Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Selepas Perceraian Season 2 Bab 2 : Drama Malam Pertama


__ADS_3

“Kamu yang minum obat, kok perutku yang sakit bahkan kayak ditusuk-tusuk, ya?”


Bab 2 : Drama Malam Pertama


Pintu kamar mandi masih tertutup, ketika Yuan memasuki kamar di mana suara air dari shower menjadi satu-satunya suara yang menghiasi di sana, sedangkan di ranjang tidurnya, Pelangi sudah tertidur pulas mengenakan piama panjang berwarna biru muda. Piama yang sama dengan piama untuknya yang sudah disiapkan di tepi kasur megah miliknya dan Keinya. Karena seperti sebelumnya, Pelangi juga memiliki ranjang sendiri. Hanya saja, ukuran ranjang kali ini lebih besar. Pun meski baik orang tuanya maupun orang tua Keinya sudah menyarankan membuatkan kamar sendiri untuk Pelangi lengkap menyewa pengurus, baik Yuan maupun Keinya belum bisa melakukan hal tersebut. Bahkan mereka sepakat untuk tidak mengerjakan pekerja, khusus urusan anak meski nantinya mereka memang akan menambah anak.


Yuan mengamati suasana kamarnya. Ada bunga sedap malam yang menebarkan aroma wangi khas di sudut ruang kamar dekat jendela dalam vas yang Keinya susun sedemikian rupa. Wanitanya itu bilang, wewangian dari bunga seperti bunga sedap malam lebih sehat ketimbang wewangian instan bahkan aroma terapi yang masih berbahan herbal sekalipun.


Sedangkan nuansa putih yang menghiasi kamar tentu masih pilihan Keinya. Dari kedua lemari pakaian berukuran besar yang memiliki banyak pintu dan posisinya menyatu dengan dinding dan posisinya berhadapan. Lemari sepatu berikut koleksi tas yang mengusung nuansa kaca, serta tiga buah lemari kecil yang berada di antaranya, dan bagian atasnya digunakan untuk menyimpan foto kebersamaan mereka, salah satunya foto prewedding yang masih menyertakan Pelangi di dalamnya.


Bagi Yuan, apa yang terjadi kini masih sangat seperti mimpi. Ia masih belum bisa percaya, jika pagi tadi, ia dan Keinya sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Tak ada batasan lagi dalam hubungan mereka. Mereka bebas melakukan apa pun bahkan dalam waktu yang tak terbatas. Karena meski selama ini mereka sudah bersama, peraturan juga batasan tetap mengikat mereka. Jadi, setelah semuanya telah resmi dan mereka terbebas dari ikatan, rasanya kebahagiaan dunia benar-benar ada dalam genggamannya.


Sembari menyudahi pengamatannya, Yuan membuka kancing kemeja bagian kerah dan bawahnya, sambil melangkah mendekat kemudian jongkok dan mencium sebelah pipi Pelangi. Kemudian ia menoleh ke belakang dan mendapati pintu kamar mandi masih dalam keadaan tertutup tanpa tanda-tanda Keinya akan membukanya apalagi suara air dari shower juga masih terdengar.


“Oh iya, aku belum minum obat,” pikir Yuan yang kemudian mencari-cari keberadaan obatnya. Karena satu minggu sebelum pernikahan, ia terkena tifus dan radang tenggorokan. Jadi ada beberapa obat yang harus ia minum di mana biasanya disiapkan Keinya dalam kotak obat.


Setelah mencari-cari, hanya ada satu kotak obat dan itu di meja rias. Yuan menatap kotak itu penuh kepastian. Obat tablet berwarna putih. Biasanya, Keinya memang menyiapkan obat-obatnya dalam kotak terpisah untuk sekali konsumsi dalam wadah obat, tetapi seingatnya, obatnya itu ada beberapa dalam bentuk berbeda. Sedangkan dalam kotak obat yang ia temukan hanya satu rupa, sementara seingatnya, ia harus minum obat selama dua hari ke depan. Namun kenapa dalam kotak obat tersebut hanya ada satu rupa dan ditempatkan tak tentu? Ada yang berisi dua, tiga, bahkan lebih?


“Ini obatku bukan, sih? Tapi kalau bukan obatku, obat siapa lagi? Nggak ada yang sakit atau harus mengonsumsi obat kecuali aku, kan?” Yuan bertanya-tanya. Daripada telat meminum apalagi memang sudah lewat setengah jam dari jadwal seharusnya, ia pun mengambil satu kotak berisi tiga butir kemudian meminumnya menggunakan air yang sudah tersedia di sana dalam gelas putih tertutup.


