Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 3 : Makasih, Pa!


__ADS_3

“Makasih ya, Pa ... makasih karena sudah jadi Papa terbaik buat aku. Makasih karena Papa selalu kasih yang terbaik buat keluarga kita. Juga, makasih buat semuanya. Papa yang terbaik!”


Bab 3 : Makasih, Pa!


Malam ini, Yuan pulang kemalaman. Tepat pukul sebelas malam, sedangkan di ruang keluarga tak ada siapa-siapa. Dengan langkah cepat, pria itu segera menuju kamarnya yang masih ada di lantai bawah. Ia terus melangkah sambil melepas kancing pergelangan tangannya, disusul melepas lilitan dasi dari kerah.


Ketika Yuan baru saja akan meraih gagang pintu kamarnya, dari dalam sudah ada yang menariknya lebih dulu. Keinya yang tampak kelelahan bahkan rambutnya saja awut-awutan dan sebagian lepas dari cepolan tinggi, berdiri di balik pintu.


“Sayang, belum tidur? Riri sudah tidur, kan?” sapa Yuan yang kemudian langsung memeluk Keiya.


“Pertama, karena kamu belum pulang. Kedua, selain Riri yang baru tidur, aku juga harus memastikan anak-anak khususnya Dean,” ucap Keinya yang juga telah balas memeluk Yuan.


“Mandi dan istirahatlah. Aku akan mengecek anak-anak. Kamu tahu, kan, Dean paling susah istirahat. Dia terlalu sibuk merancang masa depan,” ucap Keinya kemudian sambil mengakhiri pelukan mereka.


Yuan menanggapinya dengan senyum santai. Senyum yang menjadi wujud dari rasa bangganya lantaran anak-anaknya tumbuh dengan kelebihan sekaligus keistimewaan masing-masing.


“Bagaimana dengan Ngi-ngi? Zean?” ujar Yuan sambil melepas kancing kemeja bagian kerah ke bawah. Ia menatap sang istri dengan banyak ketulusan.


Bagi Keinya, meski sudah belasan tahun hidup bersama Yuan, tetapi kasih sayang berikut ketulusan pria itu tak pernah berubah apalagi usai. Bahkan, meski di luar sana banyak yang beranggapan perhatian seorang suami akan mulai berkurang semenjak mereka memiliki anak, kenyataan tersebut tidak terjadi pada Yuan. 


Yuan ya, Yuan. Pria yang akan tetap menjadikan Keinya sebagai nomor satu. Bahkan, Keinya sampai hafal kebiasaan Yuan yang akan langsung mencarinya ketika pria itu pulang dari luar, sebelum akhirnya Yuan menemui anak-anak mereka. Keinya, anak-anak. Namun perihal siapa yang akan Yuan temui lebih dulu setelah Keinya, biasanya jika semuanya baik-baik saja, dalam artian tidak ada anak yang sakit apalagi memiliki masalah, tujuan utama Yuan adalah Pelangi. Setelah Pelangi baru ke Dean, dan terakhir pada Zean yang justru lebih sering menjadi kesal bahkan tak jarang akan marah-marah, jika mendapat perhatian.


*** 


Mungkin setengah jam setelah kepulangannya, akhirnya Yuan keluar dari kamar dan berangsur menaiki anak tangga menuju lantai atas, selaku keberadaan kamar anak-anak. Bahkan sebenarnya, Mentari juga sudah memiliki kamar sendiri di lantai atas.


Yuan langsung menuju kamar Pelangi. Di kamar paling ujung yang bersebelahan dengan ruang home theater, Yuan langsung meraih gagang pintu dan membukanya dengan hati-hati. Ia tak lantas masuk atau membuka penuh pintunya, sebebab ia lebih memilih untuk melongok dan memastikan suasana kamar Pelangi. 


Di tengah suasana kamar yang temaram, di dekat jendela seberang tempat tidur, gadis itu duduk di kursi belajar dengan kedua kaki tertekuk di kursi. Posisi Pelangi persis membelakangi kehadiran Yuan. Dan ketika jarak Yuan semakin dekat, ternyata Pelangi sedang mencoret-coret halaman buku yang kosong, sedangkan di hadapannya, layar laptop dibiarkan menyala.


