Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 73 : Mereka Kembali


__ADS_3

“Mereka yang mencintai dengan tulus, lebih memilih pura-pura bahagia dan menyimpan semua bebannya, agar orang yang mereka sayangi tidak ikut terbebani.”


Bab 73 : Mereka Kembali


****


Meski restu dari Khatrin telah Keinya kantongi, tiba-tiba saja hatinya menjadi terasa gamang. Seolah ada yang kurang bahkan ada bagian di sana yang hilang. Namun apa?


Keinya terus bertanya-tanya sambil mondar-mandir gelisah di depan tempat tidurnya. Sesekali, sebelah tangannya juga menyibakan rambutnya yang terurai, ke belakang.


“Kainya, Ben ... Athan, ...?” Keinya mencoba mengabsen orang-orang dalam hidupnya yang sempat menghalangi langkahnya hubungannya dan Yuan. Ia menggigiti ujung kukunya sambil terus berpikir sedangkan di ranjang tidurnya, Pelangi sudah terlelap tanpa plester penurun panas yang menghiasi kening. Setidaknya, kebersamaannya dan Yuan memang menjadi obat mujarab sekaligus kekuatan tersendiri bagi Pelangi. Memang terkesan aneh, tetapi harus Keinya tegaskan lagi, semua itu terjadi lantaran Yuan memberikan sekaligus menumbuhkan banyak cinta dalam diri Pelangi, melalui semua kasih sayang sekaligus perhatian yang tidak pernah Pelangi dapatkan dari figur ayah, bahkan Athan sekalipun.


“Astaga!” Keinya menepuk jidatnya tatkala ia ingat, selama empat hari tinggal di rumah orang tuanya, Rara sama sekali tidak pernah menghubunginya, terlepas dari Keinya yang tidak pernah menghubungi Rara. Karena selama empat hari terakhir, fokus Keinya terlampau dikuasai kekecewaan sekaligus kemarahan terhadap Khatrin dan Kainya yang sempat menghalangi restu hubungannya dan Yuan.


Segera, demi memastikan apa yang terjadi, Keinya mengambil ponselnya yang ada di nakas sebelah tempat tidur, kemudian menghubungi Yuan yang belum genap satu jam pamit pulang. Ia sengaja tidak menghubungi Rara lebih dulu lantaran Keinya ingin mendengar kabar sahabatnya dari Yuan. Paling tidak, itulah yang harus ia lakukan karena kalau ia langsung menghubungi Rara, wanita itu pasti tidak jujur dan menutup-nutupi masalah yang sedang dihadapi. 


Keinya berpikir seperti itu karena tidak biasanya Rara tidak mengabarinya. Padahal, seberapa pun lama mereka berpisah, hampir setiap hari Rara selalu memberi Keinya kabar. Terlebih semenjak ada Pelangi, pasti Rara selalu menyempatkan waktu untuk melakukan telepon video demi bisa melihat Pelangi secara langsung.


“Yu?” sergah Keinya ketika panggilannya pada Yuan mendapatkan jawaban.


“Aku baru menutup pintu, tetapi kamu sudah menelepon. Kangen banget?” balas Yuan dari seberang terdengar lemas seperti kelelahan.


Keinya mendengkus kemudian duduk di tepi kasur menghadap ranjang tidur Pelangi. “Bukan begitu, Yu. Tapi rasanya ada yang aneh, kenapa selama di sini, Rara enggak pernah kasih aku kabar? Dia baik-baik saja, kan?”


“Aku jadi kepikiran, apalagi katamu, Rara sempat bertemu mamanya? Kamu pernah bilang begitu, kan? Tapi anehnya sampai sekarang Rara sama sekali belum cerita. Sebelumnya, di antara kami enggak pernah ada yang ditutupi walau hal sepele, Yu!” Keinya merajuk manja.


“Mungkin menurut Rara, masalah menyangkut mamanya sangat sensitif dan dia memang enggak mau orang lain termasuk kamu tahu, Kei. Terkadang memang begitu, kan? Mereka yang mencintai dengan tulus, lebih memilih pura-pura bahagia dan menyimpan semua bebannya, agar orang yang mereka sayangi tidak ikut terbebani?” Seperti biasa, Yuan menjawab dengan sangat tenang.


Keinya kembali menggigit bibir bawahnya, makin gelisah lantaran takut apa yang Yuan maksud memang hal yang Rara lakukan kepadanya. Rara menyembunyikan beban mengenai mamanya lantaran Rara tak mau merepotkan Keinya.


