Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 60 : Kebersamaan di Rumah Sakit


__ADS_3

“Kenapa Tuhan enggak pernah adil? Kenapa Tuhan enggak pernah rela kasih aku kebahagiaan? Tuhan beri, tetapi dengan sekejap, Tuhan ambil lagi. Lantas, apa yang akan Tuhan relakan kepadaku selain penyiksaan tak berujung ini?”


Bab 60 : Kebersamaan di Rumah Sakit


Intan terisak-isak melepas Steffy yang dirujuk paksa oleh petugas kepolisian. Ada lima polisi yang mengawal pemindahan Steffy. Tiga yang biasanya berjaga di depan kamar rawat Steffy selama tiga hari terakhir, duanya yang baru saja datang dan membawa surat perintah dari pihak kepolisian di mana salah satunya merupakan polisi wanita. Steffy dirujuk menggunakan kursi roda mengingat keadaan wanita itu yang memang lumpuh.


“Di mana naluri kalian? Anak saya sedang sakit! Kenapa kalian begitu kejam?!” teriak Intan tak hentinya menyusul kepergian rombongan polisi yang membawa Steffy.


“Ma, sudah. Kalau kita menghalang-halangi polisi, kita salah. Toh, nantinya Steffy juga akan mendapatkan perawatan layak.” Wiranto berusaha menasehati, menahan lebih erat kedua bahu sang istri yang sedari awal memberontak.


Sudah berulang kali Intan terjatuh di lorong rumah sakit bekas Steffy dirawat hanya untuk menahan kepergian anak sematawayangnya. Steffy sendiri hanya tertunduk sambil terisak-isak, meratapi separuh tubuhnya yang lumpuh--dari pangkal paha hingga kaki.


“Perawatan layak bagaimana, Pa? Ingat, anak kita terjerat pasal pembunuhan berencana bahkan bukan hanya untuk kasus Kimo dan Rara, melainkan Kainya dan Kimi! Tidak ada harapan apa-apa lagi!” Intan melotot-lotot, menatap bengis Wiranto yang terkesan sengaja mengunpankan Steffy pada polisi.


“Itu alasan Papa meminta Mama untuk ikhlas. Merelakan memang enggak mudah, tapi enggak ada salahnya belajar apalagi itu untuk kebaikan semuanya bahkan anak kita. Kita sudah gagal dan membuat anak kita menjadi hasilnya.”


“Papa!” jerit Intan histeris, semakin kesal pada Wiranto. “Demi Tuhan, demi Steffy, Mama akan balas dendam. Mama akan kasih Kimi dan semua yang menyakiti Steffy, pelajaran!”


Seorang pria yang merupakan pengacara keluarga Wiranto, hanya kebingungan terjaga di belakang mereka. Tak ada pembelaan yang bisa dilakukan untuk Steffy, bahkan meski itu kelumpuhan yang menimpa kliennya, lantaran pihak kepolisian juga menawarkan pengobatan layak. Bahkan sekalipun pihak Kimo juga sudah memaafkan Steffy, kata maaf tak akan bisa menghentikan hukum yang sudah telanjur berjalan.


***


“Kenapa Tuhan enggak pernah adil? Kenapa Tuhan enggak pernah rela kasih aku kebahagiaan? Tuhan beri, tetapi dengan sekejap, Tuhan ambil lagi. Lantas, apa yang akan Tuhan relakan kepadaku selain penyiksaan tak berujung ini?” Steffy tak hentinya memaki di dalam hatinya. “Apa gunanya aku ada kalau pada kenyataannya, aku cacat? Apa gunanya aku hidup kalau pada kenyataannya, aku hanya melihat kebahagiaan orang-orang yang jahat kepadaku?” gumam Steffy. Ia dibopong dari kursi roda yang sedari awal membawanya, ketika dimasukkan ke dalam mobil polisi.


Dalam mobil sedan itu, Steffy duduk di sofa bagian penumpang, diapit oleh polisi perempuan dan juga polisi yang datang bersama si polisi perempuan. Sedangkan di depan mereka ada dua orang polisi yang salah satunya merupakan polisi yang kerap terjaga di depan ruang rawat Steffy. Sisanya, dua polisi yang kerap terjaga, mengawal jalannya mobil Steffy menggunakan motor gede.


Si polisi wanita melirik Steffy yang tak hentinya menangis. “Apakah kamu menyesal? Kamu menyadari kesalahanmu?”