Yuan berangsur menunduk kemudian merangkul kedua bahu Pelangi dari belakang. “Masih ada yang belum selesai?” ucapnya lirih di antara senyum yang tiba-tiba saja merekah menghiasi wajahnya.


Yuan berkata tepat di sebelah sisi wajah Pelangi.


“Aku nungguin Papa ... kata mama, Papa bakalan pulang telat, eh, nyatanya memang iya,” balas Pelangi yang langsung mendekap tengkuk Yuan.


“Iya. Ada beberapa pertemuan sekaligus pekerjaan yang harus Papa bereskan hari ini juga.” 


Yuan menepuk-nepuk pelan punggung Pelengi, meski pada akhirnya, ia juga membopong tubuh gadis itu layaknya biasa. Yuan menarik kursi bekas Pelangi duduk, untuk ia tempati, dan kemudian memangku Pelangi.


Bagi Yuan, sampai kapan pun, Pelangi adalah bayi kesayangannya. Bayi perempuan yang harus selalu ia perhatikan, terlebih semenjak di dalam kandungan, Pelangi sudah disia-siakan oleh Athan. Bahkan Yuan mengakui, dari semua anaknya, Pelangilah yang paling ia perhatikan. Sebab, dari ketiga anaknya yang terlahir dari Keinya, ketiganya mendapatkan semua perhatian sama rata semenjak mereka di dalam kandungan. Sedangkan Pelangi, selain sudah dicampakkan semenjak Pelangi dalam kandungan, Pelangi maupun Keinya juga nyaris meregang nyawa, ketika Keinya akan melahirkan Pelangi.


“Jadi ...?” ucap Yuan kemudian dan sengaja menuntun Pelangi untuk mulai bercerita.


Layaknya anggapannya, Yuan yang memangku Pelangi juga sambil sesekali membelai kepala gadis itu dan terkadang sampai mengayunnya.

__ADS_1


Apa yang Yuan ujarkan dan menuntunnya untuk bercerita, membuat hati Pelangi menjadi diliputi banyak kesedihan. “Aku sudah mendengar mengenai rencana Papa yang sudah menyiapkan kampus terbaik untukku melanjutkan pendidikan di luar negeri.


Yuan mengernyit sambil mengangguk-angguk. “Terus?”


“Aku ...,”


“Ngi-ngi, enggak suka?” ujar Yuan menebak.


“Bukannya enggak suka, Pa ... tapi, aku enggak mau jauh dari Papa mama, juga adik-adik,” balas Pelangi yang sampai menengadah dan menatap Yuan penuh keseriusan.


Yuan balas menatap Pelangi dengan serius. “Papa dan mama, juga adik-adikmu juga akan sering mengunjungimu ke sana,” ucapnya berusaha meyakinkan.


Pelangi membalasnya dengan wajah sedih sambil menggeleng. “Tetep mau di sisni saja. Lagi pula, sesering-seringnya kalian berkunjung, aku akan lebih sering bertemu kalian, jika aku tetap di sini ... toh, aku juga akan tetap fokus belajar meski enggak kuliah di luar negeri.”


Yuan yang masih memasang wajah serius, menjadi mengangguk-angguk santai seiring tatapannya yang menjadi lurus ke depan. Kemudian ia menghela napas panjang dan sampai mendesah. “Keputusan ini bukan karena Minggu besok yang di luar negeri pulang, kan?”


Pelangi sadar, Yuan sedang meledeknya. “Ih ... kok Papa malah meledek, sih! Serius, lho, Pa ... aku sama Mofaro atau Rafaro enggak ada hubungan apa-apa!”


“Ada juga enggak apa-apa,” balas Yuan dengan santainya tanpa menatap Pelangi yang menjadi semakin uring-uringan.


“Papaah ...!”


“Iya ... ada pun enggak apa-apa ....”


“Tapi emang nyatanya enggak ada ....”


“Aish! Mereka saja yang kurang kerjaan!”


Memikirkan tentang hubungan lebih, tiba-tiba saja Pelangi teringat pada sosok Kim Jinnan, pria yang mengaku sebagai kekasih virtualnya. “Duh ... jangan memikirkan dia dulu. Dia urusannya nanti saja, setelah tanya ke ayah Athan!” batin Pelangi memarahi dirinya sendiri.


