
“dua puluh tahun lagi ... mungkin kepalaku sudah mulai dipenuhi uban ... aku akan semakin sering tersenyum menghadapi semua tingkah anak-anak kita, sedangkan kamu akan semakin sibuk mengomel mengeluhkan kelakuan mereka. Aku juga akan menjadi pelindung yang paling baik untuk mereka, ... dan kamu pasti akan sering memarahi bahkan memberi banyak hukuman kepadaku.”
Bab 87 : Mencintai
Pagi-pagi sekali, sekitar pukul setengah lima pagi, kedua ponsel Yuan tak hentinya berdering. Yang satu mati, yang satunya akan bunyi, dan terus begitu.
Yuan yang sebenarnya mulai terusik menyadari, dering tersebut merupakan dering tanda telepon masuk. Jadi, demi menjaga Keinya yang akhir-akhir ini sulit tidur dan bahkan pagi ini saja, belum lama baru bisa tidur, Yuan segera mengakhiri dering tersebut. Pria itu terpaksa mengerahkan sisa kesadarannya untuk bangun. Susah payah ia memaksa kedua matanya untuk terjaga, dikarenakan ia juga baru bisa tidur setelah menemani dan memang terjaga untuk Keinya.
Sambil sesekali menatap, memastikan Keinya baik-baik saja dan sebisa mungkin menjaga agar istrinya itu tidak terusik, Yuan memastikan ponselnya dan ia mendapati nomor telepon rumahnya sebagai pemanggil di sana.
Detik itu juga, Yuan menjadi tersentak seiring kesadaran pria itu yang berangsur terkumpul penuh, kendati perih berikut panas menjadi membebani kedua matanya.
“Ini ada apa? Kenapa orang rumah sampai telepon sepagi ini?” pikir Yuan. Yuan yakin, sesuatu yang penting telah terjadi terlepas dari ia yang memang mewanti-wanti pekerja di rumahnya untuk hanya mengabarkan masalah apalagi kabar buruk, kepadanya dan sebisa mungkin menyembunyikannya dari Keinya. Sebab Yuan takut, dan memang tidak mau Keinya memikirkan masalah yang bisa mengganggu sekaligus membebani istrinya itu.
Yuan menjawab telepon tersebut, menempelkan ponselnya pada sebelah telinga.
“Maaf, Pak, ... saya mengganggu. Tapi, ... ini sangat penting,” ucap seorang wanita dari seberang sana.
Sambi memijat keningnya, Yuan yang terpejam pun berkata, “iya, enggak apa-apa. Ada, masalah apa, Bi?”
“Ada mayat wanita hamil, Pak. Di dekat rumah. Ini saja, saya dikontek satpam. Ada satpam kompleks dan juga polisi yang sudah menunggu di depan.”
Balasan dari seberang sukses membuat Yuan ketar-ketir. Gelisah dan terjaga, menjerat Yuan detik itu juga. Saat ia sangat menjaga Keinya dari berita termasuk hal buruk, ia justru dihadapkan dengan kabar penemuan mayat wanita hamil di dekat rumahnya.
Dengan perasaan tak menentu, Yuan meninggalkan Keinya. Pria itu melakukannya dengan sangat hati-hati. Sebab, Yuan tak mungkin membicarakan kabar buruk bahkan mengejutkan semacam penemuan mayat, di dekat Keinya, meski istrinya itu sedang tidur.
Dan sebelum benar-benar pergi, sebelum menutup pintu kamarnya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi mencolok, Yuan kembali memastikan Keinya masih dalam keadaan baik-baik saja. Wanita itu masih meringkuk ke sebelah kiri dan awalnya memang menghadap padanya.