Tak lama setelah Yuan menenggak obat bahkan pria itu masih menenggak sisa air minum dan nyaris tandas, Keinya keluar dari kamar mandi dengan kepala yang terbungkus handuk.


“Mmm? Kamu telat setengah jam, ya?” ujar Keinya sambil memijat-mijat kepalanya yang masih terbungkus handuk. Ia berjalan mendekati Yuan. Awalnya bertabur senyum, tepi lama-lama menjadi digantikan kecemasan lantaran kotak obat penunda hamilnya dalam keadaan terbuka sedangkan Yuan tidak menyanding kotak obat yang sudah ia siapkan khusus.


Keinya menerobos Yuan hanya untuk meraih dan memastikan kotak obat berisi obat penunda hamil miliknya. Celaka, obatnya kurang tiga! Kemudian ia menatap cemas pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu, dan buru-buru menahan bibir Yuan yang nyaris menyambar bibirnya.


“T-tunggu, kamu minum?” tanya Keinya waswas.


Yuan mengangguk disusul meletakan gelas bekasnya meminum obat. “Obat,” jawabnya serius.


“I-ya, obat apa?” sergah Keinya penasaran.


Yuan menunjuk kotak obat yang dipegang Keinya melalui gerakan wajah. Mendapati itu, Keinya menjadi terpejam pasrah. Lain halnya dengan Yuan yang sudah mulai mencumbu leher Keinya.


“Yu ...!” keluh Keinya begitu resah.


“Kenapa? Apakah aku harus mandi dulu?” Yuan menatap bingung Keinya.


Keinya balas menatap Yuan kemudian menggeleng.


“Terus?”


“Itu tadi yang kamu minum obat penunda hamilku! Bukan obatmu! Sedangkan dosis untukku sendiri hanya satu! Dan ini kurang tiga! Tadi kamu minum 3, kan?” keluh Keinya yang bahkan nyaris menangis. Takut jika sesuatu yang buruk sampai menimpa suaminya yang bahkan mengonsumsi 3 dosis sekaligus.


Yuan bergeming kebingungan.


“Ayo muntahkan!” rengek Keinya.


“Sudah tertelan, sudah sampai lambung mungkin. Mau bagaimana lagi? Kamu juga nggak bilang mau minum obat penunda hamil?”


“Kan kita sudah sepakat menunda, karena operasi sesar kemarin mengharuskanku untuk tidak hamil lagi sebelum dua tahun,” balas Keinya yang menjadi merajuk saking bingungnya. Ia sampai mengenyakkan kedua kakinya ke lantai tak beda dengan anak kecil yang mengamuk sampai kejang-kejang.


Yuan memijat pelipisnya. “Sudah jangan khawatir. Semuanya pasti baik-baik saja,” bujuknya sambil merangkul Keinya kemudian mengelus sebelah bahu sang istri. “Seharusnya nggak apa-apa, kan?”

__ADS_1


Keinya yang kadung menangis, mengelap air matanya sambil menengadah. “Aku nggak tahu. Sekarang kita ke rumah sakit saja, ya? Takut kenapa-kenapa. Atau telepon dokter pribadimu coba,” rengeknya.


Yuan yang juga cemas, segera mengangguk. “Oke, oke. Sudah jangan menangis. Semuanya baik-baik saja.” Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel dari sana.


“A-ku buat kopi dulu nanti kamu minum, ya. Biar obat hamilnya nggak bereaksi!” Keinya sudah berlari tiga langkah meninggalkan Yuan, tetapi ia tiba-tiba berhenti dan berangsur balik badan. “Sayang, kamu nggak boleh minum kopi ... kan lambungmu ...?”


Meski Yuan juga cemas, tetapi ia tetap bersikap sesantai mungkin bahkan sampai mengulas senyum agar Keinya juga tidak semakin cemas bahkan merasa bersalah. “Nggak apa-apa. Ambilkan susu saja,” ucapnya penuh pengertian sambil menunggu balasan telepon yang ia lakukan pada dokter pribadinya.


Keinya mengangguk dan bergegas, tetapi ia kembali berhenti lantaran susu juga tidak bagus untuk mereka yang memiliki gangguan lambung. “Sayang, susu juga nggak bagus buat lambung kamu,”


“Nggak apa-apa. Susu beruang memang bagus buat kesehatan, kok. Daripada efek obatnya bekerja?” balas Yuan yang langsung menatap Keinya.