“Kalau bukan karena mereka, seharusnya enggak ada yang perlu dikhawatirkan, kan? Atau sekalian Den juga lanjut di sana saja sama Ngi-ngie?” ujar Yuan dan berhasil membuyarkan lamunan Pelangi perihal Kim Jinnan.


“Papa ...,” ujar Pelangi yang kemudian kembali mendekap tengkuk Yuan.


“Iya, enggak apa-apa. Papa sama mama enggak akan melarang kamu punya hubungan serius dengan lawan jenis. Karena selain Papa dan mama percaya kamu tahu batas-batas dalam hubungan, kamu juga sudah waktunya mengenal lebih jauh lawan jenismu. Menikmati masa yang seharusnya,” lanjut Yuan.


Pelangi yang menyandarkan sebelah dagunya di pundak Yuan pun berkata, “untuk saat ini, aku benar-benar belum ada pemikiran untuk hal semacam itu. Sejauh ini ya keluarga dan pendidikan. Baru sebatas itu, ... serius Pa ....”


Yuan mengangguk-angguk mengerti. “Ya sudah ...,” ucapnya kemudian yang berangsur bangkit dan turut mengikut sertakan Pelangi. 


Yuan membawa Pelangi ke tempat tidur. “Waktunya tidur. Ngobrolnya kita lanjutkan besok di meja makan,” ujarnya sambil menurunkan Pelangi dan merebahkan tubuh gadis itu di atas kasur.


Tak lupa, Yuan juga menyelimuti tubuh Pelangi hingga dada. “Tidur, ya,” ucapnya yang kemudian melayangkan kecupan di kening Pelangi.


Pelangi yang menjadi tersenyum lepas berangsur mengangguk. “Makasih ya, Pa ... makasih karena sudah jadi Papa terbaik buat aku. Makasih karena Papa selalu kasih yang terbaik buat keluarga kita. Juga, makasih buat semuanya. Papa yang terbaik!”

__ADS_1


Kendati Pelangi masih tersenyum, tetapi kali ini gadis itu juga sampai berlinang air mata. Air mata bahagia atas rasa harus yang menyelimuti dan sukses membuat dadanya sesak.


Tak beda dengan Pelangi, Yuan yang menjadi terenyuh juga berlinang air mata. Yuan mengangguk-angguk kemudian melayangkan kecupan di kening Pelangi, jauh lebih lama dari sebelumnya.


Kata selamat malam mengakhiri kebersamaan mereka. Dan tanpa mereka ketahui, dari balik pintu yang sedikit dibuka, Keinya yang sedari awal menyimak kebersamaan Yuan dan Pelangi diam-diam, juga menjadi berderai air mata bahkan sampai terisak-isak. Wanita itu segera berlalu dengan langkah tergesa sambil sesekali memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak.


“Makasih, Yu ... makasih banyak karena kamu selalu jadi yang terbaik sekaligus kasih yang terbaik buat kami. Aku benar-benar merasa sangat beruntung,” batin Keinya sembari menyeka air matanya menggunakan kedua tangan.


***


Ketika baru keluar dari kamar Pelangi, Yuan sampai melambaikan tangan kepada anak gadisnya. “Selamat malam, Ngi-ngi!” ucapnya dan entah untuk yang ke berapa.


Dari dalam, Pelangi yang masih berlinang air mata juga balas melambaikan tangan. “I love you, Pa ....”


Yuan mengangguk dengan mata yang kembali basah. “Love you too, Ngi-ngie ... tidur, ya.”


Pelangi mengangguk-angguk, dan Yuan segera menutup pintunya dengan hati-hati.


Tujuan Yuan selanjutnya adalah pintu kamar yang letaknya tepat di sebelah kamar Pelangi. Tak beda dengan ketika ia membuka pintu kamar Pelangi, kali ini ia juga membuka pintu tersebut dengan hati-hati. 


Suasana temaram kembali Yuan dapati di kamar tersebut dan tidak lain merupakan kamar Dean. Tak ada suara selain dengung suara AC. Bahkan Dean juga sudah terbaring berselimut di atas tempat tidur. Terbilang pemandangan yang aneh. Bahkan Yuan juga sampai mengerutkan dahi. Dan demi mengobati rasa herannya, ia segera memasuki kamar Dean.


Dean benar-benar sudah tidur, termasuk laptop Dean yang juga sudah ditutup. “Ah iya ... tadi Keinya baru ke sini,” batin Yuan yang kemudian menatap lama wajah Dean. Wajah yang selalu membuat Keinya cemas lantaran Dean begitu sibuk memikirkan masa depan.


