Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Bab 37 : Selepas Perceraian


__ADS_3

Bab 37 : Selepas Perceraian


“Kita akan mengembangkan usaha kita,” jelas Keinya sambil menatap serius Rara.


Di ruang bersantai, Keinya dan Rara menyanding laptop dengan layar menyala. Laptop Rara menampilkan lembar kerja dokumen, sementara laptop Keinya menampilkan halaman aplikasi web. Keduanya duduk berhadapan dan menjadikan meja marmer beralas kaca, berukuran 2x2 meter sebagai sekat mereka. Di samping kanan mereka disertai satu botol air mineral berukuran 1,5 liter, selain pulpen dan buku catatan.


“Wah, kita bakalan punya penerbitan?” sergah Rara antusias. Rara menatap serius Keinya. Sebelah tangannya meraih botol air mineralnya, di mana ia juga mulai menenggak isinya.


Keinya menggeleng, menepis keantusiasan Rara.


“Jadi, masih tetap sama? Jasa ghost writer dan seperangkatnya?” ujar Rara diakhiri dengan mengerucutkan bibir. Ia meletakkan botol air mineralnya ke tempat semula setelah menutupkan kembali tutupnya.


Keinya menghela napas dalam sambil menepuk-nepukkan tangannya pada tepi meja. Kemudian ia menatap saksama layar laptopnya dan berangsur ia hadapkan pada Rara.


Rara menyambut layar laptop Keinya, menatapnya sambil mengernyitkan dahi.


“Luar biasa!” ujar Rara takjub menatap tak percaya layar laptop Keinya.


“Web novel.” Keinya mengangguk santai menikmati kebahagiaan Rara.


“Ini sudah beres webnya? Sudah bisa diakses?”


Keinya menggeleng. “Sebentar lagi.”


“Aku pikir, kita akan serius membangun penerbitan?” sergah Rara masih antusias.


Keinya menghela napas pelan. “Yuan memang menawariku membuka penerbitan sendiri. Kami sempat berdiskusi cukup serius.”


“Jadi, penerbitan yang aku bayangkan mencakup segalanya. Dari mayor label, indie, SP, juga jasa percetakan. Nantinya, tulisan-tulisan kita juga akan dipasarkan dan bekerja sama dengan perusahaan Yuan. Mereka akan menjadikan buku sebagai suvenir bagi setiap penginap hotel atau pembeli apartemen.”


Rara mengerjap cepat sambil menelan salivanya. “Tapi omong-omong, masalah penerbitan, jangan bilang kalau kamu menolaknya?”


Tudingan Rara dibalas anggukan santai oleh Keinya.


“Sudah kuduga!” cibir Rara sambil mengempaskan punggungnya pada sandaran kursi tempatnya duduk.


Keinya tersenyum kecil. “Kamu benar-benar sahabatku, Ra! Hal sesensitif seperti ini, langsung kamu ketahui sebelum aku cerita!” Ia sengaja menggoda Rara.


Rara melirik sebal Keinya. “Kalau bukan aku, memangnya siapa lagi sahabatmu? Ryunana?”


Keinya tergelak. Namun tiba-tiba saja, Keinya merasa aneh dengan dadanya. Di sana terasa sangat kencang, pegal, sekaligus basah. Dan ketika Keinya memastikan apa yang terjadi diikuti pula oleh Rara yang memperhatikan gerak-geriknya, mereka kompak terkejut.


“Ya ampun!” pekik Keinya tak percaya.


Rara terlonjak girang dari tempat duduknya, menatap tak percaya apa yang menimpa Keinya. “Wah ... ASI-mu keluar lagi! Syukurlah, akhirnya Pelangi bisa minum ASI lagi!”


Keinya terlihat begitu bahagia. “Aku harus memompanya!”

__ADS_1


Rara mengangguk setuju. Keinya langsung lari ke kamar sambil menahan sumber asinya. Namun, belum juga masuk kamar, tiba-tiba saja ia berhenti dan balik badan. Keinya menjadi murung.


“Kenapa?” ujar Rara bingung.


“Aku lupa bawa pompa ASI-ku,” balas Keinya.


