Selepas Perceraian

Selepas Perceraian
Season 2 Bab 89 : Indah Pada Waktunya


__ADS_3

“Duduk di sebelah calon mertua, ... kenapa harus setegang ini?”


Bab 89 : Indah Pada Waktunya


Melihat Keinya, meski hanya sebatas dari dalam mobil masing-masing, membuat Itzy berkecil hati. Keinya dan Kainya, ... si kembar yang bagi Itzy begitu beruntung bisa memiliki pria yang tulus mencintai mereka. Keinya dengan Yuan yang kali ini mengemudi di sebelahnya, juga Kainya dengan Ben. Pun meski pada kenyataannya, Kainya sudah bersama Steven.


Tak mau dicap sombong sekaligus tidak tahu diri terlebih sebelumnya sudah sempat menjadi duri dalam hubungan Yuan dan Keinya, Itzy yang sebenarnya masih berlinang air mata, masih berlindung di balik maskernya, sengaja menekan klakson sambil menurunkan kaca jendela sebelah kemudi seiring laju mobil yang sampai ia pelankan.


Keinya yang duduk di sebelah Yuan, dibuat tak percaya lantaran mobil berikut pengemudi dan tak lain Itzy, sampai menyapa mereka dengan ramah.


“Yu, ... itu si Itzy?” ucap Keinya sambil menunjuk Itzy melalui gerak wajah kepada Yuan. Mereka memang berpapasan. Itzy yang mereka yakini baru pulang dan wanita itu bersiap mengambil parkir memasuki rumah dengan gerbang yang berangsur dibuka, juga mereka yang memang akan berkunjung ke rumah Rara.


Tanpa menatap Itzy, Yuan menekan klakson dengan maksud membalas sapaan wanita itu. “Biarkan saja. Asal tidak mengganggu, bukan masalah. Tapi, kamu saja yang balas.” Ia juga sengaja tidak menatap Keinya lantaran fokus untuk melalui tikungan di depan.


Sambil mengemudi melalui tikungan, Yuan berdeham. “Dia sudah sama Ben, kan?”


“Wah, masa, sih?” balas Keinya tak percaya dan langsung menatap Yuan tanpa bisa menyembunyikan ketidakpercayaannya.


Yuan mengangguk santai dan kemudian menoleh, menatap sekilas istrinya. “Iya. Mama mereka bersahabat. Mereka sejenis dijodohkan.”


“Tapi, Yu ... kabarnya, orang tua Ben sudah bercerai?” balas Keinya masih antusias.


Yuan berangsur menepikan laju mobilnya karena mereka memang sudah sampai rumah Rara yang sebenarnya tak lebih dari lima menit jika berjalan kaki. Namun, demi keamanan bersama, mereka memang sengaja menggunakan mobil.


“Iya.” Yuan mematikan mesin mobilnya. Sambil menatap dalam istrinya ia berkata, “dan selepas perceraian orang tuanya, bisnis keluarga mereka hancur.”


“Papa Ben ternyata sudah punya istri muda, sedangkan Ben dan mamanya hanya dikasih rumah dan satu mobil milik Ben?” tambah Keinya yang merasa sangat beruntung lantaran selepas perceraiannya dengan Athan, ia bertemu aekaligus berjodoh dengan Yuan.


“Dan sekarang, ... perusahaan pak Oskar kritis karena ditinggal Ben. Banyak kolega yang memilih tetap melanjutkan kerja sama hanya dengan Ben karena mereka merasa lebih nyaman dan memang sudah telanjur cocok. Jadi, banyak kerja sama yang dibatalkan dan sekarang beralih pada perusahaan orang tua Itzy, karena Ben memang ada di sana.”


Dengan polosnya, Keinya berkata, “semacam azab, ya, Yu? Dan ... bukankah sebelum ini, alasan Ben kecelakaan bahkan sampai amnesia, karena om Roy mengetahui perselingkuhan tante Piera dengan om Oskar, sedangkan Ben yang juga tahu mengenai masalah ini, ingin balas dendam pada tante Piera maupun om Oskar yang memang papanya?”


Yuan mengangguk-angguk dengan tatapan hangatnya yang terus tertuju pada kedua manik mata istrinya. “Gibah begini paling seru, ya? Sampai lupa waktu kalau kita sudah sampai?” Ia sengaja menyindir sekaligus menggoda Keinya yang langsung menahan tawa.


