
“Kamu ini bagaimana, kenapa sampai berpikir seperti itu? Elia dan Mo itu sama-sama keras. Mereka ibarat kutub magnet yang sama, yang kalau disatukan hanya akan tolak-menolak, dan enggak mungkin juga mereka bisa akur. Bayangin, De ... andai saja mereka menikah, sekali berantem, seisi rumah langsung keluar semua, sebelum akhirnya rumah runtuh karena Mo dan Elia enggak segan baku hantam!”
Season 3 Bab 72 : Misi Kishi dan Dean
“Mengenai itu, aku dan keluargaku sudah tahu,” jawab Kishi sembari mendekap lebih erat, beberapa buku Fisikanya yang ada di dekapannya.
“Aku enggak nyangka banget,” ujar Dean sembari terus melangkah sambil sesekali bertukar tatapan dengan Kishi.
Kishi mengangguk-angguk seiring ia yang sampai menghela napas. “Apalagi aku? Lagipula, selama ini Lena selalu cerita kalau Atala itu baik banget, perhatian, pokoknya sempurna!”
Sesuai pengakuan yang baru saja Kishi katakan kepada Dean, begitulah gambaran seorang Atala dari Elena.
“Tapi yang namanya cinta memang susah. Apalagi kamu juga tahu, kan, jika nyatanya, yang Atala suka itu Elia? Ini rumit!” sambung Kishi.
“Dan kita enggak bisa asal menyalahkan Elena atau bahkan Atala. Aku yakin, mereka memiliki alasan. Elena terlalu mengharapkan Atala. Atala yang telanjur merasa tertipu karena nyatanya Elena juga sudah sampai berbohong. Tapi di lain sisi, si Atala juga pasti punya alasan kenapa dia enggak bisa lepas Lena begitu saja?” lanjut Dean.
“Tapi Atala tetap salah, karena dia sudah kasar ke Elia. Dan karena itu juga, Mo sampai bikin Atala babak belur. Kita sama-sama tahu Mo seperti apa? Mo dan bahkan kita, hidup dengan didikan, kita harus menyayangi orang tua dan melindungi yang lebih lemah, khususnya wanita?” balas Kishi. “Kalaupun hanya mengandalkan cemburu, logikanya ... Atala itu jauh lebih dewasa dari kita. Kenapa juga dia enggak bisa kasih contoh yang lebih baik? Belum lagi posisinya sebagai seorang pilot? Kalau keluarga Mo apa Elia enggak terima dan tuntut Atala, bisa hancur karier Atala!”
Dean mengangguk-angguk setuju dan memang membenarkan anggapan kekasihnya.
“Satu-satunya cara menyelesaikan keadaan ini adalah duduk bersama. Atala, Elena, Elia, juga Mofaro,” ujar Dean lagi.
“Ya, aku rasa juga begitu. Tapi kata Elia, nanti malam orang tuanya bakalan datang ke rumah Mo buat minta maaf,” balas Kishi.
“Terus Elena?” lanjut Dean.
Kishi menggeleng sembari mengangkat kedua bahunya. “Dia enggak balas WA-ku. Coba kamu saja yang dekatin dia. Kamukan ahlinya. Apa Rafa?”
__ADS_1
Dean menelan cepat ludahnya. “Jangan Rafa. Elia suka Rafa. Jadi, jangan bawa-bawa Rafa ke masalah ini. Buat jaga perasaan Elia.”
“Oh, iya, yah?” Kishi juga baru ingat kenyataan tersebut. Perihal Elia yang sangat menyukai Rafa. “Tapi Rafa ada rasa enggak, sama Elia? Kalau enggak sih, mending Elia suruh jangan terlalu berharap, takutnya Elia hanya kecewa. Kita sama-sama tahu, bagaimana Rafa, dan bagaimana Elia!”
“Aku justru dukung Elia sama Mo. Aku jadi kapal hubungan mereka!” ucap Dean tiba-tiba.
Kishi langsung mengerutkan dahi dan menunjukkan ekspresi tidak suka perihal pendapat sekaligus Dean. “Kamu ini bagaimana, kenapa sampai berpikir seperti itu? Elia dan Mo itu sama-sama keras. Mereka ibarat kutub magnet yang sama, yang kalau disatukan hanya akan tolak-menolak, dan enggak mungkin juga mereka bisa akur. Bayangin, De ... andai saja mereka menikah, sekali berantem, seisi rumah langsung keluar semua, sebelum akhirnya rumah runtuh karena Mo dan Elia enggak segan baku hantam!” Kishi benar-benar yakin dengan pendapatnya.
Dean langsung terbahak hanya mendengar pendapat Kishi yang menyampaikannya dengan sangat emosional. Namun, apa yang Kishi katakan memang ada benarnya. Tak terbayang apa yang akan terjadi jika Mo dan Elia sampai menikah. Bisa-bisa, perang dunia terus berlangsung menyertai hubungan keduanya.
“Justru aku dukung Elia sama Rafa saja!” ucap Kishi tiba-tiba.
Dean menatap Kishi sambil mengerutkan dahi.
“Ya sudah! Nanti aku comblangin mereka! Kamu bantu juga, ya? Kita sama-sama tahu mereka, apalagi mereka orang kita sendiri!” lanjut Kishi lagi semakin bersemangat.
“Pokoknya, kita harus bisa bikin hubungan Elena dan Elia baik-baik saja. Atala juga sama Mo. Semuanya harus diperjelas, sejelas-jelasnya! Anggap saja itu misi kita!” lanjut Kishi lagi, sedangkan Dean menjelma menjadi penyimak yang baik.