Steffy segera menggeleng tegas. “Tidak. Aku sama sekali tidak menyesal, karena aku tidak bersalah. Aku tidak pernah bersalah. Merekalah yang bersalah. Tuhan yang salah kenapa Tuhan begitu kejam kepadaku!” Ia menatap si polisi wanita dengan bengis, menyalurkan kemarahannya. Kalau saja kedua tangannya yang tersimpan di pangkuan tidak sampai dibrogol, Steffy juga sudah mencekik polisi wanita itu yang baginya telah lancang bertanya padanya.


Si polisi wanita menggeleng tak habis pikir. Kemudian ia menoleh dan menatap polisi pria di sebelah Seteffy. Keduanya kompak mengangkat bahu, menuangkan rasa heran mereka terhadap Steffy yang masih saja keras kepala bahkan tak kunjung menyadari kesalahannya.


***


Terhitung, sejak dari semalam hingga sore ini, Rara terbaring menemani Kimi. Keduanya berbaring di ranjang berbeda dan hanya tersekat nakas. Kendati demikian, Rara masih aktif mengajak Kimi yang terlihat masih sangat terpukul, mengobrol. Rara sengaja melakukannya untuk mengalihkan pikiran Kimi, agar iparnya itu tidak terus-menerus larut dalam kesedihan. Sedangkan Kimo, pria itu harus bolak-balik ke kamar rawat Kimi dan Kiara lantaran keduanya dirawat di kamar yang berbeda. Rara sendiri belum berani melihat keadaan Kiara dan memang tidak diizinkan Kimo. Kimo meminta Rara untuk istirahat total, bedrest seperti anjuran dokter demi janin mereka. Janin yang masih bersarang di rahim Rara.


“Kimi, kamu suka baca? Coba, deh, baca di web novel Kakak. Banyak bacaan menarik di sana. Apalagi sekarang sedang ada kompetisi menulis novel dalam semua genre.”


Kimi yang awalnya kembali diam bahkan bengong, berangsur menoleh dan menatap Rara yang sudah meringkuk menatapnya. “Oh, iya ... Kakak penulis, ya?”


Rara mengulas senyum. “Banyak membaca dan menulis enggak ada ruginya, lho, ... justru sangat menguntungkan bahkan menghibur.” Rara mengatakannya dengan antusias dan dibalas seulas senyum oleh Kimi yang menyambutnya hangat.


“Dengan membaca bisa menambah wawasan bahkan ilmu, sedangkan menulis bisa menuangkan hal yang enggak bisa kita bicarakan bahkan hal paling rahasia sekalipun,” tambah Rara.


“Jangan bilang kalau tulisan Kakak juga bagian dari curhatan pribadi Kakak?” balas Kimi sengaja bercanda.


“Oh, ... tentu itu enggak salah!” saut Rara yang sampai menekap mulut menggunakan kedua tangannya, demi meredam tawanya yang seketika pecah. Pun dengan Kimi yang melakukan hal serupa demi meredam tawanya.


“Jarang-jarang, kan, bisa curhat bebas selain di tulisan?” ucap Rara di antara sisa tawanya.


Kimi yang masih menekap mulut, mengangguk-angguk. “Baiklah, ... nanti aku coba, Kak.”


Kimo yang baru datang membawa dua kantong berisi beberapa kotak makanan, menggeleng tak habis pikir sambil berkata, “bahagia banget, ya, nginep di rumah sakit?”


Kimo meletakkan kantong bawaannya di nakas yang menjadi sekat ranjang Rara dan Kimi. Sedangkan kedua wanita yang sengaja Kimo sindir justru kian terkikik, sibuk menekap mulut sambil memegangi perut. Tak ada gurat cemas yang terpancar dari Rara maupun Kimi, meski keduanya tahu, Kimo baru saja mengurus Kiara. Mengenai Kiara benar-benar tidak mengusik apalagi membebani mereka lantaran mereka sudah telanjur lelah dengan Kiara.


Kimo mengulas senyum, menikmati kebahagiaan bahkan kekompakan Rara dan Kimi. Di mana, ia yang memilih duduk di sebelah Rara juga berangsur meraba perut wanita itu.


Mendapati itu, Rara menjadi tersipu. Rara membiarkan Kimo yang memang menjadi kerap mengelus bahkan mengajak perutnya berbicara. Dan ketika hal tersebut terjadi, kebahagiaan yang Rara rasakan seolah sempurna. Tinggal menunggu kelahiran buah hati yang masih bersarang di rahimnya.


“Papa, sama mama?” tanya Kimi.

__ADS_1


Kimo mengangguk. “Papa baru datang.”


Karena Franki juga sibuk mengurus pekerjaan kantor. Jadi, Kimo harus membagi waktu untuk menjaga Kimi dan Kiara sebelum Franki pulang kerja.


“Sebenarnya, mama sakit apa, sih?” tanya Rara lirih. Ia menatap Kimo dengan dahi berkerut.