“Tapi persahabatanku sama Rara berbeda, Yu. Kami benar-benar terbuka—?” Keinya terpaksa menghentikan keluh kesahnya lantaran ponselnya berdengung seperti mendapat telepon masuk dari nomor lain. Ketika ia memastikan, dahinya berkerut lantaran kesal. “Yu, tadi aku mengalihkan telepon Athan ke kamu. Kamu sempat ngobrol, enggak, sama dia? Ini orang sibuk banget telepon aku!”


“A-than?”


“He’um! Nih, telepon lagi meski enggak diangkat!” Apa coba maunya? Sudah jadi mantan sibuk kasih kabar. Pas masih jadi pasangan, dingin enggak punya perasaan!”


“Sayang, ... mengenai Athan, kamu biarkan dulu. Jangan angkat teleponnya dan alihkan saja ke aku. Aku rasa memang ada yang aneh,” balas Yuan terdengar ragu.


Keinya terdiam. Aneh? Dan tiba-tiba saja, rasa takut menggeliat dalam sanubarinya. “Yu ...?” panggilnya lantaran Yuan juga tak lagi melanjutkan.


****


“Kalau kamu memang merasa terganggu, ganti nomor saja. Mengenai kolega atau orang-orang penting yang sudah telanjur terhubung dengan nomor itu, kamu bisa langsung mengabari mereka,” ucap Yuan yang terduduk di tepi tempat tidurnya. Posisinya kini persis seperti apa yang Keinya lakukan. Dan mengenai Athan yang sedang dikeluhkan wanitanya, memang tidak sepenuhnya ia katakan. Karena mana mungkin, ia jujur dan mengatakan bahwa ketika telepon alihan Athan dari Keinya ia jawab, ia mendengar suara Tiara yang langsung melayangkan sumpah serapah.


[“Keinya sudah menjawab? Berikan padaku!”] Mengingat kata-kata bengis yang begitu dikuasai kebencian dari Tiara, Yuan menjadi merasa ngeri. Yuan takut, kembalinya Tiara akan membahayakan Keinya. Namun jika ia terlalu meminta Keinya untuk berjaga, Keinya yang tipikal peka bisa semakin curiga.


“Kei ... ini sudah jam sepuluh malam. Ayo kamu tidur. Nanti kalau wajahmu masih tetap kusam, restu dari mami bisa dicabut, lho!” ucap Yuan beberapa saat kemudian lantaran dari seberang, Keinya juga tak lagi melanjutkan atau setidaknya memulai obrolan baru.


“Yuan ...,” balas Keinya dari seberang terdengar frustrasi.

__ADS_1


“Aku mandi dulu. Segera hubungi aku kalau ada apa-apa,” balas Yuan.


“Memang ada masalah yang kamu tutupi dari aku, ya? Sampai-sampai, ada masalah dan aku harus menghubungimu?”


Balasan dari Keinya membuat Yuan terdiam bingung. Benar bukan keyakinannya, Keinya pasti akan curiga bila ia terus memberi wanita itu aba-aba.


“Masalahnya ….” Yuan tak kuasa melanjutkan ucapannya.


“Ya, katakanlah ... jangan ada yang ditutup-tutupi,” pinta Keinya terdengar serius.


“Masalahnya pikiran dan kehidupanku penuh sama kamu, jadi aku susah konsentrasi kepada yang lain termasuk pekerjaan.” Yuan sengaja menggoda Keinya.


“Oke, lebih baik aku langsung tidur kalau enggak pasti kamu tambah melantur!”


Setelah berkata seperti itu, Keinya benar-benar mengakhiri sambungan telepon mereka.


Meski Yuan sempat senang karena usahanya berhasil, Yuan langsung kembali serius dan menekan tombol kontak di ponselnya. Ia menghubungi nomor-nomor penting di ponselnya yang bisa membantunya menyelidiki kabar Athan dan Tiara.


***


Setelah mengabari akan pergi ke apartemen bersama Khatrin kepada Yuan, Keinya dikejutkan oleh keberadaan ke dua ajudannya. Ke dua pria bertubuh tinggi tegap yang mengenakan setelan jas hitam tersebut langsung menyambutnya dengan senyum hormat kemudian memberikan sebuah kantong karton berukuran sedang, tepat ketika Keinya keluar dari gerbang rumah. Khatrin saja terheran-heran karena putri dan cucunya sampai memiliki pengawal khusus.


“Nyonya maaf, ini titipan dari Tuan Yuan,” ucap salah satu dari mereka yang kebetulan memberikan kantong karton, sedangkan yang satunya lagi langsung mengambil alih ransel Keinya yang dibawa satpam.


