Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 97 : Tujuh Belas Tahun Kemudian (Final)--Revisi


__ADS_3

Tak ubahnya pelangi yang ditakdirkan menjadi satu kendati tersusun dari banyak warna, begitulah kehidupan keluarga Yuan dan Keinya. Mereka


akan tetap menjadi satu-kesatuan, bahkan meski salah paham dan luka selalu menyertai, menjadi warna tersendiri dalam hubungan mereka.


Bab 97 : Tujuh Belas Tahun Kemudian


Suasana di kelas terbilang cukup hening. Beberapa murid tampak sibuk sendiri. Dari yang mengobrol lirih dengan teman sebelah, menggigiti kuku, mencoret-coret buku, atau si gendut yang duduk di kursi paling pojok sebelah kiri yang tak hentinya makan camilan. Terlepas dari itu, sebagian dari mereka juga tak hentinya menatap kagum remaja tampan yang sedang fokus membaca buku pelajaran.


Remaja tampan yang menjadi fokus perhatian itu memiliki tanda pengenal; Dean Arsy Fahreza. Ia duduk sendiri karena kursi di sebelahnya kosong. Ia duduk di urutan ke tiga dari depan barisan meja ke dua, dari empat meja yang ada.


Guru wanita yang mengajar di sana dan berdiri di depan papan tulis, menatap saksama setiap murid yang duduk di hadapannya. Kemudian ia menulis di papan tulis berwarna putih di hadapannya.


--MOTO--


“Moto. Apa yang kalian tahu tentang moto?” ucap si guru sambil balik badan dan membuatnya menatap setiap wajah murid yang ada di hadapannya.


Semuanya hanya diam tanpa ada yang benar-benar merespons. Hanya bergumam, menerka-nerka, tanpa ada yang berani mengutarakan pendapat mereka. Namun, dari semuanya, si remaja tampan bernama Dean justru begitu fokus dengan buku yang ada di hadapannya. Dean menatap saksama buku tersebut kemudian membaliknya menuju halaman selanjutnya.


“Dean Arsy Fahreza ... kebiasaanmu selalu mengenyampingkan guru-guru yang sedang mengajar!” teriak si guru.


Dengan tenangnya, ketenangan yang ia warisi dari seorang Yuan Fahreza, Dean menghela napas pelan. Remaja tampan berwajah dingin itu segera mengakhiri fokusnya dari buku pelajaran yang sedang dipelajari. Ia menatap lurus kedua manik mata wanita tambun berkaca mata, yang berdiri di depan papan tulis.


“Sekalipun saya tidak menatap Ibu, bukan berarti saya tidak menyimak,” ucap Dean.


Semua murid di sana khususnya murid wanita, langsung antusias menatap Dean. Mereka tidak sabar menunggu lanjutan suara Dean yang sangat jarang mereka dengar lantaran cowok itu memang sangat jarang bicara kecuali kalau sudah terpaksa.


Si guru menjadi menelan ludah karena gugup mendapatkan fokus Dean yang begitu serius. “Ya sudah, jelaskan. Apa itu moto?”


“Moto adalah kalimat atau kata yang dijadikan prinsip sekaligus semboyan dalam kehidupan untuk menjadi lebih baik. Contohnya; jika kita ingin didengarkan, kita tidak perlu menggunakan kata-kata terlebih perbuatan kasar. Dan Ibu juga tidak harus membentak murid hanya untuk diperhatikan.” Dean masih menatap dingin si guru wanita yang detik itu juga menjadi menggeragap.


Sedangkan semua murid yang menyimak, langsung terdiam. Mereka menahan takut akibat ketegangan yang tercipta atas jawaban Dean.


“Ya sudah. Duduk,” ucap si guru dengan emosi yang langsung surut. Ia menelan banyak malu atas kenyataan sekarang.


“Terima kasih,” ucap Dean kemudian dengan gaya yang terlewat sopan. Ia segera duduk dan kembali fokus menyimak guru meski sesekali, ia juga akan kembali membaca bukunya : KUNCI MENJADI PENGUSAHA SUKSES.


***


Ketika bel tanda jam pulang terdengar, semua murid berhamburan keluar. Hanya Dean yang memilih keluar paling akhir dan memang sengaja menunggu suasana lebih tenang.


