Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 86 : Jika Waktu Bisa Kembali Diulang


__ADS_3

“Semuanya, ... masih baik-baik saja, kan? Apakah ini hukuman dari Tuhan untukku? Namun, ... kenapa harus sesakit ini?”


Bab 86 : Jika Waktu Bisa Kembali Diulang


Dari depan rumah yang ada di depan kediaman Yuan, Mia terbengong-bengong menatap takjub rumah tersebut. Rumah Yuan begitu megah selain memiliki penerangan lampu paling terang dari rumah di sekitarnya. Disertai pepohonan hijau yang menjulang tinggi di area dalam sebelum dinding kokoh yang terhubung dengan gerbang rumah, rumah tersebut juga tampak sangat asri. Belum lagi, deretan pohon palem kurma yang mengelilingi sepetak taman di pinggir jalan dan seolah menjadi pagar bernuansa hijau di sana. Sedangkan di jalan sekitar pohon palem kurma, beberapa mobil terparkir dan Mia ketahui satu di antaranya merupakan milik Rara dan suaminya.


Mia dibuat gigit jari karenanya. Ia tak hentinya menyalahkan Tuhan, kenapa bukan dirinya yang dijodohkan dengan Yuan? Kenapa harus wanita lain, sedangkan kini dirinya tidak memiliki status yang jelas padahal ia juga sedang hamil? Sebab, akibat keserakahannya yang sangat menginginkan memiliki kehidupan mewah dengan mengencani semua pria mapan, ia justru hamil di luar pernikahan tanpa kejelasan. Tidak ada pria yang mau benar-benar berkomitmen apalagi bertanggung jawab atas keadaannya. Lantas, harus bagaimana dan pada siapa ia melimpahkannya kalau bukan kepada pria yang ia damba? Dan nama Yuan Fahreza benar-benar masih menjadi targetnya.


“Rara lagi ... sudah hidup enak, enggak mau bagi-bagi. Sudah punya suami ganteng juga, pelit sama sombongnya jadi tingkat dewa!” rajuk Mia yang kemudian memiliki ide untuk menyelinap masuk ke dalam rumah bahkan kehidupan Yuan. Ia benar-benar mantap dengan keputusannya.


“Bisa. Aku pasti bisa! Lihat saja! Bahkan aku juga akan menghancurkan Rara dan rumah tangganya!” ucap Mia penuh keyakinan. Ia segera bersiap, melangkah sambil menahan pangkal perut menggunakan kedua tangan, untuk menjalankan misinya. Tentunya, masuk ke kediaman Yuan menjadi tujuannya. “Yuan, kau harus menjadi milikku!”


Mia yakin, jika waktu bisa kembali dan Tuhan mempertemukannya dengan Yuan lebih awal, pasti wanita yang berjodoh dengan Yuan adalah dirinya. Memangnya, ada, wanita yang lebih baik dari dirinya bahkan itu untuk Yuan?


***


Bingung menyekap Intan yang dihadapkan oleh kenyataan pahit perihal balas dendamnya. Bagaimana tidak, ia harus menghadapi bukan orang sembarangan bahkan dalam jumlah banyak sekaligus. Sekarang saja, mereka yang ingin ia musnahkan justru tengah berkumpul di dalam kediaman Yuan, sesuai informasi yang ia dapatkan. Karenanya, Intan sampai berpikir untuk menyiapkan granat agar sewaktu-waktu ada kebersamaan layaknya sekarang, ia tinggal melemparkannya tanpa harus susah payah memikirkan cara untuk menyakiti mereka. Ya, mereka harus merasakan sakit layaknya apa yang menyiksa Steffy, berikut keluarganya!


Kini, dengan mengemudi sendiri, Intan ingin memastikan perihal kabar kebersamaan yang dimaksud. Setidaknya, ia berharap bisa melukai salah satu dari mereka meski mungkin tidak bisa berakibat fatal. Meski tentu, ulahnya akan sulit dan tak semudah yang dibayangkan.