Rara merenung dan mencoba mencari cara mengatasi masalah Keinya. Setelah sempat tidak keluar, sekarang ASI Keinya sepertinya sudah kembali normal. Rara yakin itu tak luput dari pikiran Keinya yang sudah jauh lebih tenang. Keinya benar-benar sudah bisa bernapas lega bahkan bahagia. “Kalau begitu aku pergi sebentar untuk membelinya.”


“Lagi-lagi aku merepotkanmu,” sesal Keinya.


“Memang sudah takdirmu merepotkanku. Sudah jangan sungkan!”


Keinya mengulas senyum dan melepas Rara dengan begitu ceria. Kenyataan kali ini membuat Rara teringat kebersamaan mereka ketika SMA. Tepatnya ketika Keinya baru berpacaran dengan Athan. Seperti itu kiranya keceriaan pada diri seorang Keinya dan tak beda dengan kebahagiaan seorang fans ketika membayangkan hidup bahagia betsama idolanya.


Melihat itu, Rara pura-pura mual. “Kalau kamu kayak gitu ke aku, aku mual. Tapi kalau kamu kayak gitu ke Yuan, jangan tanya apa yang akan terjadi!” godanya sesaat sebelum pergi.


Keinya menggeleng tak habis pikir. “Kayaknya kamu lebih berpengalaman daripada aku, Ra!” serunya balik menggoda.


Rara tergelak di mana ia sampai membungkuk-bungkuk saking gelinya mendengar tanggapan Keinya yang menganggapnya jauh lebih berpengalaman. Bahkan karenanya, ia sampai nyaris tersungkur tepat sesaat setelah ia membuka pintu apartemen, andai saja tubuh seseorang tidak telanjur berdiri di hadapannya.


Sebenarnya keadaan itu sudah membuat Rara merasakan firasat buruk. Apalagi, aroma parfum yang baginya teramat menyengat dan teramat mengganggu indra penciumannya, membuatnya hanya memikirkan satu orang. Benar saja, ketika ia mendongak, itu memang Kimo!


Kimo menyambut Rara dengan menggeleng dan menatapnya tak habis pikir.


“Kalau aku enggak di sini, kepalamu bisa penyok bahkan lepas!” cibir Kimo yang merasa terganggu dengan wajah tak berdosa Rara.


Kali ini keluh kesah Rara tak meledak-ledak. Rara begitu santai dan terlihat jelas sedang dalam suasana hati yang baik. Kenyataan yang membuat Kimo cukup tergelitik.


“Dih! Dikiranya perutku beton?!” cibir Kimo.


Rara menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal. Kemudian ia meminta maaf pada Kimo. 


“Kei, aku lupa. Tadi aku keluar buat apa, ya?” serunya dari balik pintu tanpa benar-benar membukanya.


“Hahaha ... makanya jangan kebanyakan bercanda,” balas Keinya.


Mendengar itu, Rara kembali tertawa. “Sudah jangan dibahas. Tadi aku harus ngapain. Serius ini, aku lupa.”


“Pompa, Ra.”


“Oh, pompa? Oh iya iya, baiklah, ... aku ingat!”


Setelah percakapan tersebut, Rara segera menutup pintu dan berlalu dengan begitu santainya. Membuat Kimo yang sedari awal memperhatikannya menjadi bingung sendiri.


“Aneh banget? Tuh orang kenapa? Padahal kemarin setiap bertemu selalu ngajak ribut. Lah, ini?”


Saking seriusnya memperhatikan Rara, Kimo tidak menyadari di hadapannya sudah ada Yuan yang keluar dari apartemen sebelah Rara muncul. “Yang aneh itu kamu. Ngapain juga kamu baper mengharapkan perhatian Rara?”

__ADS_1


Awal Yuan berucap, Kimo langsung terlonjak saking terkejutnya karena Kimo pikir, tidak ada orang lain selain dirinya. Mendapati itu, Yuan yang sudah rapi dengan kemeja abu-abunya, hanya menggeleng geli.


“Heran, hobi banget ngagetin!” cibir Kimo sambil mengatur napasnya yang menjadi cukup kacau. Ia terlampau kaget gara-gara kemunculan Yuan yang baginya sangat tiba-tiba.


“Ngapain masih di situ? Apa memang kamu ke sini bukan buat nemuin aku?” sambung Yuan. “Pasti sengaja modus ini!”