“Bronkitis,” jawab Kimo singkat sambil balas menatap Rara.


“Oh ....” Rara mengangguk-angguk mengerti.


“Sebenarnya sudah boleh pulang karena cukup rawat jalan. Paling ya, kontrol rutin. Tapi mama hanya mau pulang kalau papa sama Kimi juga pulang,” jelas Kimo kemudian.


Rara dan Kimo kompak diam kemudian saling lirik.


“Aku mau pulang asal mama menyadari kesalahannya dan enggak semena-mena lagi,” ucap Kimi kemudian. “Kalau mama masih egois, yang ada aku bisa tambah stres ....”


Rara tidak berkomentar. Ia memilih diam dan memang masih trauma jika harus berhubungan dengan Kiara. Ia memilih mendekap sebelah lengan Kimo sambil menyandarkan sebelah wajahnya di sana.


“Oh, iya. Nanti kenalan tante Khatrin mau ke sini. Dia seorang dokter, ... namanya Steven.” Kimo tak kuasa menyebutkan spesifik pekerjaan Steven sebagai seorang psikiater.


“Dokter buat siapa? Mau ngapain ke sini? Di sini kan sudah ada dokter?” tanya Rara.


Kimo terdiam dan menunduk kebingungan. Sekai lagi, ia bingung harus bagaimana mengatakannya perihal Steven yang merupakan dokter ahli gangguan kesehatan mental dan itu untuk Kimi.


***


Di ruang rawatnya, Kiara tengah disuapi sup oleh Franki. Kiara yang pucat dan terlihat jauh lebih tua dari biasanya, begitu manja dan kerap memanyunkan bibirnya.


“Semenjak mimpi dicekik Piera, Mama jadi batuk darah bahkan kena bronkitis.”


Sambil mendulang Kiara, Franki berujar, “itu namanya azab, Ma. Teguran. Beruntung Mama masih dikasih umur, masih dikasih kesempatan sama Tuhan untuk bertaubat!”


“Berarti Papa berharap Mama mati? Papa sama sekali enggak cemas apalagi kasihan sama Mama?” rengek Kiara semakin manja tak beda dengan bocah.


“Iya ... iya, Mama ngaku salah. Tapi demi Tuhan, mengenai obat aborsi di makanan yang Mama beli, bukan ulah Mama ... Mama beneran enggak tahu-menahu mengenai kasus itu!” Kiara berusaha meyakinkan Franki.


Franki mendengkus dan menepis tatapan Kiara. “Memangnya kalau bukan Mama, siapa lagi? Masa ia Papa apalagi orang lain?”


Kali ini giliran Kiara yang mendengkus. “Papa beneran enggak percaya sama Mama? Oke, deh ... setelah pulang dari sini, kita datengin tempat Mama beli makanan buat Kimo. Kalau perlu, kita minta bantuan polisi buat mengusut kebenarannya!”


Kendati Kiara begitu serius, tetapi Franki sama sekali tidak peduli. Franki telanjur tidak percaya pada wanita yang tidak mau ia ceraikan itu.


“Siapa sih, yang menaruh obat aborsi di makanan yang aku beli?! Papa saja enggak mau percaya, apalagi orang lain?” batin Kiara kesal. “Demi Tuhan, siapa pun yang naruh obat aborsi itu ke makanan yang aku beli, aku doakan orangnya kena azab dan hidupnya enggak pernah bahagia!”


Sumpah serapah yang Kiara lakukan membuat Franki ngeri sendiri. “Enggak usah nyumpahin diri sendiri. Nanti hidup Mama tambah susah!” cibirnya.


“Demi Tuhan, Papa ... bukan Mama!”


“Lah ... terus, kalau bukan Mama, siapa?”


“Tapi memang bukan Mama ....”


“Ingat, Ma. Dendam hanya akan membuat hidup semakin susah. Lihat tuh si Steffy. Lihat diri Mama juga. Contohnya nyata, kan?”


***


Kedatangan Kainya dan Keinya berikut Khatrin yang menggendong Pelangi, dusambut antusias oleh Rara.


“Bukankah di rumah sedang ada syukuran?” ucap Rara.


Keinya, Kainya, berikut Khatrin kompak tersenyum geli.

__ADS_1


“Syukuran gadungan!” celetuk Kainya yang kemudian menatap kembarannya penuh isyarat.


Rara semakin ingin tahu, tertarik dengan maksud Kainya. “Kok, syukuran gadungan?”


Kimo yang menerima karton tentengan Kainya dan Keinya juga tak kalah ingin tahu.