“Iya ... iya ... aku selalu dukung kamu!” balas Dean yang langsung berusaha meredam kerisauan sang kekasih.
“Nah, gitu dong ... mulai nanti sepulang sekolah, ya? Bahkan habis ini, aku mau langsung WA mereka!” sambut Elia makin antusias.
“Mereka? Siapa saja?” balas Dean yang masih belum sepenuhnya mengerti. “Aakah termasuk Atala? Kamu ada nomor Atala juga?” lanjutnya.
“Enggak ada sih. Paling ya ... Elia, Elena, Mo ... sama Rafa? Eh ... kalau kembar sama kembar, saling menikah, bisa enggak, sih?” lanjut Kishi. “Biar lebih aman ... nikah sama orang sendiri kan jauh lebih minim dari mara bahaya!”
“Jangan melangkah terlalu jauh. Kita cukup jadi penonton dan mendukung sekadarnya saja karena biar bagaimanapun, itu hidup mereka,” tegur Dean.
__ADS_1
“Maksudku kan baik, De,” ujar Kishi. “Siapa tahu, jodoh, kan?” lanjutnya.
Karena sudah memasuki perustakan, Kishi dan Dean sengaja melirihkan suara mereka.
“Hah ...? Jinnan kenal Atala?” ulang Kishi memastikan, lantaran tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
Dean yang berangsur menaruh bukunya pada rak kosong dan keberadaannya tepat di sebelah Kishi, menatap Kishi sembari mengangguk. “Iya. Kamu enggak salah dengar.”
“Kok makin seru, ya?” ujar Kishi yang semakin tertarik dengan kasus Atala dan Elena.
“Papa bilang, ini juga pernah terjadi dengan mamaku, papa, dan juga mama Kai.” Dan Dean menceritakan masa lalu orang tuanya.
Mengenai masa lalu Yuan, Kainya, berikut Keinya. Karena rasa iri dan kurang komunikasi, seorang Kainya remaja mengaku sebagai Keinya kepada Yuan yang saat itu memang sedang mengejar cinta Keinya. Terlepas dari itu, Kainya juga memiliki alasan kuat, kenapa wanita itu melakukannya. Tak semata karena Kainya langsung jatuh cinta pada pesona seorang Yuan Fahreza, melainkan karena sebelumnya, Kainya selalu merasa menjadi bayang-bayang Keinya. Di mana awalnya, Kainya jatuh cinta pada Gio selaku mantan Rara, yang mengira Kainya sebagai Keinya. Padahal, awal hubungan Gio dan Kainya sendiri karena keduanya kurang komunikasi samai-sampai, Gio yang juga awalnya sudah menyukai Kainya, justru mengira Kainya sebagai Keinya. lantaran Gio sendiri tidak tahu Kainya dan Keinya merupakan dua gadis remaja yang berbeda.
“Ya ... semuanya hanya karena kurang komunikasi. Mengenai kejujuran juga!” tegas Dean setelah menjelaskan panjang lebar.
“Itu jauh lebih rumit bahkan papamu sampai langsung membatalkan pernikahan yang baru digelar dengan mama Kainya? Waw ... ini keputusan yang sangat berat! Aku sampai merinding, De! Enggak kebayang kalau ada di posisi papa sama mamamu. Mereka saling cinta, tapi masalah di sekitar mereka sangat sulit dihalau!” ucap Kishi yang sampai menjadi sesak napas saking susahnya ia mencerna kenyataan yang baru saja Dean ceritakan.
“Dan jika tidak ada kebohongan mama Kai, papamu juga enggak akan ada dalam hidup mamaku!” tegas Dean lagi.
“Ah, iya! Dulu papaku juga jahat banget! Ah ...!” Kishi sampai menggeleng dan bergidik ngeri. “Tapi untung papa sudah berubah. Enggak kebayang kalau itu sampai menimpa mamaku apalagi aku! Pantas saja Ngi-ngie jauh lebih sayang sama papamu ketimbang papaku! Pantas saja mamaku selalu wanti-wanti agar aku baik sama Ngi-ngie!” Dan kali ini, Kishi menjadi emosi sendiri jika harus mengulik masa lalu Athan. Sampai-sampai, Kishi menjadi semakin sesak napas dan harus meredamnya dengan menghela napas pelan beberapa kali.
“Orang-orang yang tahu masa lalu Ngi-ngie, selalu mengistimewakan Ngi-ngie karena dari di kandungan, Ngi-ngie sudah disia-siakan,” ucap Dean dengan dada yang tiba-tiba saja menjadi sesak, terlepas dari matanya yang juga terasa panas dan basah.
Mengingat masa lalu Pelangi kecil benar-benar membuat Dean dan Kishi hanyut dalam kesedihan. Padahal semuanya berawal dari kisah Atala dan Elena yang seolah mengulang masa lalu orang tua mereka. Bahkan karena semakin merasa sedih dan takut hal yang sama juga sampai menimpanya, Kishi sampai menyandarkan wajah berikut tubuhnya pada tubuh Dean yang kemudian mendekap Kishi. Hanya saja, ketika Dean yang mungkin larut dengan suasana nyaris mencium bibir Kishi, di saat itu juga tangan kanan Kishi refleks menimpuk kening Dean.
“Sekolah, De! Ingat, kita enggak boleh pacaran berlebihan. Kita harus fokus sekolah dulu!” omel Kishi yang kemudian menjauhi Dean.
__ADS_1
Dean terkikik sembari memperhatikan Kishi yang terus saja mengabaikannya. Kishi benar-benar fokus merapikan buku yang baru saja mereka bawa.
Bersambung .....