***
__ADS_1
Penemuan mayat seorang wanita hamil yang sudah dijaga tiga satpam kompleks berikut tiga orang polisi, selain seorang satpam pribadi yang bekerja di rumah Yuan, sungguh membuat Yuan tak percaya, tatkala pria itu melihat mayat yang dimaksud. Ya, Yuan masih sangat ingat meski ia hanya sebatas melihat wanita tersebut dalam pertemuan singkat, ketika ia dan Keinya berbulan madu. Lantas, kenapa wanita itu juga sampai ditemukan meninggal di dekat rumahnya? Yuan benar-benar tidak mengerti. Kenapa keadaan sekarang, ... pertemuannya dengan wanita tersebut, seolah bukan sekadar kebetulan?
“Ini bagaimana ceritanya, Pak?” ujar Yuan yang kemudian membungkuk sebagai bentuk salamnya.
Polisi menjelaskan kronologinya. Perihal kejadian yang berawal dari laporan satpam kompleks. Satpam kompleks yang memang akan melakukan kontrol rutin, menemukan mayat tersebut dan kemudian langsung menghubungi polisi, sedangkan satpam rumah Yuan yang ikut memastikan setelah mendapati laporan dari satpam kompleks, mengizinkan CCTV rumah Yuan sebagai bukti. Jadilah, semua kebenaran terbongkar, sedangkan tujuan dipanggilnya Yuan tak semata karena penemuan mayat terjadi di sebelah rumahnya, melainkan karena pihak kepolisian sengaja ingin meminta izin pada Yuan untuk meminjam rekaman CCTV yang nantinya akan dijadikan barang bukti.
Yang Yuan herankan, di rekaman CCTV, mula-mula, ternyata Mia sudah memperhatikan rumahnya semenjak acara kejutan untuk Keinya. Dan ketika Mia akan mendekati rumahnya, ada mobil yang awalnya melaju cepat, tetapi tiba-tiba memelankan laju, sebelum mendadak memacu mobil dengan kecepatan penuh dan terlihat jelas mengincar Mia. Kesimpulannya, ... pengemudi mobil tersebut dicurigai memang sengaja menabrak Mia sebelum akhirnya melarikan diri.
***
Di kamar, Keinya menjadi terjaga tatkala kedua tangannya dan awalnya meraba keberadaan Yuan, justru tak kunjung mendapatkannya. Dan ketika ia memastikan, ternyata Yuan memang tidak ada di tempat tidur sedangkan waktu yang ia dapati melalui beker yang ada di nakas belakangnya menunjukkan tepat pukul lima pagi. Dan dengan kata lain, ia belum lama tidur. Baru sekitar satu jam.
Ketika Keinya berniat memastikan Yuan ke kamar mandi, bahkan ia belum sempat turun dari kasur, sosok yang menjadi tujuannya justru datang. Yuan muncul dari luar kamar dan langsung menatapnya dengan terkejut.
“Sudah bangun ...?”
Yuan terdiam sejenak dan langsung memaksa otaknya untuk segera bekerja memberikan balasan masuk akal kepada Keinya tanpa membuat istrinya itu curiga. Namun kali ini, Yuan tidak boleh jujur karena Keinya pasti akan langsung berpikir macam-macam apalagi kalau wanita itu sampai tahu perihal mayat yang meninggal merupakan wanita yang sempat berusaha menggodanya saat mereka berbulan madu.
Sambil tersenyum, Yuan mempercepat langkahnya dalam menghampiri Keinya. “Aku lapar. Habis makan sebentar.”
Keinya menoleh ke belakangnya. Di meja sana hanya menyediakan beberapa botol air mineral berikut teremos berisi air hangat tanpa disertai makanan. Jadi, sambil tersenyum manja menuangkan rasa bersalahnya, ia mengulurkan kedua tangannya menyambut kedatangan Yuan.
Keinya menghela napas pelan sambil mendekap tubuh Yuan. “Mulai malam besok, aku akan menyiapkan camilan atau buah biar kalau kamu kelaparan, kamu bisa langsung makan.”
Yuan kian tersenyum. Senyum yang benar-benar tulus. “Enggak apa-apa. Masih satu rumah juga,” balas Yuan sambil membelai kepala Keinya. Ia juga berangsur duduk di tepi kasur sambil tetap menjaga tubuh Keinya yang telanjur memeluknya.
