Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 3 Bab 32 : Kabar Dari Kim Jinnan


__ADS_3

Mereka memang dipisahkan oleh jarak. Namun, kenapa Pelangi merasa mereka sangat dekat?


Bab 32 : Kabar Dari Kim Jinnan


Yuan terjaga hingga Pelangi menghabiskan pastanya. Bahkan, Yuan juga yang membawa piring bekas pastanya, setelah pria itu sampai memastikan Pelangi minum air putih dengan baik.


“Ini sudah terlalu malam. Enggak usah mandi enggak apa-apa,” ucap Yuan sebelum menutup pintunya.


Pelangi tersenyum geli atas ulah Yuan yang memintanya untuk tidak mandi. “Kalau aku enggak mandi, aroma Jinnan akan tetap melekat di pakaian bahkan tubuhku,” batin Pelangi.


Yuan telah menutup pintu kamar Pelangi. Dan bersamaan dengan itu, Pelangi merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Ya, Pelangi telah menentukan pilihan. Perihal Pelangi yang akan melepas semuanya. Pelangi tidak akan mengikat siapa pun. Baik Kim Jinnan, Mofaro, bahkan Rafaro yang selalu membuat Pelangi merasa nyaman sekalipun.


Namun, ada yang membuat hati Pelangi mendadak berdesir ketika gadis itu balik badan dan menoleh ke area lemari. Karena di sana, jas Kim Jinnan masih tergantung dengan baik.


Seumur hidupnya, Pelangi belum pernah memakai pakaian milik pria lain, kecuali milik Yuan dan Dean. Namun kini, jas milik Kim Jinnan justru masih tergantung menghuni kamar Pelangi.


“Ya ampun, aku lupa mengembalikannya. Besok aku harus mengembalikannya,” pikir Pelangi.


Pelangi segera menghampiri jas tersebut. Dan bersamaan dengan itu, fokus pandang Pelangi juga hanya tertuju pada jas tersebut. Akan tetapi, Pelangi tidak mengambil jas tersebut lantaran gadis itu justru membuka lemari di sebelahnya. Pelangi mengamati deretan lipatan piama yang tersusun dengan sangat rapi sesuai warna. Dan untuk malam ini, Pelangi ingin memakai piama warna kuning.


Ketika Pelangi baru saja akan meraih gagang pintu kamar mandi yang ada di sebelah ruang keberadaan lemari, dering tanda telepon masuk mengalihkan fokus gadis itu.


“Ini sudah malam, lho. Siapa yang malam-malam telepon? Jangan-jangan penting bahkan darurat?” pikir Pelangi yang bergegas menuju keberadaan tempat tidur selaku keberadaan ponsel, sambil mendekap piama pilihannya.


Pelangi segera meraih ponsel yang terkapar dalam keadaan terbalik. Dan ketika gadis bermata bulat itu memastikan layar ponselnya, nama Kim Jinnan menari-nari di sana sebagai penelepon.


“Kim Jinnan?” desis Pelangi sambil mengernyit dan menatap tak percaya layar ponselnya. “Jangan-jangan kakek Jungsu? Atau, ... justru Kim Jinnan yang mengalami hal fatal?” pikir Pelangi lagi.


Dengan perasaan campur aduk berikut jantungnya yang menjadi berdentum-dentum, Pelangi menjawab telepon dari Kim Jinnan. Gadis berkulit putih bersih itu segera menempelkan ponselnya ke telinga sebelah kanan.


“Ngie ... kamu belum tidur?”


Dari seberang, suara Kim Jinnan langsung menyapa dengan lemah.


“Ini baru mau tidur. Memangnya kenapa?” balas Pelangi sengaja berjaga.


“Pengin mastiin saja, kamu sudah istirahat bahkan tidur dengan baik apa belum?”


“Semuanya baik-baik saja? Bagaimana keadaan kakekmu?” tanya Pelangi dan memang tidak mau basa-basi.


