Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 52 : Keadaan Steffy


__ADS_3

Karena orang jahat pun masih memiliki masa depan yang suci.


Bab 52 : Keadaan Steffy


Steffy baru saja membuka matanya.


Hal terakhir yang Steffy ingat, ia sedang berlari menghindari Kimi. Ia benar-benar sedang bekerja keras demi menghindari wanita itu. Namun, kini, Steffy langsung ketakutan ketika menyadari keberadaannya.


Steffy berada di ruang ICU yang selalu melahirkan kesan seram. Karena dengan kata lain, beberapa peralatan medis yang terhubung dengannya di sana, menandakan keadaannya tidak baik-baik saja. Pun meski peralatan medis tersebut sangat membantu menstabilkan kondisinya.


Selain infus yang menghiasi punggung tangan kirinya, di sisi kanannya juga ada monitor yang akan menampilkan grafis kinerja organ tubuh seperti detak jantung, kadar oksigen di dalam darah, atau tekanan darah. Selain itu, ventilator juga dimasukan melalui selang ke hidungnya dan itu membantunya dalam bernapas.


“Separah itukah, keadaanku?” pikir Steffy. Kemudian ia meraba kepalanya menggunakan tangan kanan yang bebas dari alat medis. Entah kenapa, kepalanya terasa sangat berat.


Steffy mendapati nyaris seluruh kepalanya terbungkus perban. Seolah-olah, kepalanya itu terluka sangat parah sampai harus dibungkus sangat rapat.


Ketika Steffy mencoba memastikan keadaan tubuhnya yang lain, wanita itu juga merasakan tubuhnya masih sangat kaku untuk hanya digerakkan. Akan tetapi, Steffy yang memilih menyerah lantaran geraknya masih terbatas, mendapati kaki kanannya terbungkus perban hingga ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari kaki kirinya.


Yang Steffy herankan, kenapa dari pangkal paha hingga ujung kakinya seolah mati rasa?


“Aku baik-baik saja, kan?” batinnya tak hentinya bertanya. Sungguh, kenyataan pangkal paha hingga ujung kakinya yang mati rasa, membuatnya tidak baik-baik saja. Steffy merasa semakin takut. Terlebih, pikirannya juga sudah dihiasi pemikiran buruk. Bagaimana jika kenyataan tersebut, menandakan ia mati rasa bahkan ... lumpuh? Steffy benar-benar tidak bisa menerima kenyataan tersebut apa pun alasannya!


Rasa takut yang tak kunjung sirna, membuat Steffy tak hentinya berlinang air mata. Di tengah ketakutannya itu, bunyi suara pintu yang terbilang terdengar lirih bersama seseorang yang masuk, membuat Steffy terjaga. Steffy menatap ke arah pintu dengan harap-harap cemas, tanpa bisa menggerakkan tubuhnya dengan leluasa apalagi bagian pangkal paha hingga ujung kakinya.


Wiranto dan Intan menatap cemas Steffy. Keduanya datang dengan mata sembam, dan langsung menatap sedih Steffy. Apalagi Intan yang langsung tak kuasa menahan kesedihan berikut air matanya.


“Sayang, kamu sudah sadar?” sergah Intan sambil berjalan cepat menghampiri putrinya.


Wiranto yang terlihat jauh lebih tenang, mendapati ketakutan luar biasa dari Steffy yang tak hentinya berlinang air mata dan sesekali menggeleng.


Kehadiran orang tuanya berikut Wiranto yang seharusnya mendekam di balik jeruji, bukanlah alasan yang membuat hati Steffy terenyuh. Sebab ia ingin mengetahui keadaannya secepatnya. Mengenai pangkal paha hingga ujung kakinya. Dan karena keadaan itu, dengan kata lain sebentar lagi ia juga akan mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Dalam artian, ia juga harus siap menerima kenyataan, jika hal buruklah yang akan ia ketahui.


Intan menggenggam tangan kanan Steffy, kemudian mengecup hangat kening anaknya itu. Sedangkan Wiranto memilih keluar untuk memanggil perawat yang berjaga.

__ADS_1


“Semuanya baik-baik saja. Jangan khawatir. Semuanya baik-baik saja. Kamu enggak salah, Fy. Mama sama papa yang salah,” ucap Intan di tengah isaknya sambil mendekap hangat tubuh Steffy.


“....”


“Maaf karena selama ini, Mama dan papa terlalu keras kepadamu. Maaf karena selama ini, Mama dan papa tidak bisa memberikan kebahagiaan yang seharusnya kami berikan.”


“....”


“Kami benar-benar minta maaf, Fy, karena selama ini, kami enggak bisa jadi orang tua yang baik buat kamu!”


“M-mah ...?” isak Steffy akhirnya busa percaya. Bersama dengan itu, Wiranto datang bersama dua orang perawat perempuan dan seorang dokter.


“Apa, Sayang?” jawab Intan sambil menatap lekat-lekat kedua manik mata Steffy. Tak hanya itu, ia juga mengelap setiap air mata anak semata wayangnya itu.


Dengan hati yang begitu terluka, Steffy berkata, “kakiku mati rasa. Dari pangkal paha ke ujung kaki ...,” jelasnya yang sampai sesengggukan.


