanmu, yang ada kamu akan membenciku kemudian meninggalkanku. Sementara jika aku memberimu waktu, bisa jadi kamu justru bersama pria lain. Tolong, Kei ... katakan padaku, apa yang membuatmu bisa percaya padaku.]


Yuan mengirimkan pesan tersebut kepada Keinya. Dirasanya, dirinya mulai menjadi pria yang kehilangan urat malu. Namun, ketika seseorang jatuh cinta, semua yang dijalaninya selalu benar tanpa terkecuali, kan? Yuan mencintai bahkan sangat mencintai Keinya. Dan Yuan hanya ingin memastikan Keinya berikut Pelangi bahagia karena usaha Yuan, jeri payah Yuan!


***


Hal yang membuat Keinya semakin terluka, tak lain karena di luar kesadarannya, ternyata ia meminta sopir taksi, mengantarnya ke rumah bersamanya dan Athan. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaannya, rumah bersamanya dan Athan kembali menjadi tujuannya untuk pulang. Ya, pulang. Suatu hal yang tiba-tiba saja sulit Keinya artikan. Apalagi sekarang, Keinya sudah tidak memiliki tujuan untuk melakukannya. Setidaknya, sewaktu Keinya masih dengan Athan, Keinya selalu memiliki alasan untuk cepat-cepat pulang. Paling tidak ia memiliki pekerjaan rumah termasuk menyiapkan makanan untuk Athan, selain menyempatkan waktu untuk merawat diri seperti selalu keramas setiap hari dikarenakan Athan paling suka membelai rambut panjang Keinya sambil menciuminya. Namun sekarang, ketika sopir taksi tiba-tiba menegurnya dan mengatakan mereka sudah sampai, pemandangan kebersamaan Athan dengan Tiara, justru menghancurkan hati bahkan kehidupan Keinya.


Athan dan Tiara terlihat sangat bahagia. Keduanya baru saja turun dari mobil dengan Athan yang turun lebih dulu untuk membukakan pintu sebelah kemudi keberadaan Tiara. Sebelum memutari mobil untuk mengambil karton berikut kantong belanjaan di bagasi yang jumlahnya sangat banyak, Athan menyempatkan waktu untuk mengelus kemudian mencium perut Tiara dilanjutkan dengan mencium mesra bibir bergincu merah hati, Tiara.

__ADS_1


Athan, … Athan terlihat jelas sangat mencintai Tiara. Bahkan Keinya saja belum pernah diperlakukan seperti itu. Sebab semenjak mengabarkan perihal kehamilannya, Athan memang langsung menyikapi Keinya dengan berbeda. Athan mulai mengabaikan Keinya dan membuat Keinya merasa asing kepada pria itu. Keinya sungguh hanya berjuang sendiri dan sampai malu karena harus terus-menerus merepotkan Rara untuk urusan cek kesehatan bahkan kehamilan yang seharusnya dilakukan bersama Athan.


Keinya kian hancur. Dan seharusnya ia langsung pergi pada saat itu juga. Bukan malah diam sambil meratapi kebahagiaan kedua insan di hadapannya yang kedatangannya disambut oleh dua asisten rumah tangga dan langsung membantu keduanya membawa belanjaan.


Jadi, demi Tiara, Athan melakukan semuanya? Tak sekadar memperlakukan wanita itu bak ratu, melainkan benar-benar semuanya kendati harus menghancurkan kehidupan Keinya berikut Pelangi? Memikirkan itu, hati Keinya menjadi terasa ngilu bahkan perih. Seperti ada banyak benda tajam yang menyerang di sana, tanpa jeda.


“Pelangi ... kenapa papamu begitu tega kepada kita? Kalau memang papamu hanya ingin memanfaatkan Mamah, enggak seharusnya dia sampai membuatmu ada hingga kamu juga merasakan dampaknya.”