“Satu rumah, tapi perlu hampir sepuluh menit buat ke sana. Belum menyiapkan makanannya,” balas Keinya yang kali ini mengeluh dan sukses membuat Yuan tertawa.
“Ayo tidur lagi. Aku masih ngantuk ... banget,” rengek Keinya kemudian.
__ADS_1
“Baiklah, ... ayo kita tidur,” balas Yuan yang berangsur membaringkan tubuhnya.
“Tapi, Yu ... apa yang kira-kira akan terjadi pada kita, dua puluh tahun ke depan?” tanya Keinya tiba-tiba.
Yuan yang awalnya sudah memejamkan kedua matanya, kembali membuka matanya. “Dua puluh tahun lagi ...?” ulang Yuan dengan suara pelan.
“Heum ....” Keinya berangsut menarik tubuhnya dan merebahkan kepalanya di sebelah bahu Yuan. Ia meringkuk di sana tak ubahkan tubuh siput yang akan sangat nyaman ketika menempati cangkang sebagai rumahnya. Keinya siap menyimak jawaban dari Yuan kendati kedua matanya kadang akan terpejam atas kantung yang tidak bisa ia tahan.
Yuan menarik napas pelan. Sebelah tanganya mengelus kepala Keinya, sedangkan sebelahnya lagi mengelus sebelah lengan wanita itu. Dengan pandangan lurus ke atas dan membuatnya seolah menembus masa depan perihal apa yang Keinya tanyakan, ia pun berkata, “dua puluh tahun lagi ... mungkin kepalaku sudah mulai dipenuhi uban ... aku akan semakin sering tersenyum menghadapi semua tingkah anak-anak kita, sedangkan kamu akan semakin sibuk mengomel mengeluhkan kelakuan mereka. Aku juga akan menjadi pelindung yang paling baik untuk mereka, ... dan kamu pasti akan sering memarahi bahkan memberi banyak hukuman kepadaku.”
Balasan Yuan sukses membuat kedua mata Keinya membelalak. “Kenapa semua keburukan justru ada pada diriku, di masa depan?” keluhnya. “Enggak adil banget?”
Yuan terdiam dan tampak merenung. “Lalu?” balasnya sambil menahan senyum.
“Senyummu itu terlalu meledek, Yu!” keluh Keinya. Namun, tiba-tiba saja ia menjadi terdiam, sebab apa yang Yuan katakan memang benar. Dua puluh tahun lagi. Dua puluh tahun lagi Keinya akan menjadi ibu-ibu yang sibuk marah-marah. Ibu-ibu pemarah dan mungkin akan sering cemburu karena Yuan terlalu asyik dengan anak-anak mereka.
“Banyak yang bilang, ... perhatian suami akan berkurang setelah ada anak. Aku enggak mau, ya ... perhatianmu mendadak berkurang apalagi hilang, apalagi kamu minta banyak anak,” keluh Keinya kemudian.
Yuan mesem dan memang karena menahan tawa. Baginya, keluhan Keinya kali ini terdengar sangat lucu. Belum lagi, istrinya itu juga sampai merengut manja sambil menopangkan dagu di dadanya. “Kita buktikan saja nanti, apa yang akan terjadi. Karena puluh tahun lagi bahkan sampai kita benar-benar sudah lansia, perhatian berikut cintaku kepadamu tidak akan berubah, ... melainkan bertambah.” Yuan mengatakan itu penuh keyakinan. Dengan keadaannya yang begitu tenang, sarat ketulusan.
Keinya yang telanjur terharu menjadi berlinang air mata tanpa bisa berkomentar. Jadilah, kembali merebahkan kepalanya di sebelah bahu pria itu kemudian memejamkan mata, menjadi satu-satunya pilihan yang bisa ia lakukan. Karena mengenai mencintai, seharusnya ia memang tidak pernah meragukan suaminya yang selalu mencintainya dengan sempurna.
Bersambung ....
Selamat malam minggu, ya!
Salam sayang,
Rositi.
__ADS_1