Intan menatap tak percaya wajah Steffy. “Maksudmu bagaimana?” Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kecemasannya. Terlebih, bukannya menjawab, Steffy justru tertunduk sedih dan terisak-isak.


Meski langsung berpikir buruk mengenai pengakuan Steffy, tetapi Intan juga langsung menepisnya. Intan yakin, Steffy baik-baik saja. Apa yang putrinya keluhkan pasti hanya efek sementara dari kecelakaan. Sialnya, hanya memikirkan hal tersebut saja langsung membuat Intan tidak baik-baik saja. Intan ditawan rasa tegang tak berkesudahan. Ia segera meminta dokter untuk memeriksa keadaan Steffy lebih lanjut.


***


Kainya keluar dari ruang rawatnya dengan langkah pelan. Ia merasa tidak nyaman lantaran baik Daniel maupun Steven, masih memperhatikannya dan tak hentinya terjaga untuknya.


“Bukankah kamu mau bekerja?” tanya Kainya sambil menatap Steven.


Steven mengangguk sambil mengulas senyum. “Aku bekerja di sini. Mulai hari ini.”


Kainya terdiam sejenak, kemudian mengangguk. “Terima kasih.”


Steven kembali mengangguk. “Aku akan mengantar kalian hingga pintu keluar.”


“Tidak usah repot-repot.” Daniel yang awalnya di belakang Kainya, sengaja mendekat sambil menggam sebelah tangan Kainya.

__ADS_1


Mereka memang masih ada di depan pintu ruang rawat Kainya, setelah sebelumnya, kedua perawat yang mengurus Kainya, belum lama meninggalkan mereka.


Steven masih mempertahankan senyumnya. Demi kenyamanan bersama, ia mengalah dan mengangguk. “Hati-hati.” Ia sengaja menyimpan kedua tangannya di saku sisi celana hiyam yang dikenakan.


Ketika nyaris berlalu, tiba-tiba saja, Kainya teringat Steffy. “Kalau aku mau lihat keadaan Steffy?” Ia menatap Steven dengan sungkan.


“Oh ...? Mari, aku antar.” Steven mengangguk, memberi Kainya kode untuk mengikutinya yang detik itu juga melangkah lebih dulu.


Kainya berikut Daniel yang menenteng kantong pakaian berbahan kain berukuran terbilang besar, segera mengikuti langkah Steven. Tentunya, Daniel masih menggandeng Kainya.


“Dulu, ... aku juga pernah ada di posisi Steffy. Aku yang jahat, aku yang begitu terobsesi dan sangat tidak tahu diri,” batin Kainya sambil terus melangkah. “Kuharap, Steffy juga mau berubah, menyesali semua kesalahan yang telah dilakukan. Karena orang jahat pun masih memiliki masa depan yang suci.” Kainya masih berbicara dalam hatinya.


Ketika Steven akan lorong yang menikung di hadapan mereka, tiba-tiba saja langkah pria itu memelan. Membuat Kainya maupun Daniel juga melakukan hal yang sama.


“Ben ...?” seru Steven sambil menatap tak percaya sosok yang dihadapi.


Entah siapa yang sampai membuat Steven seantusias sekarang. Tetapi hanya dari nama yang pria itu sebut, tiba-tiba saja jantung Kainya seolah melesak.


Ben. Nama yang langsung membuat Kainya tidak baik-baik saja, padahal di dunia ini banyak yang memiliki nama itu. Bukan hanya pria dari masa lalu Kainya saja. Meski ketika Steven sampai berpelukan dengan sosok yang dimaksud, Kainya dibuat tidak percaya. Ya, ... itu Ben sosok dari masa lalu Kainya. Pria berberewok tipis yang memiliki hidung bangir berikut tatapan tajam khas. Juga, pria yang menjadi awal mula Kainya mengalami kecemasan berlebihan.


Jantung Kainya berdebar-debar di atas normal. “Aku baik-baik saja. Kami sudah tidak ada hubungan,” batin Kainya meyakinkan dirinya sendiri. Ia memilih menunduk, menepis pemandangan yang terjadi di hadapannya. Meski jauh di lubuk hatinya, ia juga menjadi penasaran. Apa hubung Steven dan Ben, sampai-sampai, keduanya seakrab itu?


“Kainya?”


Suara Ben yang memanggil Kainya, membuyarkan lamunan Kainya tanpa terkecuali Daniel. Kainya sampai refleks menatap ke depan saking tidak percayanya. Dan karenanya, ia sampai mendapati Ben menatapnya sambil tersenyum lepas. Pemandangan yang dulu sempat membuat Kainya bosan. Namun, bukankah Ben amnesia dan bahkan melupakannya?


“Kalian saling kenal?” tanya Steven.


“Jangan-jangan, ini Ben .... yang itu?” pikir Daniel mulai menebak-nebak.


Ketika Ben mengangguk semringah, Kainya memilih bungkam dan menepisnya.


Bersambung ....

__ADS_1


Seperti biasa, jangan lupa jejak kalian. Like komen, Author tunggu ~~


__ADS_2