“Aku kan gibahnya kalau bukan sama kamu ya sama Rara. Enggak ada yang lain. Memang sudah diajak gabung arisan termasuk sosialita, ... tapi buat apa? Malas. Mending di rumah. Garap bacaan anak buat stok anak-anak nanti, sambil terus mantau web novel.”


“Ryunana, masih rese?” ucap Yuan sambil menekan tombol buka untuk kunci otomatis di mobil. Ia menatap Keinya dengan serius.


“Justru, ... dia ngajak kerja sama. Dan dia bakal ajak penulis famous buat gabung ke next event di webku.”


“Jadi, sudah deal?”


“Belum sih. Ini mau sekalian aku bahas sama Rara.” Keinya melepas kepergian Yuan yang berangsur memutari mobil bagian depan kemudian membukakan pintu untuknya. “Dibangunin, enggak, sih, Yu?” bisiknya kemudian lantaran Pelangi yang ia pangku, masih tidur sangat pulas.


“Enggak usah. Aku gendong saja. Sebangunnya Ngingi saja.” Yuan langsung menggendong Pelangi, kemudian menuntun Keinya dengan hati-hati. Ia menggenggam erat sebelah tangan Keinya dan Keinya juga balas menggenggamnya tak kalah erat sambil berpegangan pada mobil ketika keluar dari mobil.

__ADS_1


Hari ini merupakan acara syukuran empat bulan kehamilan Rara. Meski hanya untuk keluarga dan kerabat terdekat, tetapi tak lama setelah kedatangan Yuan dan Keinya, beberapa mobil juga berangsur menepi di depan kediaman Rara. Ada Kimi yang sepertinya baru pulang kerja, tetapi tak lama setelah itu, juga disertai Sahila mama kandung Kimi yang tentunya mama dari Steven. Sahila keluar dari mobil yang berbeda, dan persis diparkir di belakang mobil Kimi. Dan tak lama setelah itu, untuk pertama kalinya, Kainya dan Steven menghadiri acara bersama. Kali ini Kainya satu mobil dengan Steven menggunakan mobil wanita itu.


Yuan dan Keinya yang masih menunggu mereka di depan pintu masuk, saling bertukar sapa dan masuk bersama-sama. Meski tentu, kecanggungan di antara Yuan dan Kainya masih ada.


***


Di dalam, semuanya sudah dipersiapkan. Meja-meja dipenuhi sajian buah dan aneka kue termasuk kue tradisional. Beberapa kotak makanan juga tampak sudah disiapkan dalam kantong besar dan berangsur dikeluarkan dari rumah untuk dikirim ke panti asuhan. Total, mungkin ada ratusan kotak yang dikeluarkan dan dipimpin langsung oleh Kimo yang sampai menenteng beberapa kantong kotak makanan.


Sebuah mobil kolbak berangsur menepi di depan rumah Kimo. Dan semua kotak segera dinaikan, disusun rapi di mobil kolbak tersebut.


“Akhirnya ...,” seloroh Rara sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat semakin besar. Ia melepas kepergian mobil kolbak dengan wajah yang semakin berbinar, sedangkan gerbang rumah mereka berangsur kembali ditutup oleh satpam yang berjaga. Ya, demi keamanan sekaligus kenyamanan, sekarang, di rumah mereka memang sudah mengerjakan satpam berikut ART yang akan membantu mereka membereskan rumah, terlepas dari Kiara yang selalu terjaga dan tak jarang menginap di rumah mereka.


Kimo menatap penuh cinta Rara yang mengenakan gaun lengan panjang warna putih. “Biar berkah buat si kembar. Baru begini saja rasanya sangat lega,” ucapnya sambil menahan perut Rara menggunakan sebelah tangan, sementara sebelah tangannya lagi menahan punggung Rara.


“Dan daripada bikin acara resepsi pernikahan lagi, mending buat berbagi seperti ini. Kalau memang ingin foto pernikahan bareng mama papa, kita cukup foto-foto saja. Nanti pas tujuh bulanan atau kalau si kembar sudah lahir juga enggak apa-apa. Malahan lebih seru, kan?!” usul Rara antusias dan memang sengaja memaksa.


Kimo mengernyit sambil mendongak dan terlihat sedang mempertimbangkan usul Rara.