“Pertanyaanmu terdengar sangat kaku. Memangnya kali ini, apa salahku?”


Dari seberang, suara Kim Jinnan terdengar semakin lemah. Dan hal tersebut sukses menampar Pelangi. “Aku sudah sangat keterlaluan sama Jinnan. Padahal, dia sedang sulit. Kakeknya sedang sakit,” batin Pelangi.


“Kakekku masih kritis. Masih di ICU dan sekarang belum sadar,” ucap Kim Jinnan lagi setelah sambungan telepon mereka mendadak hening lantaran baik Pelangi maupun Kim Jinnan sendiri, memilih untuk diam.


“Jinnan ...?” Hati Pelangi mendadak terasa sakit. Pelangi merasa bersedih atas apa yang menimpa Kim Jinnan dan Kakeknya.


“Aku baik-baik saja. Hal semacam ini sudah sangat sering terjadi. Tapi yang sekarang paling parah.”


Meski suara Kim Jinnan terdengar begitu tenang, tetapi Pelangi paham, itu terjadi lantaran Kim Jinnan sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


“Kamu di situ dengan siapa?” tanya Pelangi akhirnya setelah lagi-lagi membuat suasana sambungan telepon mereka senyap.


“Orang kepercayaan kakek, Pak Jo. Dan kedua pengawalku,” balas Kim Jinnan.


“Lalu?” balas Pelangi.


Pelangi mereka jika ia dan Kim Jinnan sedang berbicara saling bersebelahan, kendati jelas-jelas mereka sedang berada di tempat berbeda.


Mereka memang dipisahkan oleh jarak. Namun, kenapa Pelangi merasa mereka sangat dekat?


“Memangnya siapa lagi?” balas Kim Jinnan terdengar pasrah.


Dan balasan Kim Jinnan semakin menambah duka bagi Pelangi. Pelangi merasa peduli kepada pria itu.


“Kamu sudah makan, kan?” lanjut Kim Jinnan.


Pelangi bergumam sambil mengangguk. “Kamu sudah makan juga?” balasnya.


“Iya. Tadi sekalian di acara rapat.”


“Kakekmu sakit, kamu masih tetap rapat?” tanya Pelangi sewot.


“Enggak bisa ditunda. Ada beberapa klien dari luar negeri yang setelahnya langsung menjalani penerbangan untuk pulang.”


“Kasihan banget sih nasib Kim Jinnan!” batin Pelangi.


“Ya sudah, kamu bilang mau tidur?”


“Ya memang tujuanmu meneleponku untuk apa?!” balas Pelangi yang justru mengomel.


Pelangi memejamkan kedua matanya seiring sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Sesak yang terlahir lantaran Pelangi mengkhawatirkan Kim Jinnan. Dan kali ini Pelangi terduduk di tepi kasur.


“Kim Jinnan?”


“Apa?”


“Kenapa aku menjadi mengkhawatirkanmu?”


“Aku tidak memintamu untuk mengkhawatirkanku?”


“Kam-mu ... semua ini gara-gara kamu meneleponku!” omel Pelangi lantaran Kim Jinnam sama sekali tidak terdengar merasa bersalah apalagi menyesal.


“Aku kan hanya ingin mengabarimu sekaligus mengetahui kabarmu?” balas Kim Jinnan.


“Ya sudah ... mungkin, ... sebentar lagi aku bisa ke sana.” Pelangi menelan ludah lantaran tiba-tiba, tenggorokannya terasa sangat kering.


“Jangan ke sini jika pada akhirnya kamu hanya menyalahkanku. Istirahat dan tidur yang cukup saja.”


“Baiklah, aku tidak akan ke situ!” omel Pelangi lagi.


“Tapi, Ngie ... ke sini saja. Serius. Aku lapar. Karena tadi, aku tidak sempat makan. Aku harus tetap rapat sambil memantau keadaan kakek.”

