Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 21 : Sepenggal Kisah Tentang Kim Jinnan


__ADS_3

“Niat hati mengajak Pelangi kencan, yang ada justru nemenin dia kencan!”


Bab 21 : Sepenggal Kisah Tentang Kim Jinnan


“Membahagiakannya cukup dengan hal-hal yang sangat sederhana. Namun, kenapa kamu selalu membuatnya terluka?” Dean mendadak teringat kata-kata Rafaro, karena nyatanya, membahagiakan Kishi memang cukup dari hal-hal yang sangat sederhana. Benar-benar sangat sederhana.


Lihatlah, naik bus saja tak ubahnya hal mewah yang membuat Kishi takjub. Kishi tak hentinya mengamati sekitar dengan wajah manisnya yang terus dihiadi senyuman.


“Jadi, ... besok mau naik bus lagi?” ucap Dean sambil menahan senyumnya tanpa menatap Kishi. Dean takut, semakin sering ia menatap gadis di sebelahnya, ia menjadi semakin sulit mengendalikan senyum di wajahnya yang mungkin saja sudah sampai membuat wajahnya merah merona.


Kishi yang awalnya mengamati situasi luar melalui kaca jendela di sebelahnya, segera mengangguk sambil menatap semangat Dean yang duduk di sebelahnya. “Mau, De! Aku suka banget kayak gini! Terus nanti setelah sampai halte, kita jalan kaki saja, ya, ke rumahnya. Biar bisa bareng-bareng lebih lama!”


Kali ini Dean tersipu dengan sebelah tangannya yang mengacak pelan puncak kepala Kishi.


“Oh, iya ... tadi kamu mau cerita Kim Jinnan, kan?” tagih Dean dan langsung membuat Kishi semakin semangat.


“Iya ...!” Kishi sampai mengangguk beberapa kali. “Sebenarnya gini, lho, De ....”


Kishi siap bercerita, dan Dean langsung menyimaknya sambil menatap gadis itu penuh cinta.


“Kim Jinnan itu sudah ditinggal orang tuanya semenjak masih berusia empat atau lima tahun. Jinnan tumbuh dengan banyak rasa sepi bahkan luka, sedangkan selama hidupnya, Jinnan hanya ditemani pelayan dan fasilitas mewah tanpa sedikit pun perhatian keluarga.”


“Tentunya kenyataan tersebut membuat Kim Jinnan sangat kesepian. Dan mungkin karena itu juga, Kim Jinnan jadi sibuk mencari perhatian dengan sibuk bikin onar.”


“Ya ... meski hal-hal yang dilakukan Kim Jinnan dalam mencari perhatian, memang bukan perbuatan terpuji.”


“Termasuk alasan Kim Jinnan yang selama ini gencar mengencani wanita yang lebih tua, ... sepertinya karena Kim Jinnan juga menemukan kenyamanan tersendiri ketika dia bersama wanita yang lebih tua.”


Cerita dari Khisi membuat Dean penasaran. Antara dramatis sekaligus miris. Namun, masa iya begitu? Karena bagi Dean, cerita Kishi terlalu mengada-ngada.


“Kata siapa? Kamu tahu dari mana?” tanya Dean.


“Dari sahabat di sekolaku yang lama. Kakaknya cinta mati sama Kim Jinnan.” Kishi menatap serius Dean.


“Apa status kakak sahabatmu itu, untuk Kim Jinnan?” lanjut Dean serius namun ada kemarahan di wajahnya yang kali ini sampai tidak menatap Kishi.


Bagi Dean, sangat tidak adil gadis polos seperti Pelangi harus bersanding dengan pria play boy seperti Kim Jinnan yang juga berbakat membuat onar.


“Teman kencan, ... mungkin? Soalnya dari semua wanita yang kencan sama Kim Jinnan, memang tanpa ikatan. Dan dari semua wanita yang kencan sama Kim Jinnan, wanitanyalah yang mendekati!”


Sambil bersedekap, Dean yang menjadi terlihat sinis pun berucap, “kesannya Kim Jinnan itu dewa, deh! Masa iya sampai segitunya?!”


“Tapi memang seperti itu!” Kishi menatap Dean penuh keyakinan.


Sebelah tangan Dean mencubit hidung Kishi. “Kishi, kita masih terlalu dini untuk mengetahui hal semacam itu,” ucapnya yang kemudian mengakhiri cubitannya.


“Sakit, De ....” Kishi mengelus-elus bekas cubitan Dean.


“Terus, apa alasanmu nyadap nomor ponsel Ngi-ngie?” lanjut Dean.


Kishi yang masih menunduk sambil mengelus-elus bekas cubitan Dean, pun berkata, “aku sayang Kim Jinnan ....”