“Sudahlah, enggak usah mikir lama-lama. Iya, saja. Biar aku yang atur. Biar bisa menghemat pengluaran juga. Lagian, aku juga malu kalau kita sampai bikin acara resepsi ulang. Mau ditaruh di mana wajah kita kalau sudah seperti ini, masih ada resepsi?” keluh Rara lagi sambil mendekap sebelah lengan Kimo.


“Baiklah ... baiklah, kamu yang atur saja. Biar aku fokus cari dana sambil terus jaga kalian.” Kimo mengangguk-angguk setuju dan sesekali melirik Rara penuh cinta.


Rara kian tersenyum ceria. “Nah ... begitu! Aku setuju!” ucapnya sambil mendekap lengan Kimo semakin erar.


Kimo mendaratkan ciuman dalam, di kening Rara, dan bersamaan dengan itu, Rara segera memejamkan kedua matanya dengan kebahagiaan yang meletup-letup memenuhi dadanya. Rara sendiri tidak bisa berhenti tersenyum atas semua itu. Atas kebahagiaan yang membuatnya menjadi wanita paling bahagia bahkan memiliki keluarga sempurna.


Rara hanya tersenyum tanpa bisa berkomentar kendati hatinya menjadi berdesir-desir. Kimo ... meski pria itu masih kerap jail, tetapi mengenai tanggung jawab, suaminya itu sudah tidak diragukan lagi. Kimo pria yang sangat bertanggung jawab di mana pria itu juga semakin perhatian pada Rara apalagi setelah mengetahui Rara hamil kembar.


Kimo dan Rara yang sama-sama mengenakan warna putih, segera meninggalkan halaman rumah dan melangkah masuk ke rumah dengan hati-hati.


“Kimo ... tante Intan terkena korona?” tanya Rara kemudian.


“Biarkan saja. Biar dia belajar dari kesalahannya.” Kimo menanggapinya dengan dingin.


“Tapi kasihan ....”


“Sudah ... jangan mikir yang bikin kamu sedih. Daripada mikirin tante Intan, mending kita lihat bagaimana pertemuan Yuan dan Kainya sedangkan Keinya dan Steven juga ada di sini.”


“Ah, iya ... kamu benar juga. Gibah, yuk ... gibah!” Rara menyambut usul Kimo dengan antusias, di mana tak lama setelah itu, mereka refleks terkikik menertawakan kegilaan mereka yang paling senang kalau membicarakan orang lain dan tak jarang, mereka sampai lupa waktu.


“Steven dan Kainya sudah sampai datang sama-sama di acara keluarga, dengan kata lain, mereka sudah dapat restu?” bisik Rara kemudian.


Kimo dan Rara sengaja memelankan langkah mereka. “Kok restu, sih? Kimi bilang, mereka sudah sampai lamaran,” balas Kimo tak kalah serius.


“Wah ... serius?” sambut Rara semakin heboh.

__ADS_1


Kimo mengangguk mantap sambil balas menatap Rara. “Tinggal resepsi resminya saja!”


“Syukurlah!” Rara mengembuskan napas lega sambil mengelus sebelah tangannya menggunakan tangan yang tidak mendekap lengan Kimo. “Dan ... kalau Kainya jadi sama Steven, ... Kimi dan Gio, jadi enggak?” lanjutnya.


“Ah ... jangan pikirkan mereka. Mereka orang-orang yang enggak jelas,” balas Kimo yang menjadi malas.


Rara hanya menahan senyum menyikapi tanggapan Kimo. Karena sampai sekarang, baik Kimi maupun Gio memang tidak ada kejelasan.


Di dalam rumah, semuanya sudah berkumpul, duduk dengan pasangan masing-masing dan memang saling bersebelahan. Meski untuk Kainya, ia justru bersebelahan dengan Sahila. Sedangkan Steven yang duduk di sebelah Yuan, tak hentinya menggoda Pelangi yang sudah bangun. Sementara Kimi yang duduk di sebelah Sahila juga, menyadari betapa tegangnya Kainya saat ini.


“Duduk di sebelah calon mertua, ... kenapa harus setegang ini?” batin Kainya yang sampai berkeringat. Sedangkan Steven yang duduk di hadapannya, bersebelahan dengan Yuan dan keinya justru asyik menggoda Pelangi.


