
“Sebenarnya, apa hubungan dokter Steven dan Kak Kainya?”
Bab 49 : Ancaman Besar
Tepat ketika Steven membuka pintu, di saat itu juga, Kainya yang masih berbaring di atas ranjang kesakitannya, menoleh ke arah pintu.
Tatapan Steven dan Kainya bertemu. Dan bersamaan dengan itu, waktu seolah berhenti berputar. Entah atas dasar apa, Steven mendadak merasa tegang bahkan gerogi. Tak mau menyia-nyiakan waktu, pria berparas kalem itu meminta izin untuk masuk melalui anggukan berikut senyum hangat yang sudah menjadi ciri khasnya.
Steven melangkah dengan hati-hati termasuk ketika ia menutup pintu. Ia benar-benar meninggalkan pintu dan mengalihkan tatapannya dari pintu, sesaat setelah tertutup. Dan kembali, ia merasa ada yang aneh dengan keadaannya. Lebih tepatnya, mengenai kebersamaannya dengan Kainya. Kainya sendiri hanya menatapnya tanpa ekspresi apalagi perubahan berarti.
Ada rasa canggung yang seketika menyelimuti Steven. “Apakah kamu sudah makan?” tanyanya sebelum duduk pada kursi empuk di sebelah Kainya.
Kainya menggeleng kemudian menunduk.
“Kamu terlihat tidak baik-baik saja,” lanjut Steven seiring tatapannya pada Kainya yang menjadi sarat kecemasan.
Kainya menghela napas berat. Mendapati itu, Steven meraih sebotol air mineral di nakas sebelahnya yang sudah dihiasi sedotan. Ia membukanya dan menuntun Kainya minum.
“Kamu terlihat setres,” ucap Steven kemudian setelah meletakan kembali botol air mineralnya.
Kainya masih diam tanpa perubahan berarti, yang dengan kata lain, membenarkan ucapan Steven.
“Karena Steffy?” lanjut Steven kemudian. Ia tahu betul, Kainya sangat ingin memecahkan ulah busuk Steffy yang telaj mencelakai Kimo dan Rara.
Kainya masih bungkam dan sengaja mengabakan Steven.
“Sebenarnya, sebelum ke sini, aku bertemu Steffy.”
Lanjutan Steven berhasil mengusik perhatian Kainya. Ia refleks mengernyit kemudian menatap Steven.
Steven masih menatap Kainya, kemudian menghela napas sebelum berkata, “Steffy kecelakaan. Parah. Dan sekarang, dia masih di dalam UGD.”
Kainya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dari tatapan berikut ekspresinya, ia jelas menginginkan lebih rinci mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu enggak usah memikirkan Steffy lagi. Toh, dia juga sudah dikawal ketat oleh polisi. Sekarang, kamu cukup lebih mencintai dirimu sendiri.”
“....”
“Pikirkan dirimu. Jangan terus-menerus begini.”
__ADS_1
Kata-kata Steven membuat Kainya tertunduk.
“Kenapa kamu hanya sendiri? Ke mana adikmu?” Steven mengamati suasana kamar yang benar-benar sepi. “Kamu sudah makan?” tanyanya kemudian ketika kembali menatap Kainya.
Kainya benar-benar tak bersemangat. “Daniel sedang keluar membeli makan siang.”
“Memangnya kamu mau makan apa?” Kali ini, nada suara Steven terdengar cukup santai. “Kamu suka cokelat? Cokelat bisa bikin kita lebih rileks. Mau eskrim?”
Bukannya menjawab, Kainya justru mengernyit, menatap aneh Steven.
“Aneh?” tanya Steven. Ia menyadari Kainya tidak terbiasa dengan pertanyaannya.
Tanpa mengubah keadaannya, Kainya mengangguk. “Sebenarnya, Dokter kenapa?”
“Ini memang bukan untuk urusan dokter dengan pasiennya. Ini untuk di luar itu, karena aku ... ingin mengenalmu lebih jauh.”
“Mengenal lebih jauh?” ulang Kainya.
Steven mengangguk.
“Bukankah aku ada di depan mata Anda?” balas Kainya terdengar ketus.
“Beri aku alasan kenapa kamu ingin mengenalku lebih jauh,” balas Kainya sesaat setelah menepis tatapan Steven.
“Menikahlah denganku. Karena sebenarnya, aku tidak hanya ingin mengenalmu lebih jauh. Bahkan, kamu juga yang membuatku datang ke Indonesia.” Steven mengucapkan itu tanpa keraguan.
Kainya kembali menatap heran Steven. “Kita belum kenal lama. Ingat itu.”
“Memangnya, ada standar lamanya waktu, untuk seorang pria menikahi seorang wanita?” balas Steven tegas.
Kainya langsung menepis Steven. “Pergilah. Aku benar-benar ingin sendiri. Satu lagi, Anda tidak perlu menemuiku lagi. Aku akan mencari dokter lain.”
“Tak lagi menjadi doktermu, bukan berarti semuanya sudah selesai, kan? Aku masih tetap bisa menemuimu?” Steven tidak mau menyerah begitu saja.
