Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 32 : Sidang Pertama


__ADS_3

“Kenapa Kainya berubah pikiran?” Keinya bergeming merenungi perubahan kembarannya. Seperti isi pesan yang masih menjadi tampilan utama di layar ponselnya, gugatan perceraian untuk Athan memang ide dari Kainya. Kainya yang awalnya memaksa Keinya menceraikan Athan dengan dalih, menyelamatkan harga diri Keinya. Bahkan Kainya juga yang mengurus semua keperluan gugatan perceraian termasuk mendaftarkannya ke Pengadilan Agama.


Terpikir oleh Keinya, kembarannya itu juga merasa sangat tertekan memikirkan nasib Keiny dan Pelangi. Belum lagi, Kainya juga tak beda dengan Yuan. Wanita itu memiliki banyak mata maupun telinga yang ditugaskan khusus untuk diam-diam mengawasi Keinya. Bisa jadi, semua yang menimpa Keinya selama ini juga diketahui Kainya yang memang jauh lebih keras kepala dari Keinya.


Belum lama memikirkan itu, pesan WhatsApp dari Kainya kembali masuk.


Jangan khawatir, Kei.


Aku akan selalu mengawasimu dari sini.


Aku akan mengatasi semunya untukmu.


Jadi kalau Athan kembali macam-macam, aku akan langsung memberinya pelajaran


Kamu pikir, siapa yang membuat naskah-naskah sadapan Athan, lenyap? Tentu itu aku.


Keinya merasa ada yang aneh dengan pesan terakhir Kainya. Kenapa di pesan terakhir, Kainya terkesan sengaja menuntut balasan? Tak biasanya Kainya begitu. Karena meski melakukan semuanya untuknya, sebelumnya Kainya tidak pernah mengungkit atau sekadar memberitahu Keinya.


Akan tetapi, Keinya tak mau berpikir buruk terhadap Kainya. “Kainya begini pasti karena dia sangat tertekan. Aku harus membuatnya tidak mengkhawatirkanku lagi.”


Seperti anggapan sekaligus keinginannya, Keinya pun mengetik balasan pesan untuk Kainya.


******


Di sebuah ruangan yang gelap tanpa disertai penerang meski sekadar lampu bernyala remang, sesosok wanita tengah menatap lurus sebuah bingkai berukuran besar yang hampir setinggi tinggi tubuh wanita itu. Namun dikarenakan posisinya tak jauh dari jendela yang hanya tertutup gorden tipis, cahaya mentari dari luar yang ia belakangi membuat bingkai yang sempat diperhatikannya tersorot tatkala ia pergi. Bingkai tersebut berisi foto sepasang mempelai yang tampak sangat bahagia atas cinta yang menyertai ke duanya. Dan ketika si wanita itu nyaris meninggalkan ruang gelap tersebut, sebuah pesan masuk di ponsel yang digenggam, berhasil mematahkan langkahnya.


Keinya : Ya. Jangan khawatir, Kai. Aku baik-baik saja. Dan semuanya akan baik-baik saja.


Seulas senyum tersungging di bibir tipisnya. Senyum yang kemudian menuangkan kekejian sekaligus kemenangan atas pesan yang baru saja ia dapatkan. “Keinya tidak boleh bercerai dari Athan karena itu bisa membuat Yuan semakin memiliki kesempatan. Aku harus segera kembali dan mengurus semuanya!” Jemari-jemari lentiknya mencengkeram ponsel yang masih menampilkan pesan dari kontak Keinya. “Tidak ada wanita lain yang boleh bersama Yuan kecuali aku. Tidak juga untuk Keinya. Benar-benar hanya aku!”

__ADS_1


Belum lama wanita itu berucap, embusan angin kencang dari luar jendela yang terbuka lebih dari setengah bagian, berhasil menjatuhkan bingkai. Sontak hal tersebut membuat si wanita kalang kabut dan segera berlari untuk membenarkannya. Ya, Kainya membenarkan pigura berisi sosok Yuan dengan seorang wanita yang begitu mirip dengannya dalam busana pernikahan hitam putih bergaya klasik.


