Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Episode 87 : Gombalan


__ADS_3

Atala, dengan semua lukanya, pria itu memasuki sebuah apartemen. Langkahnya yang gontai membuat Atala beberapa kali nyaris jatuh, andai saja kedua tangannya tidak segera berpegangan asal pada apa yang ada di dekatnya, khususnya tembok.


Atala tidak mabuk apalagi berada di bawah obat-obatan terlarang. Hanya saja, apa yang menimpa Anton berikut semua ulah pria itu, sukses membuat Atala merasakan luka tak berdarah yang Atala yakini, sulit diobati. Terlebih, Atala memutuskan untuk menyimpan semua luka itu sendiri tanpa membaginya bahkan sekadar melalui kabar. Pun kepada mamanya, Atala benar-benar bungkam.


Di apartemen yang sepi dan temaram kunjungannya, Atala segera menyalakan sakelar di dinding sebelahnya. Membuat suasana apartemen yang sepi, menjadi cukup hidup kendati tentu, tidak ada perubahan yang berarti. Kemudian, di ruang yang disertai sofa berikut meja yang menghadap televisi cukup besar di sana, tatapan Atala tak sengaja terempas pada sebuah ruang yang tertutup di sudut ruangan. Pintu ruangan yang juga langsung Atala jadikan tujuan. 


Setelah membuka pintunya dengan hati-hati, Atala mendapati sebuah punggung yang meringkuk membelakanginya, dalam balutan selimut. Sedangkan di nakas sebelah tempat tidur sosok yang merupakan Irene, sebuah bingkai terisi dengan foto Irene yang sedang tersenyum ceria, mengenakan gaun putih. Di mana, mahkota bunga yang Irene kenakan, juga mempermanis tampilan wanita tersebut. 


Atala berharap semuanya juga akan kembali layaknya sedia kala. Mengenai kebahagiaan sekaligus keceriaan Irene. Ya, meski sadar tidak ada yang akan benar-benar sama, bahkan meski kita membuatnya dalam ukuran sekaligus porsi yang sama, tapi Atala sangat berharap Irene kembali merasakan kebahagiaan. Layaknya Atala sendiri yang akan memikirkan bagaimana caranya mengngakhiri semua lukanya.


Dan mengingat Irene, satu-satunya hal yang tidak bisa Atala lupakan adalah ketika sahabatnya itu berusaha bunuh diri dengan loncat melalui balkon klinik. Beruntung, meski nyaris terlambat, Atala yang pagi itu kembali mengenakan taksi setelah mobilnya sampai menabrak tiang listrik, bisa menghentikan semuanya.


“Biarkan aku mati saja, Atala!”


“Apakah dengan begini akan menjaminmu mati?! Apakah kamu yakin mati akan mengakhiri semuanya?!”


“Aku mohon, biarkan aku mati!!”


“Irene ... seberat apa pun cobaan yang kamu bahkan semua orang rasa, Tuhan tidak mungkin menguji kita melebihi batas kemampuan kita! Kamu, sampai begini, karena Tuhan percaya, kamu wanita yang kuat!”


“Tapi aku benar-benar ingin mati!”


“Ya, mungkin sekarang kamu ingin mati. Tidak tahu nanti bahkan beberapa saat lagi!”


“....”


“Irene, dengarkan aku! Bertahanlah! Aku tahu, ini tidak mudah! Namun, mari kita sama-sama menyelesaikannya!”


“Kamu hanya butuh pria yang mencintaimu juga anakmu, kan? Ayo kita menikah! Ayo kita menikah dan akhiri semua ini!”


“Aku mohon, ... tetaplah bertahan. Tuhan tidak menyukai orang-orang yang mudah menyerah!”


“Jika kamu berani memaksaku untuk menikah denganmu, aku lebih baik mati!”


“Kenapa? Kenapa begitu?!”


“Aku tidak mabuk. Aku serius dan benar-benar sadar!”


“Lupakan, muak aku lihat kamu!”


Setelah berkata seperti itu, di pagi yang masih sangat gelap bahkan disertai hujan deras, Irene meminta Atala untuk membantunya, menarik tubuhnya yang sudah setengah terjungkal. Dan sampai sekarang, setelah sampai tinggal di apartemen yang sama, Irene yang setuju tidak akan bunuh diri, juga tetap tidak mau Atala nikahi. Namun, Irene hanya akan bertahan setelah anak itu lahir. Sebab selanjutnya, Irene akan pergi dengan tujuan yang wanita itu rasakan. Dan tentu, Atala akan mengambil alih tanggung jawab dari anak Irene yang juga merupakan adiknya.