Kainya tidak menjawab. Yang ada, ia justru memejamkan matanya. Benar-benar mengabaikan Steven.
“Jadi, apa yang membuatmu bisa memberiku kesempatan?” ucap Steven beberapa saat kemudian lantaran Kainya benar-benar abai padanya.
Bagi Steven, menghadapi orang seperti Kainya yang telanjur menghukum dirinya sendiri, hingga wanita itu menjadi sangat keras kepala hanya ada satu cara. Ya, Steven juga harus keras kepala dan mengabaikan abaian Kainya. Hal tersebut pula yang membuatnya tetap menunggu, terjaga untuk Kainya, bahkan hingga Daniel datang membawa dua kantong makanan.
__ADS_1
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Daneil terdengar sinis, termasuk tatapannya pada Steven yang detik itu juga langsung menoleh padanya.
Ketika mendengar seseorang membuka pintu dari luar, Steven memang langsung menoleh. Dan ketika mendapati Daniel sebagai pelakunya, Steven langsung menyambutnya dengan senyum. Pun meski Steven sadar, Daniel selalu ketus bahkan mungkin memang tidak menyukainya. Faktanya, pertanyaan yang terlintar dari Daniel juga terdengar begitu pedas.
“Apa kabar?” balas Steven ramah.
Daniel mendengkus dan mengabaikan Steven. Ia mendekati meja berikut sofa yang tiga hari terakhir menjadi tempatnya menghabiskan waktu. Dari bekerja, makan, bahkan tidur. Ia menaruh kedua kantong berisi makanan yang menghiasi kedua tangannya, di meja, persis bersebelahan dengan laptop.
Steven berdeham. Akan tetapi, mengenai alasan Daniel tidak menyukainya, membuanya bertanya-tanya. Apalagi, baik Khatrin apalagi Philips sangat ramah kepadanya.
“Baiklah, karena kamu sudah datang, aku pamit pergi. Aku harus kembali kerja.” Steven memastikan waktu melalui alroji yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. Terhitung sudah setengah jam lebih, ia terjaga untuk Kainya yang ia yakini hanya pura-pura tidur demi mengelabuhinya.
Daniel masih mengabaikan Steven. Hal tersebut Steven maklumi lantaran baginya, mungkin itu terjadi lantaran Daniel masih memiliki sifat naif. Belum lagi bila dilihat dari pengamatannya, Khatrin dan Philips begitu memanjakan Daniel. Bahkan pada Kainya saja, terkadang Steven menganggap perlakuan berlebihan Daniel, justru karena pria muda itu mencintai Kainya.
“Kamu yakin, bisa benar-benar tidur?” tanya Steven sambil menatap serius Kainya. Kainya yang kerap berkedip-kedip dan terlihat jelas hanya pura-pura tidur.
“Insting Steven benar-benar tajam,” batin Kainya yang memang hanya pura-pura tidur.
Sambil berdiri dari kursi tempatnya duduk, Steven menghela napas. Sedangkan Daniel, pria yang ada di hadapannya, terpaut sekitar lima meter, tetap memunggunginya bahkan kali ini sampai bersedekap.
“Baiklah, aku pergi. Sepulang kerja nanti, aku akan langsung kembali untuk menjaga Kainya.”
Sebelum pergi, Steven menatap lama Kainya. Mungkin ada tiga menit, pria berahang tegas itu melakukannya. Sampai-sampai, Daniel yang makin penasaran mengenai hubungan Steven dan Kainya, menoleh untuk memastikan.
Daniel tidak mendapati hal mencurigakan apalagi Steven yang sampai melayangkan hal aneh kepada Kainya sebelum kepergian pria itu, seperti mengusap wajah, kepala, bahkan lebih, layaknya apa yang selama ini ia lakukan kepada Kainya. Atau jangan-jangan, ia terlambat memastikan, dan sebenarnta, Steven sudah melakulannya?
“Sebenarnya, apa hubungan dokter Steven dan Kak Kainya?” batin Daniel, sesaat setelah Seteven menutup pintu. Entah mengapa, ia menjadi sangat cemas dan merasa jika Steven merupakan ancaman terbesarnya dalam mendapatkan Kainya. “Kak Kai, enggak suka ke dokter Steven, kan?” Steven semakin bertanya-tanya. Apalagi, tak lama setelah itu, ia mendapati Kainya yang baru membuka mata, langsung menatap cemas ke arah pintu.
Bersambung ....
Hallo, sesuai janji Author, part lanjutannya sudah Author kasih, ya. Wkwkwk. Meski pendek, semoga bisa menemani malam minggu kalian.
Jangan lupa, like komen kalian Author tunggu. Semakin banyak yang like komen, semakin naik juga performa cerita ini. Dan kalian tahu, rating novel yang tadinya anjlok 4,6, sekarang sudah jadi 4,7. waaahhh, makasi banyak, ya! wkwkwk
Kalau begitu, sampai sini saja. Author mau ngetik lanjutan ceritanya.
Selamat beristirahat~
Rositi.
__ADS_1