****


“Malam ini aku susah tidur,” ucap Yuan dari seberang.


“Kenapa?” balas Keinya yang sudah duduk di tengah-tengah kasur.


Tubuh Keinya sudah berselimut. “Yu, yang akan menjalani persidangan itu aku, bukan kamu. Masa justru kamu yang enggak bisa tidur?”


“Aku? Kamu juga enggak bisa tidur, kan?”


Balasan dari Yuan membuat Keinya menunduk, mengiyakan anggapan Yuan. Keinya memang tidak bisa tidur. Tapi bukan karena memikirkan perceraiannya. Melainkan kenyataan Gio yang memang selingkuh dan sudah Yuan selidiki. Beberapa foto selaku bukti Gio bersama wanita lain dan sampai ketika keduanya mencoba gaun pernikahan telah dikantongi. Yang membuat Keinya begitu memikirkan kasus itu, tentu mengenai bagaimana nasib Rara. Rara pasti akan sangat sedih. Gagal menikah karena pasangan memilih orang lain untuk dinikahi, tak kalah menyakitkan dari ketika pasangan justru mencampakkan ketika kita sudah melewati pernikahan bahkan memiliki anak.


“Kalau kamu enggak bisa tidur, keluarlah ke balkon. Pemandangan malam dari sana bisa bikin kamu lebih tenang. Pelangi masih pulas, kan?”


Keinya mengangguk. Hal yang seharusnya tidak perlu ia lakukan karena Yuan juga tidak mungkin bisa melihatnya. Mereka tak sedang bersama. “Mungkin efek dipijat tidurnya jadi tambah pulas.”


Keinya mengikuti saran Yuan. Ia keluar menuju balkon dan menikmati pemandangan malam dari sana. Kerlip lampu di setiap gedung yang jauh menjadi pemandangan yang cukup memanjakan matanya di tengah kegelapan malam yang kali ini tak disertai banyak cahaya. Malam ini langit benar-benar minim bintang. Hanya sedikit saja bintang yang menyertai, dan itu terlihat sangat kecil. Beruntung, embusan angin malam ini terbilang cukup bersahabat karena tidak terlalu kencang.


“Ehm!” Sebuah deheman disertai suara langkah yang mendekat mengalihkan fokus Keinya. Keinya segera balik badan dengan perasaan senang yang tiba-tiba menawan.


Ketika Keinya telah menghadap ke sumber suara, di balkon sebelahnya sudah ada Yuan yang tengah menyesap isi cangkir sambil menatap lurus ke depan, tetapi kemudian pria itu melirik dan tersenyum kepadanya.


Keinya tersipu dibuatnya. “Kamu tinggal di apartemen sebelah?”


“Suka-suka aku, dong ....” Yuan mengulurkan satu cangkir yang tersisa. “Cokelat hangat. Ini akan membuatmu sedikit lebih tenang.”


Keinya kian mendekat dan membuatnya berdiri persis di sebalah Yuan meski sekat balkon memisahkan mereka. “Terima kasih.” Keinya menerima cangkir berisi cokelatnya dengan senyum yang masih menyita wajah cantiknya.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Keinya melihat Yuan berpakaian biasa. Yuan mengenakan piama panjang warna cokelat muda, bukan setelan jas layaknya biasa. Kenyataan tersebut membuat Yuan terlihat jauh lebih santai.


“Itu harganya tiga ratus ribu. Dan karena aku yang membuatnya, tentu harganya jadi bertambah berkali lipat.”


Celetukan Yuan membuat Keinya yang nyaris menyesap cokelatnya, harus mati-matian menahan tawa. “Aku harus bayar?” tanyanya pada Yuan yang tengah menatapnya. 