Sahila tersenyum riang melihat usaha Steven mendekati Pelangi. Sambil memandangi kenyataan tersebut, ia berbisik kepada Kainya, “itu kode, Kai ... jadi nikahnya enggak usah nunggu dua tahun lagi, ya? Kasihan Steven. Sudah pengin diurus total juga sama kamu. Mami sama papi juga sudah ingin punya cucu!”


Kainya refleks menatap Sahila tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya. Pun dengan buih keringat yang justru semakin lancang menegaskan ketegangan yang tengah ia rasakan.


Menyadari Kainya sangat tegang, Sahila pun segera mengeluarkan tisu dari tas yang ada di pangkuannya. “Lho ... kok kamu setegang ini duduk di sebelah Mami? Mami enggak gigit, kok,” bisiknya sambil mengelap buih keringat calon menantunya tersebut menggunakan helai tisu yang baru ia tarik.


Kainya menjadi tersipu dan membiarkan Sahila mengelap keringatnya. Di mana, ketika ia menatap ke depan, kembali menatap Steven, ternyata, Steven yang sudah menatap kebersamaannya dan Sahila, juga sampai menatapnya penuh cinta.


“Makasih banyak, lho Ven ... kamu bikin aku segerogi ini saking bahagianya. Aku benar-benar enggak pernah menyangka, akan punya keluarga bahagia juga layaknya Keinya. Padahal dulu, ... saat Yuan lebih memilih Keinya, aku pikir ... enggak akan ada kebahagiaan apalagi kebahagiaan yang senpurna, untuk kumiliki. Namun ternyata aku keliru. Karena semuanya sudah Tuhan siapkan. Semuanya akan indah pada waktunya!” batin Kainya yang memilih menunduk lantaran ia semakin tersipu dan meyakini wajahnya menjadi merah merona.


Mendapati kebahagiaan Kainya, Keinya juga sangat bahagia. Bahkan, saking bahagianya, Keinya sanpai berkaca-kaca. Ia sengaja menunduk demi menyeka air matanya. “Akhirnya, ya, Kai ... terima kasih bayak, Tuhan! Terima kasih banyak karena Engkau telah membukakan kebahagiaan juga untuk Kainya! Dan semoga, Kainya akan selalu bahagia seperti apa yang kurasakan setelah Engkau menganugerahiku Pelangi sekaligus Yuan!” batin Keinya dengan dada yang tiba-tiba saja menjadi terasa sesak.


Kimo dan Rara duduk menyertai kebersamaan. Keduanya duduk di antara Franki dan Kiara yang juga kompak mengenakan setelan warna putih berlengan panjang.


“Kimo, kamu yakin akan menjadi besanku?” seloroh Yuan tiba-tiba dan sukses menggelitik kebersamaan.


Semua yang di sana kecuaki Kimo, menjadi tertawa geli. Sedangkan yang terjadi pada Kimo, pria itu segera menggeleng tegas.


“Baguslah. Aku takut, kamu menganiaya anakku, kalau kamu memaksa berbesanan denganku!” sanggah Yuan dengan santainya dan kembali sukses membuat yang di sana tertawa kecuali Kimo.


“Kamu pikir aku ini hobi berkriminal?” tepis Kimo sambil menggeleng tak habis pikir. “Kita lihat saja nanti. Paling kamu dan anakmu, yang kepincut dan mengejar-ngejar anakku!” tambahnya yakin sambil mengelus-elus perut Rara dengan santainya.


Tawa di sana terdengar semakin lepas atas candaan Kimo dan Yuan perihal masa depan anak mereka. Ketika Pelangi akhirnya mau ikut dengan Steven, Yuan juga tak mau kalah mengelus perut Keinya layaknya apa yang Kimo lakukan kepada Rara, sebelum akhirnya mereka menjalani doa bersama untuk empat bulan kehamilan Rara berikut mengirim doa untuk Piera dan ayah Rara.


Bersambung ....


Duh ... enggak terasa ... 8 episode menuju ending


Terus ikuti dan dukung ceritanya, ya. Baca juga cerita lain seperti ; Pernikahan Impian (Rahasia Jodoh), juga “Menjadi Istri Tuanku”.


Selamat menjalankan aktivitas dan tetap jaga kesehatan! Dan yang belum gabung ke grup chat Author, bisa gabung di sana, karena Author juga bakalan kasih pengumunan terbaru perihal cerita. Akhir bulan ini, pengumuman siapa yang menangin 2 novel juga akan Author umumkan


Salam sayang,

__ADS_1


Rositi.


__ADS_2