Sebenarnya Keinya tidak mau membahas apa yang Athan lakukan apalagi kepada Pelangi meski hanya dalam jerit hati. Namun, Keinya tak tahu harus bagaimana untuk menyembuhkan rasa sakit berikut luka yang terus saja menderanya akibat ulah Athan. Keinya hilang arah dan tidak tahu harus berbuat apa sekalipun balas dendam menjadi bagian utama dari keinginannya saat ini. Keinya sungguh ingin membalaskan rasa sakit sekaligus luka fatal yang telah Athan dan Tiara torehkan padanya maupun Pelangi. Luka fatal yang pastinya tidak bisa benar-benar hilang.


Melihat Keinya justru menangis tersedu-sedu sambil mendekap bayi dalam gendongan wanita tersebut, sang sopir menjadi kebingungan. Sang sopir menjadi tidak berani bertanya lagi, dan hanya bisa menyodorkan kotak tisu di sebelahnya kepada Keinya. Di waktu yang sama, Athan yang akan menuntun Tiara memasuki rumah, tidak sengaja melihat ke arah taksi yang ditumpangi Keinya. Hanya saja, Athan tak sampai melihat Keinya, dikarenakan tertutup oleh sopir taksi yang masih balik badan menyodorkan tisu.


Athan yang terlihat terkejut dengan ulah Tiara, segera menggeleng dan mengalihkan perhatiannya dari taksi tadi. Athan menatap Tiara penuh cinta berikut senyuman yang terus menghiasi wajahnya.


“Di taksi ada siapa?” Tiara menatap curiga kepergian taksi.

__ADS_1


Hal tersebut membuat Athan gugup. “N-nggak ada siapa-siapa. Ayo masuk sudah malam. Kita susun perlengkapan baby-nya.”


Athan sengaja merangkul sekaligus menuntun Tiara untuk secepatnya masuk rumah, dengan perasaan waswas. Ia sendiri tak mengerti kenapa pikirannya menjadi dikuasai Keinya, di mana semakin lama, ia bahkan menjadi mencemaskan wanita yang masih resmi menjadi istrinya.


Sambil tersenyum manja dan menatap Athan penuh cinta sementara sebelah tangannya yang tak menahan dada pria tersebut, mengelus perutnya yang buncit, Tiara berkata, “tapi aku juga ingin mengubah wallpaper kamar baby!”


Bukannya menyimak rengekan Tiara, pikiran Athan justru melayang terhadap penghuni taksi yang beberapa menit lalu baru saja meninggalkan depan gerbang rumahnya. Apakah tadi Keinya? Hal yang membuatnya berpikir demikian, tak lain karena memang tidak ada orang lain yang mengetahui alamat rumahnya untuk kepentingan suatu hal, kecuali Keinya. Jadi, ketika ia sudah memastikan Tiara sibuk di dalam kamar calon anak mereka untuk menyusun seabrek keperluan yang baru saja mereka beli, ia sengaja menemui asisten rumah tangganya yang kebetulan ada di dapur.


“Bi, tadi ada yang ke sini?” Athan tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. Ia menatap saksama mata wanita paruh baya di hadapannya yang terlihat begitu sendu dan justru membalasnya dengan gelengan takut.


“Enggak ada, Tuan. Enggak ada yang datang.”


Mendengar itu, Athan menjadi kecewa dan meluapkannya sambil mendengkus. “Bi, jangan bilang soal ini ke Nyonya, ya.”


Si wanita paruh baya segera mengangguk kemudian menyusun beberapa sayuran yang dikeluarkannya dari kantong belanjaan berwarna putih, ke dalam rak bawah di lemari pendingin.

__ADS_1


“Kenapa aku jadi mencemaskan Keinya? Kenapa aku merasa sangat berdosa kepada Keinya? ... kira-kira, sekarang Keinya tinggal di mana?” Memikirkan Keinya, Athan menjadi gelisah. “Bukankah aku tidak mencintai Keinya? Kenapa aku merasa takut bahkan tidak suka jika dia bersama pria lain, selain aku?”


*****


__ADS_2