Awalnya, Dean baik-baik saja menikmati ketenangannya, sebelum akhirnya suara riuh seperti benda berat yang jatuh, sukses membuat pintu kelas yang akan ia tinggalkan sampai terguncang-guncang.


Si gendut Feaya, cewek penghuni kursi paling pojok sebelah kiri itu tersungkur di sebelah Dean. Cewek itu kebingungan dengan kedua tangan yang sibuk meraba-raba ke sekitar. Dean yang awalnya hanya menatap prihatin, segera membantunya. Ya, Feaya membutuhkan kaca mata untuk bisa melihat dengan baik.


Dean yang sampai jongkok demi mengambil kacamata besar berbingkai pink milik Feaya yang terkapar, meletakkannya pada sebelah tangan cewek gendut itu yang turut ia tahan.


“Lain kali, hati-hati,” ucap Dean singkat.


Feaya bergeming tak percaya. Ia melepas kepergian Dean yang hanya samar-samar dan semakin jauh dari jangkauan matanya. “S-seorang Dean, mau menolongku?!” batin Feaya.


“Ah ... Dean terlalu sempurna. Mana mungkin dia mau sama aku ....” Feaya menatap sedih kepergian Dean yang meninggalkan lorong kelas keberadaannya. Dan ketika bayangan cowok itu tak lagi tampak, Feaya menjadi menciumi tangan berikut kacamatanya. “Ya ampun ... ini bau Dean!” ucapnya kegirangan.


***


Sepanjang Dean melangkah, selama itu juga semua mata langsung teruju padanya. Namun kendati demikian, Dean sama sekali tidak menggubris perhatian semua orang terhadapnya. Dean terus melangkah hingga sepasang sepatu hitam seorang cewek, mengalihkan dunianya.


Cewek itu duduk di bangku tunggu depan perpustakaan. Cewek cantik berambut panjang hitam tergerai itu sedang fokus membaca buku. Dean menatapnya sekilas, sebelum fokusnya menyisir suasana sekitar. Tampak beberapa cowok yang diam-diam bahkan terang-terangan mengejar cewek itu.


“Ngie, ... ayo kita pulang,” seru Dean dan sukses mengalihkan fokus si cewek. Jarak mereka tak kurang dari lima meter.


Pelangi yang kini menjelma menjadi remaja cantik, memang menjadi idola setiap pria yang melihatnya. Tak beda dengan Dean yang dikenal sebagai Tuan Muda Masa Depan, Pelangi yang memiliki kepribadian ceria juga mendapatkan julukan serupa--Nona Cantik yang selalu menjadi kesayangan.


Pelangi menutup buku yang awalnya sedang ia baca. Ia menyimpan buku bersampul biru toska tersebut ke dalam tasnya sambil beranjak menghampiri Dean.


“Baca buku apa?” tanya Dean yang tak segan mengambil tas Pelangi untuk mencari tahu perihal buku yang membuatnya penasaran.


Meski awalnya berniat mencari tahu buku yang Pelangi baca, tetapi Dean juga sampai menjinjing tas Pelangi, mengambil alih tas saudarinya itu layaknya biasa. Karena sudah menjadi kebiasaan dalam keluarganya, sesuai arahan sang papa, ia harus selalu menyayangi sekaligus mengagungkan wanita khususnya anggota keluarga. Mama, kakak, adik, nenek.


“Wah ... novel Selepas Perceraian. Ciee ... novelnya mertua!” ucap Dean kemudian sambil menilik novel bersampul biru toska di tangannya. Novel yang ia ketahui menjadi hadiah ulang tahun pernikahan orang tua mereka dari Rara.


Rara memang sengaja menulis novel Selepas Perceraian berdasarkan kisah nyata cinta Yuan dan Keinya, Rara dan Kimo, juga semua orang yang ada dalam hidup mereka.

__ADS_1


Pelangi hanya tertunduk malu dengan wajah cantiknya yang menjadi merona. “Jangan fitnah, deh ....”


“Fitnah bagaimana? Masih enggak mau mengakui, atau ...?”


“Dean, cukup! Hobi banget meledek, deh!”


“Ya ampun ... pipimu jadi merona begitu ....”


“Fitnah ....”