Ada sedikit kelegaan yang seketika itu Intan dapatkan tatkala ia sudah dekat dengan kediaman Yuan. Karena selain beberapa mobil yang terparkir di depan rumah tersebut, ada sesosok wanita yang ia yakini sebagai Rara. Intan yakin itu lantaran keduanya memiliki banyak kemiripan meski Intan hanya melihatnya dari belakang. Bentuk tubuh berikut kebiasaan wanita itu yang kerap mengelus perut, di mana perut wanita tersebut juga tampak buncit, membuat Intan yakin itu memang Rara.


Intan yang sempat memelankan laju mobilnya, segera bersiap-siap dengan senyum licik yang membuatnya terlihat semakin bengis. Di depan sana, seseorang yang Intan yakini sebagai Rara tengah menyeberang menuju kediaman Yuan sambil menunduk, sedangkan kedua tangan menahan pangkal perut. Benar-benar kesempatan emas untuknya!


“Tuhan benar-benar adil!” ujar Intan yang begitu girang seiring kebahagiaan yang meletup-letup.


Setelah memastikan situasi yang sepi tanpa ada kendala berarti, Intan yang buru-buru memakai kacamata hitam tebal berikut masker yang menutup sebagian wajahnya guna menyamarkan penampilannya, segera menjalankan misinya. Ia menarik gasnya penuh dan melaju dengan sangat kencang, sampai-sampai, ulahnya itu menciptakan decit yang cukup memekakkan pendengaran. Bahkan, wanita yang Intan yakini Rara sampai refleks menekap kedua telinga sambil mempercepat langkah menepi ke gerbang rumah Yuan. Meski yang ada, Intan yang kadung semangat balas dendam, sukses mematahkan langkah wanita tersebut. Sebab, dalam sekejap, Intan sukses menabrak tubuh itu yang sampai mental bahkan melayang di udara dan Intan dapati terkapar di sepetak kebun, di ujung tikungan dekat kediaman Yuan.


Tubuh Mia terkapar di kebun yang menyertai sepetak jalan seberang rumah Yuan hingga rumah di belakangnya, di antara tanaman ubi jalar dengan daun lebat, selain singkong dan jagung berikut beberapa pohon cemara yang belum terlalu tinggi.


“Sukses!” batin Intan sambil tersenyum puas. Ia buru-buru memacu mobilnya dengan kecepatan penuh meninggalkan lokasi, selagi situasi masih sangat sepi, mengingat kompleks perumahan Yuan memang sangat sepi bahkan tidak sembarang orang termasuk pedagang jajanan keliling, boleh masuk.


“Fy ... akhirnya Mama sukses menyingkirkan musuh terbesarmu! Dan setelah ini, giliran Kainya dan Gio!” Intan tertawa puas sambil terus mengemudi. Kontras dari Mia yang ingin minta tolong pun tak bisa. “Dan jika waktu bisa diputar kembali, Mama pasti sudah melakukan ini lebih awal, membantumu balas dendam!”

__ADS_1


***


“Siapa tadi? Siapa yang berani-beraninya, bahkan sengaja menabrakku? Biadab!” batin Mia. “Aku pastikan, sampai kapan pun, hidupnya tidak akan pernah bahagia!”


“Ini, ... kenapa tiba-tiba begini? Sakit, Tuhan ... kenapa Engkau tidak pernah adil!” batin Mia. Rasanya, ... sekujur tubuhnya terasa sakit semua. Ia yang dalam keadaan tengkurap sedangkan wajahnya tersungkur, seolah merasakan semua luka seluruh penghuni kehidupan. Terlepas dari keadaannya yang mulai kehilangan kesadaran, Mia mencium aroma anyir darah yang begitu kuat. Dan dengan pandangannya yang mulai samar, ia mendapati aliran darah melintasi pandangannya. Ada darah yang mengalir dari punggung kepalanya. Entah di bagian lainnya, tetapi sungguh, ... rasanya sakit sekali. Belum lagi dengan perutnya, sedangkan di sana ada kehidupan lain yang seharusnya ia jaga.


“Semuanya, ... masih baik-baik saja, kan? Apakah ini hukuman dari Tuhan untukku? Namun, ... kenapa harus sesakit ini?” Kendati berpikir demikian, tetapi mata Mia berangsur terpejam dengan sendirinya. Tak ada rintih sakit apalagi tangisan. Benar-benar sepi menyatu dengan suasana di sana yang memang jauh dari jangkauan keramaian.