Tak lama setelah Atala menutup pintu kamar Irena, dering tanda pesan masuk, membuat pria itu bergegas memastikan. Atala mengeluarkan ponsel dari saku sisi celananya. Dan sebuah pesan WA dari kontak Elena, sukses membuat hati Atala terusik.


Atala mengernyit dan membuka pesan tersebut dengan hati yang mendadak berdebar-debar. Antara tegang, takut, sekaligus menyesal, Atala rasakan dalam waktu bersamaan. Bahkan, jemarinya sampai gemetaran hanya karena akan menyentuh layar ponselnya, agar ia bisa membuka pesan dari Elena.

__ADS_1


Elena : Atala, aku tidak tahu kenapa aku terus saja memikirkanmu, terlepas dari aku yang juga merasa sangat bersalah kepadamu? Namun, sepertinya aku memang sudah terlalu menyakitimu. Jadi, melalui pesan ini, aku benar-benar minta maaf. Aku serius dan sadar. Dan aku ingin hidup tenang. Jadi, tolong, tolong maafkan aku, Atala.


Atala tersenyum masam membaca pesan itu. 


Atala : Sudah fokus belajar saja. Jangan memikirkan yang lain.


Elena : Kamu pikir, aku enggak waras, hanya fokus belajar? Gila saja, kamu!


Kali ini, Atala sampai tertawa cukup lepas. Kendati semakin lama, air mata juga lurus membersamai tawanya.


Elena : Serius, ya, kamu sudah maafin aku?


Atala segera membalas pesan Elena.


Atala : Sekali lagi kamu minta maaf, aku enggak bakalan maafin kamu!


Elena : Emji~


Elena : BTW, aku akan melanjutkan pendidikanku di luar negeri. Tapi, meski nantinya aku akan naik pesawat di tempatmu bekerja, aku harap, kamu bukan yang mengendarakan pesawatnya :v


Atala jadi tersipu dan segera membalas pesan Elena.


Atala : Kalau aku enggak boleh mengendarai pesawatnya, terus, aku harus mengendarai hati kamu, begitu?


Elena : HAHAHAHAHA!


*** 


Dan lantaran Elena masih sibuk senyum-senyum sendiri sambil bermain ponsel Elia yang mengendalikan gagang pintu, berangsur menutupnya dengan hati-hati. 


“Kayaknya, Papah salah kasih obat, deh!” ujar Elia yakin.


Ketika Steven kebingungan, Kainya menjadi mesem bahkan tersipu.


“Itu penyakit yang namanya ‘jatuh cinta’, Sayang. Jadi ya ... susah obatnya kalau yang bersangkutan saja, enggak mau sembuh,” balas Steven meyakinkan.


Kali ini justru Elia yang menjadi terpingkal-pingkal. Sedangkan Kainya hanya geleng-geleng tak habis pikir sembari mengendalikan senyumnya,


“Enggak kebayang, Mah! Kayaknya dulu, bahkan sampai sekarang, perut Mamah sering kembung, gara-gara gombalan Papah, ya? Hahahaha!” celetuk Elia yang sampai memegangi perutnya menggunakan kedua tangan.


Steven yang menjadi celingukkan, tak kuasa menahan tawanya. Lain halnya dengan Kainya yang menjadi terheran-heran, kenapa Steven bisa sampai seperti seumuran Elia? Papah dan anak itu terlihat sangat dekat bak sahabat, yang tak segan saling ledek bahkan sikut.


“Pah ... masak, gih. Aku lapar!” titah Elia yang masih tertawa.


“Seharusnya Papah yang bilang begitu ke kamu! Masak, gih! Papah laper lagi!” balas Steven yang juga masih tertawa, di mana sebelah tangannya juga masih memegangi perut.

__ADS_1


Kali ini Kainya menggeleng tak habis pikir. Namun ketika bapak dan anak di hadapannya kompak melirik kepadanya, Kainya langsung menghela napas dan kemudian mengangguk pasrah. “Baiklah, koki hebat akan masak!” tukasnya.


Dan untuk kali ini, tawa Elia pecah sepecah-pecahnya. “Awas, Mah ... keasinan lagi!” Karena sampai terakhir kali masak, masakan Steven lebih enak dan pastinya lebih aman untuk dikonsumsi. 


Mungkin karena selama ini, justru Steven yang lebih sibuk mengurus urusan memasak, dapur, bahkan kebutuhan rumah. Jadi, Kainya yang terlalu dimanja jadi tidak begitu memahami dengan apa yang berhubungan dengan masakan, keperluan dapur, bahkan rumah.