“Kudengar, ... Minggu besok, mereka akan pulang ke Indonesia?” Dean masih belum berhenti menggoda Pelangi.


“Mereka siapa?” balas Pelangi masih malu-malu.


“Ya sudah, pilih ... Mofaro, ... ama Rafaro ....?”


Mereka melangkah meninggalkan area sekolah sambil terus berbincang. Dan sepanjang kebersamaan tersebut, Dean tak hentinya menggoda Pelangi, bahkan meski mereka sudah masuk mobil jemputan.


***


Yuan tengah memomong Mentari anak bungsunya yang masih berusia dua tahun, ketika suara langkah sepatu terdengar mendekat ke arahnya.


Yuan segera menggendong putri cantiknya kemudian balik badan untuk memastikan. “Wah ... Kak Zean sudah pulang ....”


Yuan menyambut kadatangan bocah yang mewarisi ketampanannya itu, dengan sangat hangat. Hanya saja, bocah laki-laki yang ia panggil Zean, masih memasang wajah menyebalkan tak ubahnya Kimo.


Tanpa membalas sapaan hangat sang papa bahkan sekadar untuk menatap, Zean yang mengenakan seragam merah putih lengkap dengan dasi berikut topi merah, segera loncat ke sofa kecil berbahan kulit warna hitam di seberangnya.


Yuan refleks menelan ludah yang selalu saja terasa getir, ketika ia melihat ulah menyebalkan Zean. Bocah berusia enam tahun itu sangat berbeda dari Dean maupun Pelangi yang begitu santun bahkan bergantung pada orang tua. Zean, ... bocah itu benar-benar mewarisi sikap menyebalkan Kimo.


“Efek sering mengejek Kimo pas Keinya hamil Zean, jadinya keluarnya ya mirip Kimo! Untung ketampanan dan kecerdasannya mirip aku!” batin Yuan.


Tanpa kembali berkomentar, Yuan langsung mendekati Zean. Ia sengaja duduk di seberang Zean sambil memangku Mentari. Melihat keadaan Zean yang kali ini terlihat sedang sangat kesal, Yuan yakin, anaknya itu sedang mengalami hal yang cukup pelik.


Dari arah dapur, Keinya yang masih tampak menjaga kecantikannya, membawa sebuah nampan berisi semangkuk besar salad buah dan beberapa piring kecil berikut sendok.


Meski masih ada sepuluh meter jaraknya dari Yuan, tetapi mereka sudah sampai berkode mata. Yuan melakukan gerakan wajah pada Keinya. Ia menunjuk Zean yang masih memasang wajah kesal dengan keadaan bocah itu yang meringkuk di sofa.


Balasan Keinya juga membuat Yuan pasrah. Boleh dibilang, dari semuanya memang tidak ada yang berani mengusik Zean. Namun, apa yang membuat bocah itu sekesal sekarang? Siapa yang berani mengusik anak emas mereka?


Tujuh belas tahun menjalani pernikahan, Yuan dan Keinya telah dianugerahi tiga orang anak. Tiga orang anak yang memiliki tingkah sekaligus keistimewaan masing-masing. Dean, Zean, dan Mentari, selain Pelangi yang sudah menjadi anak pertama mereka.


Meski awalnya berniat memiliki enam anak, tetapi baik Yuan maupun Keinya sepakat menambah tiga saja. Sepasang anak perempuan, dan juga sepasang anak laki-laki. Memiliki keempatnya dengan ragaman sifat yang sukses mengaduk-aduk kehidupan mereka, dirasa Yuan dan Keinya, sudah lebih dari cukup.


“Mama buat salad buah ...,” ujar Keinya ceria sambil meletakkan nampan yang dibawa di meja.


Kendati kerap berkode mata dengan Yuan perihal keadaan Zean yang masih bungkam, tetapi kedua tangan Keinya sibuk memiringkan salad buahnya.


“Aku bosan ...,” ucap Zean akhirnya dengan tidak bersemangat.


Keinya dan Yuan refleks mengernyit dan menatap bingung Zean.


“Bosan kenapa?” tanya Keinya yang sempat sampai berhenti memiringkan salad buahnya. Ada lima piring yang tersaji di sana.


“Memangnya, siapa yang membuatmu bosan?” Yuan ikut berkomentar sambil menerima angsuran piring berisi salad buah dari Keinya.