Dean selalu berinovasi untuk menemukan ide sekaligus rumus-rumus baru. Baik untuk pelajaran maupun bisnis. Bahkan, Dean juga tipikal yang sangat cepat dalam belajar. Kalau saja tidak Keinya tahan, Dean pasti sudah menyelesaikan skripsi di salah satu universitas ternama di London, yang sudah lama Dean incar.


“Baiklah, Ean ... selamat malam, ya,” bisik Yuan yang kemudian mencium kening Dean.


Terakhir, setelah meninggalkan kamar Dean, tujuan Yuan adalah pintu kamar di sebelahnya. Itu kamar Zean. Hanya saja, ketika memasuki kamar sebelumnya ia baik-baik saja, untuk kamar Zean ia cukup terjaga. Takut ada jebakan bahkan aliran listrik yang Zean pasang lantaran anak itu benar-benar tidak mau diganggu. Jadi, tujuan disediakan tongkat rotan di sebelah pintu, juga karena untuk membuka pintu demi terhindar dari jebakan yang sudah Zean pasang. Beruntung, semua kamar anak-anak tidak pernah ada yang dikunci lantaran Keinya dan Yuan memang sengaja menciptakan peraturan tersebut, agar mereka lebih leluasa dalam mengontrolnya.


Tidak ada jebakan. Aman. Itu juga yang membuat Yuan menyisikan tongkat rotannya ke sebelah pintu layaknya sebelumnya, sedangkan di hadapannya, pintu telah terbuka lebar.


“Oh, iya ... mungkin karena tadi Keinya sudah ke sini,” gumam Yuan. Karena biasanya, jika ia tidak pulang telat, ialah yang akan keliling lebih dulu untuk mengecek anak-anak mereka.


Berbeda dengan kamar Pelangi dan Dean, tempat tidur Zean tidak di ranjang megah atau setidaknya kasur. Sebab Zean yang ingin hidup susah lebih nyaman tidur di lantai beralas karpet tebal dan pastinya hangat, lengkap dengan tenda kemah yang sampai disertai lampu kerlip-kerlip di pagar sekitarnya, tak ubahnya rumah sungguhan.


Yuan melongok dari sela pintu tenda bagian samping, tanpa benar-benar membukanya. Zean anaknya yang lebih mirip Keinya jika dilihat dari raut wajah, sudah terlelap, membuat bulu mata bocah itu yang begitu lentik, tampak begitu cantik. “Baiklah, Zean ... selamat malam. Papa sayang kamu,” bisik Yuan sesaat sebelum berlalu. Ia meninggalkan hamparan kamar Zean yang terbilang rapi tanpa ada mainan satu pun, lantaran berbeda dari anak kebanyakan, Zean juga tidak menyukai mainan termasuk aneka robot yang biasanya menjadi mainan kesukaan anak laki-laki. 


Di kamar Zean, hanya dihuni dua pohon palsu yang letaknya persis di belakang kedua sudut tenda tempat bocah itu tidur. Terlepas dari itu, dinding kamar Zean juga berwallpaper gambar pepohonan layaknya hutan. Sebab berbeda dengan yang lain, Zean memang sangat menyukai suasana alam bebas. Bahkan hingga detik ini, satu-satunya hal yang sangat Zean inginkan selain hidup miskin hanyalah memelihara banyak hewan dan ditaruh di kamarnya. Hanya saja, demi kesehatan sekaligus keamanan bersama, Yuan tidak mengabulkan keinginan tersebut. Namun dua hari yang lalu, Zean baru saja meminta untuk merias langit-langit kamar dengan aneka lukisan hewan. Dan mungkin, dalam waktu dekat, kamar pecinta alam bebas itu akan segera direnovasi.


Bersambung ....


Ikuti dan terus dukung ceritanya, ya. Like, komen, dan vote kalian sangat menentukan nasib cerita ini. Serius, like dan komen dikit, cerita ini bakalan tenggelam karena sistim di MT emang sudah ketat banget. Jadi, Author mohon banget biar cerita ini juga enggak tenggelam.


Bab selanjutnya akan segera meluncur💝🤗

__ADS_1


Salam sayang,


Rositi.


__ADS_2