“Enggak apa-apa. Meski Mamah enggak begitu ahli di bidang masak, tapi kan Papah nikahin Mamah, karena Mamah selalu bikin Papah bahagia!” puji Steven yang sampai merangkul mesra pinggang Kainya.


Jangan tanyakan apa yang terjadi pada Elia. Sebab gadis itu menjadi semakin terpingkal-pingkah, sampai-sampai, Elena keluar dari kamar dan menatap kebersamaan dengan banyak tanya.


“Ada apa, sih, ... kok rame banget?” tanya Elena yang masih berdiri di ambang pintu. Sebelah tangan Elena masih menahan kaitan pintu, di mana ia juga tidak sepenuhnya membuka pintu.


Elia segera menggeleng sambil terus mengendalikan tawanya. Namun, lantaran Elia kesulitan, gadis itu terpaksa mengulum bahkan menggigit bibirnya sendiri.


“Yuk ke dapaur. Papah bilang, Papah mau masakin kita lagi,” ajak Kainya pada Elena, dan sukses membuat Steven terkejut. Lain halnya dengan Elia yang akhirnya memilih lari dan masuk ke kamar.


“Ya ampun ... aku ngompol!” seru Elia di sela tawanya.


*** 


Beberapa menit kemudian, di dapur, semuanya bekerja sama. Steven memotong-motong danging menjadi potongan yang begitu tipis. Kainya memotong sawi, wortel, daun bawang, berikut tomat. Sedangkan Elia dan Elena, sama-sama mengupas bawang putih dan bawang merah. Di mana sisanya, langsung dikendalikan oleh Steven. Termasuk urusan memotong bawang bombai yang sampai membuat anak gadisnya kompak minggir, lantaran efek bawang mombai yang Steven potong, membuat si kembar berlinang air mata.


Sambil mencuci mi udon menggunakan baskom dengan hati-hati, Kainya yang menatap Steven berikut kedua anak gadisnya penuh cinta, hanya tersipu.


“Kelak, carilah pendamping yang tidak berpikiran dangkal. Pasangan yang tidak memaksa kita untuk melakukan semua hal. Carilah yang seperti papah kalian. Dia bukan tipikal yang menjadikan kewajiban sebagai alasan untuk mengikat seorang istri, bahkan anak-anaknya. Papahmu mencintai kita, karena hati. Bukan hal lain yang selalu dikaitkan dengan beban, dengan sederet peraturan dan kewajiban,” bisik Kainya pada Elia dan Elena yang berdiri berjejer di sebelahnya.


Elena dan Elia sedang menunggu jatah air keran untuk mencuci tangan mereka. Tentu, tanpa harus Kainya arahkan, mereka juga sangat ingin memiliki pasangan sekaligus teman hidup layaknya papah mereka.


“Li ... nanti kamu yang kasih penawaran harga untuk setiap porsi udon kuahnya, ya!” seru Steven yang sudah mulai menumis bawang putih dan bawang merah, disusul irisan bawang bombai hingga suasana di sana menjadi dikuasai aroma masakan Steven.


“Mah ... udonnya jangan kelamaan, ya,” lanjut Steven.


“Papah lagi mode bawel!” celetuk Elia dan membuat Elena berikut Kainya kompak menahan tawa.


“Satu porsi dihargai dengan mengepel ruangan, cuci gerabah, sama beres-beres dapur, Pah! Dan karena Papah baik banget, jadi Papah yang bayar semua harganya, ya!” seru Elia kemudian dan sukses membuat Steven terbahak.


“Jadi, Papah yang harus beres-beres, cuci-cuci, bahkan ngepel, dong?” balas Steven.


“Iya, dong ....” Dan Elia menjadi satu-satunya yang sibuk menanggapi. 


Lain halnya dengan Elena dan Kainya yang memilih untuk bekerja sama mencuci gerabah yang sudah ada. Sedangkan Elia yang memilih menghampiri Steven, segera menyiapkan mangkuk sup berikut sumpit dan sendok sup.


“Lili, air minum jangan lupa!” seru Elena yang kali ini lari ke luar dapur dan kembali sambil membawa sapu dan pengki. “Sekalian gelas, biasanya kamu cuma ambil botol air minum!”


“Siap! Tenang saja!” balas Elia yang masih sangat bersemangat.

__ADS_1


Semuanya bekerja sama dan kemudian menyantap apa yang Steven masak, dengan suka-cita. Tentu, canda tawa masih menyelimuti kebersamaan mereka. Sebuah kenyataan yang sudah sangat lama mereka rindukan, terlebiu mereka sudah sangat lama tidak melakukannya.


Bersambung ....


__ADS_2