“A-apa, itu?! Apa maksudmu berbicara seperti itu?!” saut Dean yang langsung naik pitam. 


Napas Dean sampai terdengar memburu, hanya karena ia mendengar pengakuan Kishi yang tak hanya membuatnya kesal, melainkan cemburu.


Kishi menatap Dean dengan tatapan polos yang membuatnya terlihat tak berdosa.


“Semenjak usiaku lima tahun, aku kan sudah kenal Kim Jinnan ... kami kenal karena papa urus proyek perusahaan kakek Kim Jinnan. Sedangkan dari kecil, aku selalu jadi satelit papa. Ke mana pun papa pergi bahkan untuk urusan pekerjaan, aku pasti ikut.”


“Jadi, aku langsung percaya begitu saja pada sahabatku, ketika dia menceritakan semua tentang Kim Jinnan. Toh, selama beberapa hari mengenal Kim Jinnan sewaktu aku ikut papa kerja, Kim Jinnan memang tipikal penyayang seperti Rafaro dan Mo.”


“Bedanya, Kim Jinnan memiliki sifat perbaduan Mo dan Rafa. Kim Jinnan anaknya enggak mau diem, tipikal frontal kayak Mo ... tapi sering juga, perhatiannya enggak kalah dari Rafa.”


Kishi kembali bercerita panjang lebar.


“Memangnya, kamu sudah membuktikannya sendiri?” tanya Dean yang sampai menjadi sewot lantaran baginya, di mata Kishi, seorang Kim Jinnan terlihat begitu sempurna.


Kishi segera mengangguk. “Kalau ketemu, dia paham sama aku dan dia memang baik sama aku. Sudah kayak kakak sendiri.”

__ADS_1


“Enggak usah diceritakan satu-satulah, De. Sedangkan alasan utamaku menjodohkan Kim Jinnan dan Ngi-ngie, ... karena mereka saling melengkapi. Toh, Jinnan juga langsung tergila-gila sama Ngi-ngie.”


“Dan semenjak kenal Ngi-ngie, Jinnan juga jadi orang yang jauh lebih bertanggung jawab.”


“Selain itu ... juga biar kamu enggak kepikiran Ngi-ngie terus. Termasuk mengenai Mo dan Rafa. Biar mereka enggak berselisih paham terus.” Kishi menjadi tertunduk murung.


“Tapi kamu bukan Tuhan yang bisa menghendaki semuanya, Ki!” tegas Dean.


“Iya, aku tahu. Tapi enggak ada salahnya, kan, kalau aku usaha? Biar semuanya baik-baik saja tanpa ada salah paham apalagi penderitaan?” balas Kishi.


Dean menatap Kishi sambil menggeleng tegas. “Dan mengenai pasangan, biarkan masing-masing dari kita saja yang menentukan.”


“Pasangan Ngi-ngie, ya biar jadi urusan Ngi-ngie,” lanjut Dean.


“Kita hanya menonton tanpa benar-benar bisa merasakan kehidupan orang lain. Jadi, kita enggak sepantasnya membenarkan anggapan kita untuk kehidupan orang lain, sedangkan apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar juga belum tentu kebenaran.” Dean menatap Kishi penuh keyakinan.


“Janji, ya, jangan diulangi?” pinta Dean dengan intonasi yang sarat perhatian. Ia menatap serius kedua manik mata Kishi yang berangsur menunduk.


“Maaf,” sesal Kishi.


“Katakan itu pada Ngi-ngie dan Kim Jinnan saja. Dan kamu harus mengatukan itu ketika mereka sedang bersama,” balas Dean.


“Baiklah. Tapi kapan mereka bersama dan aku bisa ikut juga?” balas Kishi menyanggupi.


“Sepertinya nanti malam, Kim Jinnan akan main ke rumah lagi. Nanti aku pasti akan mengabarimu, kok,” balas Dean.


“Baiklah. Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf,” balas Kishi yang memang sangat menyesal.


“Iya ... jangan diulangi,” lirih Dean sambil mengelus punggung kepala Kishi.


*** 


Entah apa yang ingin Rafaro lakukan. Pelangi masih belum tahu atau sekadar mengerti, lantaran pemuda di sebelahnya terus saja mengemudi.


“Ini mau ke mana, sih?” tanya Pelangi akhirnya.


Rafaro sama sekali tidak melirik Pelangi yang ada di sebelahnya.


Bagi Pelangi, meski mereka beda usia dua tahun, Pelangi dua tahun lebih tua dengan Rafaro, tetapi pemuda itu selalu memperlakukannya tak ubahnya bayi. Bayi yang harus selalu dijaga, dilindungi, bahkan dimanja.


