
“Aku diancam istriku gara-gara minta mandi bareng,”
Episode 17 : Pulang Kerja
Kimo baru pulang kerja. Ia melangkah lemas dan terlihat kelelahan sesaat setelah menutup pintu apartemen. Hanya saja, suasana apartemen yang sepi membuatnya mengerutkan dahi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan atau aroma masakan yang biasanya menyambut kepulangannya. Pun ketika ia langsung berjalan cepat menuju dapur sembari mencari-cari keberadaan Rara. Biasanya, kalau tidak di ruang keluarga sembari berkutat dengan laptop, istrinya itu sibuk di dapur. Namun ketika ia memastikan, di dapur juga sudah tidak ada Rara, kendati di balik tudung saji sudah tersaji beer teriyaki pesanannya.
Semenjak menikah, Rara memang makin giat belajar memasak meski hasilnya tidak selalu berhasil. Karena apa yang Rara buat baik itu masakan maupun aneka makanan berikut minuman, lebih sering kacau bahkan gagal. Kendati demikian, Rara tidak menyerah dan Kimo juga akan memberi banyak masukan untuk kemajuan memasak istrinya.
Pencarian Kimo berlanjut ke kamar. Mungkin Rara sedang mandi atau justru mengerjakan sesuatu di kamar. Karena selain di ruang bersantai tidak ada laptop Rara, bisa jadi Rara bekerja di dalam kamar. Akan tetapi, meski di meja kerja sebelah tempat tidur memang ada laptop Rara dengan layar menampilkan laman Dream Zone!, istrinya itu juga tidak ada di kamar berikut kamar mandi yang juga sudah lebih dulu ia pastikan kosong.
Di dalam kamar, hanya ada dua buah koper besar yang sudah rapi di depan lemari, sedangkan di sebelah meja kerja Rara sudah ada tiga buah dus berukuran cukup besar yang menampung beberapa buku koleksi Rara, karena rencananya, besok mereka akan pindah ke rumah. Namun, kenapa istrinya justru tidak ia dapati di apartemen?
Sambil menghela napas karena keberadaan Rara yang tidak ada di apartemen juga semakin membuatnya lelah, Kimo meletakkan tas kerjanya di sebelah dus milik Rara yang berada di sebelah meja kerja. Kemudian ia duduk di kursi sembari menoleh ke pintu kamar yang tidak ia tutup rapat.
“Baru pulang kerja, istri sudah hilang,” keluhnya yang kemudian memilih bersandar pada kursi tempatnya duduk. Ia menganati laptop Rara, tetapi tak lama kemudian, ada sesuatu yang mengganggu pemandangannya di sana.
“Astaga!” pekik Kimo refleks seiring tubuhnya yang berangsur condong ke depan bersamaan dengan kedua matanya yang membelalak, menatap tak percaya layar laptop sang istri.
“Sayang, kamu sudah pulang?” sergah Rara yang baru datang dan terlihat ceria.
Kimo berangsur balik badan demi menatap sang istri. Ia menatap Rara dengan dahi berkerut, berikut rasa tak percaya yang masih menyelimuti.
Rara merasa dihakimi oleh Kimo, hanya dari cara suaminya itu menatapnya. Ia cemberut sembari balas menatap suaminya. Tak lupa, ia mendekatinya. “Aku dari apartemen sebelah. Tante Angela meneleponku karena beliau baru saja membuat manisan kedondong dan mangga! Enak banget! Seger!” ceritanya antusias. “Nanti kamu juga harus coba, ya! Aku taruh kulkas biar lebih enak!”
Menggunakan telunjuk tangan kanan, Kimo memberi Rara kode untuk segera mendekat.
Rara mengernyit menyikapi kode dari suaminya yang memintanya mendekat. “Aku belum mandi, loh. Aku mau mandi dulu,” kilahnya sembari tetap melangkah mendeki Kimo.
Kimo masih bungkam dan langsung merangkul kepala sang istri yang kemudian ia tuntun ke depan laptop dan menyaksikan apa yang ada di sana.
“Ada apa?” tanya Rara bingung sembari menengadah demi menatap Kimo.
Kimo memasang wajah kesal kemudian kembali menuntun Rara untuk menatap layar laptop.
“Ini ada apa, sih? Kamu mau main pantomim?” keluh Rara yang kemudian mulai menerka-nerka mengenai layar laptop miliknya yang sepertinya dipermasalahkan oleh Kimo.
Rara berkedip bingung. Apakah yang dimaksud Kimo adalah sampul salah satu novel online di webnya yang menggunakan gambar berunsur dewasa?
“I-itu?” ujar Rara memastikan sembari menunjuk gambar sepasang pria dan wanita yang hanya mengenakan pakaian dalam dan bertatapan begitu intens.
“Itu konten nggak jelas, itu!” omel Kimo.
Rara refleks menggaruk kepalanya yang tidak gatal, saking bingungnya.
“Aku nggak mau tahu, kamu harus bikin kebijakan aman buat pekerjaanmu meski itu dalam dunia tulisan!” tambah Kimo masih mengomel.