Ransel Keinya segera dipindahkan ke bagasi sedan biru yang sudah terparkir di seberang gerbang. Kemudian Keinya menuntun Khatrin untuk segera menuju mobil dikawal oleh ajudan yang memberikan kantong karton kepada Keinya.


Setelah duduk sedangkan Khatrin mengambil alih Pelangi dari gendongan Keinya kemudian memangkunya, Keinya memastikan kantong karton titipan Yuan.


“Memangnya ponsel kamu rusak?” tanya Khatrin bingung. Kenapa Yuan harus memberi Keinya ponsel baru? Apakah Yuan jadi sangat protektif dan membatasi gerak Keinya hanya karena restu telah Khatrin berikan? Jika begitu adanya, Khatrin akan memberikan peringatan keras agar Yuan tidak mengekang Keinya.


Keinya menatap Khatrin sambil menggeleng dan mengulas senyum.


“Terus?” Khatrin membutuhkan alasan yang jelas.


“Mantan suamiku sibuk telepon aku, Mi. Anehnya, dia enggak kenal waktu. Jam satu pagi bahkan subuh saja terus telepon!” balas Keinya 


Khatrin mengernyit karena merasa tak habis pikir. “Kan Mami sudah bilang, biar Mami yang bicara sama dia. Lama-lama Mami tambah emosi sama kamu. Coba sini, kasih nomor mantanmu ke Mami. Biar Mami yang kasih dia pelajaran!”


“S-sabar, Mi. Masalahnya, kalau Yuan sudah sampai begini, berarti memang ada yang enggak beres. Kita tunggu kabar dari Yuan saja. Nanti pasti ada waktunya buat Mami marah ke dia, kok.” Keinya berusaha memberi Khatrin pengertian. “Terus satu lagi, Mi. Tolong jangan pernah meragukan Yuan. Dia tulus ke aku dan semua yang ada dalam hidup aku.”


Khatrin menepis tatapan dalam Keinya yang jelas sedang berusaha meyakinkannya. Tanpa Keinya katakan, Khatrin tahu Yuan tulus. Tapi mengenai mantan suami Keinya, Khatrin telanjur emosi. Hanya mengenal dari jauh saja sudah membuatnya yakin betapa buruknya pria itu, apalagi Keinya yang harus menjalani?


“Sepertinya dia jauh lebih busuk dari papa kamu!” keluh Khatrin sambil mendekap Pelangi yang duduk anteng dalam pangkuannya.


Hati Keinya menjadi berdesir. Seolah ada benda tajam yang menggores dan meninggalkan luka berikut bekas yang tidak bisa hilang begitu saja, di sana. Menganai ayah kandungnya, memangnya pria itu seperti apa? Pria tidak bertanggung jawab yang sampai membuat wanitanya menelantarkan putri kembarnya di panti asuhan. Pria busuk—ayahnya seperti itu?


“Mi ... Mami tahu, bagaimana kabar ayahku?” tanya Keinya hati-hati.


Untuk beberapa saat, wajah Khatrin menjadi kehilangan ekspresi. Wanita itu terlihat sangat terkejut mendapatkan pertanyaan tersebut dari Keinya.

__ADS_1


“Kalaupun dia memang enggak pantas disebut ayah, dia yang membuatku dan Kainya ada. Aku enggak keberatan mendengar kisah ayah, meski memang akan menyakitkan,” sambung Keinya.


“Mami sendiri juga enggak tahu bagaimana kabarnya, Kei! Biar dia dengan keputusannya saja!”


Keinya masih menunggu lanjutan cerita dari Khatrin. “Terus, kabar terakhir yang Mami tahu tentang dia, bagaimana?”


“Ada yang bilang, dia sudah menikah lagi tetapi nasib pernikahannya juga enggak jelas,” balas Khatrin sambil menerka-nerka.


“Mami, punya fotonya?” tanya Keinya makin hati-hati.


“Untuk apa Mami menyimpan fotonya? Menyimpan fotonya hanya membuat hati Mami makin sakit. Toh, kami juga sudah punya kehidupan sendiri-sendiri, apalagi sekarang Mami punya suami yang  teramat tulus mencintai Mami.”


Keinya mengerucutkan bibir sambil mengusap sebelah telinganya. “Aku jadi penasaran. Apa Kainya juga tahu tentang ini? Biasanya Kainya lebih gesit.”


“Bisa jadi dia memang sudah tahu.”