__ADS_1


Dari seberang, Kim Jinnan tak hanya terdengar memohon, melainkan putus asa.


“Baiklah. Aku juga akan membawa makanan untukmu,” balas Pelangi cepat.


“Mm ... terima kasih. Aku menunggumu.”


Pelangi segera mengakhiri sambungan telepon mereka. Dengan buru-buru, gadis berambut lurus sepunggung itu segera menuju lemari. Pelangi mengambil celana pensil panjang warna hitam berikut baju hangat berwarna merah muda, sebelum akhirnya masuk ke kanar mandi.


***


Yuan, belum benar-benar tidur ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar. Pun dengan Keinya yang duduk di sebelahnya sambil memotong kuku kakinya.


Keinya berikut Yuan yang awalnya sedang membaca koran, refleks saling pandang. Menerka-nerka siapa dalang pengetuk pintu di balik sana?


“Zean mimpi buruk lagi?” ujar Keinya.


“Bukankah hari ini, dia sudah bertemu dengan Jinnan? Harusnya tidak mimpi buruk lagi, kan?” balas Yuan yang kemudian melipat koran yang sedang dibaca kemudian menepikannya pada nakas.


Keinya menghele napas pelan sambil melanjutkan memotong kukunya. Kendati demikian, ia juga menatap ke depan dan mencoba menerka siapa yang sebenarnya datang.


Yuan mendapati Pelangi tersenyum canggung. Selain rambut hitam anak gadisnya yang terurai terlihat setengah basah, kedua tangan Pelangi juga dihiasi kantong makanan berikut beberapa buah di kantong yang satunya lengkap dengan pisau dan piring.


“Mau piknik?” tebak Yuan.


Pelangi tersenyum tak berdosa sambil menggeleng. “Aku, ... mau nemenin Jinnan jaga kakeknya. Boleh, kan, Pa?” ucapnya ragu.


Pertanyaan Pelangi sukses membuat Yuan terkejut. Terlebih, belum genap satu jam, anak gadisnya itu menegaskan masih bingung dengan perasannya. Namun kini, kenapa Pelangi sampai berkorban untuk seorang Kim Jinnan?


“Boleh, ... kan, Pa?” tanya Pelangi lagi lantaran Yuan belum memberikan balasan.


“Papa antar?” balas Yuan yang sampai menawarkan diri.


“Aku bisa nyetir sendiri. Aku kan sudah punya SIM?” Pelangi kembali memasang senyum termanis yang membuat wajahnya menjadi terlihat tak berdosa.


“Jinnan?” ujar Yuan yang kali ini sampai tersenyum menggoda.


Apa yang Yuan lakukan sukses membuat pipi Pelangi bersemu. Pelangi menjadi malu-malu bahkan tersipu. Yuan bisa memastikannya meski mereka sedang berada dalam suasana yang remang-remang.


“Aku hanya kasihan sama dia. Dia jaga kakeknya sendiri. Bahkan dia juga sampai belum makan,” ujar Pelangi memberikan alasan.


Yuan tak banyak berkomentar. Yang ada, ia jadi ikut tersipu.


“Papa kok gitu, sih? Kok Papa terkesan meledek ....?” keluh Pelangi.


Yuan berangsur membuka pintunya. “Sini masuk. Pamit ke mama dulu. Papa antar,” ucapnya sambil meninggalkan Pelangi.


“Oh, ... baiklah,” balas Pelangi menyetujui. Toh, mengunjungi Jinnan bersama Yuan sepertinya akan jauh lebih aman. Aman di perjalanan, juga aman ketika sedang bersama Kim Jinnan.


Bersambung ....


Wahhh .... malam banget, ya? Enggak papalah, ya, yang penting Up 😄😄😄.

__ADS_1


Terus ikuti dan dukung ceritanya, yaa. Kalau berkrnan, bisa share juga biar yang baca semakin banyak ♥️💓


Selamat istirahat ♥️🙏


__ADS_2