Keinya menghela napas kemudian mengangguk-angguk. “Baiklah.” Ia bergegas lari dan tak lama berselang kembali dengan membawa dua botol susu kemasan kaleng warna putih, sedangkan Yuan tengah terjaga terduduk di lantai di sebelah ranjang Pelangi.


Keinya menghampiri suaminya sambil membuka satu kaleng susu yang ia bawa.


“Kok dua? Satu saja cukup, kan?” tanya Yuan yang kemudian menenggak susu kaleng pemberian Keinya bahkan sampai dibukakan.


“Aku juga haus,” balas Keinya sambil menenggak sisa susu di tangannya kemudian duduk di sebelah Yuan yang menjadi terkikik menertawakannya.


Yuan bahkan sampai mengelus punggung Keinya sambil menahan tawanya, di mana kecemasan akibat kecerobohannya asal meminum obat benar-benar sirna hanya karena melihat tingkah Keinya yang tak beda dengan bocah.


“Yu,” keluh Keinya yang kemudian terdiam dengan gigi yang menjadi bertautan seperti menahan sakit.


Yuan melongok wajah Keinya dan meletakan asal kaleng susunya. “Ada apa lagi? Jangan bikin aku cemas.”


Keinya menghela napas. “Kamu yang minum obat, kok perutku yang sakit bahkan kayak ditusuk-tusuk, ya?”


Melihat Keinya yang jelas kesakitan, Yuan benar-benar khawatir. “Kamu nggak salah makan, kan? Sebelah mana yang sakit?”


Keinya berangsur bangkit dengan tubuh yang membungkuk. Yuan yang ditinggalkan segera memastikan tanggal kadaluwarsa di kaleng susu yang tertera tahun 2022. Tak mau kecolongan, ia menyusul dan membopong Keinya kemudian merebahkannya ke tempat tidur.


“Sakit banget?” tanya Yuan lirih sambil menggenggam erat sebelah tangan Keinya.


Keinya mengangguk kemudian mengambil posisi tidur miring menghadap Yuan. Namun karena tetap merasa tidak nyaman, ia memilih untuk tengkurap. Dan karena masih belum merasa nyaman, ia meraih guling kemudian menjadikannya untuk mengganjal perut.


“Duh ... kok malah jadi kamu yang sakit?” Yuan menggeragap. Tak bisa tenang seperti udang kecil yang dicampur dengan garam. Ia mondar-mandir untuk beberapa saat kemudian berlari ke dapur. Ia berpikir untuk mengompres perut Keinya dengan yang hangat. Tetapi kalau sejenis handuk atau kompres biasa dirasanya tidak cukup. Jadi, Yuan mencari cara lain yang bisa membuat perut Keinya terus terasa hangat tetapi tidak harus ribet. Jadilah botol kecap yang ada di kumpulan bumbu membuatnya menemukan ide untuk meredakan kram berikut sakit perut Keinya. Jadi, sambil merebus air, ia menuang isi botolnya dan segera membersihkannya kemudian mengisinya dengan air rebusannya. Jangan ditanyakan betapa repotnya Yuan yang melakukan semuanya dengan buru-buru sampai-sampai, kemeja lengan panjang warna pastel yang ia gunakan khususnya bagian dada, juga ternoda kecap.


Sesampainya ke kamar, Yuan yang membawa botol terbalut lap kemudian mengambil handuk dari dalam kamar mandi untuk membungkusnya segera mengganjalkannya ke perut Keinya dengan hati-hati.


“Masih sangat sakit?” tanya Yuan dengan napas memburu. Ia segera melepas lilitan handuk dari kepala Keinya, kemudian merapikan rambut Keinya yang masih basah dan menyisihkannya.


Keinya mengangguk. “Bajumu kenapa? Itu bukan darah, kan?”


Yuan segera menggeleng. “Bukan-bukan. Ini noda kecap botol yang buat ganjal perut kamu. Aku ganti baju dulu, terus kita ke rumah sakit, ya,” ucap Yuan sambil berlalu menuju lemari. Ia mengambil asal sebuah kaus lengan panjang warna hitam. Sambil terus menatap cemas sang istri yang justru tiba-tiba terseok menuju kamar mandi, ia melepas kaitan bajunya dan segera melepasnya. Melihat kondisi Keinya yang begitu mengkhawatirkan, sepertinya memang ada yang tidak beres. Kenapa juga bisa mendadak sakit perut padahal sebelumnya baik-baik saja?


Yuan menerobos masuk kamar mandi yang kebetulan tidak dikunci. Ia mendapati Keinya terduduk di atas kloset. “Kamu diare?” tebaknya.


Keinya yang terlihat pucat menggeleng sambil menunduk.