***


Di dalam ruang satpam yang menyanding layar monitor untuk memantau setiap CCTV yang terpasang, satpam di sana baru keluar dari toilet sedangkan kejadian naas yang menimpa Mia sudah berlalu sedangkan pelaku juga entah sudah di mana. Pria yang kiranya berusia tiga puluh empat tahun tersebut, juga tidak merasa ada yang janggal, terlebih ketika ia memastikan layar monitor, tidak ada penampakan mencurigakan di sana. Sebab, posisi Mia memang persis di area yang tidak terjangkau CCTV. Jadilah, satpam tersebut tetap adem-ayem, memantau setiap layar monitor yang ada di meja panjang keberadaannya, sambil menikmati kopi hitam yang sudah tersaji di hadapannya.


Bahkan hingga Rara dan Kimo berikut Daniel dan Kainya keluar dari kediaman rumah Yuan, sedangkan sisanya memutuskan untuk menginap, tidak ada yang mencurigai perihal keberadaan Mia.


Rara dan Kimo, berikut Daniel dan Kainya, tetap dengan tujuan mereka. Mereka masuk ke mobil dan mengakhiri kebersamaan hangat mereka dengan lambaian tangan berikut klakson. Daniel mengemudi untuk Kainya, sedangkan Kimo untuk Rara.


***


Kepulangan Intan disambut Wiranto dengan tatapan hangat penuh kepedulian. Wiranto bahkan sampai menyisihkan gelas berisi teh hijaunya dan segera menghampiri istrinya.


Tak lama setelah itu, meski Intan menjadi diam dan terlihat malas menanggapi, Wiranto berangsur menggandeng sebelah tangan istrinya. “Ayo, ... papa siapkan air hangat untuk Mama berendam.” Karena jika waktu bisa kembali diputar, ia sangat ingin menuangkan banyak kehangatan sekaligus cinta pada keluarganya. Dan andai saja dari dulu ia melakukannya, tentu nasib keluarganya apalagi Steffy tidak akan setragis sekarang.


Tanpa mau mengikuti tuntunan Wiranto dan justru mengipratkan gandengan mereka, Intan berkata, “apa pun yang Papa lakukan enggak akan mengubah keadaan, Pa! Karena Mama hanya akan baik-baik saja setelah semua rasa sakit hati Steffy terbalas. Mama ingin melihat mereka yang bahagia di atas penderitaan Steffy, lebih menderita dari apa yang Steffy rasakan!”


Wiranto tak kuasa menjawab. Ia tidak sepenuhnya menyalahkan sang istri, tetapi ia juga tidak mungkin menyalahkan mereka yang membuat Steffy menderita. Sebab, Steffy merasakan semua penderitaan yang Intan maksud karena ulah anak itu sendiri. Juga, karena dirinya maupun Intan sendiri yang kurang memberikan kasih sayang sekaligus perhatian kepada Steffy. Jadi, dari pada terjadi perdebatan, Wiranto sengaja membiarkan Intan melakukan semuanya asal masih dalam pantauannya. Juga, asal ia tak lagi kecolongan. Karena mulai sekarang juga, ia akan menugaskan orang untuk mengawasi Intan agar istrinya itu tidak sampai keluar dari rumah. Selanjutnya, Wiranto juga akan mengundang psikiater untuk membantu Intan menerima kenyataan mengenai semua yang menimpa Steffy berikut kehancuran yang menimpa keluarga mereka, setelah mereka kehilangan Steffy.


Wiranto melepas kepergian Intan dengan pandangan prihatin. Wanita itu melangkah loyo menuju lantai atas. Wiranto yakin, Intan akan kembali menghabiskan waktu di kamar Steffy. Menghabiskan waktu dengan tangis berikut penyesalan. Berandai-andai, waktu bisa kembali diulang, wanita itu ingin sekali memberikan banyak kasih sayang sekaligus perhatian untuk putri semata wayang mereka.