“Aku bikin sup ayam buat kalian. Ada rujak sama kolak kolang-kaling dan pisang juga. Rara bilang, pengin kolak kolang-kaling sama pisang,” ucap Keinya pada Kimo.


Kimo mengerutkan dahi. “Kok sama? Aku juga lagi pengin kolak kolang-kaling sama pisang,” batinnya.


“Syukuran itu cuma akal-akalan Yuan sama Keinya buat mengelabuhi cewek yang namanya, ... mmm, siapa, Kei? It-itzy, ya?” jelas Kainya kemudian yang melangkah menghampiri Kimi. “Bagaimana? Sudah merasa baikan?” sapanya.


Kimi mengulas senyum sambil mengangguk. “Iya, Kai. Makasih, ya?”


Kainya mengulas senyum sambil mengangguk. “Makasih buat apa? Enggak usah makasih,” ucapnya santai.


“Itzy siapa, sih, Kei?” Rara benar-benar ingin tahu.


“Fans!” tukas Keinya terlihat sebal.


“Fans?” Rara makin menerka-nerka.


Menyadari Rara terlihat ingin tahu, Khatrin pun berbisik-bisik dan menceritakan semuanya mengenai siapa Itzy.


“Astaga! Parah!” lirih Rara syok.


Khatrin mengangguk-angguk.


“Sekarang memang banyak orang gila, ya, Tan?” ucap Rara masih berbisik dan memang sengaja agar yang lain tidak mendengar. Bahkan ketika Kimo ingin tahu dan memintanya untuk cerita, Rara juga bisik-bisik seperti apa yang Khatrin lakukan padanya.


Tak lama kemudian, Keinya yang sampai membawa mangkuk, piring, sendok berikut gelas, menyiapkan semuanya. Mereka makan kolak bersama. Kimo menyuapi Rara, Keinya menyuapi Kimi. Sedangkan Kainya dan Khatrin duduk bersebelahan sambil menikmati rujak. Sesekali, obrolan yang mengikat mereka juga dibubuhi candaan hingga kebersamaan mereka menjadi semakin hangat.


Namun, kebersamaan penuh kehangatan itu menjadi berbeda, ketika seseorang mengetuk pintu ruang rawat keberadaan mereka dari luar. Kainya yang memang tidak sedang sibuk, sengaja membukakan pintunya, meski tak lama setelah itu, Kainya justru menjadi bergeming menatap sosok di balik pintu. Sosok yang juga mengetuk pintu ruang rawat keberadaan mereka.


Berbeda dengan Kainya, kebahagiaan justru begitu terpancar jelas dari wajah Kimi. Kimi terlihat begitu antusias bahkan wajah cantiknya yang awalnya pucat tak bersemangat, menjadi berbinar-binar.


“Ven, kamu sudah datang? Sini ... sini, makan dulu,” seru Khatrin yang masih memangku Pelangi.


“Kamu di sini juga?” tanya Steven dengan suara lirih, menatap Kainya sambil mengulas senyum. Namun senyum itu menjadi pupus ketika Steven menoleh ke belakang dan mendapati Keinya yang masih terjaga untuk Kimi.


Sungguh, yang membuat Steven gelisa bukan Kimi yang menyambutnya antusias, melainkan Keinya dan Kainya. “Kalian sangat mirip!” ujar Steven sambil menatap bingung Kainya dan Keinya silih berganti.


Dari belakang, Rara tampak melongok, mencoba memastikan sosok Steven. “Kayaknya ada hubungan spesial antara Kainya dan Steven. Cara Steven natap Kainya, juga Kainya ke Steven, kelihatan beda banget. Terus, ... tante Khatrin juga kelihatan akrab banget sama Steven. Iya, enggak?” bisiknya pada Kimo yang justru sibuk makan kolak sendiri kendati tatapan pria itu turut mengamati kebersamaan Steven dan Kainya.


“Kimo, jangan dihabisin ...,” rengek Rara lirih, ketika menatap dan mendapati Kimo nyaris menuntaskan kolak di mangkok mereka.


“Ya ampun ... sori, aku khilaf, Ra ....”


Bersambung ....


4 Episode menuju ending ^^. Tetap dukung ceritanya, ya. Like dan komentar kalian, Author tunggu ^^


Oh, iya, sudah baca cerita terbaru Author? Yang mau Author lanjut itu :


Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh)


CEO Mengejar Tuan Putri


Menjadi Istri Tuanku. (cerita ini berhubungan dengan yang Pernikahan Impian karena pemeran cowok utamanya itu Rafael si big bos nyebelin)


Sedangkan sisanya, Menjadi Istri Sah! Akan author tamatin diwattpad : Rositi92. Sejauh ini sudah bab 20 dan alhamdullilah lumayan rame di sana ^^

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2