Rara menatap pasrah Kimo. “Awalnya aku memang berpikir begitu, tetapi di Dream Zone! memberlakukan kebijakan konten buat pembaca, kok.”
“Memangnya itu bisa menjamin? Sekadar melakukan persetujuan juga bisa tetap baca, kan?” saut Kimo.
“Duh, ternyata Kimo lebih sensitif dari aku ...,” batin Rara yang kembali menunduk kemudian mendekap Kimo. Ia menyandarkan wajahnya ke dada suaminya itu. “Tapi tulisan seperti itu memang ada asal jangan terlalu keluar dari batas. Dan mengenai sampul, nanti aku urus.”
“Jangan-jangan, selama ini kamu juga nulis begitu?!” tuding Kimo cepat.
__ADS_1
“Eh, astaga! Demi Tuhan, Kimo. Semua tulisanku termasuk Keinya, aman! Aku berani taruhan!” elak Rara tak terima sambil menatap Kimo sungguh-sungguh.
Kimo mengembuskan napas dan terlihat lega. “Syukurlah.”
Rara menyadari jika jantung Kimo berdegup sangat cepat sekaligus keras. Apakah karena konten sampul novel yang begitu dewasa tadi, suaminya sampai setakut sekarang karena berpikir ia juga melakukannya?
“Buat aturan. Menulis tidak hanya untuk menarik banyak pembaca, tetapi juga manfaat yang bisa didapat dari tulisan itu sendiri!” ucap Kimo kemudian terdengar jauh lebih santai.
“Jadi presiden aja, sana!” celetuk Rara sembari menengadah menatap Kimo penuh cinta.
Kimo mendengus sambil melirik sinis Rara.
“Asal jangan mendirikan kerajaan pasti nggak ditangkap polisi, kayak yang lagi viral!” lanjut Rara sengaja menggoda Kimo.
Sebelah tangan Kimo menarik hidung Rara, dan kemudian mendekap tubuh wanita itu sangat erat, mengguncangnya ke kiri dan kanan, pelan sekaligus berirama. Di mana, udara kebahagiaan seolah menyelimuti kebersamaan mereka detik itu juga. Rara sendiri masih terpejam sembari menyeringai menahan sakit di hidungnya akibat ulah Kimo.
“Ingat, loh, Ra. Semua yang kita lakukan juga akan dipertanggungjawabkan. Sederhananya, nantinya kita juga akan punya anak. Nah, kamu mau, anak kita tiba-tiba keluar dari kendali kita dan membaca yang enggak-enggak?” ucap Kimo.
Rara menghela napas lelah. “Iya, Kimo. Nantinya, kalau ada unsur tulisan yang begitu, editor berikut admin pengawas juga langsung bergerak cepat.”
“Ya itu. ... kenapa masih ada tadi? Kalian kecolongan?”
“Belum. Tetapi, Dream Zone! akan bersih dari unsur yang kamu keluhkan. Janji!” Rara menjulurkan kelingking tangan kanannya.
Kimo masih merengut. “Kenapa kamu menolak mengunjungi keluarga dari ibu tiri kamu?”
Rara langsung terdiam dan merenung. Ada gurat kesedihan yang seketika menghiasi wajahnya. “Malas ah. Bagaimana kalau malah jadi bermasalah? Mereka itu bermasalah, tahu!”
Rara menghela napas kemudian menelan ludah. Berat rasanya kalau harus membahas keluarga dari ibu tirinya, bahkan sekadar memikirkannya. “Dulunya, ibu tiriku selalu bilang kalau ibuku wanita tidak benar.”
“Awalnya aku sangat marah dan tidak percaya walau ternyata apa yang dia katakan memang benar.”
“Tetapi sekarang, beberapa orang yang kukenal justru mengabariku kalau anak ibu tiriku justru seperti ibu Piera, bahkan di luar negeri.”
Kimo masih menjadi penyimak baik untuk cerita Rara.
“Ayahku tidak memiliki anak dengan ibu tiriku, jadi aku tidak ada kepentingan lagi dengan keluarga ibu tiriku,” ucap Rara menutup ceritanya sembari menatap Kimo penuh peringatan.
“Oh. Mungkin ini yang dinamakan karma dibayar tunai?” ucap Kimo.
Rara berangsur berlalu sembari merapikan rambutnya yang terurai dan mengikatnya dalam cepolan tinggi.
“Entahlah. Jadi jangan bahas mereka. Lihat saja ponselku. Beberapa orang makin sibuk memberiku informasi tentang kelakuan kakak tiriku, dan aku nggak tahu mereka dapat nomor ponselku dari siapa?” keluh Rara yang kemudian balik badan menatap Kimo.
“Kalau begitu, ganti nomor saja. Jangan cantumkan nomormu di promo-promo acara perusahaanmu juga, biar lebih aman. Kalaupun ingin menyantumkan, khusus untuk yang buat pekerjaan saja,” usul Kimo sembari melepas kancing kemeja yang dikenakan dari kaitannya sambil menatap serius Rara.