Tiba-tiba saja, Wiranto terlonjak, terjaga atas kenyataan Intan yang menjadi bersin-bersin. Wanita itu terus melangkah hingga melewati anak tangga terakhir sambil menekap wakah menggunakan kedua tangan karena terus bersin-bersin.


“Mama demam juga?” sergah Wiranto yang langsung menyusul dengan tergesa.


“Enggak tahu, Pa ... tapi rasanya, tubuh Mama meriyang begini,” keluh Intan sambil terus melangkah tanpa menatap bahkan sekadar melirik Wiranto.

__ADS_1


Wiranto yang sampai berlari segera menahan sebelah lengan Intan. Ia meraba kening berikut leher istrinya itu untuk mengecek suhu tubuh. Dan suhu tubuh Intan terbilang tinggi. “Ayo, Ma! Mama harus istrirahat. Takut terkena covid ....”


“Covid ... covid apa? Sakit ini enggak sebanding sama yang Steffy rasakan, Pa! Sudah, ah! Awas pergi saja sana jangan ganggu Mama!” protes Intan yang lagi-lagi menolak, menyingkirkan kedua tangan Wiranto dari tubuhnya.


Wiranto merasa serba salah dalam menghadapi Intan. Karena jika ia sedikit saja memaksa terlebih keras, istrinya itu juga akan melakukan hal yang sama. Bahkan tidak menutup kemungkinan, Intan akan meninggalkan rumah. Lantas, apa yang harus ia lakukan? Meminta bantuan khusus kepada pihak yang berwenang?


Tak mau kecolongan, Wiranto segera kembali ke lantai bawah untuk menghubungi Steven. Ya, Steven. Pria yang ia ketahui sebagai teman dekat Kainya dan ahli di bidang kejiwaan.


Setelah meraih ponselnya di meja sebelah tumpukan surat kabar yang bersanding dengan seperangkat tehnya, Wiranto segera menghubungi kontak Steven di ponselnya. Beruntung, ia sudah sempat berkonsultasi beberapa kali kepada pria muda itu.


Steven memberi solusi, agar Wiranto mengatakan hal yang bisa membuat Intan merasa bahagia bahkan tertarik. Pun meski Wiranto harus menyertakan kebohongan di dalamnya lantaran yang membuat Intan tertarik sekaligus bahagia, hanyalah semua tentang Steffy. Jadi, demi melancarkan misinya, Wiranto membongongi Intan.


“Pihak kepolisian memberikan keringanan untuk Steffy, Ma. Ayo kita jemput Steffy! Ini Papa baru dapat telepon!” seru Wiranto pura-pura antusias sambil menggedor pintu kamar Steffy selaku keberadaan Intan.


Benar saja, tak lama setelah itu, Intan langsung keluar dari kamar.


“Tadi, Papa bilang apa?!” ujar Intan menatap Wiranto penuh kepastian.


Wiranto terdiam prihatin menatap Intan yang tampak pucat bahkan berkeringat. Sungguh, sepertinya Intan sudah sampai demam. Dan jangan-jangan, dugaannya jika sang istri mengalami ... memang benar?


“Pa! Papa jangan bohong, ya!” bentak Intan merasa dikelabuhi.


Wiranto yang tersentak dan bahkan terlonjak, segera berkata, “enggak, Ma! Ayo, cepat, kita susul Steffy!”


Wiranto buru-buru menggandeng Intan yang kali ini tidak memberontak. Dan Wiranto sengaja melangkah cepat untuk membuat Intan segera mendapatkan penanganan. Tentunya, Wiranto sangat berharap dugaannya perihal Intan yang juga mengidap virus mematikan itu, tidak benar.


Bersambung ....


Hallo, hari ini, Author akan up 2 episode. Tetap dukung ceritanya, ya. Mau ending kok sepi begini? Hahaha


Jangan lupa juga, buat baca karya Author yang lain. Duh, ... “Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh)” keselip sama cerita “Menjadi Istri Tuanku”. Mohon dukungannya, ya, biar Author juga tambah semangat nulisnya. Author enggak berharap banyak vote, kok ... asal komentar dan like stabil, pasti karya Author enggak tenggelam huhuhuhu


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2