Kimo salah tingkah. “Aku hanya mengkhawatirkannya. Aku takut dia melakukan tindakan nekat atau sejenisnya.”


Yuan menghela napas. “Baiklah. Kamu mau minta nomor ponsel Rara?” ucapnya sambil berlalu meninggalkan Kimo.


“Kata siapa aku mau minta nomor Rara, sok tahu banget kamu!” Kimo menyusul Yuan yang sepertinya akan bekerja. Kali ini Yuan sampai membawa tas kerja. Dan jika sudah seperti itu, biasanya Yuan sedang banyak urusan.


“Sudah, langsung saja ke intinya!” tegas Yuan.


****


Hal yang membuat kebahagiaan Rara berkurang, tak lain karena ketika baru meninggalkan swalayan, ia justru bertemu Athan. Pria berkacamata itu langsung menatapnya dengan antusias. Bahkan meski Rara membalasnya dengan menghela napas sambil menatap malas Athan.


“Sudah, deh enggak usah sok akrab. Memangnya kamu punya lima triliun buat bayar aku?” cibir Rara sambil bersedekap. Memasang wajah tak sudi sekaligus jual mahal. “Sudah sana … apa pun yang kamu lakukan enggak mempan. Percuma! Uangmu enggak bakal bisa beli persahabatanku dengan Keinya!”


“Jangan ngomong begitu dong, Ra. Gini-gini, dari dulu aku sudah menganggapmu adik kesayangan,” bujuk Athan.


“Kata-katamu bikin aku mual, Than. Enggak nyangka, ya, setelah diceraikan Keinya kamu malah jadi lontang-lantung. Ini pasti azab suami sekaligus papah yang doyan selingkuh enggak tanggung jawab kayak kamu!” Rara mengatakan itu dengan emosi yang menggebu-gebu. Ketika selepas perceraian membuat Keinya menemukan kebahagiaan, Athan justru seolah tidak memiliki tujuan. Pria itu bahkan tidak segan bersikap murahan padahal awalnya selalu jual mahal.


Athan menjadi murung. Namun melihat tas belanjaan yang Rara pegang berlabel keperluan ibu dan anak, ia jadi antusias. Sedangkan Rara yang melihat perbuahan mencolok tersebut, langsung berkata, “apa?!”


“Aku ingin bertemu Pelangi!” sergah Athan.


“Bertemu Pelangi apa mamanya?” cibir Rara.


“Sekarang kamu tinggal dengan Pelangi dan Keinya, kan?”


Rara hanya mendengkus, mengabaikan Athan tak ubahnya angin lalu.


Kenyataan tersebut membuat Athan refleks menelan salivanya. “Kenapa sih, di matamu kayaknya aku nggak bener banget?”


Pertanyaan itu membuat Rara tersentak dan sesak napas. “Ya ampun, memangnya kamu nggak sadar, apa yang kamu lakukan ke Pelangi dan Keinya itu sangat keterlaluan?” Rara menggeleng tak habis pikir kemudian buru-buru meninggalkan Athan dengan langkah tergesa. “Si Athan amnesia apa gimana? Pura-pura sok suci gitu? Tapi bentar. Bagaimana jika Athan sampai mengikutiku? Bisa-bisa dia sibuk datang ke apartemen!”


Rara sengaja menyelinap, menjejalkan tubuh mungilnya di antara pejalan kaki yang ada di sekitar demi menghalau perhatian Athan.


Tak jauh dari Athan, Ryunana yang memunggungi pria tersebut menjadi tersenyum puas menikmati hasil bidik kamera di ponselnya yang merekam kebersamaan Athan dan Rara.


“Aneh. Kenapa Rara bilang pria ini diceraikan Keinya bahkan anak Keinya ternyata bukan anak Yuan?” pikir Ryunana.


Apa yang baru terjadi tersebut membuat Ryunana merasa sangat bahagia. Bahkan, Ryunana seolah memiliki kebahagiaan yang sempurna hanya karena mengetahui, Pelangi bukan anak Yuan. “Baiklah, ini akan menjadi hadiah untuk Keinya di acara peresmian apartemen baru Yuan!” gumamnya sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas tangan yang menyertai penampilannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2