“Aku bosan, kenapa aku selalu juara satu! Dan ketika aku mengatakan cita-citaku ingin menjadi orang miskin, mereka justru menertawakanku!” keluh Zean akhirnya dan sukses membuat Yuan maupun Keinya menggigit lidah mereka demi meredam tawa.


“Kenapa kamu ingin menjadi orang miskin, Zean?” ujar Yuan sambil susah payah mengendalikan tawanya.


Keinya yang masih susah payah menahan tawa, berangsur bangkit dan mengambil alih Mentari dari pangkuan Yuan. Ia duduk di sebelah Zean sambil sesekali membelas kepala bocah itu kendati Mentari ada di pangkuannya.


“Ya ... aku ingin hidup susah juga, biar enggak monoton, Pa!” balas Zean masih mengeluh.


Dean dan Pelangi yang baru datang, menjadi saling sikut lantaran geli pada ulah Zean yang selalu ingin seperti orang dewasa.


“Siang, Pa ... Ma ...? Tari ...? Zean ...?” sapa Pelangi dengan cerianya.


“Wah ... Kak Pelangi sama Kak Dean sudah pulang,” balas Keinya dengan cerianya, menuntun Mentari yang seketika itu juga langsung girang sambil terus menatap Dean.


Berbeda dengan Pelangi, Dean justru berdeham sembari melirik-lirik Zean.

__ADS_1


Zean melirik sebal Dean. “Dasar orang kurang kerjaan. Cowok sok kegantengan!” cibirnya.


Keinya dan Yuan terdiam tak percaya tak ubahnya Dean yang langsung syok mendengar cibiran Zean.


“Memang aku ganteng. Aku juga pintar. Dan semua orang tahu itu!” balas Dean sambil bersedekap dan menatap angkuh Zean kendati sebelah tangannya masih menenteng tas Pelangi.


“Heh, Dean! Di sini aku yang paling tampan. Dan aku juga yang paling pintar sampai-sampai aku bosan jadi juara satu!” balas Zean tak kalah angkuh. Ia bahkan sampai bangkit dari duduknya kemudian bersedekap menatap sebal kakak laki-lakinya.


Sungguh, ulah Zean sukses membuat Yuan dan Keinya jantungan, apalagi Zean juga sampai berteriak dalam berucapnya.


Dean yang menjadi merengut kesal, menatap Zean lebih tajam, nyaris membalas sang adik andai Keinya tidak memberinya kode mata sambil tak hentinya menggeleng. Mamanya itu kembali memintanya untuk mengalah pada tingkah menyebalkan Zean. Beruntung, Mentari yang menatap sebal Zean memukul punggung bocah itu sesaat sebelum berlalu menghampiri Dean.


“Tari, kok kamu gitu?” protes Zean sambil menatap sebal Mentari yang langsung lari ke pelukan Dean.


Yuan menunduk dan tak kuasa berkomentar. Yang ada, kedua kanannya menjadi sibuk memijat kepala. Pusing harus bagaimana menghadapi Zean yang bertingkah layaknya orang dewasa.


“Sudah ... sudah ...,” tegur Pelangi sembari menghampiri Zean.


Pelangi sampai jongkok di hadapan Zean guna menatap mata bocah itu lebih dekat. “Zean, kamu enggak boleh semena-mena kepada orang lain terlebih orang yang lebih tua dari kamu.” Pelangi menghela napas sambil memastikan Zean tetap menyimaknya melalui tatapan serius yang ia layangkan. “Kakak tahu maksud kamu baik, tetapi bukan begitu caranya. Biasakan berbicara dengan sopan, nada rendah dan tertata jelas.”


Zean terdiam tanpa berani berkomentar.


“Meski Mama dan Papa enggak menegur kamu, bukan berarti kamu benar. Mereka diam karena kamu sudah keterlaluan padahal kami sudah berulang kali memberimu pengertian. Jika kamu memang ingin dianggap dewasa, ayo, kami semua menyayangimu dan akan selalu berusaha menyeimbangimu.” Pelangi masih menatap tegas Zean.


“Biasakan mengucapkan tolong, ketika kita menginginkan sesuatu, dan jangan lupa untuk meminta maaf ketika kamu bersalah, juga biasakan mengucapkan terima kasih ketika seseorang membantumu,” sambung Keinya.