“Enggak usah makan jauh-jauh. Kalau ketahuan Kim Jinnan, bisa panjang urusannya,” balas Pelangi.


“Panjang urusannya karena akhirnya aku tahu, kamu dan dia hanya sandiwara?” tebak Rafaro masih belum menatap atau sekadar melirik Pelangi. Gayanya kini terbilang cukup misterius.


Pelangi mengembuskan napas dari mulut dan tampak begitu pasrah. “Sudah kuduga ... sebenarnya, tujuanmu untuk ini.”


“Aku ingin makan sushi,” ucap Rafaro kemudian.


“Ya. Terserah. Kalaupun aku nolak juga percuma,” balas Pelangi masih tidak bersemangat.


“Kenapa kita jadi sekaku ini?” Rafaro menatap serius Pelangi.


“Aku juga enggak tahu,” balas Pelangi yang kemudian menepis tatapan Rafaro.


Pelangi memilih menganati situasi luar, melalui kaca jendela di sebelahnya. Namun bagi Rafaro yang tetap mengamati Pelangi, gadis itu menjadi pribadi yang tertutup semenjak ada Kim Jinnan.


***


Di restoran yang menghidangkan makanan khusus negara Jepang, Rafaro menepikan mobilnya. Beruntung, di sana terbilang sepi. Mobil pengunjung yang terparkir saja hanya tiga dengan mobil milik Rafaro.


Rafaro memutari mobil bagian depan dan berniat membukakan pintu mobil untuk Pelangi, tetapi Pelangi sudah lebih dulu keluar dan terlihat jelas tidak mau diistimewakan.


“Kenapa?” tanya Rafaro serius.


“Aku jadi minder begini. Kayak tante-tante yang jalan sama berondongnya,” balas Pelangi jujur.


Rafaro menggeleng tak habis pikir. “Wajahku kelihatan lebih tua, Ngie ... apa memang harus, aku ubah warna rambutku jadi putih, terus pakai kumis bahkan berewok juga?” keluhnya.


“Apaan, sih?” Pelangi menatap Rafaro dengan raut sebal. Ia memasuki restoran kunjungan mereka lebih dulu dan memang sengaja meninggalkan Rafaro.

__ADS_1


“Jika memang iya, kenapa kita enggak jalan saja?” sergah Rafaro yang sengaja melangkah cepat demi menyusul dan menyeimbangi langkah Pelangi.


“Iya, apanya?” balas Pelangi yang sampai menengadah demi menatap Rafaro.


“Kamu tahu apa yang aku maksud. Mo, bukan alasan tepat, untuk kita tidak bersama. Karena kita tetap bisa bersama meski Mo juga mencintaimu.”


Balasan Rafaro membuat Pelangi menelan ludah. Kemudian Pelangi menggeleng. “Itu namanya egois. Tolong jangan bahas yang aneh-aneh lagi. Kamu bilang, kamu lapar, kan?”


Pelangi segera mencari meja kosong ternyaman. Ia memilih meja bagian pinggir dekat jendela kaca bagian dalam. Dari sana, ia bisa melihat pemandangan sekaligus situasi luar.


“Ngie,” panggil Rafaro yang berangsur duduk di hadapan Pelangi.


“Rafaro berisik ah. Jangan maksa kenapa?” balas Pelangi kesal. Karena baginya, dipaksa dan dibuat kesal oleh Kim Jinnan saja sudah membuat hari-harinya suram. Apalagi jika seorang Rafaro yang selama ini selalu perhatian kepadanya, juga sampai ikut-ikutan memaksa?


“Jalani saja. Aku benar-benar ingin hidup bebas,” lanjut Pelangi mencoba memberi Rafaro pengertian.


“Maaf ...,” sesal Rafaro yang kemudian menggenggam sebelah tangan Pelangi yang kebetulan memang di atas meja semua.


Pelangi menganggup sambil mengulas senyum. “Iya ... bahkan aku yakin, dari semuanya, kamu yang paling ngerti tentang aku,” ucapnya pelan.


Kebersamaan Rafaro dan Pelangi benar-benar diselimuti banyak ketenangan. Meski tak lama setelah itu, kehadiran rombongan pria berjas yang baru datang, dan salah satunya sangat Pelangi kenal, langsung membuat Pelangi nyaris jantungan.


Kim Jinnan, kenapa pria itu juga sampai datang ke restoran kunjungan Pelangi dan Rafaro?


Pelangi yang langsung kalang kabut, segera menarik tangannya dari genggaman tangan Rafaro. Pelangi berusaha bersembunyi. Namun karena posisinya tidak memungkinkan, Pelangi mengambil buku menu yang langsung ia gunakan untuk menutupi wajahnya dengan harapan, Kim Jinnan tidak akan curiga apalagi mengetahuinya.