“Terus?” Yuan bersimpuh di hadapan Keinya sambil menyibakkan rambut istrinya itu ke belakang telinga.


Keinya yang masih mencengkeram perutnya berangsur menghela napas dalam sambil menatap Yuan. “Maaf, ya. Ternyata sakit perutku efek mens ...,” sesalnya sambil tersenyum masam. Antara menahan sakit di perut, juga merasa bersalah pada Yuan, karena dengan kata lain, ia tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri bahkan di malam pertama mereka.

__ADS_1


Yuan mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan wajahnya pada kedua lutut Keinya. “Demi Tuhan, aku pikir kamu kenapa. Hampir saja aku jantungan ...,” keluhnya.


Keinya tersenyum tulus seiring sebelah tangannya yang membelai kepala Yuan.


“Tapi kok bisa separah itu bahkan wajahmu sampai pucat, hanya karena efek mens?” keluh Yuan sambil mengangkat wajah berikut tatapannya untuk menatap Keinya.


“Baru tahu, kan, kalau wanita mens nggak hanya jadi makin sensitif dan sampai dicap pemarah?”


“Para pria harus tahu betapa tersiksanya wanita ketika mens? Kami bahkan harus menahan sakit sekaligus emosi dalam waktu bersamaan! Nggak hanya sakit perut bahkan sekujur tubuh, Yu. Karena hati wanita kalau sedang mens juga gampang sakit!” keluh Keinya meledak-ledak.


Yuan terdiam bingung. “Terus, salahku apa? Kok aku justru kena semprot?”


Mendapati ekspresi lugu Yuan, Keinya tersenyum tak berdosa sembari menahan sisa sakit di perutnya. Ia menggeleng kemudian mendekap kepala Yuan.


“Berarti malam ini nggak dapat jatah, dong? Tapi besok mensnya sudah beres kan?” balas Yuan yang kemudian menengadah menatap Keinya.


“Mana ada, mens hanya sehari, Yu ....”


Yuan menyodorkan dua jarinya menyerupai pose huruf V. “Dua hari cukup, kan?”


Dengan dahi berkerut, Keinya menggeleng.


“Loh, lama banget?” ucap Yuan merengek.


Keinya tergelak.


“Sayang, serius. Masa mens dua hari belum beres juga?”


“Ya belum, Yu. Seenggaknya biasanya aku empat sampai tujuh hari baru beres,” balas Keinya sambil meredam tawanya.


“Ya ampun ... bakalan libur panjang kalau begini,” balas Yuan yang justru menggoda Keinya.


Keinya makin tergelak kemudian membingkai wajah suaminya menggunakan kedua tangannya. “Terus, bulan madunya bagaimana?” tanyanya cemas lantaran baru teringat mengenai bulan madu. Tidak mungkin juga diundur apalagi dibatalkan sedangkan besok subuh, mereka sudah harus menjalani penerbangan.


“Ya tetap jalan. Apa salahnya? Mmm ... Ehm!”


Karena Yuan terus menggodanya, Keinya yang tersipu terpaksa menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya. Tak lama setelah itu, dari luar sana, tangis Pelangi terdengar.


Keinya terdiam pasrah sesaat setelah kedua tangannya refleks turun dari wajah hanya karena mendengar tangis Pelangi. “Komplit banget, ya, drama malam pertama kita?”


Yuan tergelak tetapi sengaja ditahan. “Justru aku senang, loh, kalau dengar suara anak ribut minta ini itu. Rame. Apalagi kalau sudah banyak. Yang ini minta apa, yang satu lagi minta itu. Ada yang panjat lemari atau ....”


“Ya ya ya ... kita bisa mencoba program bayi kembar?” ujar Keinya memotong ucapan suaminya.


Yuan langsung mengangguk mantap dan disambut anggukan tulus berikut senyum oleh Keinya.


“Kamu mandi dulu, aku mau urus Pelangi.”


“Aku mau cari obat peredam mens dulu buat kamu.”


Yuan langsung memungut kaus yang sampai sempat ia lepas begitu saja tak jauh dari kloset keberadaan Keinya kemudian mengenakannya.


“Nggak usah, Yu. Takut ketergantungan,” tahan Keinya sembari bangkit dan menekan tombol pembuangan di klosetnya.

__ADS_1


Yuan memapah Keinya, dan keduanya kembali membicarakan mengenai obat peredam rasa sakit ketika mens, di mana Keinya mengatakan biasa mengonsumsi air parutan kunyit yang dibubuhi sedikit garam, dalam keadaan hangat.


__ADS_2