Rara yang termenung sembari menunduk, berangsur mengangguk setuju. “Sayang, pindahannya jangan besok, ya. Besok peresmian restoran pasti bakal sibuk banget. Kita tunda dulu.”
Kimo mengangguk-angguk, dan terlihat menimang usul Rara. “Baiklah. Kamu yang atur dan segera kasih tahu aku. Terus ini ngapain pakaian sudah kamu susun rapi di koper?”
Rara nyengir kemudian masuk ke kamar mandi. “Buka saja, nanti aku susun lagi. Aku mandi dulu. Eh, tapi ... Yuan dan Keinya jadi pulang?”
Rara yang awalnya akan menutup pintu jadi urung dan bertahan di antara pintu yang ia tahan tanpa kembali membukanya.
__ADS_1
“Mereka liburan dengan jet pribadi. Jadi jangan khawatirkan mereka. Jangan tiba-tiba datang di depan kita dan membuat kita jantungan saja sudah untung!” balas Kimo yang lebih terdengar mencibir.
Rara mengangguk-angguk setelah terlihat merenung dan mengerti maksud suaminya.
Ketika Rara akan menutup pintu, tiba-tiba saja Kimo menahan.
“Ih, Kimo, apa-apaan, sih? Aku mau mandi ....” Rara tetap melakukan pertahanan tanpa mengizinkan Kimo ikut masuk kamar mandi.
“Aku juga mau mandi, sekalian!” ujar Kimo memberikan alasan.
“Ih ... kamu nanti saja, gantian! Atau pakai kamar mandi di kamar Keinya juga nggak apa-apa!”
“Kenapa gantian apalagi pakai kamar mandi yang lain? Mandi bareng juga nggak apa-apa, kan kita sudah menikah!” Kimo masih berusaha membuka pintunya.
“Nggaaak!” keluj Rara yang sebenarnya mulai ketakutan. Karena meski mereka memang sudah menikah seperti apa yang Kimo katakan, juga perihal ia yang mencintai suaminya itu, tetapi untuk urusan yang Kimo minta, ia benar-benar belum siap.
“Flora, buka pintunya!”
“Kimo, lain kali saja. Ya ampun, perutku tiba-tiba sakit ....” Rara terpaksa berbohong.
“Ah, kamu pasti hanya pura-pura!” tepis Kimo.
“Aduh ... Kimo ini,” batin Rara nyaris kewalahan. Untungnya, sejurus kemudian ia mendapatkan ide cemerlang. Ide yang juga sudah ia terapkan selama menikah. “Kalau kamau tetap memaksa, kamu tidur di luar, loh!” ancamnya.
Benar saja, Kimo langsung terdiam pasrah. Ia melepas tahanannya dan pintu tertutup otomatis lantaran dari balik pintu, Rara langsung bergerak cepat.
“Kebiasaan mengancam, deh. Aku diancam istriku gara-gara minta mandi bareng,” ucap Kimo sengaja dilebih-lebihkan.
Di dalam, Rara yang baru saja mengunci pintunya, tetapi masih mendengar keluhan Kimo menjadi tertawa geli. “Demi Tuhan, lain kali, Kimo. Jangan sekarang. Aku belum siap! Karena menghadapimu saja, bahkan meski kita sudah, aku sering tegang dan gugup!” batin Rara.
Tiba-tiba saja Kimo teringat masalah yang menjerat Piera perihal kecelakaan Ben, yang Kainya maksud. Ia yang menjadi mengerutkan dahi pun mengeluarkan ponselnya dari saku sisi celana.
“Sudah sampai mana, ya, kelanjutan kasus Ben dan ibu?” Kimo menggigit bibir bawahnya dan terlihat sangat terbebani atas kenyataan yang ia keluhkan. “Semoga, dugaan ibu ada sangkut-pautnya dengan kecelakaan Ben, nggak benar. Kasihan Rara. Dia bisa tambah tertekan kalau itu benar-benar terjadi!”
Kimo membuka aplikasi kontak di ponselnya kemudian memilih kontak Kainya dan meneleponnya.
Bersambung ....
Hallo, Author di sini. Masih semangat mengikuti ceritanya? InsyaAlloh, hari ini update 2 episode, karena kemarin nggak sempat nulis dikarenakan anak sakit. Meski menulis kewajiban penulis, tetapi kalau author kepepet urusan pribadi, mau nggak mau harus libur nulis. Wkwkwk
Tetapi Author ganti hari ini. Nah, kalian juga harus lebih semangat buat dukung cerita ini biar nggak sepi kayak hati Kainya yang masih jomlo #ditabok Kainya.
Tolong terus dukung cerita ini, ya.
Oh, iya. Cerita Author yang lain juga boleh banget dilirik loh, biar jadi rame juga :D
CEO, Mengejar Tuan Putri (Serius ini seru banget yang suka romance fantasi#hahaha)
Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh) aslinya sudah ending untuk season1. Nah, segera diserbu ya!
Terima kasih,
Rositi.
__ADS_1