“Bisa-bisanya di sini pun harus bertemu dia!” batin Pelangi yang sesekali mengintip pada keberadaan Kim Jinnan.


Kali ini, Pelangi benar-benar merasa beruntung, lantaran Kim Jinnan sudah tidak ada di hadapannya lagi. Pun meski ketika ia menatap Rafaro, pemuda itu justru memasang wajah yang begitu kesal. Namun, ketika Pelangi menoleh ke sampingnya, di sebelahnya sudah ada Kim Jinnan. Ya, Kim Jinnan sudah duduk manis sambil melihat-lihat buku menu.


“Ya ampun, ngapain, sih, kamu di sini?” keluh Pelangi sambil menatap miris keberadaan Kim Jinnan.


“Ini posisiku lagi kerja. Cari nafkah buat masa depan kita. Tuh, ... rombonganku sudah masuk ke sana,” jelas Kim Jinnan yang sampai menunjuk rombongan yang datang bersamanya. Lima pria dewasa yang mengenakan jas itu masuk ke ruang makan khusus. Ruang makan VIP.


“Ngie ... kamu mau makan apa?” tawar Kim Jinnan yang langsung menyodorkan buku menunya kepada Pelangi.


Kim Jinnan bahkan tak segan menyandarkan kepalanya kepada kepala Pelangi. “Aku tahu, kamu sengaja menghindariku. Tapi sampai kapan pun, aku akan selalu berusaha membuatmu mencintaiku. Aku ingin, kamu juga percaya kepadaku seperti aku percaya ke kamu. Ya ... meski pada kenyataannya, kamu justru jalan sama pria lain,” batin Kim Jinnan.


“Oh, iya ... temannya Pelangi mau makan apa? Ayo sekalian pesan saja,” tambah Kim Jinnan yang sampai bersikap ramah kepada Rafaro. Kenyataan yang sangat sulit untuk dipercaya oleh Pelangi.


“Bahkan Kim Jinnan enggak marah? Dia, waras, kan?” batin Pelangi yang justru menjadi merasa seram atas kenyataan sekarang.


“Bentar ... kayaknya aku harus telepon si Zean deh. Tadi pada aku janji mau main ke rumah, tetapi malam nanti, jadwalku sampai pukul sembilan lebih,” ujar Kim Jinnan kemudian yang masih melihat-lihat daftar menu.


Kim Jinnan mengeluarkan ponselnnya. “Bagi nomor rumah dong,” pintanya kepada Pelangi.


Pelangi menghela napas cepat kemudian mengambil ponsel Kim Jinnan. Ia menulis nomor rumahnya dan langsung menghubunginya.


“Meski mereka sedekat itu, tapi aku enggak yakin Pelangi beneran nyaman sama dia!” batin Rafaro yang menjadi sanksi sekaligus mengecam keputusannya membawa Pelangi ke restoran sekarang, dan nyatanya sampai ditemukan oleh Kim Jinnan.


“Mbak, ... tolong katakan pada Zean, Kim Jinnan ingin berbicara,” ucap Pelangi.


Pelangi yang kemudian mengembalikan ponselnya kepada Kim Jinnan. Seperti biasa, Zean begitu antusias dan dibalaa juga oleh Kim Jinnan yang bagi Pelangi sama-sama tidak waras. Ya, Zean dan Kim Jinnan akan menjadi mahluk yang semakin menyebalkan ketika keduanya bersama.


“Akhir-akhir ini, aku akan sibuk, jadi mungkin kita hanya bisa berbicang lewat telepon seperti ini,” ucap Kim Jinnan mencoba memberikan pengertian.


“Ya ampun, Jinnan. Kamu menginap saja di sini! Toh, di sini banyak kamar. Pasti tambah seru!” balas Zean dari seberang dan terdengar sangat antusias.


Kim Jinnan tak hanya untuk Zean, karena pria itu juga sampai memesankan sushi untuk Dean dan Keinya--calon mama mertuanya.


“Niat hati mengajak Pelangi kencan, yang ada justru nemenin dia kencan!” uring Rafaro dalam hati sambil mendengkus kesal.


Rafaro tak kuasa melihat keceriaan Kim Jinnan yang terlihat sok akrab kepada Pelangi.


Bersambung ....


Hallo, maaf sore banget. Karena efek obat dari dokter, Author jadi tidur terus. Tapi ini jauh lebih baik karena dua hari terqkhir Author enggak bisa tidur. Dan puncaknya semalam. Mriang demam enggak jelas banget kayak gejala malaria.


Semoga akhir bulan bisa sesuai target, ya. Jaga kesehatan dan sukses selalu 💓💓

__ADS_1


__ADS_2