“Benarkah?” saut Keinya refleks dan semakin antusias. “Ketika membahas ayah, Mami terlihat begitu dingin. Mami terlihat jelas berusaha menghilangkan ayah dari kehidupannya … kelak, apakah aku juga akan begini ketika Pelangi menanyakan tentang Athan?” Memikirkan itu, Keinya jadi merasa sedih. Namun apa pun yang terjadi ke depannya, Keinya akan melakukan yang terbaik untuk Pelangi tanpa menelantarkannya seperti apa yang Khatrin lakukan kepadanya maupun Kainya.


Ketika mobil menepi memasuki area parkir apartemen, Keinya dan Khatrin berikut Pelangi yang sedang mereka ajak bercanda, dibuat sangat terkejut. Tubuh mereka sampai membentur punggung jok di hadapan mereka lantaran mobil yang mereka tumpangi mendadak berhenti.


“Ya ampun, Pak, ada apa? Kenapa mendadak berhenti?” keluh Keinya yang langsung mengambil alih Pelangi dari dekapan Khatrin yang langsung mencoba mengamankan Pelangi. 


Untung Pelangi yang menindih tubuh Khatrin, kalau sampai Pelangi yang tertindih Khatrin, bisa fatal akibatnya.


“Kepala sama pinggang Mami kayak retak, Kei!” keluh Khatrin sampai menyeringai kesakitan.


“Pelan-pelan, Mi,” ucap Keinya sambil menuntun Khatrin.


“Maaf, Nyonya, Keinya. Tetapi tadi ada yang menyebrang sembarangan,” sergah ajudan yang mengendalikan kemudi.


Ketika Keinya menatap ke depan, jantungnya seolah melesak. Seorang wanita berdiri di tengah depan mobil yang Keinya tumpangi. Wanita tersebut berpenampilan acak-acakan dan berusaha memastikan keadaan dalam mobil Keinya. Kemudian, tak lama setelah itu, pria yang Keinya kubur hidup-hidup dalam masa lalu, turut berlari dengan tergesa menghampiri si wanita yang tidak lain Tiara. Pria itu—Athan langsung merangkul Tiara—sambil membungkuk-bungkuk kepada mobil keberadaan Keinya. 


Athan berusaha membawa pergi Tiara, tetapi yang bersangkutan begitu tertarik dan ingin tahu keadaan dalam mobil Keinya. Beruntung, kaca mobil keberadaan Keinya tidak tembus pandang bila dilihat dari luar.


Ketika ajudan yang mengendalikan kemudi akan menurunkan jendela kaca di sebelahnya, Keinya yang menatap kebersamaan Tiara dan Athan penuh kebencian langsung menahan sebelah lengan ajudan tersebut sambil berkata, “jangan. Nggak usah buka jendela. Kita langsung jalan saja!”


Khatrin yang masih kesakitan di bagian kepala berikut pinggangnya, terheran-heran menatap Keinya. “Kenapa? Seharusnya kita tegur mereka. Sekalipun si wanita kelihatan rnggak waras, si pria yang menjaga juga harusnya lebih hati-hati, biar enggak ada korban selanjutnya, Kei!” keluhnya. “Biar Mami yang urus!”


Ketika Khatrin akan menurunkan kaca pintu mobilnya, Keinya langsung berseru, “merekalah orang enggak tahu diri yang sudah membuatku dan Pelangi menderita sebelum Yuan menemukan kami, Mi! Pria itu, dan wanita itu ... aku enggak mau berurusan dengan mereka lagi!”


Khatrin terkesiap. Ia menatap tak percaya keberadaan Athan dan Tiara yang semakin jauh di belakang mereka. “Kenapa mereka sampai di sini?”


Ya. Kenapa mereka sampai di sini? Dan kenapa juga mereka harus kembali? Keinya menjadi dirundung tanya.


“Keinya, Rara! Dasar kalian pembunuh! Kalian pembunuh! Dasar wanita jahat! Biadab …!” Tiara terus meronta, berusaha melepaskan diri dari tahanan Athan.


“Tiara sudah. Sudah cukup itu bukan Keinya!” bujuk Athan kewalahan. Meski ia sudah mendekap erat tubuh Tiara dari belakang, tenaga Tiara melebihi orang normal. 


Setelah kehilangan semuanya termasuk janin dalam kandungannya, Tiara memang depresi. Namun keadaan tersebut membuat Tiara sibuk mencari Keinya maupun Rara. Tiara berniat balas dendam kepada Keinya maupun Rara. Di mana saking dendamnya, setiap orang termasuk benda yang Tiara jumpai selalu Tiara kira sebagai Keinya maupun Rara. Layaknya kini, Tiara sibuk mencaci-maki bahkan mengamuk layaknya setiap orang berikut tembok yang dilalui.

__ADS_1


*****


__ADS_2