Yuan mengangguk, dan Keinya hanya membalasnya dengan menggelengkan kepala, sesaat sebelum mereka menghabiskan cokelat hangat sambil menikmati suasana malam bersama obrolan ringan yang sungguh membuat mereka merasa lebih tenang.


****


Hari persidangan pertama, Yuan mendampingi Keinya tanpa Pelangi. Demi kelancaran bersama, Rara menjaga Pelangi di apartemen bersama seorang teman Yuan yang sengaja Yuan tugaskan untuk membantu. Namun meski persidangan sudah nyaris digelar bahkan Keinya dan Yuan juga datang tiga puluh menit sebelum sidang dimulai, mereka masih harus menunggu Athan yang tak kunjung datang. Hal tersebut pula yang membuat Keinya geram dan kemudian meninggalkan Yuan di tempat tunggu untuk menelepon mantan suaminya yang baginya semakin tidak tahu diri. 


Athan yang melayangkan talak, Athan yang menginginkan perpisahan sesaat setelah melakukan kesalahan pengkhianatan dengan sadar, tapi kenapa pria itu juga yang mempersulit perceraian?


“Aku enggak mau cerai,” ucap Athan di awal pembicaraan. Pria itu langsung mengatakannya sebelum Keinya bicara.


Rahang Keinya mengeras karena kesal. “Gila kamu ya, Than! Enggak tahu diri banget!” Keinya telanjur muak kepada Athan.


Dari seberang terdengar Athan yang menghela napas dalam sesaat sebelum berkata, “aku enggak mau cerai, sebelum Tiara balik ke aku. Setidaknya kalau Tiara pergi, kamu dan Pelangi juga enggak boleh bebas.”


Apa yang baru saja Athan katakan, membuat kebencian Keinya terhadap Athan kian meluap. “Kalau cara kamu begini, aku makin mantap berpisah dari kamu. Bahkan kalau kamu tetap begini, aku enggak segan menjebloskanmu ke penjara!”


Dari seberang, Athan tak langsung menjawab layaknua sebelumnya. Sementara Keinya sudah mondar-mandir di salah satu selaras pengadilan. Namun tak lama kemudian, Keinya mendapati Athan melangkah memasuki Kantor Pengadilan dengan loyo. Athan mengenakan pakaian putih dan hitam layaknya Krinya, terlepas dari Athan yang terlihat sangat tidak bersemangat.


Keinya segera menghampiri Athan dengan langkah menggebu. “Jadi laki-laki yang punya harga diri dikit kenapa? Enggak jelas banget!”


Athan hanya menatap malas Keinya. “Tiara membawa pergi semuanya ....”


Keinya menelan ludah. “Pertama, apa pun yang menimpa kamu bahkan meski kamu kesulitan atau malah sekarat, semua itu sudah bukan urusanku lagi. Jadi kamu enggak usah banyak alasan apalagi mengeluh kepadaku. Kedua, urus urusanmu sendiri tanpa harus menyusahkan orang lain apalagi aku dan Pelangi! Aku enggak mau tahu, kamu harus tetap kasih gana-gini karena biar bagaimanapun, rumah beserta isinya juga pakai uangku. Itu hak Pelangi dan usaha bisnisku yang sudah kamu hancurkan!” Mendapati Athan terkejut mengenai bisnis yang ia maksud, Keinya langsung berkata, “kenapa? Nggak usah pura-pura terkejut. Kamu pikir aku enggak tahu ulah jahatmu?”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu dan menatap Athan penuh kebencian, Keinya memilih pergi karena ia tidak yakin akan baik-baik saja jika terus melihat apalagi bersama Athan. Bisa-bisanya Athan tidak rela melepaskannya dan Pelangi bahagia, hanya karena pria itu juga menjadi korban Tiara. Karena jika dibolehkan, Keinya ingin mencabik dan menghancurkan tubuh Athan menjadi bagian yang tidak bisa disatukan lagi. Tak peduli, meski pria tersebut merupakan ayah dari Pelangi.


****


__ADS_2