“Cuci tangan dan kaki kalian dulu. Mama sudah membuatkan salad buah kesukaan kalian. Kak Dean, tolong sekalian cuci tangan dan kaki Mentari.” Yuan menatap Dean penuh pengertian. Kemudian tatapannya teralih pada Pelangi. “Kak Ngingi ... tolong urus Zean. Dia paling menurut kalau sama Kakak.”


Pelangi dan Dean mengangguk mengerti. “Baik, Pa.” ucap keduanya nyaris bersamaan.


“Minta maaf dulu. Minta maaf sama Papa Mama.” Pelangi sampai membalikkan paksa tubuh Zean agar menghadap pada Yuan.


Semuanya menanti lanjutan Zean tanpa terkecuali Mentari yang ikut serius. Dengan kuncir satu di atas kepalanya, bocah itu tampak penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


“Aku minta maaf ...,” ucap Zean akhirnya sambil tertunduk menyesal. Kemudian ia melangkah mendekati Yuan dan menyandarkan tubuhnya pada sang papa.


Yuan langsung memeluk kemudian beranjak dan menggendong Zean. “Papa enggak pernah bisa marah sama kalian. Tapi Papa bisa bersikap tegas kalau kalian sampai keterlaluan!”


“Tak perlu menjadi orang lain untuk melakukan perubahan. Cukup menjadi dirimu yang lebih baik, itu sudah lebih dari cukup,” ucap Dean sambil menciumi kepala Mentari yang masih ada di gendongannya.


Keinya terharu dan menatap Dean penuh cinta. Dean ... anak itu begitu mirip dengan Yuan. Tak hanya fisik, melainkan cara berpikirnya.


“Dan Kakak juga sudah memikirkan cara agar kamu bisa memiliki kehidupan yang kamu mau, Zean,” timpal Pelangi.


Semua fokus pandangan menjadi tertuju pada Pelangi yang begitu mirip dengan Keinya.


“Tulislah dan ciptakan duniamu dalam tulisan. Jadilah seorang penulis dan hiduplah abadi di setiap ceritamu.” Pelangi mengulas senyum dan membuat wajah cantiknya terlihat semakin mempesona.


Tak ubahnya pelangi yang ditakdirkan menjadi satu kendati tersusun dari banyak warna, begitulah kehidupan keluarga Yuan dan Keinya. Mereka


akan tetap menjadi satu-kesatuan, bahkan meski salah paham dan luka selalu menyertai, menjadi warna tersendiri dalam hubungan mereka.


--TAMAT--


ALHAMDULLILAH .....


Plong banget rasanya 😭😭😭😭.


Makasih banyak buat kalian yang sudah membersamai novel ini. Baik yang mengikuti dari awal, atau pun yang baru gabung.


Meski Author sadar, cerita Author masih banyak kekurangan, tetapi sebisa mungkin Author sudah berusaha kasih yang terbaik. Ya, meski Author enggak bisa menuruti apalagi membuat setiap pembaca puas. Jangan dihujat dimaki setelah perjuangan bisa update saja, Author sudah bersyukur banget.


Dan perihal janji Author buat kasih hadiah novel Pelangi di Langit Mendung atau As One, Author bakalan kasih pengumumannya kalau enggak di novel “Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh) ” ya “Menjadi Istri Tuanku” sekitar tanggal 15 bulan besok sambil menunggu ekspedisi kembali lancar efek korona. Dan semoga korona segera berlalu karena sampai sekarang saja, Author belum keluar rumah ada 1 minggu.


Buat yang sudah baca, tolong tinggalkan like, komentar positif, vote, dan kalau bisa share cerita ini biar yang baca tambah banyak, yaaa.


Sekali lagi, terima kasih banyak. Kita bertemu di lapak sebelah. Buat yang ingin tahu kabar terbaru karya Author, kalian bisa join di grup chating. Dan meski Author enggak bisa selalu aktif karena Author juga harus nulis biar bisa up terus, tetapi Author usahakan akan membalas setiap pertanyaan dari kalian.


Dan yang kangen sama pemeran di sini, kalian tetap bisa baca ulang kok 😆😆😆


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2